Vanilla

Vanilla
Episode 36



--- 3 Tahun Kemudian ---


" Gak terasa udah 3 tahun ya pa, apakabar papa? Arza disini sekarang baik baik aja kok. Perusahaan juga semakin baik pa. Maaf ya pa, tahun ini Arza telat datang. Karena Arza lagi sibuk ngurusin proyek baru. Oiya pa, papa tau gak? Kalau hari ini, hari pernikahan William sama Tia. Mereka kirim salam sama papa, kalau acara mereka selesai, mereka pasti ngunjungin papa. Papa istirahat yang tenang ya. Oiya pa, jangan lupa jagain Mama ya pa. Arza pamit dulu pa, tahun depan Arza pasti kesini lagi."


Ya udah 3 tahun berlalu, sekarang gue udah berdiri sendiri, warisan yang papa tinggalin gue manfaatin untuk memajukan perusahaan. Gue memindahkan perusahaan pusat ke Amerika. Supaya bisa tetap dekat sama papa dan mama.


" Berangkat sekarang nona?"


Gue hanya mengangguk. Habis ini gue bakalan langsung ke pernikahan William dan Tia. Selama perjalanan gue cuma diam.


" Masih sedih nona? Kita sudah sampai."


" Hmm.."


Gue langsung memasuki gedung acara resepsi pernikahan William dan Tia. Mereka tampak sangat bahagia, padahal semalam mereka sempat berantem. Salut gue sama William yang sabar ngadepin Tia. Gue gak tau gimana kisah gue kedepannya. Yang gue tau, sekarang gue punya dia. Dia yang sabar ngadepin tingkah kekanakan gue. Dia yang sabar membantu gue untuk keluar dari keterpurukan.


Tahun tahun itu berat rasanya buat gue, setelah papa meninggal, gue dapat kabar kalau mama Niki meninggal dalam misi. Betapa hancurnya gue ditinggal oleh orang orang yang gue sayang. Gue merasa dunia gue runtuh, berantakan. Harapan gue sirna.


Tapi dia hadir dihidup gue, menguatkan gue, mengajarkan bahwa kehidupan hari esok bakalan tetap datang, biarpun hari ini langit gue runtuh, maka akan ada hari esok yang menunggu. Yang harus kita lakukan hanya berdiri ketika kita terjatuh. Dia bener bener sosok yang menemani setiap hari gue, dia juga yang meyakinkan kalau Zen's Group butuh pemimpin. Kalau Zen's Group adalah satu satunya keluarga gue yang tersisa, yang harus gue pertahankan.


Gue beruntung bisa bertemu dengan dia, mungkin dia dikirim untuk menemani dan mengobati luka dihati gue. Iya dia, dia yang selalu mencintai gue dalam diam nya.


" Arza, akhirnya lo datang juga, gue kira lo gak bakalan datang tau gak sih."


" Selamat menempuh hidup baru sahabat gue. Gak mungkin lah, gue kan udah janji sama kalian berdua."


" Lo dari bandara langsung kesini?"


" Enggak, tadi mampir ke tempat papa sama mama dulu. Baru kesini."


" Ooh, kapan nih nyusul? Kasian tau doi digantungin mulu. Iya kan Ren?"


" Haha, gue masih bisa kok nunggu sampai Arza siap.."


" Duh Rendi, Arza ini orang nya gak pekaan tau, kalau dia peka, gak mungkin lo suka sama dia bertahun tahun tapi dia gak tau."


" Apasih kalian berdua, udah deh. Kasian antrian dibelakang, kita ke meja dulu ya. Sekali lagi Selamat untuk kalian berdua."


Iya, dia yang gue bilang, dia Rendi Remos. Teman Sendi. Dia juga yang udah nolongin gue selama di Queensland. Dan dia juga yang nolongin gue buat keluar dari lubang keterpurukan. Dia mencintai gue dalam diam selama 3 tahun lebih, sampai akhirnya berani buat ngungkapin perasaannya. Dia gak kayak kebanyakan orang yang ngajakin gue pacaran, dia cuma ngungkapin perasaan nya sama gue tanpa meminta gue untuk membalasnya.


Rendi adalah orang tersabar yang ada disisi gue. Gak tau berapa kali gue nyakitin hati nya, dia tetap setia berdiri disamping gue. Percaya lah, semua keluh kesah gue selama ini dia yang tau.


" Oh, hai Val. Gue baik. Iya ya, terakhir tahun lalu. Sama siapa?"


" Ini kenalin, tunangan gue. Vivian."


" Salam kenal kalau gitu. Ini Rendi, lo ingat kan?"


" Iya iya gue ingat. Masih dengan orang yang sama, harusnya statusnya udah berubah dong."


" Haha, oiya gue dengar lo ada proyek baru ya?"


" Iya gitu deh. Gak bisa dibandingin sama lo lah, sekarang lo udah susah buat dilawan ni. Gue denger lo menang tender ya? Selamat loh."


" Ya berkat Rendi yang bantuin gue di perusahaan."


" Ekhem. Gue paham deh. Cepetan nyusul kita deh. Jangan digantungin lama lama, kasian. Nanti diambil orang."


Gue masih bimbang sama perasaan gue sendiri, gue takut nyakitin Rendi. Gue takut nyakitin dia lebih banyak lagi. Gue takut dia tiba tiba menghilang dari hidup gue. Gue tau gue egois. Tapi... Tiba tiba gue ngerasa tangan gue dipegang. Itu Rendi. Dia selalu ngerti apa yang gue mau. Kita pamit buat nyari udara segar diluar.


" Gue minta maaf Ren."


" No Za. Lo gak harus minta maaf. Cukup gue yang mencintai lo. Gue bakalan nemenin lo sampai lo nemuin kebahagiaan lo sendiri."


" Itu gak adil buat lo Ren, lo ngabisin waktu lo sama gue secara sia sia. Gue cuma bisa nyakitin lo doang."


" Za, dengerin gue. Apapun yang gue lakuin but lo itu gak ada yang sia sia. Kalau lo gak bisa nerima perasaan gue gak masalah, tapi izinin gue buat jagain lo. Izinin gue buat mencintai lo."


" Enggak Rendi, lo gak bisa kayak gini. Gue gak bisa biarin lo ngelakuin hal yang sia sia buat gue. Karena gue sayang sama lo. Jawaban untuk pertanyaan lo waktu itu, Yes I will."


Gue lihat Rendi diam, dan kaget banget denger apa yang gue bilang.


" Arza? Ini beneran kan? Gue lagi gak mimpi kan?"


" Ini kenyataannya Rendi. Thankyou udah nemenin gue selama beberapa tahun ini. Makasih karena udah setia untuk tetap ada disisi gue. Makasih buat semuanya."


" Arza...."


" I Love You Rendi Remos."


------------------------------------------------