
Hujan turun membasahi bumi di malam hari. Sebagian orang benci hujan, alasannya simple, karena membuat jalanan kotor, licin, dan yang telah membuat janji batal karena hujan. Apalagi jika di tambah petir yang menggelegar membuat sebagian orang tersebut lebih memilih meringkuk di balik selimut tebalnya.
Namun, sebagian orang malah menyukainya. Hujan membuat hati tenang dengan menciptakan bau nya yang khas. Hujan bisa membuat tanaman-tanaman yang hampir layu bisa segar kembali. Menurut sebagian orang tersebut, hujan membawa keberuntungan. Jika kau berdoa saat hujan turun atau sesudah hujan turun, maka doa itu akan cepat di kabulkan.
Dan yang terakhir,
Hujan mampu menutupi perasaan sedih atau senang. Hujan membuat orang tidak mampu mengetahui kita sedang menangis atau tidak. Hujan menutupi airmata yang jatuh.
Laki-laki itu termasuk ke dalam sebagian orang yang menyukai hujan dari kecil. Baginya hujan adalah anugrah sekaligus tempatnya pulang. Malam ini, dia berdiri mematung di sebuah lapangan. Menghadap ke atas seraya matanya terpejam. Kilasan masa lalu nya kembali menerpa pikirannya.
Malam itu lagi-lagi hujan turun untuk yang kesekian kalinya. Dia sedang asyik membaca komik yang baru ia beli kemarin sepulang sekolah. Saat tiba-tiba pintu kamarnya menjeblak lebar menampakkan seorang perempuan cantik dengan linangan air mata, berhambur ke arahnya.
“Ayo Raka, kita harus pergi dari sini.” tangannya terulur untuk meraih tangan Raka kecil.
Raka yang sedang bermain dengan mobil-mobilannya menatap tak mengerti ke arah ibunya. Tanpa tahu jawabannya benar atau tidak yang jelas dipikirannya Raka hanya ingin mengatakan itu. “Raka ngga mau!” tukasnya.
“Raka.. papa udah—“
“Raka ngga mau!!”
Raka kecil ketakutan melihat ibu nya yang menangis dan seperti menahan emosi mendalam. Bukannya menyambut uluran tangannya, Raka kecil malah menghindar dan berlari keluar kamar. Melewati papa nya yang sedang duduk di meja makan, frustasi. Raka kecil keluar dari rumahnya, berlari secepat yang ia bisa agar tak terkejar. Air matanya turun bersamaan dengan turunnya hujan yang semakin deras.
Lama ia berlari sampai kakinya terasa ringan,
kemudian gelap membawanya pergi.
Yang terpikirkan dalam otak nya hanya satu nama. Dengan tangan gemetar akibat kedinginan ia menekan dial pada sebuah nomer.
“E-elo dimana?” ujarnya terbata-bata setelah suara di sebrang sana mengangkat telponnya.
“Raka?” kata yang di sebrang sana. “Lo kenapa?”
“Gue.. boleh ke rumah lo ga sekarang?”
****
Suara petir menyambar bersamaan dengan suara bel yang berdering. Aku langsung menghambur ke arah pintu, itu pasti Raka. Sejak setengah jam yang lalu ia sudah menunggu di depan ruang tv agar jika Raka datang ia akan langsung membukanya. Masalahnya, ini sedang hujan.
Aku membuka pintu dan detik berikutnya aku sedikit terpana melihat Raka di depanku sekarang. Dia menggigil kedinginan dan wajahnya seputih kertas.
“Ra-Raka?” bego, ngapain malah kaya gitu sih. “Eh, maksud gue.. ayo masuk.”
Untung tidak ada orang di rumah, kan semuanya masih di Bandung sampai besok. Jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kenapa laki-laki yang belum mereka kenal masuk ke dalam rumah.
“Sori, gue.. basah.” kata Raka.
Aku melihatnya dari atas sampai bawah, “Emm.. yaudah tunggu bentar ya gue ambilin baju kak Vandy dulu – kayanya muat deh di lo.”
Sementara menunggu Raka yang mengganti baju di dalam kamar mandi. Aku membuatkannya secangkir teh hijau. Tepat sekali saat aku keluar dari dapur, Raka keluar dari kamar mandi. Kali ini wajahnya tidak terlalu pucat seperti tadi saat baru datang.
“Nih gue bikinin teh hijau.” iya terus? Terus apa elah awkward banget. “Emm, biar lo.. ga kedinginan lagi.”
Raka menyambut cangkir itu dengan senyuman di wajahnya, walau bukan senyuman seperti biasanya. Dih gua sok tau banget dah masalah senyumnya.
Tik..tok..tik..tok..
“Gue..”
“Gue..” kataku dan Raka bersamaan.
Aku menggaruk kepala canggung serta meringis canggung.
“Lo aja dulu.”
“Lo aja dulu.” lagi-lagi bersamaan.
Sumpah gue harus apa nih. Ini kenapa kaya gini. Kenapa gue jadi kaya gini. Kenapa. Kenapa. Kenapa.
Raka tersenyum geli, akhirnya senyumnya sama. Eh, ngga tau juga deng.
“Ladies first.” katanya akhirnya. Membuatku jadi bingung juga, sebenernya tadi aku mau ngomong apa? Ayo pikir Vanilla, Ayo pikir!
Pikir, pikir, pikir, “Lo udah ga basah hehe.” Vanilla goblok, Vanilla bego, Vanilla tolol. Malu-maluin aja sih! Aku menepuk kepalaku sendiri.
Raka tertawa kecil, tawanya renyah juga. “Kan lo yang minjemin.”
