
Ini sudah menginjak minggu ke – empat setelah peristiwa yang lagi-lagi, tiba-tiba Raka datang menolongku. Ini norak abis mengingat aku jadi suka senyum-senyum sendiri saat mengingatnya.
But honestly,
kalau kalian mengalaminya juga pasti akan sama sepertiku, apalagi kalau yang menolong juga tidak jelek wajahnya. Malah bisa di bilang lebih dari sekedar standar. Atau bisa di bilang tampan, atau mungkin untuk menggambarkan Raka itu.. charming. Lebih tepatnya seperti itu. So, don’t judge me.
Beda dari Rega yang lebih ke cool, tapi di depanku dia sama sekali nggak cool. Demi nomer satu, dua, dan tiga yang sudah mati. Juga demi para tetua lorien yang sudah menyerahkan jiwa dan raganya untuk mempertahankan bangsanya. Duh, bawa-bawa novel fantasy.
Tapi serius deh,
ini suka apa bukan sih?
Kalau kalian memikirkan sesuatu dan kalian senyum-senyum sendiri, berarti kalian suka sama sesuatu itu, kan? Benar tidak?
Kalau iya,
jangan-jangan aku suka sama----
“VANILLA! LO NGABISIN TIRAMISU YA?!” suara Vika menggelegar sampai ke telingaku.
Kemudian hening.
****
Tidak biasanya aku menunggu Rega datang menjemput, biasanya dia malah yang menungguku. Tapi ini sudah lewat dari sepuluh menit aku berdiri di luar rumah sambil sesekali melirik pada jam tangan. Rega belum menampakkan batang hidungnya. Saat ku telpon, ponselnya tidak aktif.
Pokoknya lima menit lagi gak dateng, gue cabut aja deh, pikirku.
Ini udah lima menit, saat nya aku berangkat.
“Pak Joko, anterin ke sekolah.”
Jalanan memang macet, jangan-jangan Rega kejebak macet? Tapi ga mungkin, Rega selalu punya cara buat keluar dari kemacetan. Nggak sih, nggak selalu juga. Kadang, ujungnya dia marah-marah sendiri, dan endingnya berantem denganku soal siapa yang menyebabkan kita terjebak macet dari Rega yang menyalahkanku karena kelamaan. Dan aku yang menyalahkan Rega gara-gara nyari jalan yang salah.
Padahal kalau di telusuri, aku dan dia sama-sama salah. Tapi, kebanyaan aku yang salah dan Rega yang mengalah.
Pertama yang kulakukan saat turun dari mobil adalah mengecek deretan motor di parkiran. Tapi tidak ada motor Rega, itu artinya dia memang mungkin kejebak macet atau semacamnya. Atau jangan-jangan dia tidak masuk? Tapi kok gak bilang-bilang?
“Gue lagi ngidam bakso di kantin, cepetan Van!” aku sedang mencatat sosiologi saat Ifa dengan kurangajarnya menari-narik tanganku, alhasil tulisanku jadi mencang-mencong, berantakan.
“Diem napa lu, gue mau ke kelas Rega dulu.”
“Kenapa dia?”
“Kepo deh.”
“Ikut.”
Aku bertanya pada Dio, teman sebangku Rega sekaligus tim basket sekolah. Kebetulan dia sedang ngobrol di depan kelas.
“Rega kan gak masuk, Van. Lo gak tau?” kalimat Dio barusan membuatku cukup terkejut. Rega tidak masuk tuh kayak nya gimana gitu. Benar berarti dugaanku yang terakhir. Jangan-jangan Rega gak masuk.
“Kata Bu Leni sih sakit.”
Dan saat itu juga aku menetapkan hati, pulang sekolah pokoknya harus ke rumah Rega.
“Tumben banget si Rega sakit.” komentar Ifa saat berjalan menuju kantin. “Lo nanti ke rumah Rega?”
“Iyalah, masa ngga.” jawabku cepat. “Lo sama Bagas?”
