Yes, Im Single Mom

Yes, Im Single Mom
Bab: 17 Andre kerumah Haruka



Ketika malam tiba, Andre semakin resah. ditambah sedari pagi perutnya tidak terisi oleh makanan sedikitpun. Yang dia pikirkan hanya Haruka.


Akhirnya dengan bermodalkan nekad, dia keluar dari kamarnya dan memanggil Pak Sakir.


"Pak Sakir?... Pak Sakir?" Teriak Andre memanggil supirnya itu. Dengan sigapnya sang supir datang menemuinya.


"Iya Tuan, ada apa?" Jawab Pak Sakir.


"Tolong antar-kan saya, ya?" Ucap Andre.


"Baik Tuan, kalau begitu saya siapkan mobil terlebih dulu." Jawab Pak Sakir. Sambil berjalan cepat menuju garasi. Sedangkan Andre pergi menuju kamarnya kembali, untuk mengambil Tas yang berisi dompet serta Hp. setelah itu dia berjalan cepat keluar kamarnya.


Baru saja dia tiba di pintu kamarnya. Tiba-tiba Lily menegurnya.


"Mau kemana kamu, malam-malam begini?" Tanya Lily.


"Andre ada urusan mendadak Ma, Andre pamit ya?" Jawab Andre lalu mencium pipi Lily.


"Ya sudah hati-hati dijalan dan ingat jangan pulang terlalu malam?" Ucap Lily.


"Baik Ma." Jawab Andre sambil melangkahkan kakinya menuju teras rumahnya.


Tiba di teras rumah dengan segera Andre masuk kedalam Mobil. Lalu menyuruh pak Sakir untuk berangkat.


Ketika berada didalam mobil pak Sakir bertanya,


"Mau kemana tujuan kita , Tuan?" Tanya pak Sakir.


"Kita ke rumah Haruka, Pak Sakir masih ingat-kan arah rumahnya?" Ucap Andre.


"Iya Tuan ...saya masih ingat. Karena baru tadi pagi saya mengantarnya." Jawab pak Sakir.


"Oh iya pak Sakir, Kalau bisa jangan katakan kepada orang rumah, kalau kita ingin kesana, ya?" Ucap Andre.


"Tenang saja Tuan, anda bisa percaya dengan saya, untuk hal ini." Jawab pak Sakir.


"Terima kasih atas bantuannya. Jujur saja Pak, bukan saya ingin menutupi hal ini, kepada Mama terutama pekerja yang lain. saya hanya takut mereka berpikir buruk tentang saya dan Haruka." Sahut Andreas.


"Benar Tuan, makanya saya tidak sampai hati jika harus membeberkan semua ini, kepada orang rumah. Kasihan Haruka juga, Tuan. Dia wanita baik, ditambah lagi dia itu yatim piatu, hanya memiliki satu kakak dan keponakan saja. Sungguh malang nasibnya." Ucap pak Sakir penuh simpatik terhadap hidup Haruka.


"Iya Pak, itu yang menjadikan saya lebih memperhatikan dirinya dan Karin, dibandingkan dengan yang lainnya. Dua wanita itu sungguh hebat dan tangguh. Saya saja belum tentu bisa seperti mereka, hidup dalam penderitaan dan cobaan yang bertubi-tubi." Jawab Andreas dengan sangat bijaksana sekali.


"Saya justru bangga dengan Tuan. Walau bapak terlalu tegas dan sedikit keras terhadap para pekerja. Tapi dibalik itu, Tuan masih memiliki hati yang baik dan tulus. Maaf ya pak jika saya berkata seperti itu." Ucap pak Sakir sambil meminta maaf lantaran berbicara kurang sopan terhadap majikannya itu.


"Tidak apa-apa Pak Sakir. Jadi tidak perlu meminta maaf terhadap saya dan jujur saja hati saya sedikit tenang, lantara pak Sakir memiliki jalan pikiran yang sama dengan saya." Jawab Andreas.


"Hehehehe....bisa saja Tuan ini." Ucap pak Sakir sambil cengengesan.


Setelah berbincang-bincang seadanya, mereka terdiam. Pak Sakir fokus dalam menyetir sedangkan Andre memainkan ponselnya.


Sekitar satu kilo perjalanan, Andre menyuruh pak Sakir berhenti sesaat dan menyuruh untuk memarkirkan mobilnya tepat didepan sebuah toko bakery. Setelah mobil terhenti Andre berkata,


"Tunggu sebentar ya Pak? Saya ingin membelikan sesuatu untuk keluarga Haruka. Tidak enak juga jika kita kesana tidak membawa apa-apa." Ucap Andreas.


"Oh iya...silahkan saja Tuan. Saya siap menunggu disini. Jawab Pak Sakir mempersilahkan majikannya tersebut.


Andre pun segera keluar dari mobil. Lalu masuk kedalam toko bakery tersebut. Disana dia memilih beberapa Cake, untuk dibawa kerumah Haruka.


Setelah membayar kue tersebut. Dia keluar toko. Namun tidak langsung ke dalam mobil, melainkan masuk kesebuah toko sovenir, yang berada tepat di samping Toko bakery itu.


Setelah selesai dia pun berjalan menuju Mobil. Lalu masuk dan menyuruh pak Sakir untuk berangkat kembali.


Setelah Dua puluh menit perjalanan. Akhirnya mereka tiba di depan rumah Haruka. Namun Andre tidak langsung masuk. Justru hanya melihat rumah itu dari dalam mobil.


