
Dari jarak radius duapuluh meter saja tubuh Rega yang tinggi menjulang masih terlihat oleh nya. Sesuai janjinya ia menemani aku ke toko buku, tadinya rencananya besok tapi karena Mama yang tiba-tiba menyuruh mengambil gaun pesanannya untuk acara peresmian perusahaan baru Papa di Kalimantan pada sebuah butik serta Vandy yang ingin nge-gym rencananya di ganti sekarang.
Pertemuan dengan Raka tadi malam masih membuatku tidak habis pikir. Kenapa orang seperti dia nge-rokok? Padahal dia telah resmi masuk tim basket Pelita Harapan bersama Rega dan kawan-kawan. Lagipula final pertandingan waktu itu akan di adakan minggu depan.
“Lama banget sih Rega.” gumamku di sela-sela mengambil salah satu novel di tangan. Sudah sekitar 15 menit Rega mengatakan untuk pergi ke toilet sebentar tapi sampai sekarang anak tuyul satu itu belum terlihat juga.
Padahal aku sudah memasuki lima buah novel pada tas buku yang di sediakan. Tapi – kemana sih dia?
“Lagi nungguin cowok ganteng ya?”
Suara dari belakang membuat aku menoleh kepada suara. Tanpa perlu berkata-kata lagi aku langsung menghujamnya dengan tas buku yang tengah ku bawa.
“Capek tau nunggu capek.” seruku. “Abis boker apa lo?” tambahku seraya berjalan menuju kasir, Rega mengerkor di belakangku membawa tas buku.
“Kalo mau tau goceng dulu sini.” jawabnya.
“Ga elit banget goceng. Giliran kaya gini aja lo mau goceng-goceng giliran gue ajak taruhan ga mau.”
Rega menaruh tas itu di atas kasir dan mbak-mbak kasir tersenyum penuh arti ke arah kami berdua. Mungkin ia kira kami adalah sepasang kekasih yang sedang mempermasalahkan hal-hal yang tidak penting. Dan, itu sudah biasa.
“Vanilla—“ suaranya menjadi berat, berat sekali sok ke bapak-bapak an. “Ga boleh ya taruhan-taruhan.”
“Cot gede.” kutinju lengannya dan Rega pura-pura mengaduh kesakitan.
Keluar dari toko buku kami beranjak ke sebuah food court untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan minta di isi. Aku memesan nasi goreng Rega memesan nasi plus ayam bakar.
“Suit jepang apa biasa?”
Ini menjadi kebiasaan kami setelah selesai makan di tempat-tempat makan. Kami akan melakukan ritual suit terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang kalah dan menang. Yang menang pastinya akan bahagia karena tidak akan membayar makanannya. Sementara yang kalah terpaksa harus merogoh dua kali lipat biaya makanannya.
Selama ini, Rega hanya pernah sekali mengalahkan aku dalam urusan suit-menyuit.
“Kalah nih ah pasti gue.” belum apa-apa Rega sudah mendumel. “Udah deh iklasin aja napa kali-kali gue yang menang.”
“Ogah, cepetan ah suit.”
Dengan ogah-ogahan Rega menyodorkan tangannya.
“Gunting batu kerrrrtass!” seruku. “Ih suit jepang Rega bukan suit biasa!”
“Iya maap.”
Kuulangi sekali lagi.
“Gunting batu kerrrtasss!”
Aku gunting dia batu. Tapi –
“Curang! Najis masa di lama-lamain! Gamau pokonya gue menang bodo bodo.” kataku ketus.
“Oh tidak bisa. Apapun caranya yang penting menang. Lagian ga ada peraturannya.”
“Bodo, bete.”
Untuk kedua kalinya, walaupun bermain curang. Rega memenangkan suit-menyuit ini. Jadilah aku membayar acara makanan kami. Padahal aku baru saja membeli enam novel dan uangku sekarang tipis. Oke, abaikan.
****
Sepertinya hari sial sedang melandaku dengan Rega. Tepat kami datang, pintu utama sudah di tutup oleh Bu Weny, guru BP sekaligus divisi kedisiplinan di Pelita Harapan. Sebagai hukumannya aku di suruh membersihkan gudang yang terletak di belakang sekolah dan Rega membersihkan kamar mandi laki-laki.
“Elo sih kelamaan dandan!” Rega mulai menyalahkanku saat sedang mengambil pel-pelannya.
“Ya Tuhan kapan si gue pernah dandan. Kapan? Ha? Kapan?”
“Ya kapan kek, daaaah.”
Rega sudah keburu masuk ke dalam kamar mandi tanpa membiarkanku sempat memukulnya atau meninjunya. Dengan langkah malas-malasan aku berjalan ke belakang sekolah sambil membawa sapu dan lap.
Gudang ini tadinya adalah sebuah lab, namun semakin lama Pelita Harapan semakin besar dan membutuhkan lab yang lebih besar, jadilah tempat ini menjadi sebuah gudang tempat menyimpan barang-barang yang sudah tidak di pakai lagi. Tugasku kali ini adalah, setidaknya debu-debu yang menancap di netralisirkan.