“Gue kan hari ini harus jemput adek gue di bandara, Bagas gak tau deh. Kalo besok Rega masih gak masuk, gue jenguk besok.”
“Yaudah.”
****
Karena terlalu terburu-burunya, lima menit terakhir aku sudah memasukkan buku-buku ku ke dalam tas seakan aku sudah siap untuk pulang. Catatanku berantakan karena menulis terburu-buru, tidak peduli yang penting nyatet.
Triiingg!
“Duluan.” pamitku pada Ifa.
Detik pertama bel berbunyi, aku langsung berdiri dan berlari-lari kecil keluar kelas. Ifa hanya menatapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dan Bagas, hanya mengerutkan dahinya.
Sial, kok nggak ada taksi sih?
Rasanya tertiba-tiba aku ingin menjadi vampire saja agar bisa berlari dengan sangat cepat. Atau mungkin menjadi salah satu anak-anak lorien.
“Ngga sama Rega?” tanya suara yang datang daru belakang.
Raka tiba-tiba sudah berdiri di sampingku, “Rega ngga masuk.”
“Oh, pantes dari tadi gue gak liat.” katanya. “Terus lo berdiri disini ngapain?”
“Nunggu taksi, mau ke rumah Rega.”
“Gue anterin aja, kalo lo mau.”
“Serius?”
Raka menganggkuk.
Pada akhirnya aku ke rumah Rega diantar Raka.
Setelah sampai pada kediaman Mahardika, Raka tidak lantas mematikan mesin mobilnya. Kukira ia juga akan menjenguk Rega.
“Gue langsung ya.” kata Raka.
“Gak jenguk Rega?”
“Salamin aja dari gue buat dia. Gue ada urusan.”
“Oke.”
****
Mbok Dyah, pembantu rumah tangga di rumah Rega membukakan pintu saat aku menekan bel rumahnya.
“Langsung ke atas aja non, den Rega lagi tidur di atas.” kata Mbok Dyah.
“Rega udah makan belom, mbok?” tanyaku.
“Nah itu dia non masalahnya, den Rega gak mau makan daritadi pagi. Katanya masih kenyang.” hell-o, sejak kapan tanpa makan minimal empat kali sehari Rega bilang dia udah kenyang?
“Iya mbok? Yaudah, makanannya mana? Biar aku aja yang maksa dia buat makan.”
Yah, apaan sih lo Van makanan yang gak enak.
Kubuka pintu kamar Rega, kulongokkan kepala terlebih dahulu. Sebelum aku membuka lebar pintunya. Tiba-tiba punggungku di colek seseorang.
“Galih, ngangetin aja sih!” ternyata yang nyolek tadi Galih.
“Buburnya enak tuh kak hihihi,” baru aku bersiap untuk protes kalau ini buat abangnya –Rega- dan bersiap untuk bilang pada Galih untuk minta bikinin lagi aja ke Mbok Dyah tapi terlambat. “Pokoknya gimana caranya kak Vanilla harus bikin bang Rega makan ya. Galih jadi sedih nih gabisa rebutan makanan lagi gara-gara bang Rega sakit.”
Aduuh Galih, meleleh deh ini.
Aku tersenyum semangat pada Galih, “Siap!”
Kemudian Galih berlalu dari sana, aku menutup pintu kamar dengan kakiku karena kedua tanganku sudah penuh untuk membawa nampan.
Di dalam, Rega dengan rambut acak-acak an masih tidur di atas sana. Selimutnya sudah acak-acak an entah kemana juntrungannya.
Heran deh, ini orang sakit apaan sih?
Aku meletakkan nampan tersebut di meja samping tempat tidur, “Rega? Gue nih.”
“Hmm,” dia hanya memberi gumaman tidak jelas.
“Ga, gue mau nikah besok.” langsung saja ku bisikkan kalimat itu langsung di samping telinganya. Rega tidak terkejut seperti itu waktu saat aku bilang aku hamil. Dia hanya mengerutkan kening dalam aksi sok tidurnya, lantas merubah posisi tidurnya agar membelakangiku.
“Jangan ngaco deh.” gumamnya.
