Yes, Im Single Mom

Yes, Im Single Mom
Bab: 36 Yes, Im Single Mom.



"Siang Mbak Haruka? Maaf saya menggangu. Sengaja saya datang kemari, hanya untuk mengantarkan buah ini." Ucap Tinah.


"Oh...kamu Tinah! Aku kira siapa? sini masuk dulu kita ngobrol bersama?" Jawab Haruka


"Ah...tidak usah Mbak, saya takut mengganggu istirahatnya." Sahut Tinah.


Dari dalam kamar Haruka, Karin berteriak kepada Tinah.


"Masuk dulu Tinah, kita ngobrol disini, daripada di dapur, Mumpung jam istirahat." Teriak Karin.


"Oh Karin, ternyata kamu masih disini? Aku kira kamu berada di kamarmu, hehehehe. Ya sudah...kalau begitu aku ikut nimbrung ya dengan kalian disini." Ucap Tinah sambil melangkahkan kakinya kedalam kamar Haruka. Setelah Tinah berada di dalam Haruka segera menutup pintu nya, agar tidak terlihat oleh nyonya besar dan pekerja lainnya.


"Maaf ya, jika kedatanganku kemari mengganggu kenyamanan kalian." Ucap Tinah.


"Ngomong apa sih kamu Tinah, tidak ada sedikitpun pikiranku buruk terhadapmu. bagiku kalian sudah aku anggap bagian dari keluargaku." Jawab Haruka.


"Iya Tinah Benar kata Haruka. kamu tidak sedikitpun mengganggu kami. justru kami senang kamu ikut nimbrung bersama kita. Lagipula tidak ada yang kami tutupi kok denganmu, jadi santai saja ya?" Ucap Karin.


"Hehehehe, iya Karin. Terima kasih buat kepercayaannya." Jawab Tinah.


"Ayo dong Haruka lanjutkan kembali ceritamu yang sempat terhenti tadi. jujur aku tidak sabar mendengarkan semuanya." Ucap Karin.


"Iya Haruka sambil makan buah ini, biar ceritanya makin seru. Walau tertinggal jauh ceritanya, setidaknya aku tahu sedikit jalan cerita hidupmu." Ucap Tinah.


"Baiklah aku lanjut ya ceritanya. Setelah aku memiliki Bianca, tepatnya umur Lima bulan. Pak Aldo mertuaku meninggal Dunia dan semua harta beserta usahanya dilimpahkan kepada suamiku Martin, anak satu-satunya. Karena pemilik toko sudah berganti orang, Cherry mengundurkan diri keluar dari pekerjaannya. Lantaran tidak sejalan dengan pikiran Martin. Nah...dari pada rumah Tante ku kosong, akhirnya aku menyuruh Cherry untuk tinggal disana sambil menjaga dan merawatnya. Dari pada dia harus membuang uang untuk mengontrak, lebih baik uangnya dia simpan untuk hidupnya kedepan." Haruka menghentikan sesaat ceritanya dengan meminum segelas air putih.


"Nah Karin....apa aku bilang. Haruka ini wanita yang sangat baik, selalu memikirkan nasib orang lain, ketimbang nasibnya sendiri. buktinya Cherry hanya teman, bukan saudara, tapi dia mempercayakan rumahnya untuk ditempati olehnya, tanpa membayar seperak pun". Ucap Tinah kepada Karin.


"Iya Tinah, aku salah sudah terprovokasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Untung saja kamu mengingatkan aku. jika tidak aku akan menyesal dan berdosa seumur hidupku nanti." Jawab Karin.


"Sudah...sudah tidak perlu kalian bahas lagi masalah itu. Bagiku tidak ada yang salah, semua ini aku anggap hanya kesalahpahaman saja." Sahut Haruka.


"Oh iya... Haruka. Apa boleh aku melihat anakmu Bianca?" Ucap Tinah kepada Haruka.


"Boleh saja Tinah, sebentar aku cari dulu ya di galeri foto?" Jawab Haruka sambil merogoh sakunya, lalu mengambil ponselnya dan mencari foto Bianca. Tak lama dia pun menemukan foto itu dan memberikannya kepada Tinah.


"Ini loh Bianca, Tinah. Buah hatiku hasil dari pernikahanku dengan Martin." Ucap Haruka.



"Ya Tuhan....Cantik sekali anakmu Haruka, mirip sekali denganmu. Sungguh bodoh mantan suamimu itu, telah menyia-nyiakan hidup kalian. Biar saja Tuhan nanti membalasnya Haruka." Ucap Tinah yang begitu terpesona ketika melihat Bianca.


"Memang dia bodoh Tinah. Kalau pintar pasti dia mempertahankan pernikahannya dengan Haruka." Jawab Karin dengan kesalnya.


