Vanilla

Vanilla
Episode 24



 


 


Detik berikutnya Rega berjalan mendekat ke arahku dan menatap terlebih dahulu tepat ke dalam mataku, seakan sedang memastikan bahwa yang di depannya benar-benar aku atau tidak. Detik selanjutnya aku sudah berada dalam dekapannya. Aku limbung sebentar dengan reaksi cepatnya.


Tapi mencium aroma khas tubuhnya membuatku sadar, aku balas memeluknya. I really miss this guy for God's sake. Setelah beberapa bulan tidak bertemu, Rega tidak banyak berubah. Dia masih sama seperti Rega—ku—yang dulu.


"Gue gak lagi mimpi kan?" gumam Rega bego di dalam dekapannya.


Aku melepaskan pelukannya, "Perlu gue tabok buat mastiin?"


"Nggak, makasih."


Aku melirik perempuan yang tadi, dari jarak yang cukup dekat aku bisa mengamati wajahnya. Dia cantik—tipikal perempuan yang mau bersusah payah untuk merawat diri walaupun dari gayanya tidak norak seperti perempuan kebanyakan. Satu lagi, kurasa dia bukan bule.


Sadar, bahwa aku melirik perempuan disampingnya buru-buru Rega langsung angkat bicara.


"Oh iya, Van, kenalin ini Raras, dia dari bandung, dapet beasiswa juga disini." kata Rega. "Ini Vanilla, Ras. Yang suka gue ceritain ke lo."


Kalimat terakhir Rega membuatku senang sekaligus was-was juga. Senang, karena itu artinya Rega tidak melupakanku. Was-was, karena hubungan apa yang sedang terjalin di antara mereka sampai-sampai Rega mengatakan bahwa dia suka menceritakan tentangku ke dia.


"Eh, h-hai." jawabku ragu.


Raras tersenyum manis, aku saja yang perempuan mengakui kalau dia adalah makhluk Tuhan yang hampir sempurna. Bagaimana kata laki-laki? Dan, bagaimana kata Rega?


Pertanyaan yang terakhir segera kubuang jauh-jauh dalam pikiranku.


"Rega sering cerita tentang lo lho." katanya renyah, dan aku menjadi serba salah saat ini. Aku ingin—Ingin sekali kesal padanya, tapi sepertinya tidak bisa. Aura yang Raras bawa membuatku tidak bisa kesal padanya.


Lagipula, untuk apa aku kesal?


Aku sama Rega kan belum ada status. Ya kalian mengertilah maksudnya.


"Ke flat gue aja langsung." kata Rega.


****


Sejujurnya aku ingin sekali menanyakan perihal tentang Rega yang tiba-tiba selalu membalas lama email dariku. Juga perihal kenapa dia tidak pernah on skype. Tapi semuanya lagi-lagi tertahan seiring dengan percakapan antara Rega dan Raras yang sama sekali tidak ku mengerti. Tadinya percakapan masih bertanya perihal aku.


"Gue gak nyangka banget kalo ternyata anaknya temen bokap gue itu lo, Van." kata Rega sambil menyetir mobil. Aku baru sadar Rega sudah bisa menyetir mobil di sebelah kiri. Lupakan, itu tidak penting dan tidak nyambung. "You surprised me."


You too, Abrgega.


Setelah aku sampai di bandara dan melihatnya bersama perempuan yang bahkan tidak kukenal. Gimana tidak membuatku terkejut?


Sekarang aku hanya duduk manis di samping Rega. Sementara Rega dan Raras sibuk berbicara entah apa aku tidak mengerti. Raras menyampirkan kedua tangannya di antara jok yang kududuki juga jok Rega.


Mendengar Rega tertawa dengan orang lain membuat sesuatu dalam diriku ingin sekali memberontak tapi tidak bisa.


"Laper gak?" tanya Rega.


Aku yang daritadi hanya melihat ke jalanan dari jendela langsung menoleh refleks, "Apa?"


"Kenapa sih daritadi diem aja? Gue nanya, laper gak?" ulangnya.


"Oh," nafsuku makanku sudah hilang sejak tadi. "Nggak."


"Lo Ras? Laper?" Rega menatap ke spion agar tidak perlu susah payah menoleh ke belakang.


"Banget."


