
Tiba di dalam kamar Andre, Haruka terkejut melihatnya. Karena baru kali ini dia masuk kedalamnya dengan melihatnya secara detail. Ruangan itu sungguh terlihat sangat elegan.
ketika kaki Haruka mulai masuk kedalam, sudah terlihat ruang kerja yang sengaja dibangun untuk memudahkan Andre memantau perkembangan urusan kantornya dari rumah, ketika sedang tidak bekerja.
Diruang pertama itu juga terdapat dua kursi dan satu meja, beserta Lemari hias yang sengaja di isi dengan koleksi buku-buku milik andreas.
Kamar yang begitu indah dipandang dan membuat siapa saja akan betah jika berada di dalamnya. penuh kesunyian dan ketenangan jiwa
Haruka pun mulai berjalan lagi menuju ruang selanjutnya yang ada di kamar majikannya itu.
Haruka makin terpesona ketika melihat ruang kerja sekaligus ruang santai milik Andre, yang tertata dengan sangat rapihnya.
"Ya Tuhan...ini kamar atau hotel, ya? Sungguh mewah dan megah. Rumahku saja tidak sebesar kamar ini. Sungguh berbahagialah kamu Tuan Arogan, karena masih memiliki nasib yang bagus dari sang penciptamu." Suara hati Haruka.
Diruang terakhir perjalanan Haruka, dia berada diruang pribadi milik Andreas. Dimana Andreas melabuhkan mimpinya disana. ruang tidur yang terlihat begitu elegan dan simpel tidak terlalu norak jika terlihat oleh mata. Terkesan sangat minimalis.
Dia makin terpesona dengan keindahan kamar milik si Tuan Arogan.
Karena merasa sudah selesai menyusuri kamar majikannya. dia-pun membalikkan tubuhnya untuk menemui Tuannya itu.
Namun...kejadian yang tidak mengenakan terjadi. Tanpa hati-hati Haruka terjatuh di atas kasur milik andre, lantaran kakinya hilang keseimbangan.
Andreas yang melihatnya sontak berlari kencang untuk membantunya. Tapi nasib baik belum berpihak kepadanya. karena kaki Andreas tersandung permadani tebal, yang menjadi alas lantai kamarnya. Hingga membuatnya terjatuh tepat di atas tubuh Haruka yang sedang berusaha untuk bangun.
"Brukkk!" Andre terjatuh tepat diatas tubuh Haruka.
"Aww...!!" Suara Haruka meringis kesakitan , lantaran Ketiban tubuh besar Andre.
Haruka terkejut bukan kepalang. ketika Andre sudah berada diatas tubuhnya. bahkan yang lebih mengagetkan lagi posisi pipi kanan Andre tepat diatas bibirnya, jadi mau tak mau ketika jatuh Haruka mencium Andre tanpa sengaja.
Mereka sangat menikmati sesaat tragedi itu. Namun ketika sadar mereka berusaha untuk bangun. Wajah Mereka berdua nampak memerah. serasa malu atas kejadian tadi.
Setelah bisa berdiri tegap, Haruka buru-buru membetulkan pakaiannya. lalu pamit kepada Andre untuk keluar dari kamarnya.
Haruka berjalan terus tanpa menoleh sedikitpun kepada Andre. Sungguh kejadian tadi sudah membuat pikiran Haruka menjadi buyar.
Padahal sebelumnya Haruka ingin menegur keras majikannya itu. Lantaran sudah mengerjainya, dengan menyuruh membersihkan kamarnya yang terlihat dalam keadaan sangat rapih dan bersih.
Setelah kepergian Haruka, Andre membaringkan tubuhnya sambil memegang dan mengusap-usap pipi kanannya, yang tanpa disengaja telah tercium oleh Haruka.
Pikirannya jauh terbang melayang,
membayangi kejadian tadi. Ternyata baru kali ini pipinya tersentuh oleh seorang wanita. walau terlihat Arogan, Andre itu adalah pria yang sangat polos sekali. Bahkan Selama menjalin kasih dengan Dea saja, dia selalu menjaga dirinya agar tidak bertindak konyol terhadap seorang wanita.
Namun siapa sangka selain sikap dinginnya yang Dea tidak suka. masih ada lagi sikap Andre yang membuat Dea mengakhiri hubungannya sepihak, yaitu sikap arogan Andre yang terlalu pencemburu hingga membuat Dea, banyak kehilangan teman prianya di kampus.
