
Tiba di dapur Haruka langsung mencuci muka, setelah itu mengambil segelas air mineral dingin dan meminumnya dengan cepat.
Karin dan Tinah melihatnya penuh keheranan, dalam hati mereka bertanya-tanya, sebenarnya ada apa dengan Haruka.
Karena rasa ingin tahunya terlalu tinggi. Akhirnya Karin datang menghampiri Haruka lalu bertanya,
"Ada apa dengan kamu, Haruka? Apa yang sebenarnya sedang terjadi kepadamu dan si tuan Arogan itu. Apakah dia telah menyakiti hatimu? Dari awal bukankah aku sudah bilang, tidak usah repot-repot mengurusnya. Biarkan aku saja yang mengerjakan semua perintahnya. karena semua itu sudah tugasku, bukan tugasmu. Ya sudah...kamu sabar, ya? dalam menghadapi sikapnya itu." Tanya Karin sambil menguatkan Haruka.
Haruka diam sesaat dia bingung apa yang akan dikatakan olehnya kepada Karin. kalau dia jujur dengan kejadian tadi. Haruka takut jika Karin malah berpikir macam-macam terhadapnya. Akhirnya dia-pun memiliki cara untuk menjawab Karin. Dia yakin walau ucapannya sedikit berbohong. Tidak mungkin Karin akan bertanya langsung dengan si Tuan Arogan itu.
"Iya, Karin. Aku kena semprot oleh Tuan muda ganas itu. Tapi sudahlah...biarkan saja dia bertingkah semaunya. bagiku tidak merubah sedikitpun niatku untuk tetap bekerja disini." Jawab Haruka penuh kebohongan.
"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya. sabar ya sayang, kita harus kuat berjuang untuk hidup. Demi keluarga kita dirumah." Ucap Karin sambil menepuk pelan bahu Haruka sekaligus untuk menyemangatinya.
"Terima kasih Karin, kamu selalu ada untukku, disaat aku dalam keadaan tidak baik-baik saja." Jawab Haruka sambil memeluk tubuh Karin.
"Karena hari sudah malam, lebih baik kamu tidur. Bukankah besok pagi, kamu ingin pulang menemui kakak dan keponakanmu." Ucap Karin.
"Oh iya...sampai lupa aku Karin, jika besok itu hari libur. sudah dua bulan ini aku tidak pulang menemui kakak dan keponakanku. rasanya rindu sekali." Jawab Haruka.
"Makanya lekas istirahat, agar besok pagi kamu bisa menemui Nyonya Lily untuk pamit." Ucap Karin mengingatkan Haruka agar sebelum pulang kerumahnya, Dia pamit terlebih dahulu dengan Nyonya besarnya.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit ya, Rin?" Jawab Haruka.
"Iya sayang silahkan." Sahut Karin.
"Selamat malam Karin?" ucap Haruka sambil melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Selamat malam juga Haruka." Jawab Karin
Akhirnya merekapun terpisah. Haruka berjalan menuju kamarnya sedangkan Karin membersihkan kembali sisa-sisa makanan yang masih berserakan dimeja makan.
************
Keesokan paginya, Haruka telah bersiap-siap untuk pulang. Dia hanya membawa beberapa lembar pakaian saja. Karena hanya akan menginap sekitar 4 hari disana. Ditambah lagi dirumahnya masih tersisa banyak pakaian miliknya.
Setelah selesai merapihkan kamarnya. Haruka-pun keluar dari kamarnya dan menutup pintunya. Lalu melanjutkan langkah kakinya menuju kamar Nyonya Lily. Tiba dihadapan Nyonya Lily dia berkata,
"Nyonya saya mohon pamit, liburan kali ini saya ingin pulang kerumah, untuk menjenguk kakak dan keponakan saya. Sudah sangat rindu rasanya kepada mereka." ucap Haruka.
"Silahkan saja Haruka, jika memang kamu rindu dengan keluarga mu. asalkan kamu tidak boleh berhenti bekerja disini, ya? karena kami masih butuh kamu." Jawab Lily kepada Haruka.
"Iya Nyonya...tenang saja, saya pasti akan kembali lagi kerumah ini. Karena saya juga masih betah kok untuk bekerja disini." Sahut Haruka.
"Syukurlah kalau begitu, jadi saya tenang melepas kepergian mu." Ucap Lily.
"Tapi Nyonya? kalau boleh saya ingin meminta sesuatu dari Nyonya." Jawab Haruka.
"Oh...silahkan saja, kalau saya mampu pasti akan saya kabulkan. Memang apa permintaanmu, Haruka?" Tanya Lily.
"Kalau Nyonya tidak keberatan, saya ingin pulang selama 4 hari. Agar terpuaskan diri saya berkumpul bersama keluarga." Ucap Haruka.
