Vanilla

Vanilla
Episode 15



Lagi-lagi tidak ada yang jemput pulang bimbel. Emang begini nih nasip bimbel jauh dari rumah hanya karena tempat bimbel paling terpercaya, kata teman Mama dan Mama percaya. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke ujung jalan sebentar untuk mencari makan. Setauku di sana ada seafood enak.


Setelah jalan sekitar duaratus meter dari tempat bimbel. Aku mendengar ada suara-suara, tepatnya suara yang kudengar berada di sebuah gang kecil yang menuju ke perumahan sebelah. Penasaran, aku membelokkan langkahku ke gang itu. Berjalan mengendap-ngendap layaknya film-film action. Oke, mulai lebay.


Semakin aku mendekat, semakin jelas pula suara yang terdengar. Dari yang kutangkap sepertinya siapapun orang disana sedang bertengkar. Detik selanjutnya aku mendengar suara wanita menjerit diikuti sebuah suara tinju dari seseorang.


Kini aku telah benar-benar dekat dari TKP, dan seketika itu pula aku terkejut dengan apa yang kulihat.


“Berani lo deket-deket cewek gue lagi, abis lo sama gue!” ancam seorang laki-laki disana, dari tampangnya sekitar anak kuliahan. Perempuan yang berada di sampingnya hanya diam mematung di sampingnya.


“Deket-deket cewek lo? Yang ada cewek lo yang ngedektin gua.” katanya santai sambil mengelap bibirnya yang berdarah.


“Bangsat lo!” si laki-laki yang tadi marah-marah maju menerjang, tangannya yang sudah terkepal menahan amarah di arahkan ke pipi laki-laki di hadapannya.


Namun dengan cepat di tangkis oleh laki-laki itu, di pelintirnya tangannya agar tubuhnya memutar 180 derajat. Mau tidak mau aku ngeri sekaligus tersenyum juga. Setidaknya dia jago berantem, entahlah mungkin dia dulu mantan seorang karate, takwondo, atau apalah.


“Sekali lagi gue bilang ke lo,” desisnya tajam, menyeramkan. “Cewek murahan lo itu yang deketin gue.” lanjutnya diiringi dengan teriakan dari laki-laki yang sedang di pelintirnya.


“Gue? Cewek murahan kata lo?” si perempuan tidak terima di bilang cewek murahan. Dari gayanya sih aku tidak masalah kalau dia di bilang cewek murahan, pakaiannya saja seperti kekurangan bahan. Hell-o, kaya ga punya duit aja sih buat beli baju.


Krek!


Si perempuan menjerit mendengarnya.


Demi Tuhan, aku ngilu di buatnya. Bahkan aku sampai menutup mata saat melihatnya serta menggigit bibirku kencang-kencang menahan ngilu. Aku rasa tangannya retak atau patah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya.


Laki-laki itu terjatuh, tubuhnya terkulai lemas. Raut wajahnya menunjukkan sedang menahan sakit. Buru-buru si perempuan berjongkok untuk memapahnya. Menatap tajam ke arah laki-laki yang baru saja memelintir tangan laki-laki yang sedang di papahnya. Namun dia hanya menatap sekilas sambil berlalu dari hadapannya.


Setelah melihat semuanya, aku berjalan mengendap mundur ke belakang. Dua langkah ke belakang aku berjalan secepat mungkin mengitari gang, sebelum kudengar suara dari belakang memanggil namaku.


“Vanilla?”


Mampus kan ketauan.


Aku berhenti dan memutar tubuhku. Meringis tidak enak karena ke-gep.


“H-hai.” sapaku tersendat.


Jadi, laki-laki tadi itu Raka. Kuulangi sekali lagi, Raka.


Raka berjalan mendekat ke arahku, “Kenapa bisa disini?”


“Itu.. ngg.. baru pulang bimbel, mau cari makan—terus ga sengaja gue—“


“Kalo liat yang barusan gausah di pikirin,” kata Raka, suaranya asli beda banget dari yang tadi. Bedanya kaya langit dan sumur, sumpah. “Jadi, masih mau nyari makan?”