Aku terbatuk-batuk saat pertama mencoba mengelap sebuah meja yang sudah terpakai. Maka aku melengoskan kepalaku ke belakang dan bergidik jijik sambil terus mengelap. Sesekali aku mengusap hidungku yang terasa gatal. Kalau seperti ini aku lebih memilih untuk membersihkan kamar mandi.
Baru saja aku keluar dari gudang setelah membereskannya. Ketika mataku menangkap seseorang menyender sambil jari-jari tangannya menyelipkan sebatang rokok. Peraturan sekolah melarang keras untuk merokok apalagi di sekolah. Perlahan aku pun menghampirinya.
“Ra-ka?” ujarku ragu.
Yang di panggil menoleh dan tersenyum skeptis ke arahku. Ia tak segera mematikan rokoknya seperti waktu itu. Ia menghembuskan sisa-sisa terakhir kenikmatan yang di raih dari rokok nya walau aku tidak tahu letak nikmat nya dimana.
“Kok lo bisa disini?” tanya Raka lengkap dengan memandang sapu serta lap yang tengah ku bawa.
“Abis bersihin gudang di suruh Bu Weny.”
“Telat?”
“Ya lo tau lah.”
Raka membuang sisa rokok itu sembarangan lantas menginjaknya.
“Makanya berangkat sama gue biar ga telat.” katanya dengan nada bergurau.
“Rega?”
“Siapa lagi.”
“Lo sama dia sebenernya apa sih?”
“Maksudnya yang apa?” tanyaku balik tidak mengerti.
“Engga, lupain aja.”
Aku menimbang-nimbang untuk mengatakan sesuatu pada Raka. Bahwa peraturan sekolah meralang keras untuk anak didiknya merokok. Kalau ketahuan akibatnya bisa skorsing bahkan DO. Sekolah tidak main-main dalam urusan yang menjurus ke dunia narkotika.
“Ka..” tiba-tiba suaraku menjadi seperti tikus kejepit.
“Apa, Van?”
“Ga jadi deh.”
Aku memilih untuk tidak mengatakannya. Takut di bilang sok peduli dan sok menceramahi. Ada saat nya nanti aku akan mengatakan padanya. Tunggu – kenapa omonganku jadi ngawur apa sih? Maksudnya apa ada saat nya nanti?
Yasudahlah tidak usah di mengerti. Dan tolong, jangan kepo.
Tapi dari dalam hatiku yang paling dalam aku penasaran kenapa seorang Raka bisa sampai merokok. Dia memang menyukainya atau kenapa?
****
Suara getaran di ponselku membuatku yang sedang asyik membaca novel mengalihkan sejenak untuk mengambilnya. Ada sebuah line masuk. Kukira dari Rega atau Ifa yang sudah biasa me-line ku tiap malam. Untuk sekedar percakapan tidak jelas yang tidak berujung dengan Rega atau curhat tentang gebetan baru Ifa.
Line ini dari Raka.
Pertanyaannya, aku belum pernah memberi tahu nama line ku padanya. Jadi dia tau dari siapa? Nama line ku bukan nama panjang seluruhnya. Pokoknya harus kuberi tahu dulu baru orang itu tahu.
Raka Revaldy: besok malem ada acara?
Aku mengerutkan kening membaca line nya. Buru-buru ku ketik sebuah jawaban.
Me: ngga kayanya. kenapa?
Seingatku Rega tidak mengajakku kemana-mana malam mingguan besok. Lagipula Ifa juga sedang ke Bandung dan Bagas bakal kencan dengan gebetannya yang daridulu ia idam-idam kan, Dita.
Raka Revaldy: mau ikut gue ga?
Me: kemana?
Raka Revaldy: ntar juga lo tau. mau ga?
Me: asal jangan nyulik gue, gue mau.
Raka Revaldy: tampang macem gue ada tampang penculiknya ya?
Me: dikit
Raka Revaldy: haha yaudah besok jam 7 gue ada di depan rumah lo
Me: ok
Tak berapa lama ponselku bergetar menandakan ada sebuah line masuk lagi. Buru-buru aku mengambilnya, kukira ada balasan dari Raka. Namun ternyata ini line dari Rega. Tapi – memang jawaban ok sudah tidak penting untuk di jawab lagi sih. Eh, apaan si ko jadi ngebahas kaya ginian?
Kasian nih line nya Rega nganggur.
Abrega Mahardika: heh udik, ada film seru nih. besok nonton yuk
Yah telat lo, Ga. Telaaaat!
Me: sibuk bye
Abrega Mahardika: gaya. sibuk paan si. jomblo aja lo
Me: jomblo kece mah emang sibuk\, udah ah kapan-kapan aja nontonnya gue mau tidur bye goodnight Rega *emotpeluk*
Me: EMOT PELUKNYA TADI KEPENCET YA!
Abrega Mahardika: DIAM! ANAK SAYA SEDANG TIDUR!
Untuk sebuah alasan yang tidak ku ketahui sendiri. Entah kenapa aku lebih memilih untuk tidak menceritakan kepada Rega soal janjianku dengan Raka.
Oh iya satu lagi, aku tidak pernah mengirim emot icon pada Rega seumur hidupku maksudku sepanjang sejarah selama aku mengenal Rega. Jadi, yang tadi itu benar-benar kepencet. Karena aku ngantuk. Ingin tidur. Oke? Oke.
Selamat malam dan selamat tidur semua!
*