Vanilla

Vanilla
Episode 20



Rega


 


 


Gue Cuma bisa ngeliatin surat yang ada di tangan gue sekarang. Gue gak habis pikir, padahal waktu itu gue iseng ngikutin test nya. Tapi, kenapa malah keterima? Sekali lagi gue *** rambut gue yang gak pernah gue sisirin. Karena gue bingung gimana ke depannya nanti, gue taroh itu surat di atas kasur.


Nyokap bokap juga kayanya udah terlanjur seneng gue keterima disana. Kayanya ngarep banget gue ngambil itu beasiswa. Yes, gue makin bingung.


“Bang, ada bang Bagas di luar.” kata Galih yang tiba-tiba udah ada di depan gue.


“Suruh masuk aja kesini.” sampe lupa, gue ada janji buat barbeque di rumah Ifa. Ceritanya buat ngerayain kemarin abis ngejalanin Ujian Sekolah.


Bagas udah nongol beberapa menit kemudian, “Apaan nih?” gak sengaja pas mau duduk Bagas ngeliat surat beasiswa gue. Yang menyatakan gue keterima. “Beasiswa? Lo keterima beasiswa di luar, Ga?” Bagas mengernyitkan dahinya seakan tidak percaya.


Gue Cuma ngelirik datar, sambil ngangkat bahu.


“Lo kenapa kaya gak semangat gitu sih?” tanya Bagas.


“Gue gak tau mau ngambil apa ngga, gue Cuma iseng waktu itu.” jawab gue.


“Sip, gue tau masalahnya dimana.”


 It means, gue bakal jauh dari Vanilla. And hell no, gue lebay. Gue gak sanggup.


****


Hanya dalam hitungan beberapa hari Ujian Akhir Nasional akan ada di depan mata. Entah perasaan apa yang tergambar dalam diriku. Ini bukan masalah ujiannya, ini masalah perubahan status. Sebentar lagi aku akan lepas dari masa-masa sekolah dan akan masuk ke jenjang yang lebih tinggi, yang lebih real.


Belum lagi nanti jika aku tidak satu kampus dengan Rega, pokonya aku benar-benar tidak bisa membayangkannya untuk saat ini. Lagipula, aku belum tahu mau kuliah dimana, di kampus mana, dan yang terpenting jurusan apa. Kasihanilah diriku ini yang tidak tahu ingin menjadi apa.


“Gimana sih? Kenapa bisa sampe gak tau mau jurusan apa?” setelah aku bilang ke Rega kalau sampai saat ini aku tidak tau tujuanku, ia langsung mencak-mencak.


Aku hanya menggeleng pelan dengan tampang super melas, berharap Rega bisa memberikan titik terang terhadapku.


Rega merubah posisinya agar duduk tepat di sampingku, “Tapi gue gak heran kalo lo gak tau mau jurusan apa.” ujarnya membuatku memutar kedua bola mataku. “Lo kan gak punya pendirian, kerjanya ikut-ikutan.”


“Apaan sih, Ga. Sebenernya gue punya sih cita-cita.” aku mengerucutkan bibirku sebal.


“Apa?”


“Cita-cita gue ngikutin lo aja deh, lo mau jadi apa? Biar kita kuliah bareng, Ga. Gue gak tau gimana jadinya kalo gak bareng elo. Ya, Ga, ya? Bareng ya?”


Bibir Rega berkedut antara ingin tertawa juga menahan kesal, “Lo tuh ya—speechless gue ngomong sama lo. Mending gue ngomong sama tembok.”


Kupukul lengannya kencang-kencang, Rega hanya mendesah kesakitan. “Emang lo mau kuliah dimana? Jangan jauh-jauh ya, Ga. Seengganya kalo kita beda kampus, gue masih bisa nyamperin lo.”


Kalimat terakhirku tidak mendapat jawaban dari Rega. Melainkan tangannya terulur untuk mengacak rambutku, di sertai bibirnya yang terangkat ke atas.


“Udah malem, kita pulang.” percakapan kami berakhir sampai di sana.


****


Ini sudah hari ke tujuh menjelang Ujian Nasional. Bukannya panik seperti yang lain, aku malah tenang-tenang saja. Sementara anak kelasku sibuk membahas soal, aku izin ke toilet pada guru yang sedang mengajar. Sebenarnya aku bukan ingin ke toilet, aku ingin keluar dari kesibukan orang. Lama-lama pusing juga.


