Yes, Im Single Mom

Yes, Im Single Mom
Bab: 7 Dilema



Di dalam kamarnya ternyata Andre sudah bangun sedari tadi. Hanya saja dia sengaja tidak menjawab panggilan dari Tinah.


Entah mengapa hari ini Andre tidak bersemangat untuk bekerja. Lantaran masih memikirkan apa yang telah terjadi malam tadi.


"Huh...apa yang harus aku lakukan, jika bertemu dengan wanita itu? Dan mengapa wajahnya bisa serupa dengan Dea. Andai saja aku tidak bertemu dan menjalin kasih dengan Dea. mungkin saat ini aku akan biasa saja memperlakukan wanita itu." Celetuk Andre dalam hatinya sambil membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur. serasa tidak tenang pikirannya saat ini.


Satu jam sudah, Andre bergelut dengan pikirannya di atas kasur. Akhirnya dia-pun beranjak bangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Setelah membersihkan tubuhnya dia langsung berpakaian. Hari ini dia hanya memakai kaus oblong berwarna putih, dipadu padankan dengan celana bahan pendek berwarna cokelat susu.


Dengan santai dia keluar dari kamarnya menuju ruang tengah. dimana ruang itu selalu ditempatinya ketika sedang libur bekerja.


Tinah terhentak kaget, ketika melihat Tuannya sedang berjalan menuju sofa. Jantungnya berdegup kencang karena takut dimarahi oleh Andre, lantaran pekerjaannya membersihkan ruangan itu belum selesai.


Sungguh aneh hari ini yang dirasakan oleh Tinah. Entah suatu keajaiban atau keberuntungan namanya, karena sikap Andre tidak seperti biasanya. Dimana ketika melihat ruangan yang masih kotor pasti akan marah besar, dengan berteriak membentak para pekerja dirumahnya.


Tapi kali ini dia sangat cuek sekali, Tidak menghiraukan yang ada disekelilingnya. Bahkan dia hanya duduk terpaku memandangi televisi, menonton film yang diputar olehnya sendiri.


"Permisi Tuan? Saya mohon maaf karena mengelap meja ini, disaat tuan sedang menonton televisi." Ucap Tinah sangat ketakutan dengan tangan sedikit gemetar sambil mengelap meja yang ada dihadapannya dan meja itu pula berada tepat didepan posisi Andre yang sedang menonton TV.


"Tidak apa-apa Tinah, silahkan lanjutkan saja bersih-bersih nya dan saya tidak akan mengganggumu." Jawab Andre dengan lembutnya.


Dengan segera Tinah membersihkan ruangan itu dan setelah selesai Tinah bergegas pergi untuk menaruh kemoceng, ember, sapu dan lap pel nya dibelakang rumah.


Lalu dia mencuci tangannya dengan bersih dan kembali lagi menemui Andre.


"Permisi Tuan, anda ingin minum apa? Biar nanti Tinah buatkan? atau mungkin Tuan ingin sarapan? biar Tinah persiapkan?" Ucap Tinah menawarkan jasanya pada Andre.


"Baik Tuan, saya segera kembali." Jawab Tinah lalu jalan perlahan meninggalkan Andre yang masih terduduk manis sambil menonton TV.


Setelah kepergian Tinah. Mata Andre melihat sekeliling ruang itu. Namun Haruka tidak nampak batang hidungnya. Bahkan suaranya tidak terdengar sedikitpun ditelinga nya. membuat Andre penasaran akan keberadaan Haruka.


"Dimana wanita itu? sejak tadi aku tidak melihatnya? apalagi mendengar suaranya?Apakah karena ucapan kasar ku semalam, dia sudah pergi meninggalkan rumah ini? Semoga saja dia tidak mengundurkan diri dari pekerjaannya, karena jika iya. aku teramat berdosa sekali sudah memutuskan jalan rezekinya. Oh Tuhan...entah mengapa aku harus memikirkan dia. padahal dia itu hanya salah satu asisten rumah tangga disini. Ada apa Tuhan dengan semua ini?" Tanya demi tanya hadir didalam pikirannya.


Andre merasa terserang sebuah penyakit dan penyakit itu bernama dilema. Dimana ada sesuatu didalam dirinya seolah menuntut perubahan atas sikapnya selama ini. Namun Andre tidak bisa menjalaninya setelah melihat dan berhadapan langsung dengan Haruka.


Ketika sedang melamun. Tiba-tiba Tinah mengejutkannya dengan memanggil namanya.


"Tuan...ini minuman dan makanan pesanannya?" Ucap Tinah.


"Oh...i..iya Tinah terima kasih ." jawab Andre dengan terbata-bata. lantaran terkejut melihat Tinah sudah ada dihadapannya dengan memanggil namanya.


"apakah masih ada yang bisa Tinah bantu?" ucap Tinah menawarkan dirinya kembali.


"Saya rasa sudah cukup, jadi kamu bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu yang lain." Jawab Andre pada Tinah.


"Kalau begitu Tinah pergi dulu ya, Tuan dan silahkan dinikmati makanan serta minuman nya.


Andre menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan Tinah pun berjalan meninggalkan ruang itu hingga tidak terlihat lagi.


Selang beberapa menit saja. Haruka datang bersama pak Sakir dengan membawa beberapa kantong belanjaan, yang berisi kebutuhan dapur dirumah itu.


Andre begitu senang bukan kepalang. ketika melihat Haruka ternyata masih bekerja dirumahnya. Namun dia tidak ingin terlihat bodoh dihadapan Haruka. Dengan menutupi perubahan sikap pada dirinya itu