Vanilla

Vanilla
Episode 6



Drrrttt.... Drrrtttt....


 


 


Getaran di bawah bantal membuatku merubah posisi tubuh. Masih dengan mata terpejam aku meraba-raba bawah bantal dan menemukan ponselku yang sedari tadi berdering minta di angkat.


“Ganggu aja sih orang!” gerutuku lebih kepada diri sendiri.


Klik.


“Lo dimana nyet?”


Seketika aku langsung terkesiap dan serta merta sigap bangun dari posisi tidur. Aku lupa kalau hari ini pertandingan basket nya Rega. Aku lupa harus ke SMA 45. Aku lupa pasang alarm. Aku lupa segalanya. Bahkan aku lupa siapa diriku. Yang terakhir, itu bohong.


“Otw suer,”


Aku menggempit ponselku dengan bahu agar dapat menempelkannya di telinga sehingga lebih memudahkanku untuk mencuci muka.


“Itu suara keran apaan? Jangan bilang lo ketiduran lagi,”


“Ngga enak aja lu! Itu tukang bakso kali lagi nyuci piring. Udah ya 5 menit lagi gue nyampe kok serius. Dadah Rega mwah,”


Tanpa menunggu tanggapan Rega aku melempar ponselku ke kasur dan segera menuju ke depan lemari untuk mengganti pakaian. Semuanya serba cepat untuk sekarang. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Rega kalau aku tidak datang, lagi.


Aku menuruni dua anak tangga sekaligus agar bisa cepat sampai ke bawah. Mencari-cari Pak Joko, supir keluarga.


“PAK JOKO WOY KEMANA SI LO!”


Kesal karena Pak Joko tidak kunjung datang aku berteriak-teriak memanggilnya. Bi Inah yang mungkin keberisikan keluar dari tempat persemayamnya untuk menghampiriku.


“Kenapa non teriak-teriak gitu?” tanya Bi Inah dengan aksen sundanya yang kental.


“Mana Pak Joko, bi? Aku mau ke SMA 45 nih di suruh liatin Rega. Is ngeselin banget si Pak Joko,”


“Pak Joko kan lagi nganterin non Vika sama Ibu belanja,”


Tai, semuanya kaya tai ayam. Rega kaya tai juga. Ngapain sih maksa banget buat liatin dia.


Aku menghentakkan kaki kananku ke lantai dan langsung berlari keluar rumah. Tidak sempat menelpon taksi jadi aku berlari ke depan kompleks agar bisa menyetop taksi dari sana.


Kebetulan sekali satu taksi lewat di depan kompleks. Aku langsung menyetopnya dan langsung masuk ke dalam.


“SMA 45 pak, buru ya pak ga pake lama.”


Basket di adakan di lapangan indoor, aku berjalan cepat kesana. Sampai aku tidak memerhatikan orang-orang di sekitarku. Tidak sengaja aku menabrak orang.


Bruk!


“Eh sori-sori buru-buru,” tanpa perlu melihat siapa yang kutabrak aku terus melanjutkan langkahku.


Di dalam tim Rega telah bertanding seperempat jalan. Aku mencari-cari tempat duduk yang kosong. Aku mendapatkan bangku di baris ke-lima. Duapuluh menit aku melihat pertandingan itu, aku mulai bosan. Daridulu aku tidak suka menonton-nonton pertandingan seperti ini. Apalagi aku tidak mengerti cara mainnya.


Singkatnya, tim Rega yang membawa nama Pelita Harapan menang. Tidak perlu kujelaskan lebih lanjut kan? Yang penting intinya Rega dan teman-temannya menang. Selesai.


“Woy,” dari belakang sebuah tangan sudah melingkarkan tangannya di bahuku. Membuat kepalaku kelelep.


“Apansi lu bau juga,”


Bukannya melepaskan rangkulannya, ia malah semakin mengeratkannya.


“Lu boong ya sama gua – apaan tuh tukang bakso yang lagi nyuci piring. Lu sih kalo bikin alesan ter-bego 2013,” katanya.


“Yaudah si yang penting gue dateng kan.” jawabku. “traktir lu udah nyuruh-nyuruh gua dateng.”


“Traktir bibir lu jeding. Itu tiket konser emang bukan traktiran?”