Aku mengangguk cepat, “Mau! Gue laper banget.”


“Gue tau tempat yang enak.”


Aku dan Raka makan berdua di tempat makan seafood kaki lima pinggir jalan. Tapi ini pinggir jalannya, pinggir jalan banget. Mungkin kalau orang Cuma lewat gak akan tau kalo ada tempat ini. Soalnya juga harus jalan dulu sebentar.


“Enak?” tanya Raka setelah piringku hampir setengah.


“Enak lah, seafood. Tapi tambah enak nya gara-gara porsi nya banyak juga hehe harganya juga sama aja kaya seafood biasa.”


Raka terkekeh sebentar, “Gitu ya manusia, harga murah, enak, dapet banyak maunya.”


“Ya iyalah! Lo liat ga tuh orang cina pada kaya-kaya banget kan? Gara-gara irit tuh sama selagi ada yang murah kenapa harus yang mahal?”


Raka mengangguk-ngangguk menyetujui mendengar jawabanku. “Btw, lo ga ada yang jemput lagi nih ceritanya?”


Aku hanya meringis dengan tampang sok melas, “Engga, hehe.”


“Okay then, lo bisa pulang sama gue.”


Raka mengantarku sampai tepat di halaman rumah. Sebelum aku membuka pintu mobilnya, Raka memanggilku sebentar.


“Besok pulang sekolah kemana?” tanya Raka.


Aku mengingat sebentar, setauku besok hari Rabu. Itu artinya jadwal Rega ekskul basket, biasanya aku di suruh nunggu.


“Ngga kemana-mana sih.. emang kenapa?”


Raka diam sesaat, “Kalo.. gue bilang gue mau ngajak lo ke rumah gue, mau?”


Aku mengernyitkan dahi, “Bukannya besok lo harus ekskul basket ya?”


“Sekali-kali gapapa kan bolos?”


“Iya sih..”


“Jadi, mau?” tanyanya.


“Tapi emang mau ngapain?” ya harus nanya kaya gini, sekarang gue ga bego. Bisa aja kan yang Rega bilang bener, kalo Cuma ada gue sama Raka. Ya gitu lah pokoknya.


Raka tersenyum mengerti, “Nyokap gue besok ulangtahun, terus dia ngundang lo buat makan malem.”


Seketika aku jadi merasa serba salah, malu banget deh. “O-oh gitu, kalo gitu gue mau. Tapi.. gue ngasih kado apa ya enaknya?”


“Lo mau dateng juga itu kado buat nyokap gue.”


Aku memutar-mutarkan bola mataku, “Oke.”


****


Rega beserta tim basket nya baru berkumpul di lapangan.Seragamnya sudah berganti menjadi seragam basket Pelita Harapan. Buru-buru aku menghampirinya, Rega sedang meminum aqua botolnya.


“Ga, gue pulang duluan aja ya.” kataku.


Rega menutup aqua botol tersebut yang telah habis dan melempar sembarangan ke belakang, mengernyitkan dahi ke arahku.


“Lo pulang sama siapa?” tanyanya.


“Ngg.. Vika.. minta temenin gue beli.. kado buat temennya. Iya kado.” aku cengar-cengir ke arahnya.


“Pulang naik apa?”


“Tak—si, iya taksi.”


“Gue anterin ke depan, sampe lo dapet taksi.”


Buru-buru aku menjawab, “Apaan sih, Ga. Lo kata gue anak SD serba di anterin, gamau! Gue sendiri aja.”


“Yaudah, nanti pas lo masuk sebutin alamat rumah lo. Terus kalo tiba-tiba udah keluar jalur dan katanya biar lebih deket. Jangan mau.” ah mulai lagi. “Kalo ada apa-apa, telpon gue aja.”


“Iyaa.” jawabku malas.


“Vanilla.”