"Hehehehe, kalian ini bisa saja kalau bicara. Membuat aku jadi ingin tertawa lebar." Sahut Haruka.


"Lanjut Haruka?" Ucap Karin.


Setelah Martin memegang kendali atas harta dan usahanya, saat itulah semua menjadi berubah drastis. Martin menjadi lupa daratan, Kerjanya hanya mabuk-mabukan, berjudi bahkan main perempuan dan lebih parahnya lagi, dia suka bertindak kasar, sering memukuli aku dan mencaci makiku, tepat dihadapan Bianca. Karena kehadiran Bianca, aku sabar menjalani hidup dengan martin. Namun setelah Bianca berumur Satu tahun, aku sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan dan pada akhirnya, aku memutuskan untuk berpisah darinya. Karena aku memakai jasa pengacara, proses perceraian ku dengan Martin tidak memakan waktu lama. Hanya dalam waktu satu bulan, akhirnya kami resmi bercerai." Cerita Haruka tentang perceraiannya dengan Martin.


"Yes, Im Single Mom. Hahahaha." Jawab Haruka sambil tertawa akan status Single nya saat ini.


"Hahahaha, bisa saja kamu Haruka. Membuatku jadi ikut tertawa saja. Jujur aku bangga kepadamu, karena kamu tidak rendah diri menjadi seorang janda, yang biasanya menjadi bahan cemoohan para wanita di luar sana." Ucap Karin.


"Kenapa aku harus rendah diri ataupun meratapi nasib. Aku hidup tidak sendiri Karin, masih ada Bianca yang menemaniku. Dia sebagai penyemangat hidupku. Apalagi hidup itu-kan terus berjalan. Jadi tidak mungkin aku terus meratapi nasib, yang ada Tuhan malah marah dan menutup pintu rezeki ku." Jawab Haruka.


"Iya Haruka, benar sekali ucapan mu itu. Jangan pernah takut kita sengsara. Asalkan kita mau berusaha dan berdoa. Aku yakin akan indah pada masanya." Sahut Tinah.


"Ayo dong Haruka lanjut lagi ceritanya. mumpung jam istirahat kita masih lama." Ucap Karin.


"Iya Haruka. Aku sudah menantinya nih, hehehehe." Sahut Tinah.


"Baiklah, aku lanjutkan kembali ceritanya. Setelah bercerai, aku kembali ke rumahku dan hidup bersama Cherry dan bekerja disini, bersama kalian. Oh iya...sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan kepada kalian. Tapi aku mohon kepada kalian, jangan sampai Nyonya Lily tahu semua ini." Ucap Haruka sambil meminta kepada dua sahabatnya itu, agar tidak menceritakan kembali apa yang ingin dia sampaikan.


"Tentang apa Haruka?" Ucap Karin.


"Pokoknya aku minta kalian janji terlebih dahulu, kepadaku." Jawab Haruka.


"Baiklah...aku janji akan menjaga rahasia ini. Kamu bisa pegang omonganku ini." Ucap Karin


"Iya...aku juga janji! jadi kamu tenang saja, aku pastikan tidak akan ada yang tahu." Sahut Tinah.


"Tolong kalian jangan terkejut ya jika mendengar cerita ku ini?" Ucap Haruka.


"Kenapa harus terkejut Haruka?" Jawab Tinah dengan rasa penasarannya.


"Karena ini menyangkut hidup seseorang, jika Nyonya tahu mungkin aku akan kena imbasnya dan diberhentikan dari pekerjaan ini" Sahut Haruka.


"Bisa separah itukah Haruka?" Tanya karin.


"Iya" Jawab Haruka.


"Coba kamu ceritakan dulu pokok permasalahannya. Jadi kami paham akan maksud dari ceritamu itu." Ucap Karin.


"A...aku dan Tuan Andreas sudah menjadi sepasang kekasih." Ucap Haruka.


"Apa!!! kekasih" Jawab Karin dengan sangat terkejutnya.


"Hah...serius kamu Haruka?" Tanya Tinah.


"Iya serius...masa aku berbohong, apa untungnya buatku." Ucap Haruka.


"Gila kamu, Haruka. Itu sama saja kamu ingin mengorbankan hidupmu. Jawab Karin masih dalam keadaan tidak percaya.


"Kamu ini sungguh nekad dalam mempertaruhkan pekerjaanmu disini." Sahut Tinah dengan keadaan ketakutan, lantaran tidak ingin sahabatnya itu sampai dipecat oleh majikannya.


"Nanti aku ceritakan ya semuanya, sekarang aku ingin ke toilet dulu. sudah tidak tahan ingin buang air kecil." Haruka segera beranjak pergi meninggalkan kedua sahabatnya menuju toilet.