Aku menendang salah satu batu sambil berjalan, langkahku membawaku pada gedung belakang sekolah. Kulihat dari jarak pandang yang cukup dekat seseorang juga berada disana.


“Pantesan daritadi gue gak liat lo, ternyata disini.” kataku pada Raka yang tengah duduk santai. “Ngapain sih disini?”


“Nyari angin—sini duduk,” Raka menepuk tempat di sebelahnya. “Lo juga ngapain disini?” tanyanya balik.


“Sama kaya lo.” jawabku setelah bokongku sukses berada di atas tanah.


“Jadi, gimana perasaan lo musim hujan pas menjelang UN?” kata Raka.


Aku mengerutkan keningku, “Lo serius—nanyain gue tentang cuaca?” ujarku sedikit menahan tawa.


Raka mengangkat bahu acuh, “Emang gue keliatan bercanda ya?”


Cepat-cepat aku menggeleng, “Ya ngga—emm, apa ya? Gue suka ujan--dingin, basah. Bikin hati tenang. Jadi, gue bersyukur banget menjelang UN musim ujan.” jawabku. “Lo sendiri? Suka?”


“Banget,” katanya cepat. “Dari kecil gue suka ujan.” Obrolan kami berlanjut mengenai hujan dan seterusnya.


“Jadi, lo mau kuliah dimana?” tanyaku.


“Gue sih paling disini-disini aja, gue gamau jauh dari nyokap.”


“Yee anak mama.”


“Emang bener kan?” tanyanya. Bibirnya berkedut membentuk senyuman. “Lo?”


“Gue berharap lo gak nanyain itu ke gue.”


“Kenapa?”


“Karna gue gatau jawabannya.” jawabanku sontak menimbulkan tawa Raka. Entah aku juga bingung dimana letak lucunya. Menurut kalian lucu? Ngga? Iya? Yaudah.


****


Senang sekali rasanya melihat semua penjuru murid kelas duabelas berlarian keluar kelas sambil mengangkat tinggi-tinggi papan jalan yang mereka gunakan untuk mengerjakan soal yang mengujinya dalam masa tiga tahun belajar di sekolah menengah.


Ujian Nasional telah selesai. Bagaimana hasilnya nanti, I don’t give a ****, karena Ujian Nasioal tidak menentukan apa-apa untuk masa depan seluruh anak kelas duabelas di seluruh Indonesia. Itu menurutku, kalau menurut kalian berbeda. Yasudah, pemikiran orang berbeda-beda.


Sekarang suasana di halaman sekolah ramai dengan teriakan lega oleh anak-anak kelas duabelas. Dari IPA sampai IPS. Aksi corat-coret seragam pun dimulai, di sekolah di larang untuk mencorat-coret seragam, jadi kita semua hanya mencoret untuk mencetuskan tanda tangan masing-masing. Kegiatan seperti itu baru di perbolehkan. Aneh? Memang.


“Van, tanda tangan lo cepet.” kata Ifa sambil menjulurkan sebuah spidol kepadaku. Aku mengambilnya lalu menanda tangani seragamnya. Lumayan besar.


Setelah melewati Ujian Nasioanal, akan ada prom night yang di adakan oleh sekolah. Biasanya, di setiap angkatan seperti tahun-tahun lalu menggelar dua kali prom night. Yang satu resmi dari sekolah, yang satu membuat acara sendiri.


“Gue udah tau mau kuliah apa!” seruku pada Rega yang baru selesai berbicara dengan Dio. Dia menoleh ke arahku.


“Baru sekarang?” katanya sok sinis.


“Yaudahsi, ini juga gue mikirinnya pas lagi ngerjain soal UN.”


“Gila,” tanggapnya datar. “Itu seragam lo udah gak layak pakai.”


Kubandingkan seragamku dengan seragam Rega, seragam Rega baru di bubuhi beberapa tanda tangan.


“Sini, gue mau tanda tangan!” aku langsung menyelusup ke belakang Rega dan langsung membubuhi tanda tanganku di belakang seragamnya. Ini tanda tangan terbesar yang pernah kubuat.


