
Setelah Haruka menghabiskan makannya dia bercerita kepada Karin.
"Karin, jujur saja aku ini pernah putus asa dalam hidup." Ucap Haruka.
"Hus...kamu jangan bicara bodoh seperti itu Haruka, tidak baik. Tuhan akan marah jika mendengar hambanya seperti itu." Jawab Karin.
"Tapi memang benar Karin. Namun setelah bertemu dengan Cherry yang nasibnya sama denganku, hanya hidup sebatang kara. Aku jadi kuat menerima keadaan ini dan berusaha untuk semangat kedepannya, itu saja." Ucap Haruka.
"Ternyata Cherry bukan kakakmu, Haruka? Lalu siapa Cherry." Jawab Karin dengan sedikit terkejut ternyata benar yang diucapkan pria itu. Namun baginya tidak sepenuhnya juga pria itu adalah pria baik.
"Iya Karin, Cherry bukan kakakku. melainkan sahabatku seperti dirimu. Dia kenal aku, setelah kematian Tanteku. Kami satu pekerjaan kala itu, disebuah toko kelontongan, dimana pemiliknya adalah mantan mertuaku." Ucap Haruka.
"Terima kasih Haruka! Kamu masih menganggap ku sahabat, padahal aku sudah jahat terhadapmu dengan berpikir buruk tanpa tahu cerita sebenarnya." sahut Karin.
"Tidak perlu kamu berterima kasih Karin. karena aku telah memaafkan mu. Aku maklumi jika kamu marah terhadapku, lantaran harus tahu dari orang lain cerita hidupku yang sebenarnya. Mungkin jika aku jadi kamu pun sama. akan marah besar bahkan tidak akan memaafkan orang yang telah membohongi aku. Kamu itu orang hebat Karin. Bisa memaafkan kesalahan orang lain, walau aku tahu dihati dan pikiranmu, hadir rasa kecewa mendalam." Ucap Haruka dengan bijaknya.
"Oh iya Haruka....kalau boleh aku ingin tahu sedikit banyaknya cerita hidupmu. Agar kelak ada orang yang menemui ku dengan menjelek-jelekkan mu. Aku tidak akan mempercayainya." Jawab Karin.
"Ok Karin...aku mulai ya kisah hidupku. Aku terlahir dari dua orang tua yang berbeda negara. Papaku berasal dari Jepang, yang bernama Hasegawa. Sedangkan Mama ku berasal dari Bandung, dia bernama Sarah Amelia." Awal cerita Haruka. Namun belum sempat melanjutkan ceritanya, Karin malah berkata,
"Wah...pantas saja kamu cantik dan berkulit putih bersih Haruka. Ternyata kamu terlahir blasteran dari dua negara. Bangganya bisa bertemu dan menjadi sahabatmu. Mana tahu bisa tertular kulitku jadi putih dan bersih, hahahaha." Ucap Karin sambil membuat lelucon, agar bisa menyenangkan suasana hati mereka.
"Hahahaha, bisa saja kamu Karin." Jawab Haruka.
"Ayo lanjut ceritanya Haruka" Sahut Karin.
"Aku dengar cerita dari Tante ku yang bernama Naura, adik kandung Mama. Kalau kedua orang tuaku tidak direstui oleh kakek dari mamaku. Karena perbedaan negara dan keyakinan. Namun tetap saja mereka memaksakan menikah tanpa restu kakekku itu. setelah menikah Mama ikut papa tinggal di Jepang." Cerita Haruka Sambil tersenyum manis lantaran bangga dengan kisah percintaan kedua orang tuanya itu.
"Wah...so sweet sekali kedua orang tuamu Haruka. mereka berani untuk memperjuangkan cintanya. Kalau anak jaman sekarang, belum tentu bisa seperti itu. yang mereka pikirkan harta, tahta dan kemewahan semata." Jawab Karin.
"Iya Karin, aku bangga terhadap perjuangan mereka. Tapi sayang Karin kisah kasih mereka harus berakhir. ketika aku lahir dan berumur satu tahun, mereka sengaja membawaku ke Indonesia, untuk menemui kakekku. Tapi sayang kecelakaan terjadi papa meninggal ditempat, sedangkan mama meninggal di rumah sakit, itupun setelah menitipkan aku kepada Tante Naura." Ucap Haruka yang tadinya bahagia berganti menjadi kesedihan.
"Hehehehe, sudah lah Karin tidak usah kamu merasa bersalah terus. karena aku tidak merasa sakit hati dengan itu semua. Biarkan saja ada yang berkata buruk tentangku, yang terpenting aku tidak ingin membalasnya. Biar saja tangan Tuhan yang membalasnya." Ucap Haruka.
"Lanjutkan ceritamu Haruka." Jawab Karin.
"Setelah kematian Mama, aku dibawa Tante, kerumah kakek untuk tinggal disana. karena aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di Indonesia. Tapi sayang nasib baik belum berpihak kepadaku. Bukannya menerima kedatanganku, kakek justru mengusir ku beserta Tante. Lantaran Tante menasehati kakek dengan tidak mencampur adukkan. urusan orang tuaku dengan diriku, yang masih sangat kecil pada saat itu. Tanpa membawa apapun hanya satu koper pakaian. Akhirnya Tante membawaku pergi dari rumah kakek dan berjanji tidak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah kakek lagi." Haruka serasa sakit hatinya jika mengingat kembali, perlakuan kakeknya terhadap Tante Naura dan dirinya.
