
Entah apa yang ada dalam pikiran Andre, saat ini. Membuat Haruka menjadi bingung akan keadaan. Baginya Andre telah mempermainkan hatinya, yang tengah belajar memahami sikap majikannya tersebut.
Sebelumnya Haruka sangat bahagia atas kebaikan dan perhatiannya selama ini. Namun semuanya telah hancur atas perubahan sikapnya itu.
"Seharusnya kamu hati-hati dalam bekerja. Coba lihat, karena keteledoran mu itu, meja ini menjadi kotor." Ucap Andre dengan kasarnya.
"Iya Tuan. Lagipula bukankah tadi saya sudah meminta maaf dan sekarang sedang saya bersihkan." Jawab Haruka.
"Ah sudahlah....percuma bicara denganmu. Bisanya hanya menjawab saja." Sahut Andre sambil berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Haruka, yang sedang membersihkan mejanya.
Haruka sangat terluka dengan ucapan Andre. Hingga tanpa sadar dia mulai meneteskan air matanya. Karin yang sejak tadi memperhatikannya. Segera menghampiri Haruka, lalu berkata,
" Sabar ya sayang, jangan kamu masukan kedalam hati ucapannya itu. Sepertinya ada yang sedang dia pikirkan. Hingga melampiaskan amarahnya kepadamu." Ucap Karin untuk menguatkan hatinya Haruka.
"Apa maksud ucapan mu, Karin? Jujur saja aku tidak mengerti?" Jawab Haruka dengan polosnya.
"Tadi sebelum kamu kembali kerumah ini. Datang seorang wanita, yang wajahnya mirip sekali denganmu. Namun bedanya dia lebih elegan dan memakai riasan bak seorang artis televisi. Kalau tidak salah dengar dia bernama Dea. Mantan tunangan Tuan Andreas." Ucap Karin.
"Apa kamu bilang? Wajahnya mirip denganku? " Jawab Haruka dengan kagetnya.
"Iya mirip sekali dengan wajahmu, tadi tanpa sengaja aku melihatnya dengan jelas. dari balik dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah ini." Ucap Karin.
"Lalu apa yang terjadi Karin?" Tanya Haruka.
"Mereka bertengkar hebat, hingga Nyonya Lily mengusirnya dari sini. Memang dasar wanita tidak tahu diri, sudah diusir masih saja menggoda tuan Andre." Jawab Karin.
"Lalu apakah Tuan Andre menanggapinya?" Tanya Haruka kembali pada Karin.
"Oh....tentu tidak Haruka. Tuan Andre justru mengusirnya juga dan akhirnya wanita itupun pergi meninggalkan rumah ini." Ucap Karin menjelaskan kronologi kejadian tadi.
"Syukurlah kalau begitu Karin." Jawab Haruka dengan polosnya.
Dia merasa senang karena Andre tidak menanggapinya. entah apa yang ada dipikiran Haruka. mengapa dia berbicara seperti itu kepada Karin, membuat Karin menjadi bertanya-tanya dalam hatinya.
"Mengapa kamu terlihat senang Haruka? Setelah mendengar Tuan Andre tidak menanggapi wanita itu." Tanya balik Karin terhadap Haruka.
Haruka mulai sadar dengan perkataannya. Yang bisa saja membuat Karin curiga kepadanya. Akhirnya dengan membohongi Karin dia berkata,
"Maksudku bicara seperti itu, bukan karena senang mendengar pertengkaran mereka. Tapi justru aku turut prihatin dengan kejadian ini. Memang kamu senang, jika Tuan muda kita disakiti oleh wanita yang jahat dan tidak bermoral itu, Karin?"Tanya Haruka.
"Tentu tidak Haruka." Jawab Haruka.
"Nah...aku pun demikian, tidak ingin melihat Nyonya Lily juga turut tersakiti olehnya. Tapi sudahlah...biarkan Kejadian tadi, menjadi urusan mereka. Rasanya kita tidak pantas untuk mencampurinya. Karena kita hanya seorang pembantu di rumah ini." Ucap Haruka dengan mengalihkan pembicaraannya tersebut.
"Benar juga apa katamu Haruka. Untuk apa kita mencampuri urusan yang bukan masalah kita? Yang harus kita lakukan disini adalah, bagaimana kita bisa bekerja dengan baik? dan bisa mencukupi kehidupan kita dari hasil keringat kita sendiri." Jawab Karin.
"Maka dari itu Karin, Jangan pernah kita mencampuri urusan majikan kita, kalau kita masih mau diterima bekerja disini. Sekarang lebih baik kita kembali saja bekerja. Sebelum Nyonya dan Tuan muda melihat kita disini, membicarakan mereka." Ucap Haruka.
"Ya sudah...kalau begitu aku pamit ke dapur dulu ya? Masih ada pekerjaan yang belum selesai disana. Kasihan Tinah kalau hanya sendiri mengerjakannya." Jawab Karin sambil melangkah pergi meninggalkan Haruka, menuju dapur.
"Iya Karin." Jawab Haruka.
Merekapun terpisah, Karin melanjutkan pekerjaannya di dapur. Sedangkan Haruka kembali membersihkan meja, yang masih terlihat kotor.