Aku menatap ke arah matanya, “Iya Regaaa Iyaaa, yaudah ya gue balik dulu. Papoy!”


Huft, akhirnya.


Raka sudah menungguku di parkiran. Untung parkiran dengan lapangan terpisah oleh gedung, jadi tidak akan kelihatan.


“Sori ya lama.” kataku, memang tadi pas di kelas aku menyuruh Raka untuk duluan ke parkiran. Dan Raka mengerti maksudnya, karena aku harus bilang dulu pada Rega.


“Tapi gue ga enak ah kalo ga ngasih kado.”


“Kan udah gue bilang, lo dateng aja itu udah jadi kado buat nyokap gue.”


“Plis.” akhirnya Raka mengalah dan tersenyum setuju.


Raka membantuku untuk mencari kado yang pas buat Mama nya. Akhirnya pilihan jatuh pada sebuah tas, katanya Mama nya Raka suka mengoleksi tas. Sambil menunggu mbak-mbak nya bungkusin kado aku mengobrol dengan Raka, masih penasaran dengan kejadian semalam.


“Yang semalem itu..”


“Ga usah di pikirin.” balasnya.


“Tapi gue kepo.”


“Intinya itu cewek deket-deket in pas gue lagi mampir buat beli—you know.” aku mengangguk mengerti, yang di maksud adalah rokok. “Terus ya gitu deh cowok nya dateng dan gaterima kalo gue deket-deket itu cewek nya.”


Aku membentukkan bibirku menjadi huruf O, maksudnya sudah mengerti.


“Kenapa lo bisa di sana?” tanya Raka.


“Abisnya penasaran hehe. Eh iya, ngomong-ngomong lo jago juga ya berantem.”


Raka terkekeh, “Gue sabuk item taekwondo.”


****


Mobilnya berhenti tepat di parkiran rumahnya, yang bisa memuat hampir 10 mobil. Gila ini orang kaya banget apa, pikirku. Rumah Raka bergaya mediterania dengan cat krem coklat yang memberi nuansa enak di pandang.


Raka memanggil Mama nya saat pembantu rumah tangganya membukakan pintu untuk kami. Kemudian dari atas seorang wanita yang usianya sudah hampir separuh baya namun wajahnya masih sangat fresh seperti anak muda keluar.


Taruhan kalo itu Mama nya Raka?


Itu emang Mama nya Raka.


“Halo tante.” sapaku niat-niat ragu. Awkward banget.


“Oohh jadi ini ya Vanilla? Cantik sekali.”


“Hehe makasih tante—oh iya, selamat ulang tahun ya tante.” aku memberikan kadoku kepadanya.


Senyumnya mengembang, “Wah ngerepotin, makasih ya sayang.”


“Raka ke atas dulu ya Ma, mau ganti baju.” kata Raka. “Gue ke atas ya.” Raka langsung beranjak naik ke tangga.


Sepeninggal Raka ke atas aku dan Mama nya Raka –tante Shalom—ngobrol-ngobrol di ruang makan. Ternyata Mama nya emang udah masak. Jadi, gitu deh.


“Raka sering cerita tentang kamu lho.”


“Ha? Iya tante?” aku meringis mendengarnya. Cerita apa lagi.


“Tante seneng deh Raka bisa kenal sama kamu, sejak kenal sama kamu tuh Raka jadi jarang nge-rokok. Tante seneng banget ngeliatnya apalagi dia juga jadi sering izin kalo kemana-mana biasanya kan ngga.”


“O-oh gitu ya.”


Tadi apa kata tante Shalom? Jarang nge-rokok? Gara-gara gue gitu maksudnya? Eak asik banget. Ha-ha.


Acara makan-makan berjalan seperti biasanya. Hanya ngobrol-ngobrol biasa masalah sekolah dan semacamnya. Tapi daritadi aku lihat tante Shalom sepeti sedang menunggu sesuatu, jelas itu terbaca dari lirikan matanya yang selalu mengarah ke pintu utama. Bersamaan dengan itu, bel rumah Raka berbunyi.


