
Haruka berjalan menuju kamar Karin untuk sekedar melihat keadaannya dan pandangannya hanya lurus kedepan, tanpa menghiraukan keberadaan Andre yang sedang memperhatikannya.
"Dasar wanita aneh. sekarang mengapa harus dia yang jual mahal? berpura-pura seolah tidak melihatku disini." Celetuk Andre dalam hatinya.
"Lebih baik aku bersikap dingin kepadanya. daripada harus mencari masalah baru dengan si Tuan Arogan yang tidak memiliki hati itu." Ucap Haruka dalam hatinya seolah bersebrangan dengan jalan pikiran Andre saat ini.
Setelah melihat keadaan Karin, Haruka begitu tenang lantaran Karin sedang tertidur pulas. baginya itu akan mempercepat penyembuhan Karin. karena jika Karin banyak beristirahat dipastikan kesehatannya akan lekas pulih kembali.
Karena tidak tega membangunkan Karin. Haruka pun beranjak pergi meninggalkan kamar itu dan pergi menuju dapur. Dia hendak membuatkan bubur untuk Karin makan siang nanti.
Sempat terlintas dalam benaknya. Jika saja ada jalan lain menuju dapur. dia akan lebih memilih jalan itu. dibandingkan dia harus bertemu lagi dengan Andre. baginya sudah cukup kejadian semalam menjadi pelajaran dalam hidupnya. jangan sampai kejadian itu terulang kembali.
Dengan santainya Haruka berjalan tanpa menghiraukan kembali keberadaan Andre. hingga membuat Andre semakin kesal lantaran merasa tidak dihargai olehnya.
Tiba di dapur, Tinah menceritakan kejadian tadi pagi kepada Haruka. Dimana sikap Andre tidak seperti biasanya. Andre yang tadi pagi Tinah temui begitu lembut, sopan dan ramah. Beda sekali dengan Andre yang sebelumnya begitu arogan, kasar dan tidak memiliki hati.
Haruka tidak percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh Tinah. Mana mungkin pria arogan seperti Andre dapat berubah, hanya dalam satu malam saja. Kalaupun iya, itu mungkin karena Andre sedang dirasuki oleh malaikat. ketika malaikat itu keluar dari tubuhnya, setan akan kembali merasukinya dan kembali menjadi kejam.
Haruka tersenyum sendirian seolah seperti orang yang tidak waras. membayangi bagaimana wajah Andre jika berubah menjadi baik. yang lebih parahnya lagi Haruka bukan hanya tersenyum tetapi dia juga tertawa setelah mendengar cerita Tinah. Membuat Tinah menjadi heran dengan apa yang dilihatnya. karena takut terjadi apa-apa dengan Haruka, Tinah pun menepuk pelan bahu Haruka dan berkata,
"Mbak... Mbak ini kenapa, sih? kok senyum-senyum sendiri? Ih...Tina jadi takut loh mbak melihatnya." Ucap Tina sambil memeluk tubuhnya sendiri sambil melihat ke sekeliling ruang dapur.
"Eh...iya Tinah! Mbak minta maaf malah melamun. Maklum mbak sedang memikirkan kakak dan keponakan dirumah. Mbak kangen kumpul-kumpul sampai teringat ketika bercanda bersama mereka." Jawab Haruka.
"Oh...Tinah kira Mbak sedang kerasukan setan, hehehehe. Habis aku lihat Mbak tersenyum dan tertawa sendiri dan tatapan mbak begitu kosong." Ucap Tinah sambil cengengesan.
Dari ruang tengah nampak jelas, jika sikap Andre terlihat begitu serba salah. Ingin sekali rasanya dia datang menghampiri Haruka. Lalu meminta maaf kepadanya. Tapi sayang egonya terlalu tinggi hingga dia menutupi semuanya.
Tanpa kekurangan akal dia sengaja memanggil Tinah. Kali ini sikapnya kembali seperti semula, keras dan kejam.
"Tinah .. Tinah lekas kemari?" Teriak Andre memanggil Tinah bak singa yang sedang ingin memakan korbannya.
Tinah segera menghentikan obrolannya dengan haruka dan bergegas menemui Tuannya itu.
"A...ada apa Tuan, memanggil saya?" Ucap Tinah dengan terbata-bata. Lantaran takut dimarahi oleh Andre.
"Kamu ini bagaimana sih? Coba lihat meja ini masih kotor dipenuhi debu? Kamu ini kalau kerja yang serius, jangan asal, ya?" Jawab Andre dengan marahnya.
"B...baik tuan, saya akan membersihkannya kembali?" Ucap Tinah kembali masih menjawab dengan terbata-bata.
Baru saja Tinah ingin pergi mengambil serbet dan baskom berisi air, serta pewangi. Namun Andre memanggilnya kembali.
"Tunggu?" Ucap Andre menghentikan Tinah.
