
Sebelum Haruka membersihkan kamar Andreas, dia menyusuri dahulu setiap ruangan. ternyata kamar yang tadinya terlihat rapih dan bersih, Sudah berantakan tidak karuan.
"Huh...dasar Tuan Arogan, sengaja betul membuat berantakan ruangan ini, padahal tadi aku lihat sangat bersih sekali. Lihat saja aku tidak akan menyerah untuk bekerja disini. Karena bukan dia yang membayar tenagaku, melainkan Nyonya besar." Celetuk Haruka dalam hatinya. sambil membersihkan terlebih dulu tempat tidur milik majikannya itu.
Satu jam berlalu, akhirnya selesai juga pekerjaan Haruka. Dengan segera dia meninggalkan ruangan itu.
Haruka melangkahkan kakinya menuju dapur, tiba disana dia segera membuka kulkas dan mengambil air putih dingin. lalu menuangnya didalam gelas serta menenggaknya dengan cepat sekali.
"Akhirnya selesai juga pekerjaanku dan terbayar sudah rasa lelahku ini, dengan meminum segelas air dingin."
Memang dasar Andreas, pria yang tidak punya hati. Baru saja Haruka selesai mengerjakan tugas pertama, dia sudah berteriak kembali memanggil namanya.
Lantaran dia melihat Haruka jalan menuju dapur. Lalu terbesit dipikirannya untuk mengerjainya kembali.
"Haruka...Haruka" Teriak Andre dengan kerasnya.
Haruka yang sedang santai sesaat. merasa kaget ketika mendengar teriakan Tuannya itu.
"Iya Tuan, saya segera datang" Jawab Haruka sambil berlari kecil menuju kolam renang.
Tiba disana Haruka langsung bertanya, ada apa gerangan tuannya memanggil namanya.
"Permisi Tuan, ada apa memanggil saya?" Tanya Haruka dengan sopan nya.
"Tolong buatkan saya segelas jus mangga? jangan lupa buatkan saya juga roti bakar, ya?" Baik Tuan saya segera kembali?" Ucap Haruka.
"Ok." Jawab Andreas dengan santainya.
Dengan segera Haruka berjalan menuju dapur. Lalu membuatkan jus dan roti bakar pesanan majikannya.
Tak lama dia sudah kembali lagi dengan membawa jus dan roti milik Andre.
"Ini Tuan, jus dan rotinya. kalau sudah tidak ada perintah lagi, saya ingin kembali ke dapur menyiapkan bubur untuk Karin." Ucap Haruka dengan penuh kejujuran.
Andre segera meminum jus mangga buatan Haruka dan memakan roti bakar yang berisi coklat. Baru saja Andre mengigit sedikit roti bakar itu. Tiba-tiba dia sudah berteriak kembali memanggil Haruka.
"Haruka?" Teriak Andre dengan sangat kerasnya. Hingga membuat Lily keluar dari kamarnya dan berjalan cepat menuju kolam renang.
Bukan hanya Lily, Haruka pun sama berlari kencang kembali menemui Tuannya.
"A...ada apa Tuan memanggil saya kembali?" Ucap Haruka dengan terbata-bata.
"Kamu ini bagaimana sih? kok membuat roti bakar memakai selai coklat. apa Karin tidak memberitahumu, kalau saya tidak suka apapun yang berhubungan dengan coklat?" Ucap Andre dengan keras dan ketus membentak Haruka.
"Ma...maaf tuan, kalau saya salah membuatkan roti untuk Tuan, maklum saya tidak tahu apa yang tuan suka dan tidak suka. saya berjanji lain kali tidak akan mengulang kesalahan ini dan akan belajar lebih keras lagi mengenai tuan lewat Karin." Jawab Haruka dengan mata berkaca-kaca, karena telah dibentak oleh Andreas.
Lili datang menghampiri dan membela Haruka tepat dihadapan anaknya itu.
"Andre! kenapa kamu harus membentak Haruka. memangnya kamu tidak bisa berbicara baik-baik kepadanya. Harusnya kamu bisa memakluminya karena dia baru beberapa hari bekerja disini." Ucap Lily dengan ketusnya kepada Andre.
Lily menggoyang tangan kanannya, seraya menyuruh Haruka untuk segera pergi, agar tidak dimarahi oleh anaknya lagi.
Haruka-pun pergi menuju kamarnya dengan airmata yang bercucuran. Di dalam kamar dia menangis sejadi-jadinya. Dia merasa sangat tidak dihargai oleh Andre. Hingga berpikir ada apa sebenarnya dengan dirinya hingga majikannya itu tidak menyukainya.
Di teras kolam renang Lily menasehati Andre agar tidak menyakiti hati Haruka lagi, dengan tidak berkata kasar kepadanya.