Kini Dea lebih memilih pria lain yang lebih dewasa jalan pikirannya, ketimbang melanjutkan hubungannya dengan Andre, si Pria dingin dan Arogan yang tidak bisa bersikap lembut dan romantis.
Di tempat berbeda, Haruka justru kesal sekali dengan kejadian tadi. Membuat harga dirinya terasa jatuh dihadapan majikannya itu. Dia menghapus bibirnya dengan tissue seolah habis terkena noda yang sulit untuk dihapus. Dia bahkan sampai mencuci bibirnya dengan sabun dan dibilas dengan air bersih berulang-ulang.
Tinah yang melihat sikap aneh Haruka, langsung menegurnya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Mbak sedang apa? Kok tiba-tiba mengelap bibirnya? Lihat hampir lecet begitu loh mbak." Ucap Tinah kepada Haruka.
"I...ini loh Mbak Tinah, saya salah pakai pelembab bibir, malah pakai minyak angin. Karena kepanasan jadi saya bilas dengan sabun dan air." Jawab Haruka membohongi Tinah dengan tidak menceritakan yang sebenarnya.
"Oh ..pantas saja bibir Mbak hampir lecet seperti itu. lebih baik pakai air es aja Mbak, siapa tahu bisa mengurangi rasa panasnya." Ucap Tinah memberi saran kepada Haruka.
"Baiklah Tinah... Nanti Mbak pakai air es deh." Jawab Haruka mengeringkan bibirnya yang basah dengan tissue.
"Tinah pamit keruang makan dulu ya Mbak? Ingin membersihkan meja makan, Masih berantakan dan kotor." Ucap Tinah sambil berjalan menuju ruang makan.
"Iya." Jawab Haruka sambil mengelap bibirnya dengan tissue kembali.
Setelah itu dia mengambil masker untuk menutupi hidung dan bibirnya. Lalu berjalan menuju kamar Andre, untuk memastikan kalau kamarnya masih dalam keadaan bersih. agar dia tidak di perintahkan untuk membersihkannya.
Masih dalam keadaan malu dan tidak nyaman. Haruka berusaha menguatkan dirinya untuk bertemu kembali dengan si Tuan Arogan itu.
Haruka mengetuk pintu kamar Andre. Namun tidak ada suara sedikitpun menjawabnya.
Haruka lupa jika kamar seluas itu tidak mungkin akan terdengar jika ada orang mengetuk pintu. Akhirnya Haruka menekan bel, yang ada tepat di samping kanan pintu kamar Andreas.
Dia menekannya dengan berulang-ulang, hingga akhirnya Andre berteriak. Melalui mesin suara yang berada tepat di atas bel tersebut.
"Siapa?" Tanya Andre.
"Saya Tuan, Haruka." Jawab Haruka.
Andre terkejut mendengar suara Haruka. hatinya bertanya-tanya,
"Mengapa dia kembali lagi menemuiku? apakah kejadian tadi membuat dia sangat marah kepadaku? Tapi-kan semua itu bukan di sengaja, melainkan musibah yang datang secara mendadak. ah...tapi sudahlah kenapa aku harus banyak berpikir buruk, atas apa yang belum tentu sama dengan pikiran ku ini." Ucap Andre dalam hatinya.
Dengan percaya diri seolah tidak terjadi apa-apa. Andre pun menjawab Haruka dengan santainya
"Iya , ada apa Haruka?" Tanya Andre kembali masih melalui mesin suara.
"Maaf Tuan...apakah saya masih harus membersihkan, kamar Tuan? saya menanyakan hal ini, lantaran tadi saya melihat sudah sangat rapih dan bersih" Jawab Haruka menanyakan masalah Tugasnya.
"Bersih? bersih apanya Haruka? Kamar ini masih terlihat kotor dan berantakan. apalagi kasurku ini, karena kejadian tadi akhirnya berantakan semua. O...o..ops...maaf Haruka saya tidak sengaja mengucapkannya. ya sudah...tunggu sebentar saya buka-kan dulu pintunya." Ucap Andre dengan ketusnya sambil membahas kejadian tadi.
Haruka makin kesal kepadanya lantaran Si Tuan Arogan, membicarakan kejadian tadi melalui mesin suara dan parahnya lagi, Tari salah satu pembantu dirumah itu, tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya. ketika mendengar suara Andre dari mesin Suara.