Didalam kamarnya Andre terlihat sedang melamun, sambil merebahkan dirinya di atas kasur. Dia pun berbicara sendiri, tanpa ada satupun orang yang mendengarkannya.
"Maafkan aku Haruka, jika aku telah menyakiti hatimu. Semua itu aku lakukan, agar semua penghuni dirumah ini tidak tahu kedekatan kita, terutama Mama. Aku tidak ingin Mama tahu dan sampai memecat mu dari sini. Aku juga tengah emosi. Lantaran kedatangan Dea, yang sudah mengingatkan kembali rasa sakit ku, terhadapnya. Dasar wanita liar yang tidak tahu adab. Tanpa rasa malu hadir kembali di tengah-tengah keluargaku." Ucap Andre penuh kesal kepada Dea dan rasa bersalahnya terhadap Haruka.
************
Setelah membersihkan ruang tengah. Haruka melanjutkan pekerjaannya. Dengan mengambil menu untuk makan siang, yang akan diantarnya sendiri ke kamar Andre.
Dia berjalan perlahan, membawa sebuah nampan yang berisi makanan. Tiba didepan pintu kamar Andre, dia menekan bel dan berkata didepan mesin suara.
"Tuan...Ini saya Haruka? membawa makan siang untuk tuan." Ucap Haruka.
Andre segera beranjak bangun, setelah tahu Haruka datang. Dengan berpura-pura tegas, dia menjawab dari mesin suara.
"Masuk saja, tidak dikunci." Jawab Andre.
"Baik Tuan." Ucap Haruka sambil berjalan kedalam kamar Andre dan menaruh makanannya di meja, lalu duduk menunggu Andre.
Andre berdiri tegap dihadapan kaca, untuk merapihkan rambutnya yang berantakan. Setelah itu dia segera keluar menemui Haruka.
"Siapa yang memasak menu makan siangku, Haruka?" Tanya Andre dengan lembutnya.
"Saya Tuan." Jawab Haruka seadanya, tanpa basa basi lagi.
"Oh... Baguslah, Aku kira Tinah yang memasaknya." Sahut Andre.
Sambil menggeser duduknya, agar lebih dekat dengan Haruka. Seperti biasa dia mengambil nasi beserta lauk pauknya. Lalu menyuapi Andre.
Andre membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menyantap makanan itu dan mengunyahnya, sambil memandangi wajah Haruka. Haruka hanya diam saja. dia takut akan amarah Andre yang akan menghampiri nya kembali.
"Enak sekali masakanmu, Haruka. Membuat lidah ku sangat menikmatinya. Terima kasih ya, Sudah setia dengan janjimu." Ucap Andre.
Haruka hanya menganggukkan kepalanya saja. Namun dalam hatinya dia berkata,
"Sungguh aneh Si Tuan Arogan ini. Jika berdua denganku, sikapnya sungguh ramah dan sopan. Sebenarnya ada apa dengan jalan pikirannya? Membuat aku jadi penasaran saja." Suara hati kecil Haruka kepada Andre.
"Kenapa kamu diam saja? Apakah ada yang salah dengan ucapan ku ini?" Tanya Andre.
"Tidak...tidak ada yang salah. Karena Tuan adalah seorang majikan. Sedangkan saya hanya seorang pembantu, jadi kesalahan selalu berasal dari saya." Jawab Haruka.
"Hus...kamu ini ngomong apa sih, Haruka? Jujur saya tidak mengerti?" Ucap Andre dengan polosnya. Tanpa tahu kesalahannya sedikitpun.
"Iya...memang tidak akan pernah mengerti kesalahan Anda, Seperti yang saya ucapkan tadi, karena tuan adalah majikan disini." jawab Haruka dengan dongkolnya.
"Oh...Aku tahu, pasti tentang perubahan sikapku tadi, terhadapmu. Maafkan aku ya, Haruka, jika sikapku tadi telah menyakiti hatimu. Jujur aku melakukan itu, karena tidak ingin semua penghuni di rumah ini, termasuk mama tahu tentang kita." Ucap Andre.
"Tentang kita? Maksudnya?" Tanya Haruka.
"Tentang kedekatan aku dengan kamu dan keluargamu. Aku takut kalau mereka tahu, Mama pasti akan marah kepadamu. Bahkan bisa saja Mama segera memecat mu. Makanya aku sengaja bersikap kasar seperti biasa. Agar mereka semua tidak curiga dengan kita, itu saja." Jawab Andre.
"Oh... ternyata salah pikiranku terhadapnya. Aku kira dia berubah lantaran perbedaan status kita. Ternyata dia ingin menutupi kedekatannya dengan keluargaku, sekaligus ingin menyelamatkan pekerjaanku." Suara hati Haruka.
"Hello...kok malah diam, apakah kamu masih marah denganku?" Ucap Andre.
"Ma...maaf Tuan bukan begitu maksudku. Lagipula kenapa aku harus marah dengan Tuan? apalagi niat Tuan itu baik terhadap saya. justru saya ingin mengucapkan terima kasih." Jawab Haruka dengan lembutnya dan tersenyum ramah.
Selesai berdebat, mereka berdua melanjutkan makannya hingga selesai. setelah itu Haruka pamit untuk bekerja kembali. Karena dia takut semua penghuni rumah akan curiga. Jika dia berlama-lama di kamar Tuan mudanya itu.