
Didalam rumah Haruka, Andre dipersilahkan duduk di kursi yang berada diruang tamu.
"Silahkan duduk Tuan dan maaf saya ingin ke dapur sebentar untuk membuatkan minuman." Ucap Haruka.
"Silahkan saja Haruka." Jawab Andre sambil mencari posisi ternyaman untuk duduk di kursi. Sedangkan Haruka berjalan menuju dapur.
Ketika ingin membuat minuman. Bianca yang sedang digendong olehnya, memberontak untuk turun. Karena tidak ingin anaknya terkena air panas, akhirnya mau tak mau haruka-pun menurunkan Bianca dari pelukannya.
Tanpa Haruka sadari karena sedang membuat minuman. Ternyata Bianca berjalan menuju Andre. Tiba dihadapan Andre, Bianca diam sesaat sambil menatap wajah Andre.
Andre melihatnya dengan tersenyum, dalam hatinya dia berkata,
"Lucu sekali anak ini, selain cantik juga menggemaskan, Wajahnya mirip sekali dengan Haruka." Suara hati kecil Andre.
Bianca Masih berdiri tak jauh dari posisi Andre. Dia tertawa seolah dihadapannya ada sesuatu yang lucu.
Andre makin gemas dengan tingkah pola Bianca. Dengan lembutnya dia menyuruh Bianca duduk disampingnya.
"Dede duduk sini dengan Om." Ajak Andre pada Bianca, sambil menepuk kursi yang ada disampingnya itu.
Sungguh di luar dugaan Andre, bukannya takut untuk menghampirinya, justru dia malah berlari kencang menuju dekapan Andre. Lalu berkata,
"Pa...pa...pa." Ucap Bianca memanggil Andre.
Andre menangkapnya ketika Bianca lari menghampirinya. Dia lakukan itu agar Bianca tidak jatuh ke lantai. setelah berada ditangannya, dengan segera Andre menaruh Bianca dipangkuan nya.
Dia merasa terharu ketika Bianca memanggilnya dengan sebutan Papa. Hati nuraninya sebagai seorang lelaki terketuk. hingga dia mengelus lembut rambut Bianca.
sebagai tanda perhatiannya kepada anak itu.
Bianca begitu senang berada dipangkuan Andre dan merekapun bercanda bersama. Bahkan sesekali Bianca memegang pipi Andre serta mencubitnya.
Haruka baru tersadar setelah selesai membuat minuman untuk Andre. Jika Bianca tidak ada disampingnya. Dengan segera dia berjalan menuju kamar Cherry, untuk mencari Bianca.
"Cherry, Apakah Bianca bersamamu?"Ucap Haruka.
"Tidak! Bukankah tadi Bianca bersamamu ketika aku sedang mandi." Jawab Cherry.
"Iya tadi bersamaku, tapi karena aku sedang membuatkan minuman untuk tamu. Bianca memberontak ingin turun dari gendonganku. Aku kira dia berjalan ke kamarmu, makanya aku cari kemari." Ucap Haruka dalam keadaan panik.
"Tamu? Memang siapa yang datang Haruka?" Tanya Cherry.
"Anak majikanku yang bernama Tuan Andreas, Cher." Jawab Haruka.
"Apa? Anak majikanmu?" Ucap Cherry dengan terkejutnya.
"Memang kamu buat kesalahan apa Haruka? Hingga beliau datang kerumah kita." Jawab Cherry dalam keadaan takut.
"Tidak ada Cher? Aku tidak punya kesalahan apapun terhadapnya, apalagi dengan keluarga besarnya. Dia datang kemari hanya ingin tahu tempat tinggal ku ini. Mungkin dia disuruh oleh Nyonya besar." Ucap Haruka menjelaskan cerita sebenarnya. Agar Cherry tidak berpikir yang aneh-aneh lagi.
"Oh... syukurlah. Aku kira kamu punya masalah besar disana. Sampai majikanmu datang menemui mu kemari." Jawab Cherry dengan sedikit tenangnya.
"Tapi Cher...saat ini jujur saja aku sedang dalam keadaan takut?" Ucap Haruka.
