Yes, Im Single Mom

Yes, Im Single Mom
Bab: 13 Tamparan tak disengaja



Setelah melihat Nyonya Lily sedang makan. Haruka segera menemui Karin, yang tengah duduk santai bersama Tinah dan pekerja lainnya.


Dia mendekati Karin dan berkata,


"Karin...apakah aku bisa meminta bantuan mu?" Ucap Haruka.


"Bantu apa? sayangku." Jawab Karin.


"Tolong antar-kan aku ke kamar Tuan Arogan." Ucap Haruka.


"Hah...Untuk apa? Sudahlah Haruka, jangan membuat masalah dengannya. Karena kamu tahu sendiri, kalau dia itu tidak suka diganggu." Jawab Karin.


"Tapi aku bukan mau mengganggunya. Melainkan ingin membawakan makan malam ke kamarnya. Jujur aku tidak enak dengan Nyonya Lily, karena sudah berjanji kepadanya." Ucap Haruka.


"Memang kamu janji apa dengan Nyonya Lily?" Tanya Karin.


"Tadi tanpa sengaja, aku mendengar mereka sedang berdebat tentang makan malamnya, menu yang dibuat oleh Tinah, membuat selera makan si Tuan Arogan hilang. Akhirnya dia tidak jadi makan, malah pergi menuju kamarnya. Karena anak semata wayangnya tidak makan, Nyonya Lily pun sama, dia ikut mogok tidak makan, sama seperti anaknya itu. aku tidak tega melihatnya, apalagi Nyonya Lily begitu baik terhadap kita. Akhirnya aku memberi penawaran kepadanya. Jika dia mau makan, maka aku akan membuat anaknya juga makan, begitu Karin." Ucap Haruka.


"Wah....sudah gila kamu Haruka. Membuat penawaran, yang sudah jelas tidak akan berhasil. kamu tahu sendiri sikap si Tuan Arogan itu. Kalau dia bilang tidak! Ya tidak. Mana bisa dia mengikuti perintahmu, apalagi kamu hanya seorang asisten rumah tangga. Lain kali kalau kamu mau membuat penawaran, pikirkan dulu masak-masak, jangan asal kasih penawaran Haruka." Jawab Karin sambil memasang wajah kaget luar biasa.


"Iya Karin...aku janji, lain kali aku tidak akan teledor lagi. Tapi untuk kali ini bantu aku, ya? Aku mohon dengan sangat kepadamu, please?" Ucap Haruka memohon kepada Karin, agar dia mau membantu rencananya itu.


"Baiklah... Untuk kali ini aku bantu kamu, tapi ingat, lain kali aku tidak akan membantumu, jika berurusan dengan si Tuan Arogan itu." Jawab Karin.


"Terima kasih...ya Karin? Karena kamu sudah mau membantuku." Ucap Haruka sambil memegang kedua tangan Karin.


"Iya...iya. Tapi aku hanya membantumu membawakan makanannya saja, ya? selebihnya kamu saja yang merayu dia untuk makan, serta menunggunya makan. Itupun jika dia luluh kepadamu. susah juga loh Haruka, membuat hatinya yang keras jadi mencair. Tapi namanya usaha, siapa tahu berhasil." Jawab Karin.


"Baiklah kalau kamu hanya mau membawakannya saja, biar selebihnya menjadi urusanku. lagipula dengan kamu mau membantuku, membawakan makanan saja, aku sudah bersyukur. jadi sedikit ringan beban pekerjaanku Karin.


"Ya sudah...ayo segera kita antar-kan kesana? Mana makanan yang harus aku bawa, Haruka?" Tanya Karin kepada Haruka.


"Itu...makanan yang harus kamu bawa?" Ucap Haruka sambil menunjuk menu yang sama, seperti yang mereka makan tadi.


"Apa kamu tidak salah Haruka?" Ucap Karin.


"Tidak Karin" Jawab Haruka.