Aku tersenyum puas melihatnya, “Biar lo inget gue.”


****


Rega


 


 


“Gue gak ngerti sama lo deh, Ga. Apa susahnya bilang? Tinggal bilang gue cinta lo. End of story.” cerocos Ifa.


Gue, Bagas, Ifa, lagi ada di rumah gue, ngomongin masalah prom night yang bakal angkatan gue adain. Kebetulan Ifa salah satu panitianya. Vanilla udah pulang duluan, katanya ngantuk. Tadinya gue mau nganterin tapi katanya udah minta jemput Pak Joko.


Vanilla pulang, dua anak ini langsung nyudutin gue tentang ini.


“Lo gak ngerti di mana titik masalahnya.” kata gue.


“Apa? Lo takut Vanilla nolak lo? Terus lo takut Vanilla ngejauh? Plis ya, Ga. Ini realita, bukan fiksi apalagi dongeng.” jelas Ifa. “Gak segampang itu Vanilla ngejauh, apalagi lo sama dia udah sahabatan lama.”


“Gue yakin Vanilla ngerti.” tambah Bagas. “Apalagi lo dapet beasiswa di luar, lo gak nyesel kalo sampe lo gak bilang?”


“Gimana kalo Vanilla ternyata malah lagi nunggu lo?”


“Gimana kalo—“


“Lo berdua bacot, sebenernya gue udah punya sesuatu sih.”


Dari sebelum UN gue udah ngerencanain semuanya. Tentang gimana caranya ngungkapin perasaan gue. Setelah gue pikir-pikir, apa salahnya buat coba? Gimana hasilnya itu urusan belakangan. Gak peduli, yang penting gue harus bilang ke Vanilla.


About the feeling,


about us.


 


 


****


Aku sudah siap untuk prom night angkatan, minggu kemarin udah yang resmi dari sekolah. Rasanya gimana gitu. Antara seneng antara sedih juga bakalan ninggalin masa-masa yang katanya paling berharga selama masa-masa sekolah.


Tapi memang itu kenyataannya, aku merasa sangat senang.


Abrega Mahardika: u cool with ur dress, but u look perfection if u smile


Sebuah line dari Rega, ini kalimat yang sama sewaktu kita berdua ke acara pernikahannya tante Shalom. Kenapa dia tidak mau bilang langsung sih?


“Ngomong dong langsung.” kataku setelah memasukkan ponsel ke dalam clutch. Yang di ajak bicara malah cuek bebek dan berjalan ke mobilnya.


Di tengah acara prom night, Rega tiba-tiba menghilang. Pasti dia ke toilet, penyakit besernya kan kuat banget. Tiba di acara puncak, acara dansa dengan pasangan. Entah pacar atau teman atau yang lain.


Aku sudah mewanti-wanti untuk meniadakan acara itu, tapi semua orang sepertinya tidak sepemikiran denganku. Jadi, yah.


“Bete banget keliatannya?” Raka sudah berada di sampingku, ia memberiku sebuah minuman yang sama dengannya.


“Gue benci dansa, gue gasuka nari.” jawabku lalu meneguk minuman itu sampai habis.


“Gimana kalo kita pergi?”


Mataku berbinar mendengarnya, langsung kujawab dengan anggukan mantap. Ide yang bagus. Pergi dari acara menjijikkan. Itu hal yang sangat amat menyenangkan. Raka membawaku pada atap gedung tempat favoritnya.


“Makasih pak.” kata Raka pada satpam yang memberikan kunci itu padanya. Raka menuntunku agar mengikutinya, dengan patuh aku mengikutinya. Sampai kami tiba di atas.


“Seneng?” tanyanya.


Aku mengangguk dan berpaling ke arahnya, “Makasih ya udah bawa gue kabur.”


Raka tertawa sejenak dan beberapa saat kemudian tawanya lenyap. Di gantikan oleh suara dehemannya.


“I have something to say.”


 


 


****


Rega


 


 


It was perfect.


 


 


Gak sia-sia gue nyiapin ini dari jauh-jauh hari. Taman di pinggiran kota yang jarang di kunjungin orang gue sulap jadi taman—taman tempat ngungkapin perasaan. Di jalanan kecil menuju taman udah di pasang lampu-lampu kecil. Juga nanti pas seseorang itu udah ngelewatin jalan itu, ada lilin-lilin yang melingkar.


