
Ternyata selama ini papa tau dimana gue, ternyata selama ini gue salah sangka ke papa, maafin Arza pa. Arza gak tau kalau papa sebegitu menderitanya. Arza gak pernah benci sama papa. Hari itu Arza cuma kebawa emosi, setelah itu menyesal makanya Arza pergi ke kantor buat nenangin diri. Tapi ternyata takdir memang gak berpihak ke Arza, sekali lagi Arza kecewa sama kata kata papa, tapi Arza gak benci papa. Ternyata surat itu masih berlanjut.
" Papa mempercayakan kamu ke mereka Za, papa pengecut kan Za, papa malah menyerahkan tugas papa ke orang lain untuk menjaga kamu. Papa minta maaf, semoga kamu mau memaafkan papa kamu yang gak berguna ini.
Anggap saja surat ini adalah surat pengakuan dosa papa ke kamu. Sebenarnya papa juga gak berharap surat ini kamu baca. Tapi papa ngerasa waktu papa udah gak banyak Za. Papa cuma ingin kamu menerima semua wasiat yang papa tinggalkan di pengacara papa dan Jery. Papa harap itu bisa menjadi penebus dosa papa ke kamu. Biar papa tenang ketika menemui mama kamu.
1 Permintaan papa ke kamu, setelah papa gak ada, jangan menyimpan rasa bersalah ke diri kamu Za. Kamu berhak bahagia. Kamu berhak hidup dengan keinginan kamu sendiri, papa tidak akan memaksakan kehendak papa lagi.
Terimakasih karena kamu pernah ada untuk papa, kamu adalah hadiah terindah yang dikirim tuhan untuk papa. "
Tanpa sadar air mata gue keluar lagi, kenapa rasanya takdir benar benar tak berpihak sama gue? Kenapa seakan akan hidup gue selalu di permainkan? Semua orang yang gue sayang perlahan meninggalkan gue satu persatu.
Setelah membaca surat papa, gue pun keluar dari kamar papa, ternyata semua tamu sudah pada pulang dan hanya meninggalkan William, uncle Jery, dan keluarga Brandt.
" Arza, kamu belum makan seharian, tadi tante sempat pesan makanan, yuk tante temenin kamu makan dulu ya."
" Arza gak laper tante, makasih."
" Kamu jangan gitu dong sayang. Kalau kamu sakit gimana? Makan sedikit ya. Atau mau tante masakin makanan kesukaan kamu?"
Gue menggeleng dan duduk di samping William dan menyenderkan kepala di bahunya.
" Lo gak papa Za? Istirahat dikamar aja ya."
Gue menggeleng lagi, gue cuma butuh sandaran sebentar, dan William ngerti itu. Dia biarin gue buat sandaran di bahu nya. Tanpa terasa gue ketiduran.
Entah berapa lama gue tertidur, tapi ketika bangun, gue udah dikamar, siapa yang mindahin gue ke kamar? William? Tapi gue ngerasa ada yang megang tangan gue, pas gue liat, ini Sendi? Kenapa dia ada dikamar gue? Tiba tiba dia bangun.
" Eh, lo udah bangun Za, sorry gue ketiduran, dari semalam belum ada tidur."
Gue cuma diam mandangin Sendi, kenapa dia yang dikamar gue, William kemana?
" Oiya, tadi William pesan, kalau lo nyariin dia, dia lagi ngurus beberapa hal."
Gue tetap gak merespon Sendi. Bukan benci, gue gak benci sama sekali dengan Sendi, cuma gue memang lagi malas aja.
" Gue tau lo masih marah sama gue, gue minta maaf, seandainya aja waktu itu gue gak buat lo kecewa, seandainya waktu itu gue nyadarin perasaan gue sama lo, semua nya gak mungkin jadi kayak gini."
Gue masih malas nanggepin Sendi. Sampai akhirnya dia mulai gak sabar dan cecar gue dengan pertanyaan.
" Lagian lo ngapain sih pakai kabur kabur segala Za? Gue tau lo kecewa sama gue, tapi lo gak harus pergi dan ninggalin uncle Billy kan? Biar gimana pun Uncle Billy papa lo Za. Lo lebih milih tinggal sama Rendi Remos yang bukan siapa siapa lo dibanding dengan papa lo sendiri? Lo ada hubungan apa sama Rendi? Pantes aja tiba tiba dia pindah setelah lo menghilang. Lo ga mikir apa? Tinggal sama cowok yang bukan muhrim lo itu gak baik Za, lo pernah tinggal di Indonesia seharusnya lo tau itu."