"Mana mau Tuan andreas memakan makanan seperti kita ini, Seleranya itu tinggi loh." Ucap Karin dengan cemasnya.


"Tadi-kan kamu bilang, jika kita harus berusaha dulu, mana tahu dia suka atau tidak suka. kalau dia sendiri belum melihat apalagi mencicipinya." Jawab Haruka.


"Ya sudahlah...bagaimana baiknya saja menurutmu, ayo lekas jalan?" Ucap Karin mengajak Haruka untuk segera pergi menuju kamar Andreas.


Akhirnya merekapun berjalan beriringan, Haruka membawa buah-buahan untuk mencuci mulut, sedangkan Karin membawa makan malam untuk Andreas.


Setibanya dikamar Andreas. Haruka menekan bel kamar itu. Namun yang terlihat dari kamera yang berada di mesin suara hanya Karin. sedangkan Haruka tidak terlihat.


"Iya, ada apa Karin?" Ucap Andreas dari dalam kamarnya, melalui mesin suara.


"Ini Tuan, saya ingin mengantarkan makan malam untuk anda." Ucap Karin.


"Tidak perlu Karin, Malam ini saya tidak ingin makan." Jawab Andreas.


"Tapi Tuan?" Sahut Karin.


"Sudah...tidak usah tapi, tapi. Jika saya bilang tidak, ya tidak, dengar kamu? lekas sana...bawa kembali makanan itu ke dapur?" Ucap Andreas dengan ketusnya.


Akhirnya Haruka mengambil alih pembicaraan. Dengan lantangnya dia berkata.


"Maaf Tuan Andre yang terhormat. jika ingin marah, jangan kepada Karin. karena saya yang menyuruh dia, agar membantu saya membawakan makan malam ini, untuk Anda. Jadi kalau memang kebaikan saya kurang berkenan di hati Anda, saya mohon maaf dan permisi. Saya akan membawa Kembali makanan ini ke dapur." Ucap Haruka dengan tegas dan lantang.


Kebaikan dan perhatian Haruka terhadapnya, membuat hati Andre berbunga-bunga. Entah mengapa baru kali ini dia begitu bahagia. Padahal sebelumnya dia tidak merasakan hal seperti itu, ketika masih menjalin kasih dengan Dea, mantan kekasihnya itu.


Dengan segera Andre berteriak kencang memanggil mereka. Setelah tahu kehadiran Haruka.


"Tunggu?" Ucap Andre dengan lantangnya.


Mereka berdua menghentikan langkahnya, setelah mendengar teriakan Andreas. Mau tidak mau merekapun kembali berjalan dan berhenti tepat di depan pintu kamar Tuannya itu.


"Silahkan masuk kedalam, langsung saja keruang tengah,ya? karena pintu sudah bisa dibuka." Melalui pengeras Suara. Andre menyuruh mereka untuk masuk.


Setelah masuk Karin hanya menaruh makanan di meja. Lalu pamit kepada Haruka untuk kembali keruang belakang, agar bisa berkumpul lagi dengan pekerja lainnya.


Haruka mempersilahkan Karin untuk pergi dan mengucapkan terima kasihnya, karena Karin telah mau membantunya.


Haruka pun duduk dibawah kursi menunggu Tuan mudanya datang. Entah mengapa Andre lama sekali muncul dihadapannya. Padahal dia duduk sudah 15 menit lamanya.


"Sedang apa sih dia diruang tidurnya, lama sekali datang kemari. Sudah Lelah aku menunggunya, dasar Tuan yang tidak memiliki hati. Memangnya waktuku hanya untuknya saja. aku juga butuh untuk istirahat." Gerutu Haruka dalam hatinya.


Di dalam ruang tidurnya. Andre sedang dalam keadaan bingung. Apa yang harus dia pakai untuk menemui Haruka? Apakah dia menemui Haruka, dengan memakai pakaian yang sedang dia pakai, yaitu celana pendek diatas dengkul berwarna biru muda, yang dipadupadankan dengan kaos oblong berwarna putih atau mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sopan. Misalnya memakai celana panjang serta kaos, bisa juga memakai celana panjang dengan atasannya kemeja.


