
Selama seminggu full aku menghabiskan waktu bersama Rega. Dari mulai jalan-jalan keliling komplek yang menurutku kegiatan paling aneh sedunia sampai nonton bareng, makan bareng, barbeque bareng, dan yang terpenting, setidaknya aku bisa men-drible bola basket dengan lumayan benar. Sumpah, aku payah dalam bidang olahraga, apapun bentuknya itu. Tapi dua hari yang lalu Rega mengajariku cara nge-drible yang benar.
Pokoknya seminggu itu apapun asal sama Rega, aku mau-mau saja dan senang-senang saja. Yang penting sama Rega. Titik.
Aku hanya menopangkan daguku sambil memandang Rega yang sedang packing. Dari mulai ia mengambil koper pun. Aku sudah mulai merasa sedih—full sedih. Sumpah. Kalian harus merasakan sendiri ya bagaimana rasanya di tinggal oleh seorang sahabat yang selalu ada untuk kalian dan tiba-tiba dia harus pergi ninggalin kalian. Iya kalau masih beda kota. Ini? Beda negara.
Iya kalau masih di Malaysia, Singapore, atau Thailand pokoknya negara asia lainnya kecuali Jepang. Biaya akomodasi kesana masih lumayan bisa terjangkau. Jadi, aku bisa saja sih setiap liburan mungkin mengunjunginya. Mungkin ya.
Tapi, London?
Pesawatnya aja mahal. Kayanya aku harus sok baik dulu di depan Papa supaya di perbolehkan kesana. Iya kalau ujungnya di bolehin. Kalau nggak? Apalagi kalau pergi sendiri, mana di bolehin.
Maaf curhat.
Jadi, kalian rasakanlah sendiri. Agar kalian benar-benar merasakan rasanya seperti apa.
"Ga." panggilku.
"Hmm." Rega masih sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
"Rega."
"Apa Vanillaa?" Rega menghentikan aktivitas packing nya. Sekarang tatapannya tertuju terhadapku sepenuhnya. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa manggil dia. Ini semua benar di luar kendaliku. Sepertinya aku benar-benar tidak rela kalau Rega harus pergi.
"Jangan gitu dong mukanya." Rega mengacak rambutku, akhir-akhir ini dia memang sering melakukannya.
"Bisa nggak perginya di tunda?" tanyaku tanpa merasa berdosa.
Rega menghela nafas sebentar dan duduk di sampingku. Tatapannya tertuju padaku yang sedang memainkan ujung tali gulingnya.
"Gue kuliah, Van. Bukan liburan." jawab Rega sabar.
"Kalo gue kangen sama lo gimana, Ga?"
"Sekarang teknologi udah canggih. Lo bisa skype gue atau apapun yang lo mau."
"Tapi kalo gue maunya ketemu gimana?"
Rega diam sebentar, "Lo tidur aja, ntar pasti gue dateng ke mimpi lo." ucapnya menahan geli dalam suaranya.
Sialan Rega, bisa-bisanya masih kaya gitu di saat-saat kaya gini? Langsung kupukul aja lengannya.
"Serius iss, Ga." kataku kesal.
"Gue juga serius, Van. Gak mungkin juga kan tiap gue atau lo yang pengen ketemu harus bener ketemuan? Yang ada gue miskin tiba-tiba. Bukan deh, bokap gue maksudnya." katanya. "Gue juga sama Van kaya lo. Pasti ada saat dimana gue juga pengen ketemu lo, dalam arti secara langsung. Tapi—mau gimana lagi? Kita jauh. Gampangnya, kita komunikasi aja terus, seenggaknya itu bisa jadi obat buat sementara, kan?"
Aku mengangguk pelan membenari ucapannya, kurasakan mataku berkabur. Sepertinya airmatanya hampir keluar. Tapi buru-buru kuusap.
"Kalo lo kangen sama gue, bilang aja. Gak usah gengsi ya." canda Rega.
Sialan. Rega sialan.
"Gue boleh bilang sekarang?" tanyaku serak. Rega mengangkat salah satu alisnya, tanda tak mengerti. "Gue kangen lo.."
Lagi, detik itu juga Rega membawaku ke dalam dekapannya. Padahal ia baru besok berangkat. Tapi rasanya ia sudah jauh dalam jangkauanku. Rega mengelus punggungku pelan untuk menenangkanku.
"Gue lebih kangen lo." kata Rega di sela-sela pelukannya. "Mau gue ambilin tisu?" tawarnya. Aku hanya mengangguk. Rega **** senyum di bibirnya dan bangkit untuk mengambil tisu. "Udah ya, gak pake nangis-nangisan lagi. Gue masih disini."
Aku mengelap sisa-sisa airmataku dan menarik ingus, ya Tuhan kenapa sih kalau setiap orang yang sedang nangis itu harus ada ingusnya?
"Besok berangkat jam berapa, Ga?" suaraku masih sedikit serak.
"Jam sepuluh pagi take off." aku baru akan berkomentar tapi Rega lebih dahulu mendahuluiku. "Gue gak bakal setega itu ya pergi tanpa pamit sama lo."
Walau sedikit, tapi dalam lubuk hatiku merasa lega.