"Iya Tuan." Jawab Tinah tanpa menatap majikannya sedikitpun. Dia hanya menunduk kaku dan tubuhnya terlihat gemetar.
"Aku ingin sarapan? Tolong segera kamu persiapkan?" Ucap Andre.
"Tidak, saya tidak ingin Dimasakkan oleh yang lain. saya ingin kamu yang membuatkan sarapan saya, itu perintah!" Sahut Andre dengan wajah datarnya.
"B...baik Tuan. Saya akan mempersiapkan semuanya." Jawab Tinah dengan penuh ketakutan dengan secepat kilat dia pergi meninggalkan Andre.
Tiba di dapur Tinah seperti kebingungan. karena dia ingin menukar posisi dengan siapa? sedangkan pekerja lain sudah memiliki tugasnya masing-masing.
Haruka tidak tega melihatnya dalam keadaan bingung. Akhirnya dia berkata,
"Tinah, sudah kamu siapkan saja sarapan Tuan Andre, Biar tugasmu membersihkan meja itu, aku yang menggantikannya." Ucap Haruka dengan lembutnya.
"Tapi Mbak?" Jawab Tinah.
"Sudah tidak apa-apa. Kita sesama pekerja disini harus saling membantu. Bukankah kita semua sama, tidak ada keluarga di sini. Jadi bagaimanapun permasalahan di rumah ini. kita harus saling merangkul satu sama lain, ya?" Haruka mencoba meyakinkan Tinah, jika pertukaran posisi tidak akan menjadi masalah besar di rumah ini.
Tinah pun menuruti semua perintah Haruka. Dengan segera dia menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan Tuannya itu.
Dari balik tembok pemisah antara ruang tengah dan ruang makan. Andre Sengaja menguping pembicaraan mereka. Dari apa yang dia dengar Andre justru terharu melihat kesabaran dan kebaikan Haruka. Sungguh jelas berbeda dengan Dea, mantan kekasihnya yang hanya mengejar harta dan suka hura-hura dalam hidupnya.
Andre segera berlari kecil dan duduk di sofa seperti semula. Agar Haruka tidak curiga dengan sikapnya itu.
Tak lama Haruka datang dengan membawa ember kecil berisi air yang sudah diberi sedikit pewangi dan tak lupa dia juga membawa serbet bersih untuk mengelap meja.
Tiba di ruang tengah Haruka tidak mengeluarkan kata sedikitpun. sedangkan Andre berpura-pura menonton film kesukaannya.
Tepat dihadapan Andre dia sengaja mengikat rambutnya yang tergerai. Dia melakukan itu lantaran terasa gerah karena keringat sudah mulai menetes di sekujur tubuhnya.
Haruka tidak sadar jika Andre memperhatikannya diam-diam. Dia sangat terpesona ketika melihat jelas wajah cantik Haruka.
"Ternyata selain baik, sopan dan ramah, wanita ini terlihat cantik juga. Bahkan lebih cantik dari Dea, kecantikannya begitu alami tanpa polesan makeup sedikitpun. sedangkan kecantikan Dea terpancar karena polesan tebal diwajahnya. Ternyata mereka tidak begitu serupa bak langit dan bumi. walau wajah mereka bak Pinang dibelah dua." Suara hati Andre membicarakan Haruka.
Haruka masih tidak menghiraukan Andre. Dia hanya fokus dengan pekerjaannya, yaitu membersihkan meja.
Andre pun memiliki rencana agar bisa menatap lama wajah cantik Haruka. Dengan sengaja dia menyuruh Haruka membersihkan lemari hias tepat dihadapannya itu.
"Tunggu? Mau kemana kamu? Itu lihat lemari Hiasnya terlihat kotor? tolong kamu bersihkan juga." Ucap Andre dengan ketusnya.
Haruka tidak menjawab perkataannya hanya menuruti dan menjalankan saja perintahnya. Namun hatinya begitu dongkol. Dia merasa dikerjai oleh si Tuan Arogan itu. Hingga dia berkata dalam hatinya,
"Dasar Tuan Arogan yang kejam. sudah tahu lemari itu baru saja dibersihkan oleh Tinah. Masih saja menyuruhku untuk membersihkannya kembali. Lihat saja aku tidak akan menyerah dan akan tetap bertahan bekerja disini. karena yang menggaji aku bukan dia tapi ibunya, yaitu Nyonya Lily." Celetuk Haruka dalam hatinya.
Andre begitu bahagia dapat melihat Haruka. dalam waktu yang lama. sedangkan Haruka terlihat begitu kesal dan tidak mengeluarkan kata-kata sedikitpun padanya.
Akhirnya tugas Haruka sudah selesai. diapun beranjak pergi meninggalkan Andre. sedangkan Andre pergi menuju ruang makan, untuk sarapan mengisi perut kosongnya itu.