Jawaban dari Raras memupuskan harapanku. Padahal aku ingin sekali langsung sampai ke flat dan tidur di kasur. Tapi, yah, mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kan aku egois dan berperilaku seperti anak kecil?


Rega memarkirakn mobilnya di depan McD, aku penasaran juga apa rasanya sama McD disini sama di Indonesia? Tapi—tadi kan aku bilang tidak lapar. Gengsi banget kalau tiba-tiba berubah pikiran.


"Bener nih gak mau?" Rega menyodorkan sebuah burger kepadaku.


"Gak." jawabku kesal. Jelas kesalm ini sudah kesekian kalinya dia menawariku, bahkan yang terakhir ini burgernya padahal sudah mau habis.


"Enak tau, Van burgernya. Beda sama di Indo." kata Raras. Sekali lagi aku hanya menggeleng. Padahal perutku sudah nge-rock minta di kasih makan.


Begitu sampai di flat, kukira Raras bakalan pulang. Tapi nyatanya dia masih di dalam flat nya Rega. Ternyata mereka berdua mau mengerjakan makalah yang di minta dosen mereka. Dan kerjanya berdua-berdua. Dan pertanyaannya adalah, kenapa mereka harus berdua? Kenapa Rega gak sama temen laki-lakinya?


Tapi dalam hati aku berpikir juga sih, mungkin itu sudah di tentukan oleh dosennya. Tapi----ya Tuhan, tidak tau deh.


"Kalo butuh apa-apa, bilang aja ya." kata Rega sambil mengacak rambutku. How I miss that moment.


Aku mengangguk mengiyakan. Lalu berjalan ke kamar—tunggu, ini hanya ada satu kamar? Aku pun langsung berhenti dan berbalik agar bisa melihat Rega.


"Ga, ini Cuma satu kamar?" tanyaku.


"Iya, kenapa?"


"Terus nanti lo tidur dima—"


"Yaudahlah gampang, emang sih pesen Papa suruh lo nginep di hotel. Tapi—nggak deh, gue gak bisa biarin lo sendirian. Jadi mending lo tidur disini." jelasnya.


"Ga, gue udah dapet nih berkas-berkasnya." suara Raras membuat Rega buru-buru menyudahi pembicaraan kami berdua.


"Yaudah gih lo tidur sana, capek kan duduk mulu di pesawat? Gue ngerjain tugas dulu."


Yang kulakukan setelahnya adalah berjalan pelan dan masuk ke dalam kamar. Menaruh koperku di temoat yang semestinya lalu merebahkan diriku ke atas kasur. Dari dalam kamar ternyata bisa terdengar walau samar-samar suara di luar sana.


"How stupid you are, Abrega!" suara Raras samar terdengar jelas, kemudian dia tertawa diiringi dengan gerutuan Rega.


"Dammit."


Entah apa yang sedang mereka bahas, aku tidak mau tahu lagi. Hari pertama di London tidak membuatku senang apalagi bahagia. Eh? Sama saja ya? Yaudah. Aku hanya berharap hari-hari besok tidak seperti ini lagi. Jadi, aku bisa membahas masalah boneka, mawar,  juga surat itu.


Aku memejamkan mataku perlahan,


tak berapa lama kemudian aku sudah terbang ke alam mimpi.


****


Namun harapan hanyalah harapan.


Keesokan harinya saat aku bangun dan mengerjap-ngerjapkan mata. Aku tidak mendapati Rega diatas sofa seperti tadi malam. Yang kutemukan hanyalah sebuah kertas kecil di samping kasur.


Pasti baru bangun, kebo dasar,


Gue harus ke kampus pagi-pagi buat nyari buku


yang gue butuhin. Ohiya, udah gue buatin sarapan tuh di atas meja.


PS: Makan yang banyak ya. Awas kalo gak abis!


 


 


-R-


 


 


Aku hanya tersenyum di buatnya. Kemudian ku usap bagian -R- pada tulisannya. Tulisan yang sama seperti di surat Rega waktu itu. Mau tidak mau aku tersenyum lagi. Lalu setelahnya aku melirik ke meja di samping kasur. Ada sebuah roti berisi omelet isi kornet. Juga ada susu coklat.


Aku bangun dari kasur dan mengambil susu coklat tersebut. Aku mengernyitkan kening mendapati ada sebuah kertas di sampingnya lagi.


Susunya di minum yang banyak!