Gue gak bisa jelasin lebih lanjut, gue bukan tipe orang yang bisa ngegambarin sesuatu dengan detil. Intinya, menurut gue ini bagus.


 Perasaan gue sekarang udah gak karuan. Nervous, deg-degan, takut, seneng, semuanya campur aduk. Undescribe banget pokoknya. Gue udah nyewa taksi dan ngejamin supirnya gak bakal macem-macem buat nganterin Vanilla kesini. Tadi gue langsung ngilang tanpa sepengetahuan Vanilla.


Gue takut kalo gue ngomong sama dia, gue gugup. Terus semuanya berantakan.


Juga, gue udah nyiapin sebuah hadiah buat Vanilla sekaligus seikat mawar buat dia. Dulu gue selalu jijik ngeliat cowok yang sok romantis ngasih bunga sama hadiah ke cewek. Tapi, gue baru bener-bener ngerasainnya sekarang setelah gue tau cinta.


Weird? Yes.


Apa gue terlihat sama sekali gak cool? Pasti iya. Tapi gue gak peduli, orang gue suka bukan lo, lo, lo, dan elo. Gue suka Vanilla. Cinta malah.


Gue menetapkan hati buat neken nomer Vanilla di layar ponsel. Butuh waktu sekitar lima menit buat ngeyakinin diri gue kalo gue bisa. Bisa ngomongnya maksudnya.


Detik-detik nada sambung dari sambungan telpon, bikin gue was-was. Jantung gue juga entah kenapa juga jadi ikutan was-was. Sialan, ini gak gue banget.


“Regaaa.” suara Vanilla di ujung sana kaya seneng banget.


“Van, gue—“


“Ga, Raka tadi nembak gue—“


Gue gak salah denger kan? Apa tadi barusan Vanilla bilang kalo dia di tembak Raka?


“And i said yes.”


 


 


Detik itu juga gue ngejauhin ponsel, gue ngeliatin semua yang udah gue siapin. Mawar sama hadiah yang udah gue pegang, kelepas dari tangan gue.


Ya, gue baru ngerasain sekarang.


Gue selalu kalah, gue selalu telat.


Dan sekarang gue merasa bener-bener nyesel, kenapa gak dari dulu gue buat nyoba bilang? Gue baru merasa selama ini gue gak ngelakuin apa-apa buat dapetin Vanilla. Selama ini gue Cuma berharap tanpa ngelakuin usaha yang berarti.


Gue merasa jadi orang yang bener-bener tolol. Lebih tololnya lagi, gue baru sadar itu semua sekarang.


Sekali lagi gue kalah.


Juga tentang Raka yang selalu nolongin Vanilla kalo dia lagi butuh. Entah di sengaja atau takdir. Tapi dia emang selalu lebih dulu di depan gue. Dan gue selalu menjadi setelahnya. Gue terlalu naif buat mikir kalo Vanilla udah kenal lama sama gue dan dia pasti bakal tiba-tiba cinta sama gue dengan berjalannya waktu.


Gue gak pernah mikir daridulu kalo suatu hari pasti ada cowok yang buat Vanilla suka. Gue terlalu yakin buat ngakuin kalo gue sama Vanilla gak bakal bisa lepas. Gue terlalu sombong tentang perasaan gue.


Dan emang kayanya udah takdir bakal berakhir kaya gini.


Dari awal emang udah gue yang salah. Gue gak bisa apa-apa kalau udah kaya gini.


Tanpa perlu gue ngungkapin perasaan gue juga gue udah tau jawabannya. Karena jawabannya pasti ngga. Sekali lagi, gue mendem perasaan gue sendiri.


Biarlah menjadi sebuah butiran debu tanpa pernah di sentuh oleh yang di tuju. Biarlah menjadi sebuah harapan terindah dalam hidup yang pernah gue punya.


 


 


“Karena cinta tulus ku inilah lantas aku memberikan sebuah mawar terindah untuknya dengan serta menggenggam erat batang dan duri-durinya hingga aku mendesah menahan rasa nyeri. Dia tersenyum cerah. Namun aku bersimbah darah..”