Akhirnya ketika Andre membuka pintu kamarnya, dengan segera Haruka masuk kedalam dan langsung menutup pintu kamar tersebut. lalu berkata didepan Andre.
"Tuan, saya ingin merapihkan kamar ini." ucap Haruka.
"Ok....Silahkan saja." Jawab Andre masih dalam keadaan duduk. di sofa ruang tengah kamarnya, sambil mendengarkan musik kesukaannya.
"Tapi....Tuan!" Sahut Haruka tidak melanjutkan bicaranya, dia justru melamun sehingga pikirannya nampak kosong.
"Kenapa kamu malah diam saja? Bukankah kamu tadi ingin membersihkan kamar ini?" Ucap Andreas ketika melihat Haruka tengah diam seribu bahasa.
"Maksud saya...apa tidak sebaiknya Tuan diluar kamar dulu, agar tuan tidak terkena debu dan saya juga tidak...?"
Baru saja Haruka menjawab. Eh...Andre justru memotong omongan Haruka sambil meledeknya.
"Tidak mencium pipi saya lagi... itu-kan maksudmu, hehehehe." Ledek Andre pada Haruka.
Haruka terkejut bukan kepalang mendengar ucapan majikannya itu. Wajahnya yang semula terlihat putih bersih, berubah menjadi kemerahan. lantaran malu luar biasa.
"Apa sih Tuan? kok malah membahas lagi kejadian tadi, yang kita tahu jelas semua tidak ada unsur kesengajaan. Sudahlah Tuan kita lupakan saja masalah itu." Ucap Haruka dengan ketusnya sambil berjalan mundur lantaran Andre berjalan mendekatinya.
Andre makin suka dan semangat sekali ingin meledek dan menakuti Haruka. Apalagi Andre lihat wajah Haruka terlihat sangat ketakutan.
Andre pun terus berjalan mendekati Haruka dan Haruka perlahan-lahan berjalan mundur. hingga tak terasa jika Haruka sudah berada di di dinding kamar tanpa bisa berjalan kemana-mana lagi.
Tubuh Andre mulai mendekati Haruka. seolah-olah dia ingin berbuat kurang ajar kepadanya. Tangan kanan Andre mulai bergerak dan terhenti tepat di samping wajah Haruka.
Haruka makin ketakutan sampai tidak terasa air matanya mulai menetes tepat di pipinya. Dia sudah pasrah atas apa yang ingin dilakukan oleh Majikannya itu. Matanya sengaja di pejamkan agar dia tidak melihat wajah Andre yang terlihat penuh nafsu kepadanya.
"Jangan Tuan, tolong. saya masih ingin bekerja di sini untuk menghidupi kakak dan keponakan saya satu-satunya. semenjak orang tua saya meninggal di umur saya satu tahun, saya hanya memiliki mereka, Tuan." Ucap Haruka memohon kepada Andre agar tidak menodainya.
Bahkan dengan pasrah nya dia bercerita sedikit, tentang keadaan keluarganya. sengaja dia lakukan itu, agar Andre merubah pikiran kotornya itu.
Wajah Andre sengaja mendekati telinga Haruka. lalu berkata,
"Tidak usah berlebihan, siapa juga yang mau memperkosa mu, jangan ke ge'eran ya? asal kamu tahu, kalau kamu itu bukan tipe saya, hahahaha." Andre tertawa terbahak-bahak melihat Haruka begitu ketakutan.
Dengan perlahan Andre pergi meninggalkan Haruka yang masih dalam keadaan takut.
Setelah kepergian Andre, Haruka bisa bernapas lega. Lantaran Andre hanya meledeknya dan tidak berniat untuk kurang ajar kepadanya, apalagi memperkosanya.
Dengan mengelus dadanya dia berkata dalam hatinya.
"Haduh...hampir saja jantungku copot dan hampir saja aku mati mendadak. karena sikap Tuan andreas tadi terhadapku. syukurlah aku bukan tipenya jadi akan tenang bekerja menjadi asisten pribadinya.
Sungguh bahagia rasanya ketika tahu dia hanya meledek bukan berniat jahat kepadaku." Keluh kesah Haruka dalam hatinya.
Ketika sedikit tenang kembali, Haruka mulai membersihkan kamar Andreas. sedangkan Andreas memilih berenang untuk menghibur hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.