Pak Sakir merasa heran dengan majikannya itu. Tanpa pikir panjang lagi dia pun berkata,


"Tuan itu rumah Haruka, kenapa tuan tidak segera kesana? Bukankah tadi Tuan ingin kesini?" Ucap pak Sakir.


"Entahlah pak Sakir, kenapa setelah tiba di sini, saya jadi tidak enak hati, ya? Saya merasa kurang sopan jika harus bertandang kerumahnya. Nanti apa yang harus saya ucapkan kepada Haruka?" Keluh kesah Andre kepada supir pribadinya itu.


"Kenapa tidak enak Tuan. Saya yakin Haruka dan keluarganya akan senang dengan kedatangan Anda. Mereka akan bangga karena Tuan sebagai majikannya, punya rasa perhatian yang lebih. Makanya lebih baik tuan segera kedalam dan menemui mereka." Ucap pak Sakir.


"Baiklah pak Sakir, saya masuk kedalam dulu, ya? Pak Sakir mau ikut masuk atau bagaimana?" Tanya Andre kepada pak Sakir.


"Lebih baik saya menunggu di sini saja Tuan, Tidak enak juga jika saya harus berada bersama kalian. Nanti Haruka malah berpikir buruk terhadap saya." Jawab pak Sakir.


"Ya sudah kalau begitu pak Sakir. saya berangkat kesana." Sahut Andreas berpamitan dengan pak Sakir.


Dia berjalan perlahan tanpa menoleh lagi kebelakang. Tiba didepan pintu rumah Haruka. Andre mengetuk pintunya beberapa kali. Lalu terdengar suara langkah kaki menuju pintu dan terdengar pula sayup-sayup suara Haruka, berbicara dengan anaknya, Bianca.


"Sebentar ya sayang, Mama mau membuka pintu dulu, Ada yang datang tuh." Suara lembut Haruka terdengar dari dalam rumah.


Jujur Andre terkejut, ketika mendengar Haruka berkata "Mama". Pikiran Andre terbang jauh melayang, hatinya bertanya-tanya seolah sedang mencari tahu jawaban atas rasa penasarannya itu.


Namun dia tetap masih berdiri. memantapkan hatinya untuk bertemu dengan Haruka. tanpa ingin membahas sedikitpun tentang perkataannya tadi.


Setelah Haruka membuka pintunya. Dia lebih terkejut ketika melihat Andre, si Tuan Arogan. Sudah berdiri tegap dihadapannya.


Pikirannya menjadi tidak karuan. Bahkan jantungnya berdetak kencang sekali. dia takut jika Andre mendengar ucapannya tadi. Akhirnya dia-pun pasrah akan keadaan. jika memang harus dikeluarkan dari pekerjaannya, lantaran jati dirinya telah diketahui oleh majikannya itu.


"T..tuan...Kenapa datang kemari? Apakah ada yang ingin Tuan sampaikan kepada saya. Maafkan jika saya telah membohongi Tuan dan Nyonya selama ini." Ucap Haruka dengan terbata-bata. karena rasa takutnya yang begitu tinggi.


"Selamat malam Haruka? Kenapa bicaramu terbata-bata dan ucapan mu itu seolah-olah tidak senang dengan kehadiran saya disini. Kalau begitu lebih baik saya kembali saja, jika memang kehadiran saya mengganggu kenyamanan mu." Jawab Andre kepada Haruka dengan senyuman manisnya. Setelah itu dia membalikkan tubuhnya untuk berjalan kembali menuju mobil.


Namun baru beberapa langkah saja. Haruka berteriak memanggilnya.


"Tunggu Tuan?" Andre menghentikan langkahnya sesaat, setelah mendengar panggilan dari Haruka.


Haruka berjalan cepat mendekati Andreas dan masih dalam keadaan menggendong Bianca.


"Tunggu Tuan? Jangan pergi?" Ucap Haruka dengan lembutnya.


"Ada apalagi Haruka? Bukankah Kedatanganku ini tidak diharapkan olehmu. Jadi biarkan aku kembali kerumah. Aku takut mengganggu kenyamanan mu, itu saja." Ucap Andreas.


"Tidak Tuan? Sumpah tidak ada sedikitpun dipikiran saya, kalau Tuan itu mengganggu kenyamanan saya. Mari silahkan masuk kedalam. Nanti akan saya perkenalkan dengan kakak saya." Ajak Haruka kepada Andre.


"Kamu yakin Haruka? Mengajak saya untuk masuk kedalam rumahmu serta mengenalkan ku dengan kakakmu?" Ucap Andre.


"Iya Tuan, justru saya bangga terhadap Tuan. Karena masih mau datang kerumah saya, pembantu Tuan ini." Jawab Haruka.


"Sudahlah Haruka, jangan pernah berbicara seperti itu lagi didepan saya. Jika kita sedang berada diluar rumah. Nanti terserah sikapmu seperti apa? Jika kita sedang berada di rumahku. Namun patut kamu tahu, jauh dilubuk hati ku yang terdalam. Aku sangat peduli denganmu dan Karin." Ucap Andreas.


"Terima kasih Tuan atas perhatiannya." Jawab Haruka dengan senyuman manisnya, yang membuat Andre semakin salah tingkah saja.


Mereka berdua pun melanjutkan langkahnya dengan berjalan beriringan, menuju kedalam rumah Haruka. Dengan hati bahagia Andre mengikuti langkah Haruka.