“Sori sori gue lagi agak geblek. Terus, tadi lo mau ngomong apa?” aku mencoba berbicara senetral mungkin.
“Gue Cuma mau bilang makasih.” ujarnya. “Sori ya malem-malem ganggu lo, soalnya gue.. gue gatau lagi harus kemana.”
“Ngomong-ngomong keluarga lo pada kemana?” Raka melihat sekitar rumahku yang sepi.
“Ke Bandung, sampe besok.”
“Gue.. boleh disini dulu kan? Seengganya sampe ujannya berenti.”
“Nope.”
Setelah ngobrol sebentar, aku beranjak ke dapur dan membuat mie rebus untuk Raka. Karena kalau hujan seperti ini biasanya paling enak sambil makan mie rebus. Tapi itu kata sih, tidak tahu ya kata orang. Tidak sampai duapuluh menit, mie rebusnya sudah jadi. Kemudian aku mengeksekusinya pada mangkuk dan membawanya kembali ke sofa di depan tv tempat Raka duduk.
Namun yang kulihat sekarang adalah Raka yang tertidur di atas sofa. Aku berjalan mendekatinya dan menaruh mie rebus tersebut pada meja di depan sofa. Kebetulan Bi Inah lewat.
“Bi, tolong bawain selimut dong sama ini nih mie di apain kek gitu.”
Bi Inah mengangguk sopan, setelah mengambil mie rebus tersebut ia beranjak pergi untuk mengambil selimut. Tak berapa lama Bi Inah datang sembari membawa sebuah selimut. Lantas aku menyuruhnya kembali ke kamar dan menyematkan selimut itu pada tubuh Raka.
Besok kan sekolah, ini Raka gimana nasib nya coba?
Raka menarik selimutnya sampai ke lehernya dan berpindah posisi dalam mata masih tertutup. Melihatnya sedang tertidur membuat perasaanku sedikit berdesir juga. Ini pertama kalinya aku lumayan dekat dengan seorang laki-laki, setelah Bagas terutama Rega.
Aku memposisikan diriku berjongkok di sampingnya dan menatap lurus pada wajah di depanku sekarang. Kuamati baik-baik wajah Raka yang sekarang berada di depanku. Ia memiliki garis wajah yang tegas, hidungnya mancung, dan yang paling aku suka darinya adalah alisnya yang tebal dan berwarna sedikit kecoklatan mengingat rambutnya juga memang sedikit kecoklatan.
Aku merentangkan kelima jariku ke depan mukanya dan melambai-lambai disana. Namun tak ada reaksi dari dirinya. Tidur beneran dia, batinku. Gatal, akhirnya aku menyentuh pipinya dengan telunjukku berulang-ulang kali.
Idih, mulus banget mukanya gila! Gue aja kalah mulus, apa dia perawatan? Jangan-jangan tempat perawatannya sama kaya nyokap gue lagi. Eh, apaansi lo Vanilla. Udah ah bye.
Sekali lagi aku menusuk-nusuk pipi Raka dengan telunjukku, “Tidur yang bener ya disini, byee.”
****
Alarm di kamarku berbunyi, aku meraba-raba dengan tanganku dan mematikannya. Mengulet sebentar lalu beranjak ke kamar mandi. Dengan wajah masih mengantuk walau sudah mandi aku mengambil tas sekolah dan membawanya turun ke bawah untuk sarapan.
Bersamaan dengan aku yang turun dari tangga bel berbunyi dan Bi Inah membukakan pintunya.
Rega.
“Oh, Rega.”
Dengan santainya aku menuruni tangga dan dua detik kemudian setelah turun satu tangga. Rasanya nafasku berhenti saat itu juga.
Mati.
Raka kan masih tidur di sofa. Gimana kalo Rega ngeliat? Terus dia mikir macem-macem? Terus—
“Woy bengong aja lo kaya onta! Cepet turun!” dari bawah sana Rega sudah berkacak pinggang sambil menatapku.
“Sabar napa!” aku melirik ke arah sofa, untung ada tv dan seperangkatnya yang menghalangi sofa tersebut. Semoga aja aku dan Rega pergi ke sekolah sebelum Raka bangun. Dengan langkah takut-takut aku turun dari tangga.
“Lo lagi turun tangga apa jalan-jalan keliling dunia si?” sindir Rega.
“Gue lagi jalan ke surga.” jawabku tepat di depannya setelah sampai di bawah. Kulirik lagi arah tv dan sofa, masih belum ada tanda-tanda bangunnya Raka. “Cepetan berangkat ntar telat.” aku mendorong punggung Rega dari belakang.
Di raihnya tanganku olehnya, “Ga makan dulu?”
“Udah deh gampang, buruan elah!”
“Serius ga makan?”
“Lo tau bacot ga? B-a-c-o-t, bacot?”
“Tau, itu hewan kan?”
Langsung ku tempeleng kepalanya, “Itu bekicot bego.” kataku.
“Oh iya maap maap.” kata Rega. “Yaudah yok.”
Rega menarikku beranjak keluar rumah. Namun tepat pada saat itu sebuah suara membuatku benar-benar membeku.
“Van, sori—“ Raka telah berdiri di ujung sana dengan tampang masih bangun tidurnya. Kurasa tadinya Raka tidak tahu kalau ada Rega.
“Kenapa dia ada di rumah lo?” suara Rega berbeda dari biasanya, suara yang menurutku membuatku merinding dan aku tidak ingin mendengarnya lagi. Dan ini kali kedua aku mendengar suara yang sama setelah yang pertama waktu Dendy –teman SMP ku- tidak sengaja menabrakku sehingga aku terjatuh dan menyebabkan kepalaku berdarah.
Dan sekarang,
aku tidak tahu deh.
*