"Sayang...Mama minta dengan sangat kepadamu, tolong kamu jangan memarahi atau membentak Haruka lagi. Kasihan sayang, dia sudah tidak mempunyai orang tua. Lagipula...sudah mama bilang berapa kali kepadamu. berbaik hatilah kepadanya karena Haruka itu wanita yang baik dan sopan, jadi tidak selayaknya kamu perlakukan seperti itu." Ucap Lily memohon kepada Andre.
Bukannya sadar atas kesalahannya. Andre justru mengambil handuk dan memakainya untuk menutupi auratnya itu. Tanpa pamit dan berkata lagi, dia meninggalkan Lily dengan seenaknya.
Lily hanya mampu menggelengkan kepalanya, karena sikap anaknya yang tidak sopan itu.
Sambil mengelus dada dia berkata dalam hatinya.
"Oh Tuhan ada apa sebenarnya dengan anakku itu? padahal sebelum ada Haruka sikapnya tidak sekasar itu dengan pekerja lain disini. Mohon berilah hamba kesabaran atas dirinya." Keluh kesah Lily kepada Tuhan sambil berjalan meninggalkan kolam renang.
Tiba di kamar, bukannya mandi Andre justru duduk di sofa ruang tengah kamarnya. Dia tertawa senang sekali, karena sudah mengerjai Haruka. sebenarnya Andre tidak bermaksud menyakitinya. Dia hanya ingin melihat wajah ketakutan Haruka. Dimana wajah itu tidak pernah dia temukan pada Dea, disaat Dea tengah asik bahagia diatas penderitaannya.
Ditempat berbeda Lily sedang menguatkan hati Haruka, dengan memberinya semangat agar jangan terlihat lemah jika berhadapan dengan Andre, anaknya itu.
"Haruka, sekali lagi saya mohon maaf atas prilaku kasar Andre. Jujur saya sangat heran, baru kali ini loh saya melihat perubahan pada dirinya. dimana anak saya bersikap kasar kepada seorang pekerja, saya harap kamu kuat menghadapinya, karena saya yakin suatu saat dia akan luluh dengan ketegaran mu ini. Kamu masih ingat- kan ucapan saya, Kalau yang meng....?"
Baru saya Lily berucap kepada Haruka, namun dia memotong kata-katanya dan menjawab dengan senyuman manisnya.
"Kalau yang menggaji saya adalah Nyonya bukan tuang Andreas." Jawab Haruka sambil menghapus air matanya dengan tissue.
"Nah...begitu dong. kamu harus tetap senyum dan jangan bersedih hati. karena saya akan menjadi garda terdepan mu, jika anak saya bertindak semena-mena terhadapmu." Ucap Lily dengan mengelus lembut bahu Haruka.
Kelembutan hati Lily telah membuat hilangnya rasa sedih dihatinya Haruka. kesabaran Lily sebagai pelajaran bagi Haruka. kalau dia harus kuat menghadapi hidup ini. karena benar kata Lily kelak Andre akan bertekuk lutut kepadanya. Jika Haruka menghadapinya dengan ketegaran bukan dengan sebuah tangisan kesedihan.
Setelah melihat Haruka tenang kembali. Lily pun pamit untuk pergi menuju kamarnya dan Haruka segera menghapus air matanya, lalu kembali ke dapur untuk mengambil makanan untuk Karin.
Dikamar Karin, Haruka menceritakan kembali sikap arogan majikannya itu. Sambil mengunyah makan siangnya, yang sedang disuapi Haruka, Karin justru tertawa mendengarnya dan berkata.
"Hahahaha, kamu ini mengapa jadi cengeng sekali sih, Haruka. Kalau dipikir-pikir dia kasar kepadamu, bukan untuk menyakitimu, Haruka. melainkan ada sesuatu yang dia inginkan darimu." Ucap Karin sambil tertawa.
"Maksud kamu apa Karin? jujur aku tidak paham. Kamu ini aneh, bukannya menenangkan hatiku yang sedang sedih dan kalut ini. Malah menertawai ku." Jawab Haruka sambil menepuk jidatnya.
"Maksudku tadi adalah, bisa jadi si Tuan arogan itu hanya ingin mengerjai mu saja, karena setahu aku, baru kali ini loh dia bertindak kasar kepada seorang pekerja disini. kalau kamu tidak percaya, silahkan saja kamu tanya satu persatu kepada mereka, yang bekerja di sini." Balas Karin.
"Masa sih Rin?" Tanya Haruka dengan rasa tidak percayanya.
"Iya sayang, masa aku bohong kepadamu." Ucap Karin.
"Dasar pria aneh, Bikin aku jadi penasaran saja, ada apa sebenarnya dengan diriku ini, hingga dengan seenaknya dia memperlakukan aku seperti ini. Lihat saja aku tidak akan menyerah untuk bekerja disini." Jawab Haruka dengan kesalnya kepada Andre.
Merekapun larut dalam pembicaraan, bergosip ria membicarakan majikannya itu, si Tuan Arogan.