"Apa yang kamu takut-kan Haruka?" Tanya Cherry.
"Tadi sewaktu Aku ingin membukakan pintu. Tanpa sengaja aku menyebut kata "Mama" ketika memberitahu Bianca jika didepan rumah sedang ada tamu. Aku takut Tuan Andreas mendengarnya. Jika dia tahu aku pernah menikah, pasti dia dan Mamanya akan kecewa, lantaran sudah dibohongi olehku selama ini. Bahkan yang lebih parahnya lagi pasti mereka akan segera memecat aku. Jawab Haruka sambil menceritakan kejadian tadi.
"Sudah Haruka, kalau masalah itu kamu tidak usah takut. Biar nanti aku yang akan menjelaskannya kepada Anak majikanmu itu. Seperti janjiku waktu itu. aku yakin dia akan percaya." Ucap Cherry sambil menegaskan. bahwa dirinya akan membantu Haruka, untuk menjelaskan tentang Bianca, jika memang Andre membahasnya.
"Terima kasih Cherry, kalau begitu aku akan mencari Bianca dahulu, sebelum ada apa-apa dengannya." Jawab Haruka.
"Haruka...kamu tidak perlu mencarinya. Coba kamu dengar suara tawa itu. Terdengar sangat nyaring sekali, dari ruang tamu. Lebih baik kita segera kesana?" Ucap Cherry sambil memberitahu Haruka keberadaan Bianca saat ini.
"Oh...Iya Cher, benar yang kamu ucapkan barusan, ternyata Bianca ada di ruang tamu. Ayo Cher segera jalan." Jawab Haruka.
Setibanya di ruang tamu, Haruka merasa terharu melihat pemandangan indah yang ada dihadapannya. Dimana dengan sabarnya Andre mengajak bermain dan bercanda Bianca. Mereka terlihat akrab sekali seperti seorang ayah dan anak perempuannya.
Membuat Haruka meneteskan air matanya, yang sejak tadi dia tahan.
"Oh Tuhan...cobaan apalagi yang hendak engkau berikan kepadaku? Mengapa harus Tuan Andre, anak majikanku yang berada di samping Bianca. Aku takut Bianca menjadi nyaman dengannya. Karena aku sadar jika dia sedang merindukan sosok ayahnya. Tapi rasanya tidak mungkin jika Bianca berharap banyak kepadanya. Karena status ekonomi kita saja berbeda, antara langit dan bumi. Semoga semua ini akan berlalu dengan seiringnya waktu." Suara hati Haruka kepada Tuhannya.
"Hai... Haruka.? ayo lekas duduk disana? Kok kamu malah melamun, untung saja nampan yang berisi minuman dan cemilan itu tidak jatuh. Kalau jatuh mau ditaruh dimana muka kita ini dihadapannya?" Teguran Cherry kepada Haruka yang terlihat sedang melamun.
Dengan segera Haruka menghapus air matanya yang tengah menetes dengan tissue. Setelah kering dia segera menghampiri Andre dan berkata,
"Silahkan diminum Tuan? teh manis hangatnya." Ucap Haruka sambil menaruh dengan pelan cangkir yang berisi teh, serta cemilan dihadapannya.
"Terima kasih Haruka, maaf jadi merepotkan mu." Jawab Andre.
"Oh iya Pak...hampir lupa. Perkenalkan ini kakak saya bernama Cherry." Ucap Haruka memperkenalkan cheri sebagai kakaknya.
"Saya Cherry Tuan, kakak perempuan satu-satunya Haruka dan ini Bianca anak semata wayang saya." Ucap Cherry dengan terpaksa membohongi Andreas, agar posisi Haruka tetap aman untuk bekerja di sana.
"Perkenalkan nama saya Andre, Anak pemilik rumah dimana Haruka bekerja saat ini." Ucapan salam kenal Andre kepada Cherry.
"Silahkan diminum Tuan tehnya? Mumpung masih hangat." Haruka mempersilahkan Andre untuk minum.
"Terima kasih Haruka, nanti saja saya meminumnya?" Jawab Andre.
