
Andreas masih memikirkan, syarat apa yang harus Haruka penuhi. Karena saat ini dia tidak bisa berpikir dengan jernih, pikirannya buyar, akibat pesona wajah Haruka yang begitu cantik menggoda, tanpa polesan make up sedikitpun, membuat jantung Andre tak karuan
Dia bahkan sesekali mencuri pandang ke wajah Haruka. Hingga larut dalam lamunan.
Haruka yang sudah terlalu lama menunggu, akhirnya menegur Andreas.
"Tuan...kenapa jadi melamun, bukankah tadi Tuan bilang ingin mengutarakan permintaan kepada saya." Ucap Haruka.
"Iya sabar, saya sedang memikirkannya." jawab Andreas.
"Awas saja kalau dia meminta yang tidak-tidak. lebih baik aku membatalkan perjanjian ini. kalau di lihat dari gelagatnya sih, Si Tuan Arogan ini sedang mencari permintaan yang sangat menguntungkan baginya, dasar si muka mesum." Haruka berkata dalam hatinya.
"Memangnya kamu membawa apa? Untuk makan malam ku, Haruka? kalau menu yang Tinah buatkan tadi, lebih baik kamu bawa kembali saja ke dapur, Sungguh tidak berselera untuk memakannya" Ucap Andreas.
"Tidak Tuan, kali ini menu yang saya bawa sangat berbeda dan saya jamin Tuan pasti akan menyukainya." Jawab Haruka.
"Lalu siapa yang memasaknya?." Ucap Andreas
"Saya yang memasaknya, Tuan. Tapi tenang saja, walau ini masakan kampung, Namun nikmat rasanya dari pada makanan Restoran, yang biasa Tuan makan." Jawab Haruka.
"Wah...segitu pentingkah diriku, dihatinya? hingga dia sampai memasaknya sendiri, bahkan sampai mengantarnya pula ke kamar ku ini." Suara hati Andreas yang bersimpangan dengan jalan pikirannya Haruka.
"Maaf Tuan, mau sampai kapan saya berada disini. Hari semakin lama semakin malam, saya jadi tidak enak, dengan pandangan orang lain terhadap saya. Ucap Haruka sambil *******-***** tangannya karena terlihat bingung dengan sikap Andreas, yang terlalu lama mengulur waktunya.
"Okelah kalau begitu dan permintaan saya kepadamu hanya satu, yaitu saya menginginkan kamu, menyuapi saya setiap ingin makan? bagaimana? hanya itu kok tidak lebih, hehehehe." Ucap Andreas sambil cengengesan seperti anak kecil, yang sedang meminta sesuatu kepada ibunya.
"Apa disuapi? Memang tidak ada permintaan lain, selain itu Tuan?" Jawab Haruka dengan sangat terkejutnya dan memasang wajah malunya. terlihat jelas kedua pipinya langsung memerah.
"Tidak ada permintaan lain? itupun kalau kamu mau, kalau kamu tidak setuju juga tidak apa kok buatku? Sahut Andreas.
"Mm...Dasar pria yang tidak mau rugi. Seharusnya dia itu melepaskan ku dan tidak meminta apa-apa dariku. Dia itu kan sudah memiliki apapun di dunia ini. Tinggal mencari calon istri saja, kalau hanya ingin ada yang menyuapinya makan. memangnya aku siapa? Aneh." Gerutu Haruka dalam hatinya.
"Hello...kok malah malah kamu yang melamun, sekarang kamu yang diam tanpa kata. Jawab dong keburu malam nih?" Tanya Andreas dengan nada keras.
"Baiklah...kalau hanya itu permintaan dari Tuan." jawab Haruka.
"Iya hanya itu." Sahut Andre.
"Tapi rasanya tidak mungkin, jika permintaan itu dilakukan, disaat sedang makan bersama Nyonya Lily dan dihadapan para pekerja lainnya. Apa nanti kata mereka, Tuan?" Jawab Haruka dengan terbata-bata dan mengungkapkan sedikit keluhannya terhadap Andre.
"Kalau itu sih saya sudah pikirkan. Pokoknya kamu tunggu saja aba-aba dariku dan tidak usah takut, aku tidak akan berbuat gila didepan mama dan pekerja lain disini. Apalagi membuat kamu malu, ok?" Ucap Andre.
Haruka hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja.
"Iya sudah...Mana makan malam buatku. tolong suapi aku, ya? Jujur saja aku masih banyak kerjaan dan enggan rasanya untuk makan. karena hanya menyita waktuku saja." Ucap Andre.
"Tidak boleh berkata seperti itu, Tuan. Kalau memang kita banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Tetap saja harus diusahakan, untuk tetap makan. Jadi badan tetap bugar dan tidak sakit." Jawab Haruka sambil menasehati Andre.
Andre makin terpana melihat kebaikan Haruka. Yang masih saja perhatian. Padahal dia sudah banyak menyakiti hatinya.