"Terima kasih Nyonya, karena Nyonya sudah baik terhadap saya, kalau begitu saya berangkat sekarang, ya?" Pamit Haruka terhadap Lily.
"Tunggu dulu Haruka? kamu tidak usah berangkat sendiri kesana. Biar nanti pak Sakir yang mengantarmu sampai tujuan." Ucap Lily.
"Tidak usah Nyonya? biar saya pulang sendiri saja. Sudah biasa kok saya kemana-mana sendiri. saya tidak ingin merepotkan Nyonya yang sudah terlalu baik terhadap saya." Jawab Haruka sambil menolak kebaikan Lily.
"Tidak Haruka! kamu harus nurut dengan saya, demi kebaikan kamu juga. pokoknya saya minta kamu pulang diantar dengan pak Sakir, ya?" Ucap Lily sambil memaksakan kemauannya kepada Haruka.
"Terserah Nyonya saja, kalau memang tidak merepotkan. Kalau begitu saya tunggu didepan, ya Nyonya?" Jawab Haruka sambil berjalan menuju garasi. Sedangkan Lily berteriak memanggil supirnya yang bernama Sakir dan menyuruhnya untuk mengantarkan Haruka kerumahnya.
Didepan teras rumah, Karin telah menunggu Haruka dan Ketika Haruka datang dari dalam rumah Karin berkata,
"Haruka, ini aku titipkan sedikit makanan dan dua pakaian untuk Bianca, ya? Sampaikan salam ku juga kepada Cherry, kakakmu itu. Maaf jika aku belum bisa kesana untuk menjenguknya?" Ucap Karin sambil menyerahkan dua paper bag yang berisi makanan serta pakaian.
"Kenapa harus repot sih, Rin. Lebih baik uangnya kamu simpan saj untuk keluargamu, daripada kamu hambur-kan seperti ini." Jawab Haruka.
"Aku sebatang kara Haruka, apakah kamu tidak tahu dari kakakmu. Setelah kematian ayahku. aku diusir oleh ibu tiri ku dari rumahku sendiri. Tapi sudahlah...kini aku telah menemukan keluarga baru, yaitu Cherry, kamu dan Bianca." Ucap Karin hingga matanya berkaca-kaca menahan air mata yang hendak keluar.
"Maafkan aku ya Rin, jadi mengingatkan mu pada luka lamamu itu. Aku janji akan selalu menjaga tali persaudaraan kita sampai nanti sampai salah satu dari kita menutup mata." Jawab Haruka sambil memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
"Iya sayang terimakasih juga, Karena kamu sudah mau menjadi saudaraku dan untuk sekarang, lebih baik kamu lekas pergi sana? Sebelum kesiangan nantinya." Perintah Karin pada Haruka. menyuruhnya untuk segera berangkat.
"Aku pamit dulu ya, Karin? Selamat pagi?" Ucap Haruka.
"Selamat pagi juga sayangku." Jawab Haruka.
Akhirnya merekapun terpisah. Karin masuk kedalam rumah, sedangkan Haruka melanjutkan langkahnya menuju mobil, yang sedari tadi sudah terparkir menunggunya.
Haruka dan pak Sakir pun berangkat. mereka berdua meninggalkan rumah dengan melajukan kendaraannya begitu cepat dan sudah tidak terlihat lagi.
Bahagia rasanya Haruka. Bisa kembali kerumahnya untuk menemui Bianca dan bisa bermain lagi dengan buah hatinya itu.
Diperjalanan pak Sakir bertanya kepadanya.
"Mbak Haruka memang tinggal dengan siapa?" Ucap pak Sakir bertanya pada Haruka.
"Dengan kakak perempuan saya satu-satunya dan keponakan saya, Pak Sakir." Jawab Haruka.
"Memangnya orang tua, Mbak kemana?" Tanya pak Sakir kembali.
"Orang tua saya sudah meninggal Pak!" Jawab Haruka.
"Oh...maaf ya Mbak, saya telah lancang menanyakan hal itu?" Ucap pak Sakir.
"Tidak apa-apa Pak, saya tidak marah kok. Lagi pula justru saya senang bapak banyak bertanya kepada saya. Jadi kita lebih tahu keluarga kita masing-masing. Apalagi kita itu-kan satu kerjaan. Harus bisa menjalin tali silaturahmi yang baik." Jawab Haruka.
"Iya benar, apa yang diucapkan oleh Mbak Haruka barusan. Kalau terjalin tali silaturahmi yang baik, pasti kita bekerja akan terasa mudah menjalaninya." Sahut Pak Sakir.
Akhirnya mereka berdua menjadi akrab satu sama lain dan melanjutkan perjalanan dengan berbincang-bincang kembali.