"Sini sayang sama Mama? kasihan loh Tuan Bosnya nanti lelah, karena harus meladeni mu bermain terus." Ucap Cherry sambil mengambil Bianca dari pangkuan Andre. Tapi sayang Bianca menolaknya. Malah memegang erat tubuh Andre.
"Sudah tidak apa-apa Mbak Cherry. biarkan Bianca bersama saya. Kasihan kalau dipaksa nanti malah menangis." Jawab Andre dengan lembutnya.
Akhirnya mau tak mau Cherry merelakan Bianca untuk tetap duduk dipangkuan Andre.
"Oh iya Mbak Cherry. Kalau bisa tidak usah memanggil saya Tuan, panggil saja saya Andre dan kamu juga boleh Haruka memanggil saya Andre. kalau memang kamu merasa tidak enak, ketika dirumah kamu boleh memanggil saya Tuan, tapi ketika di luar panggil saja nama saya, atau apa saja sesukamu, ya?" Ucap Andre.
"Wah...saya tidak berani Tuan." Jawab Cherry.
"Tidak apa-apa Mbak, agar kita tidak sungkan dalam mengobrol dan tidak ada jarak akan status ekonomi kita." Ucap Andre dengan lembutnya serta bijaksana.
"Baiklah kalau begitu." Jawab Cherry, sedangkan Haruka hanya diam saja mendengarkan percakapan mereka.
"Oh iya Mbak, kalau boleh tahu. kemana papanya Bianca? kok sedari tadi saya tidak melihatnya?" Tanya Andre kepada Cherry.
"Kebetulan kami sudah berpisah Dre, Setahun yang lalu. Makanya saya kembali lagi, kerumah orang tua saya ini, untuk tinggal bersama adik saya Haruka. Karena setelah kematian kedua orang tua saya. Hanya Dia yang saya miliki dan untuk menutupi kebutuhan kami. Dia rela bekerja keras untuk menjadi tulang punggung bagi kehidupan kami. Adik saya ini selain cantik juga wanita hebat dan kuat." Ucap Cherry sambil membanggakan Haruka dihadapan Andre.
"M...maafkan saya Mbak! Tanpa sengaja telah membuka luka lama Mbak kembali. Jujur saya tidak bermaksud untuk itu." Jawab Andre sambil meminta maaf kepada Cherry.
Sambil menganggukkan kepalanya Cherry berkata,
"Iya Dre tidak apa-apa. Semua kita ambil hikmahnya saja. Apalagi Haruka masih berjuang untuk kehidupan kami, tanpa mengenal lelah dan Letih nya, Itu sudah menjadi ucapan rasa syukur saya sebagai kakaknya." Sahut Cherry.
"Jangan di dengar pak omongan kakak saya ini. Dia terlalu berlebihan menceritakan tentang saya. Kamu ini Cher bisa saja mengarang cerita." Sahut Haruka menyerobot omongan Cherry.
"Apa yang kakakmu ucapkan itu benar loh Haruka, Selain cantik kamu ini memang wanita tangguh yang rela bekerja keras demi menghidupi kakak dan adikmu, jangankan kakakmu ini. Aku saja yang baru mengenalmu begitu bangga, bisa menjadi bagian dari cerita di dalam hidupmu itu." Ucap Andreas kepada Haruka.
"Nah-kan Haruka? apa aku bilang? Ternyata bukan aku saja sebagai kakakmu yang bangga akan dirimu, buktinya Andre juga bangga terhadapmu." Jawab Cherry dihadapan Haruka membuat Haruka merasa malu. Sungguh terlihat jelas sekali pipinya menjadi merah merona, lantaran menahan rasa malunya itu.
Andre pun mencuri pandang terhadap Haruka, sambil meminum teh manis hangat dihadapannya itu dan sesekali memakan cemilan yang telah disediakan untuknya.
ketika sedang asyik mengobrol. Terdengar dengan jelas Suara yang berasal dari dalam perut Andre. Suara itu menandakan jika dia sedang lapar.
Apakah Haruka dan Cherry menawarinya makan?
Apakah Andre menerima atau menolak, jika mereka benar menawarinya makan?
Nah untuk lebih tahu cerita selanjutnya dukung terus author, dengan mengetik like, komen n sharenya terima kasih.