Hingga Karin berkata kepada Haruka. Agar tidak usah melanjutkan ceritanya. Jika hanya membuat luka lama hadir kembali. Namun Haruka tetap saja ingin melanjutkan cerita semuanya. Agar tidak ada dusta lagi diantara mereka.
"Saat itu Tante mengontrak rumah dan membuka jasa jahit untuk menghidupi ku. Karena keterampilan yang dimilikinya. Tante memiliki banyak pelanggan. Sampai pada akhirnya dengan uang tabungannya, dia membeli sebuah rumah untuk kami tinggal permanen tanpa harus berpindah tempat lagi. Sungguh mulia hati Tante. Hidupnya hanya dihabiskan dengan mencari uang dan mengurusi aku saja. Tanpa memikirkan kebahagiaannya. Padahal karena kecantikannya, banyak sekali pria yang ingin menikahinya. Tapi sayang semua ditolaknya, dengan alasan, dia sudah berjanji kepada mendiang Mama, kakaknya itu. Untuk selalu menjagaku dan tidak ingin nantinya aku jdi sengsara. Yang dia takuti, jika dia menikah lalu memiliki suami dan anak akan terbagi kasih sayangnya terhadapku." Ucap Haruka.
"Sungguh mulia dan tulus Tante mu itu, Haruka. Sampai mengorbankan kebahagiaannya sendiri untuk keponakannya. Lalu kemana Tante mu itu? mengapa sewaktu aku ke rumahmu, tidak melihatnya?" Tanya Karin.
"Dia sudah menyusul Mama dan papaku, meninggalkan dunia ini." Jawab Haruka.
"Apa? Meninggal? yang benar kamu Haruka. tolong jangan bercanda dengan nyawa seseorang." Ucap Karin dengan kagetnya. ketika mendengar ucapan dari Haruka.
"Iya..meninggal! Untuk apa aku membohongi kamu, Karin. Tidak ada untungnya buatku. Sewaktu aku menginjak remaja. Tante sakit-sakitan. Lalu pergi meninggalkan dunia ini. Pada saat itu aku begitu putus asa, karena harus menanggung beban yang begitu berat. aku pun menjalani hidup sebatang kara. Tidak melanjutkan sekolah lantaran harus bekerja untuk menghidupi diriku. Nah...pada saat itu aku mencari kerja paruh waktu, agar malamnya bisa bekerja lagi. Akhirnya Pak Aldo Sukmajaya pemilik sebuh toko kelontongan, menerimaku dan di sanalah aku bertemu dengan Cherry. Karena kami senasib, sama-sama yatim piatu dan sebatang kara, bahkan tidak memiliki sanak saudara. Kamipun menjadi dekat satu sama lain. Sampai akhirnya aku meminta Cherry untuk tinggal bersamaku daripada dia harus mengontrak rumah." Ucap Haruka.
"Oh...ternyata sebelum bekerja denganku Cherry sudah bekerja bersamamu, ya Haruka? Dan bersyukurnya Cherry mendapat teman sebaik kamu. sungguh terharu aku mendengarnya." Tanya Karin.
"Iya, bisa jadi Karin. karena aku tidak tahu kapan perkenalan mu dengannya. Masalah kebaikan itu hal biasa Karin. justru yang susah itu bersabar dan ikhlas dalam menjalani sebuah persahabatan. " Jawab Haruka.
"Iya benar sekali ucapan mu itu." Ucap Karin.
"Aku lanjut ceritanya ya Karin. Setahun sudah aku bekerja disana. Perlakuan pak Aldo begitu baik terhadapku dan Cherry. Dia menganggap kami bukan sebagai pembantunya, melainkan bagian dari keluarganya. Hingga di tahun kedua, pak Aldo meminta aku untuk menikah dengan anaknya yang bernama Martin. Awalnya aku menolak dan Cherry juga bicara agar aku memikirkan matang-matang. karena hidup berumah tangga tidak semudah membalikkan sebuah tangan. apalagi Cherry tahu kalau Martin pria tidak baik, yang kerjanya hanya menghamburkan uang ayahnya saja. Ditambah dia juga suka sekali berjudi dan tidak menetap dengan satu wanita. Namun pak Aldo memohon kepadaku sampai berani sujud dihadapan ku. Dia berharap jika anaknya menikah denganku, dia akan merubah semua sikap buruknya itu. Akhirnya mau tak mau karena kebaikannya. aku pun menikah dengan anaknya. Memang diawal menikah, sampai aku hamil Bianca. Martin berubah menjadi baik. tidak pernah keluar rumah. apalagi berjudi dan main dengan wanita. Waktunya dihabiskan hanya bersamaku saja di rumah, Bahagia rasanya jika mengingat masa itu Karin." Ucap Haruka sambil tersenyum manis ketika mengingat kebaikan mantan suaminya kala itu.
Baru ingin melanjutkan cerita. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Haruka. Mau tidak mau merekapun menghentikan sesaat pembicaraan itu dan memilih diam sejenak.
Karin tetap duduk manis, sedangkan Haruka berjalan menuju pintu kamarnya. Hanya ingin memastikan siapa yang datang.