“Lo sakit apa sih? Kok hp lo gak aktif? Gue nungguin lo di depan rumah juga, terus akhirnya gue minta anter Pak Joko. Terus waktu istirahat gue ke kelas lo, terus kata Dio lo gak masuk gara-gara sakit. Terus pas pulang gue nungguin taksi, tapi gak ada-ada. Terus—“
“Terus?” sahut Rega tetap pada posisinya. Aku duduk di tepi kasur Rega juga membelakangi Rega. Jadi, kami sama-sama membelakangi.
“Terus gue di anter Raka deh,”
“Siapa kata lo tadi? Raka?” Rega bangun dari tidurnya.
Aku mengangguk, “Ga, kata Mbok Dyah lo gak makan dari pagi? Sejak kapan lo—“
“Iya, iya, gue makan. Tapi suapin.”
Pertama: Kurangajar banget dia nyela kalimat gue.
Kedua: Sejak kapan Rega jadi manja, menjijikkan gitu?
Ketiga: Apa gue harus nyuapin Rega?
****
Rega
“Suapin gue, kalo gamau gue gak mau makan.” gue baru mau beranjak ke posisi tidur gue kaya tadi sebelum Vanilla akhirnya meng-iyakan walau dengan ogah-ogahan.
Anggep aja hukuman buat lo gara-gara berani-beraninya di anterin Raka, ke rumah gue lagi. Diam bukan berarti kalah. Gak naggepin Vanilla yang di anter Raka juga gue punya cara bales dendam sendiri. Haha.
Kalo marah-marah ke Vanilla lagian juga sekarang buat apa? Apalagi nyuruh dia ngejauh dari Raka? Bisa-bisa kebongkar rahasia gue.
Nggak,
gue Cuma mau nunggu saat yang tepat.
Entah kapan, gue gak bisa mastiin.
Gue juga terlalu takut kalo seandainya gue bilang ke dia, terus dia ga terima. Kita canggung. Dan pada akhirnya kita bakal jauh. Gue gak mau itu terjadi. Gue gak bakal bisa jauh dari dia.
Akhir-akhir ini kenapa gue jadi menye gini sih?
“Woy pegel kali tangan gue nungguin lo buka mulut.” suara Vanilla menyadarkan gue dari lamunan gue yang 100000% gak penting.
“Ya sabar kali, masih ngunyah!”
“Ngunyah kata lo? Ini bubur hellaaaauuu!”
Gue ngelirik ke mangkok nya, ternyata emang bubur. Yaelah, gara-gara siapa coba gue sampe gak nyadar kalo itu bubur? Gara-gara lo.
Suruh siapa nama lo di otak gue mulu?
****
Raka Revaldy: bisa ketemu sekarang?
Me: dimana?
Raka Revaldy: gue jemput sekarang
Me: ok
Aku dan Raka duduk seperti biasa di atas gedung, setelah Raka menceritakan semuanya. Tentang Mama nya yang baru ia ketahui menjalin hubungan dengan seseorang.
“Jadi.. menurut lo sendiri gimana?” tanyaku.
Raka mengangkat kedua bahunya, “Om Ginanjar sih.. baik.”
“Kalo baik masalahnya dimana?”
“Gue Cuma gak nyangka aja kalo ternyata mereka berdua diem-diem pacaran, gue gak ngerti dan itu kenapa gue cerita ke lo. Gue tau lo bisa ngasih solusi.”
“Tante Shalom keliatan seneng gak? Kalo iya, then why? Tante Shalom juga butuh figur tempat sandaran dia.” jawabku. “Gue tau selama ini lo yang jadi tempat sandarannya, tapi— perasaan ibu ke anak sama ibu ke ayah kan beda—maksud gue, siapa tau ada misalnya hal penting menyangkut lo yang perlu di rundingin dan di rundinginnya gak mungkin sama lo nya kan?”
“Tapi—“
“Theres no reason, Raka.”
Senyum Raka merekah hangat, mengerti maksudku.
“Thankyou..” katanya. “For always be here,”
*