Gue emosi dengar perkataan Sendi.
" Lo tau apa? Siapa lo? Lo gak tau apa apa tentang gue, jadi jangan sembarangan lo kalau ngomong, gue pergi bukan karena lo, jadi jangan GR lo. Lo cuma cowok brengsek yang bisa nya ngejudge orang lain, kalau memang lo udah menyadari perasaan lo sama gue, lo gak bakal ngomong tanpa pakai otak, lo tau, gue nyesal pernah kenal sama lo, gue nyesel pernah suka sama lo. Sebelum lo ngomong, seharusnya lo nyari tau dulu kebenaran nya. Sekarang lo keluar. KELUARRRR.!!!!!"
" Za, gue salah ngomong ya? Sorry Za, gue gak ada maksud buat nyinggung lo Za."
" Pintu nya disebelah sana. Keluar lo!!!"
Gue emosi, ada hak apa dia ngomong kayak gitu ke gue, tau apa dia tentang masalah gue. Setelah Sendi keluar, ada lagi yang masuk ke kamar gue, gue kirain dia balik lagi, ternyata...
" Lo gak ngerti bahasa Indonesia? Get out!!"
" Sorry Za, gue cuma mau nganterin makan malam aja. Lo belum makan seharian Za."
" Sorry Val, gue kirain.."
" Sendi?"
" Hmm."
" Lo berantem lagi sama Sendi?"
" Dia sebenarnya sayang sama lo Za, tapi dia gak bisa ngungkapin perasaannya."
" Sayang? Orang kayak dia mana ngerti sayang sama orang. Orang kayak dia cuma tau diri dia sendiri, sampai kapan pun dia gak bakalan bisa yang namanya menghargai perasaan orang. Dia itu orang paling egois yang gue kenal."
Gue liat Valdi diam aja, astaga, gue baru aja ngatain adik nya.
" Sorry Val, gue gak maksud ngatain Sendi. Gue cuma kesal aja sama dia. Suka gak mikir dulu kalau ngomong."
" Lo berdua lucu tau Za. Pas dekat berantem, tapi kalau gak ketemu rindu."
" Mana ada gue rindu dia."
" Ya ya terserah lo deh. Makan dulu nih. Mama gue masak tadi sebelum pulang. Dia pesan lo harus makan."
" Thankyou Val."
" Makasih nya sama mama gue, kan mama gue yang masak. Gue cuma nganter doang."
" Okedeh, kapan kapan gue ajak mama lo keluar buat bilang makasih."
" Hmm, oiya Za. Rencana lo kedepannya gimana?"
" Gue belum tau. Papa pesan kalau gue udah bebas nentuin hidup gue sendiri mulai sekarang. Gue juga belum tau gue mau nya gimana."
" Ya pokoknya ikutin kata hati lo Za. Karena yang paling jujur itu cuma hati Za."
" Lo tu ngasih nasehat kayak gue lagi putus cinta tau gak."
" Haha, iya ya? Gue kurang bisa ngasih nasehat ke orang sih."
" Serah deh, gue udah siap makan ni. Gue mau kebawah. Lo gak pulang?"
" Jadi ceritanya lo ngusir gue ni?"
" Iya, udah malam, lo ngapain masih disini?"
" Gue sama papa nginep disini. Uncle Jery sama William malam ini gak pulang."
" Loh, mereka kemana emang?"
" Emang lo mau dikejar kejar Wartawan? Mereka ngurusin banyak hal."
" Oooo, yaudah lo sama uncle Dirga bisa pakai kamar tamu dibawah."
" Iya tau, tadi udah dibilang uncle Jery. Lagian papa gue udah tidur duluan. Kecapean banget kayak nya."
" Ya udah lo juga balik sana ke kamar tamu, gue mau mandi, gerah."
" Udah malam Za, besok pagi aja. Nanti lo sakit."
" Udah deh gak usah bawel, nih sekalian bawa piring nya ke bawah, hehe."
Setelah Valdi keluar, gue langsung ke kamar mandi buat berendam, rasanya gue lelah banget.
Selagi berendam, gue mikir, hebat ya gue, didepan orang lain gue bisa ketawa, begitunya sendiri, airmata pun gak bisa dikontrol supaya gak keluar.
Setengah jam kemudian gue keluar dari kamar mandi dan langsung beristirahat.
-----------------------------------