Ini kesukaan lo, kan? Rotinya juga abisin!


 


 


"Rega bego." gumamku tanpa kusadari.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi Rega belum juga pulang. Aku menunggu di atas sofa sembari menonton acara televisi. Tak berapa lama kemudian suara pintu terbuka. Aku menoleh dan langsung menghampirinya. Itu pasti Rega.


"Hai Vanilla." sapa Raras ceria.


"H-hai." balasku kikuk.


"Sarapannya udah di makan kan? Nih gue bawain makanan, belom makan siang kan pasti?" kata Rega.


Aku mengangguk dan menerima tentengan yang berisi makanan itu, "Lo udah—"


"Tadi gue sama Raras udah makan di luar, terus gue sekalian beli buat lo."


Peganganku pada tentengan itu langsung hampir terjatuh. Refleks tangan Rega langsung menahan tanganku.


"Gue.. ke kamar dulu." aku langsung buru-buru berjalan cepat ke kamar dan menutup pintunya.


Rasanya seperti apa ya? Seperti ada ratusan bahkan ribuan serpihan kaca menusuk ke hati. Lebay? Emang. Tapi ini fakta. Bisa-bisanya Rega pergi seharian sampai sore, bahkan aku belum makan siang, dan aku berharap dia pulang sendirian ternyata sama Raras. Dan parahnya, dia sudah makan terlebih dahulu dengan Raras.


Ya memang dia membawakanku makanan. But its unfair. Setidaknya dia bisa membungkus makanannya dan memakan bersama-sama di flat.


Ah sudahlah, ini sudah terjadi. Untuk apa di ungkit-ungkit? Toh kenyataannya mereka berdua sudah terlanjur makan berdua.


****


Hari ketiga di London aku sudah badmood, badmood parah. Catat itu.


"Udah tiga hari disini tapi lo belom kemana-mana, sori ya buat kemarin-kemarin." kata Rega saat sarapan.


"Gapapa." kataku acuh sambil tetap memakan sarapanku.


"Hari ini kita jalan-jalan deh, mau?"


Aku sudah sangat ingin bilang iya sebelum sesuatu terlintas dipikiranku dan membuatku tidak bersemangat lagi.


"Mau gak?"


"Sama siapa?"


"Ya lo sama gue lah."


"Berdua?"


"Van, jangan bolot deh."


Entah kenapa senyum keluar dari bibirku, "Yaudah mau."


So, here we go. Westfield Shopping centre.


Salah satu jajaran mall terbesar di dunia. Aku dan Rega hanya melihat-lihat saja tanpa ada rasa ingin membeli. Lagipula harganya mahal-mahal, mending beli di Indonesia. Paling hanya beda merk saja.


Setelah bosan hanya berkeliling-keliling mall saja, kami berdua memutuskan untuk pergi ke sebuah taman bermain. Tempat dimana banyak keluarga juga pasangan muda-mudi yang menghabiskan waktu disana.


"Di Jakarta mana ada ya taman bagus kaya gini." kataku.


"Iyalah." jawab Rega. "Mau es krim?" tawar Rega yang kujawab dengan anggukan.


Rega bangkit berdiri untuk membeli es krim sementara aku masih duduk-duduk sambil menunggu.


Tiba-tiba sebuah es krim sudah berada tepat di depan wajahku, "Es krim rasa Vanilla buat Vanilla." Rega sudah duduk di sampingku.


"Apasih gak lucu." aku menerima es krim tersebut.


Sampai sore aku menghabiskan waktu bersama Rega. Tanpa ada gangguan sedikit pun. Setidaknya ini bisa mengobati hari-hari kemarin.


Malamnya hujan tiba-tiba turun mengguyur, aneh sih di musim dingin yang seharusnya turun salju malah turun hujan. Dan sedari tadi aku tidak bisa tidur padahal sudah berulang kali untuk mencoba memejamkan mata. Di tambah petir menambah efek pada usahaku untuk tidur. Aku bukan orang yang takut petir, tapi—aku hanya memang tidak bisa tidur saja kalau ada petir.


"Gak bisa tidur?" tiba-tiba Rega sudah berdiri di sampingku.


"Nggak."


Setelah mendengar jawabanku tiba-tiba ia langsung berbalik ke samping kasur dan merebahkan dirinya ke atas kasur. Aku yang terperanjat kaget langsung terduduk melihat aksinya.