Akhirnya karena takut Haruka menunggu lama, lalu pergi. Tanpa pikir panjang lagi, dia segera keluar dari ruang tidurnya tanpa mengganti pakaiannya.


Dia berusaha cuek memakai pakaian tidur, yang sedang dia pakai saat ini. Selain itu dia juga ingin menguji seberapa kuat mental Haruka menghadapi sikapnya yang Arogan itu.


Dia pun berjalan menuju ruang tengah, dimana Haruka telah lama menunggu kehadirannya.


Ketika membuka pintu, dimana batas antara ruang tidur dan ruang tengah kamarnya.


Andre terkejut melihat Haruka tengah duduk dilantai.


Hatinya begitu terharu melihat pemandangan yang tidak biasa. Karena biasanya asisten rumah tangganya selalu duduk diatas sofa. Namun memakai jarak.


Lain dengan Haruka yang begitu menjunjung tinggi batasan Posisi dia berada. Antara majikan dan seorang asisten rumah tangga.


Karena rasa kasihan kepada Haruka. Dengan segera Andre mendekati Haruka. Lalu dari belakang tubuh Haruka dengan refleknya, Dia mengangkat tubuh Haruka dari posisi duduk dilantai untuk berdiri dan berkata,


"Jangan duduk dilantai Haruka? Nanti kalau kamu sakit, aku yang disalahkan oleh Mama. lebih baik kamu duduk di sofa saja." Ucap Andreas untuk mengalihkan pembicaraan.


Padahal yang sebenarnya ada dihati dan pikirannya bukan lantaran Mamanya. Namun dia merasa kasihan jika Haruka harus duduk dilantai.


Bukannya berterima kasih karena sudah dibantu berdiri dan dipersilahkan untuk duduk di sofa. Haruka justru menampar Andreas kencang sekali. Karena bagi Haruka, majikannya itu sudah bertindak kurang ajar terhadapnya.


"Kenapa kamu malah menampar saya, Haruka?" Andre marah dan berkata keras kepada Haruka.


"Maaf Tuan, saya menampar anda reflek. Karena tanpa meminta izin terlebih dulu. Anda justru bertindak kurang ajar terhadap saya, dengan memegang tubuh saya." Ucap Haruka.


"Siapa yang memegang tubuh kamu, saya justru tidak tega dan merasa kasihan melihat kamu duduk dilantai menunggu saya. bukannya berterima kasih, Kamu malah menampar saya seenaknya, huh...sakit tahu?" Ucap Andre sambil menahan sakit dan terus mengusap lembut pipinya itu.


"Sekali lagi saya mohon maaf Tuan, jika saya sudah berpikir buruk terhadap Tuan. Saya kira Tuan mau bertindak macam-macam terhadap saya, ditambah saya terkejut melihat tuan hanya memakai pakaian tidur saja. Sekarang saya sudah pasrah, jika Nyonya Lily mengeluarkan saya dari rumah ini, lantaran telah menampar anaknya." Jawab Haruka dengan mata berkaca-kaca menahan air mata kesedihannya.


"Sudah tenang saja, tidak usah berlebihan. Saya janji tidak akan menceritakan kejadian ini kepada Mama dan pekerja lainnya. Jadi kamu tidak akan dikeluarkan oleh Mama. Asalkan ada satu syarat dari saya, yang harus kamu penuhi." Ucap Andreas.


"Apa itu Tuan? asalkan tidak melanggar norma agama dan bukan menjual kehormatan saya, saya janji akan mengabulkannya." Tanya Haruka.


"Emmmm.....?" Andre mulai berpikir untuk menjawab Haruka.


~Penasaran kan dengan jawaban dari Andreas. Makanya tetap stay dicerita ini ya~