“Biar Mama aja yang buka pintu nya ya.” ujarnya terlihat sedikit ragu. Raka cuek dan melanjutkan makannya, sementara aku menatap sekilas kepergian tante Shalom lalu fokus pada makananku lagi.


Beberapa menit kemudian tante Shalom dateng bersama dengan seorang pria. Apakah itu Papa nya Raka?


“Vanilla, ini kenalkan—“


berubah mengeras. Tangannya terkepal di samping, detik selanjutnya ia telah berdiri dari atas kursinya.


“Ngapain Mama ngundang dia kesini?” ujar Raka pelan namun tajam.


“Mama Cuma—“


“Kenapa Mama ngga bilang kalo dia di undang juga?”


“Raka, ini bukan seper—“


“Raka, Papa kesini—“ laki-laki yang kutebak Papa nya Raka angkat berbicara. Tapi itu memang sepertinya Papa nya Raka, mengingat tadi ia mengucapkan kata Papa dalam kalimatnya. Tapi—kenapa kaya gini? Kenapa Raka kaya gasuka banget?


“Saya tidak bicara dengan anda.” balas Raka cepat. “Raka pergi dulu.” melihat Raka yang beranjak pergi tante Shalom seperti ingin mengejar Raka, namun segera kutahan.


“Biar Vanilla aja tante.” sahutku.


“Tolong ya Vanilla..” ucap tante Shalom, suaranya seperti memendam kesedihan. Aku mengangguk mengiyakan.


“Permisi Om.” anggukku kepadanya demi kesopanan dan baru beranjak untuk mengejar Raka.


****


“Orangtua gue cerai waktu umur gue 6 tahun. Bokap ternyata udah nikah lagi. Nyokap langsung ngajak gue buat ke Amsterdam, ke rumah nenek.” aku dan Raka telah berdiri di atas gedung tempat favoritnya. “Tiap bulan bokap ngasih uang bulanan ke nyokap buat biaya hidup gue. Nyokap gamau hidup ketergantungan akhirnya setelah dua tahun kerja jadi desainer di salah satu butik. Nyokap bikin butik sendiri dan sekarang butiknya udah ada cabang di Indonesia, jadi yah.. gue kesini lagi.” tatapan mata Raka tidak terbaca.


“Gue turut.. apa ya bahasanya? Pokoknya gitu deh—tapi yang jelas, gimanapun juga itu bokap lo. Bokap kandung lo. Lo gaboleh kasar sama dia, seengganya lo harus respect sama dia, suka ngga suka, mau ngga mau. Lo harus terima.” kataku sok menasehati. “Ya gitu deh, gue juga gangerti gue ngomong apa sebenernya. Ga pernah denger curhatan berat kaya gitu sih soalnya.”


“Lo dengerin tanpa harus komen pun gue juga udah seneng.” katanya. “Thanks ya lo udah mau dengerin.”


“Iya sama-sama.” jawabku. “Kata nyokap lo tadi.. katanya lo udah jarang nge-rokok ya?”


Raka mengernyitkan dahinya dan tersenyum samar, “Cerita apa aja nyokap gue tadi?”


“Ya gitu sih tentang perubahan lo aja. Gue seneng kok kalo lo jarang nge-rokok lagi. Tim inti basket kok nge-rokok.”


Raka tertawa kecil, “Gue jarang nge-rokok lagi gara-gara ada orang yang—“


Sebelum Raka menyelesaikan kalimatnya ponselku bergetar di saku seragamku. Aku tersenyum simpul pada Raka dan menggeser tubuhku sedikit menjauh saat akan menerima telpon.


“Apaan, Ga?”


“Kak Vika di rumah.”


“I—ya, terus?”


“Lo pergi sama siapa?”


“Tunggu—kok lo kenapa bisa nuduh kalo Kak Vika ada di rumah?”


“Barusan gue ketemu. Sekarang gue di depan rumah lo.”


 


 


For the love of God, bunuh aku sekarang juga bisa gak?


*