“Beda lay, traktir gue makan. Laper,”


“Yaudah yok bebek slamet,”


“Itu mulu bosen,”


“Yaudah, terus maunya apa?”


“Apa kek, cari ide dong.”


Yang di sambut toyoran di kepalaku, “tadi gue kasih ide bebek slamet katanya bosen?”


“YAUDAH SLAMET!”


****


Saat tidurku sudah sampai taraf nikmat, tanganku di guncang-guncang oleh Ifa. Aku hanya menanggapinya dengan menggerakkan tanganku agar tangan Ifa lepas. Tapi ia tidak mau juga, malah semakin ia gerak-gerakkan.


“Apansi lo badak,” sungutku.


“Tai lo – is Van bangun, liat tuh di depan ada siapa.” bisik Ifa.


“Siapa?”


“Liat makanya,”


Dengan ogah-ogahan aku pun menuruti perintah Ifa untuk melihat siapa yang di maksud Ifa. Ternyata ada anak baru. Aku-pun memilih untuk menulungupkan kepala lagi. Namun, satu detik berikutnya terbayang wajah anak baru tadi. Tiba-tiba rasa kantukku hilang, aku melihat lagi anak baru itu dengan seksama.


“Dewa banget gila, Fa.” gumamku pada Ifa, pandangaku tetap pada si anak baru.


“Gausah ngiler Van,”


“Najis siapa juga yang ngiler,”


Jadi anak baru itu berjenis kelamin laki-laki. Namanya Raka Batara. Pindahan dari Amsterdam. Terus apa lagi ya? Oh iya, kira-kira tingginya 175 cm lah. Kayanya ga beda jauh deh dari Rega. Rambutnya coklat gelap, kulitnya ga item juga ga putih. Netral lah, woles gitu. Pokonya dia ganteng, gantengnya kaya dewa (padahal gue gatau dewa ganteng apa kaga).


“Ada anak baru loh di kelas kita,” Ifa memulai pembicaraan di antara kami berempat.


“Siapa?” Rega bertanya sambil mengaduk-ngaduk minumnya tanpa perlu melihat pada orang yang sedang di tanya, gaya khasnya.


“Tuh orangnya,” tunjuk Bagas.


Terlihat Raka memasuki kantin yang di sambut tatapab terpesona dari wanita-wanita di kantin.


“Rega kalah pamor deh,” celetukku sambil meminum es teh dari sedotan yang di keluarkan (re: itu tuh yang ujungnya di tutup pake telunjuk, ya gitu deh. Kalo gangerti yaudah).


Rega hanya tersenyum kecut dan melanjutkan makan somaynya.


“Ngomong-ngomong kapan final basket?” tanya Bagas.


“Lupa,” jawab Rega singkat.


“Geblek lu ah,” kata Ifa


“Gue kebelet nih – gue kamar mandi dulu dah,” kata Bagas langsung meloyor pergi.


“Oh iya! Mati gue, gue belom ngerjain pr sosiologi. Pinjem dong Van plis,”


“Ambil d tas,”


“Yes terimakasih Vanilla. Duluan ya dadah,”


Menyisakan aku dan Rega di kantin. Aku menghabiskan sisa-sisa batagorku ketika kurasakan seseorang berdiri di sampingku. Aku mendongak untuk menatapnya. Sejurus kemudian aku mengernyitkan keningku saat Raka tengah berdiri di samping meja kantin tempat aku dan Rega duduk.


“Kenapa?” tanyaku.


Raka mengeluarkan sesuatu di saku celananya, “punya lo kan?” ia menggenggam sapu tangan warna toscaku.


“Kok bisa di elo?”


“Kemarin lusa lo ke 45 kan? Inget ga lo nabrak orang?”


Aku mulai berpikir, “oh, jadi lo ya yang gie tabrak? Sori ya hehe dan thanks buat sapu tangannya,”


“Akrab banget kayanya,” celetuk Rega tiba-tiba.


“Apansi Ga,”


“Rega,” Rega mengulurkan tangannya pada Raka.


“Raka,” ia membalas uluran tangannya.


“Cabut Van,” Rega berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan meja.


“Duluan ya,” kataku pada Raka. Ia hanya membalas dengan tersenyum tipis.


“Cepetan woy,” teringat Rega yang ada 5 meter di depanku memanggilku, aku pun berjalan ke arahnya.


****