"Lo ngapain?!" kataku panik.


"Tidur." jawab Rega santai sambil memejamkan matanya.


"Di—sini?"


"Iya disini, gue juga gak bisa tidur. Lo juga sama kan? Yaudah kali aja orang yang sama-sama gak bisa tidur di persatukan jadi bisa tidur."


"Apaan sih, alesan lo gak jelas. Gue tidur di sofa kalo gitu." baru aku akan bangkit berdiri agar pindah ke sofa. Tangan Rega menahan tanganku sehingga aku jatuh terduduk kembali.


"Gue gak bakal ngapa-ngapain, lagian kalo tidur di sofa ntar badan lo pegel-pegel. Lo gak mau kan?" katanya. "Udah sini cepet tidur." Rega menepuk sisi kasur.


Dengan perasaan canggung aku pun mengikuti saja perintahnya. Rega juga pasti tidak akan macam-macam. Sebelum—


"REGA, WHAT THE **** YOU DOING?"


Tangan Rega melingkar di sekitar pinggangku. Sialan, ini nervous banget. Kenapa Rega kaya gini?


"Gue gak bisa tidur kalo gak ada guling, suruh siapa gulingnya lo ambil." kata Rega.


Aku menatap guling yang kupegang, aku juga sama. Tidak bisa tidur kalau tidak ada guling.


"Tapi iss—"


"Shut up and sleep well, Vanilla."


Malam itu untuk pertama kalinya aku tidur seranjang dengan Rega. Ya walaupun tidak ngapa-ngapain tapi aneh aja. Gitu deh. Bye.


****


Pagi-pagi aku bisa mendengar suara gaduh dari luar sana. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan berusaha bangun dari acara tidurku. Aku tidak merasakan sebuah tangan lagi di pinggangku, benar sekali saat aku menoleh Rega sudah tidak ada.


Di luar sana makin gaduh, itu suara Rega---juga Raras?


Aku membuka pintu kamar dan sedikit terkejut—bahkan sangat terkejut mendapati wajah Rega dan Raras sudah bersimbah tepung terigu. Aku tidak tahu mereka sedang apa tapi ku yakin sepertinya mereka ingin membuat kue.


Jelas dari celemek yang mereka gunakan juga.


"Pagi, Vanillaaa." sapa Raras. "Kita lagi nyoba buat bikin kue nih."


"Lo tunggu aja ya, bentar lagi jadi kok." sambung Rega.


Aku memaksakan untuk tersenyum, "Oh.. iya.. gue.. mau.. mandi dulu." kututup lagi pintu kamar.


Perasaan kesal menggerogoti hatiku, kemarin padahal sudah menjadi hari yang cukup indah. Tapi sepertinya hari ini tidak akan. Aku menyenderkan punggungku pada pintu dan memejamkan mata sebentar.


Gue gak tau mereka ada apa, tapi yang jelas mau gak mau, suka gak suka, gue harus cepetan nanya ke Rega.


Pikiranku langsung berkecamuk saat itu juga. Bagaimana bisa Raras pagi-pagi sudah berada di flat Rega? Apa itu sudah kebiasaan? Apa memang mereka sering melakukannya?


Atau jangan-jangan,


mereka memang ada sebuah hubungan?


Tapi Rega tidak ingin—belum ingin—cerita kepadaku?


Kenapa aku merasa saat-saat ini pernah kulewatkan? Ini semacam deja vu. Aku mencoba berpikir keras untuk tahu apa sebenarnya. Dan, suatu kekhawatiran muncul dalam diriku. Tidak salah lagi. Ini sama seperti aku dan Raka dulu.


Mungkin mereka berdua memang tidak mempunyai hubungan,


tapi perasaan siapa yang dapat menahan?


Memikirkan kemungkinan itu membuatku terhenyak saat itu juga. Kalian tahu? Kalian sudah sangat senang ketika mengetahui suatu hal yang tidak pernah terpikirkan ada di depan mata kalian dan ketika kalian hendak ingin meraih suatu hal tersebut tiba-tiba ada suatu hal yang sudah siap menghalangi, kalian tahu?


Itu sama saja kalian di bawa ke langit ke tujuh lalu di hempaskan begitu saja tanah bumi. Sakit.


*