"Benar yang diucapkan oleh Mama, Haruka adalah wanita baik, perhatian dan tulus kepada siapapun. Banyak pelajaran yang bisa aku ambil darinya." Ucap hati kecil Andre.
Baru saja mau menyuapinya. Namun Andre malah berdiri dan berkata,
"Sebentar Haruka, aku mau mengambil laptopku dulu, ya? Tidak apa-kan? jika aku makan sambil menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda." Ucap Andre.
Haruka hanya menganggukkan kepalanya saja dan Andre pun pergi meninggalkannya. Tak lama dia sudah kembali dengan membawa laptopnya, serta duduk tepat di samping Haruka yang tengah duduk dilantai.
"Lekas sini? kamu duduk di sofa." ucap Andre. menyuruh Haruka agar duduk di sofa bersamanya.
"Sudah saya dibawah saja, Tuan. Rasanya tidak pantas jika kita duduk di sofa bersama." Jawab Haruka menolak ajakan Andre.
"Haduh...kalau kamu duduk dibawah, sedangkan aku duduk diatas. bagaimana nanti kamu bisa menyuapi aku, haruka? aneh!! Sudah lekas duduk di sini jangan membantah? Ucap Andre memaksa Haruka dengan suara lantangnya.
Mau tak mau dia-pun menuruti perintahnya. Lalu segera duduk diatas tepat di samping Andre.
Andre pun mulai membuka laptopnya dan mengerjakan tugas kantornya, sambil disuapi oleh Haruka, tanpa melihat lagi apa isi lauk yang masuk kedalam mulutnya itu.
Baru suapan pertama tiba didalam mulutnya dan dia-pun mulai mengunyahnya. Tiba-tiba andreas diam seribu bahasa, dia serasa menikmati makanan yang telah dimasak sendiri oleh Haruka.
Sedangkan Haruka justru gemetaran melihat Andre yang sedang terdiam. Dia takut masakannya tidak enak, pasti Andre akan marah besar terhadapnya, seperti yang telah diucapkan oleh Karin.
Setelah suapan pertama telah habis dimulutnya. Andre pun berkata,
"Apa kamu yakin bahwa ini masakan mu, Haruka?" Ucap Andre dengan wajah datarnya, membuat Haruka semakin takut kepadanya.
"I..iya Tuan ini benar masakan saya, memang ada apa Tuan? apakah rasanya tidak enak?" Jawab Haruka terbata-bata.
"Justru masakan ini enak, Haruka. Makanya saya tidak percaya jika kamu yang memasaknya, hehehehe. jujur saja baru kali ini aku memakan lauk seperti ini, rasanya begitu nikmat." Ucap Andreas sambil membuka mulutnya lebar-lebar. meminta Haruka menyuapinya kembali.
Haruka begitu senang mendengarnya dan jadi bersemangat menyuapi majikannya itu. Tidak ada terlintas sedikitpun, untuk berpikiran lebih kepada majikannya. Baginya sama saja dia sedang menyuapi Bianca.
Setelah memberi makan Andre, Haruka memberinya minum. Lalu mengambil tissue dan mengelap sisa makanan yang ada ditepi bibir Andre.
Andre terkejut bukan kepalang. Ketika Haruka mengelap bibirnya. Dengan refleks dia memegang tangan Haruka kencang sekali. membuat Haruka tidak bisa menggerakkan tangannya sedikitpun.
Kini posisi mereka saling berhadapan dan saling menatap.
"Oh Tuhan, Wajah Tuan Andre tampan sekali, tapi sayang dia begitu Arogan. coba saja dia bisa merubah tabiat buruknya itu. mungkin banyak wanita yang akan mengantri untuk menjadi istrinya." Ucap Haruka dalam hatinya.
"Gila...nih cewek cantiknya pakai banget, kenapa Dea tidak bisa seperti dia. bersikap perhatian, tulus dan penyayang. ini hanya mau uangku saja. Haruka...oh Haruka, wajahmu membuatku tergila-gila" suara hati Andre untuk Haruka.
Andre makin dimabuk asmara oleh Haruka. Hingga tanpa sadar, wajahnya semakin mendekati wajah Haruka dan dengan refleknya bibir Andre ingin mencium Haruka.
Tapi sayang Haruka segera tersadar, secepat kilat dia menutup wajah Andre dengan tissue yang berada ditangannya. Diapun segera beranjak dari duduknya. serta mengambil tempat makan bekas andreas tadi, lalu pamit untuk pergi keluar dari kamar itu.
Andre yang sedari tadi sudah percaya diri, bisa mencium bibir Haruka. Malah terkejut ketika Haruka menutupi wajahnya dengan tissue dalam hatinya dia berkata,
"Huh....gagal lagi untuk bisa menaklukkan hatinya." Ucap Andre dengan perasaan kecewanya.