****
Sudah sedari jam tujuh pagi aku siap. Rencananya aku, Ifa, dan Bagas akan bersama naik mobil Raka ke bandara. Menurutku waktu tiga jam itu sangat sedikit sekali jika ada sesuatu yang tidak di inginkan datang. Sama seperti ini. Dan padahal baru jam setengah delapan aku sudah berulang kali menelpon Raka untuk cepat datang. Juga Ifa dan Bagas.
Aku mau jam delapan aku sampai di rumah Rega. Setelah itu bersama-sama kami ke bandara. Walau dengan mobil yang berbeda. Karena mobil Raka tidak cukup untuk menampung kedua orangtua Rega, juga Galih.
Sampai saat ini tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirku. Tiba-tiba semuanya kelu, lagipula aku juga tidak tahu ingin bicara apa. Ini lebih tegang daripada menunggu hasil ujian. Apa? Lebay? Menurutku tidak.
"Van, mau ciki nggak?" tawar Ifa padaku. Sebagai jawaban aku hanya menggelang.
Jantungku serasa ingin keluar ketika mendengar pengumuman pesawat yang akan di tumpangi Rega sudah siap. Rega berdiri dari tempat duduknya, begitu juga dengan aku dan yang lainnya.
Raut mukanya sama semua, sedih campur senang. Tapi aku tidak. Aku sedih, sedih se-sedih sedihnya orang sedih. Senang juga sih walaupun sedikit. Senang karena setidaknya aku punya sahabat lulusan luar negri. Hahihu.
Ketika satu persatu semua orang memeluk Rega untuk berpamitan. Aku hanya memandang kosong ke arahnya. Entahlah, ini rasanya sudah campur aduk. Aku juga mual sebenarnya jika mengalami rasa seperti ini.
Entah sudah berapa lama Rega berdiri di hadapanku. Aku baru menyadarinya ketika aroma khas nya tercium sampai ke rongga dalam hidung.
"Kemarin nangis-nangis gak ngebolehin gue pergi? Sekarang kenapa diem aja?" Rega memecah semua lamunanku.
Aku mendongak menatapnya, "Katanya gak boleh nangis lagi." kataku pelan.
Bibir Rega berkedut membentuk sebuah senyuman, "Nggak ada gue jangan teledor ya. Harus bisa jaga diri baik-baik. Jangan suka pulang malem-malem. Dan jangan pernah mau di deketin cowok yang gak lo kenal." pesannya panjang lebar. "Dan jangan berhenti buat kangen sama gue." yang terakhir di ucapkannya dengan nada setengah geli setengah serius. Aku tidak terlalu memerhatikan karena aku terlalu fokus pada pikiranku sendiri.
"Lo juga—sampe sana langsung kabarin gue. No matter what."
Dalam waktu beberapa detik keadaan semua hening, tidak ada yang bicara di antara kami berdua. Terhanyut dalam benak masing-masing. Sampai tiba-tiba Rega mendekapku, kali ini sedikit berbeda. Aku merasa seperti there is no tomorrow. Aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh puncak kepalaku.
Rega menciumku—di kening.
"Take care without me." bisiknya setelah menjauhkan bibirnya dari puncak kepala.
"You too." jawabku setengah berbisik juga.
Kemudian pandangan Rega beralih pada Raka. Tidak seperti biasanya, Rega selalu memandang Raka penuh curiga tapi kali ini juga berbeda. Ia malah menaruh pandangan harapan pada Raka.
"Gue percaya lo bisa jagain Vanilla." Rega menepuk bahu Raka seperti layaknya seorang teman dekat.
"I do."
****
Rega
Gue jalan lurus ke depan tanpa perlu ngeliat ke belakang lagi. Gue takut gak sanggup, kalau seandainya gue nengok ke belakang dan gue ngeliat Vanilla, gue takut gue bakal batalin kepergian gue. Apalagi seminggu kemarin gue sama Vanilla selalu bareng, bikin gue tambah desperate.
Mau gimana juga, Vanilla udah punya Raka atau belum. Inti masalahnya adalah gue gak bisa jauh dari Vanilla.
Tapi nyatanya gue tetep dengan pendirian gue buat terus jalan dan gak nengok ke belakang lagi. Gue jauh dari Vanilla juga bisa lebih nguntungin buat gue. Seenggaknya gue gak bakal setiap hari ketemu dia lagi.
Dan,
I used to be afraid of letting go, the fragile part of me. I'm here right now I need you to set me free. I can see it in you eyes. That you blame it on me this time. No, never. You might want me back but I won't look back.
****
Minggu-minggu pertama tanpa Rega rasanya berat. Berat banget. Sesuai janjinya, sampai disana dia langsung mengubungiku lewat skype. Hampir setiap hari aku ber-skype ria dengan Rega. Cerita tentang semua, sehari-hari kita. Aku juga cerita ke Rega kalau aku masuk ke salah satu universitas negri di Jakarta.
"Cie jadi anak kuliahan sekarang. Jangan bolot-bolot lagi ya." kata Rega di ujung sana. Kalau saja ini bukan berbicara lewat skype, sudah ku pukul lengannya atau mungkin ku cubit keras-keras.
"Sekarang kalo kuliah di anter Pak Joko deh, bukan sama lo." kataku.
"Gimana? Nggak ada gue sedih banget kan?"
"Apasih." gerutuku. "Lo gimana? Temen disana enak-enak?"
"Lumayan."
Beberapa bulan di awal memang aku dan Rega selalu rajin ber-skype ria. Tapi bulan-bulan selanjutnya Rega jadi sulit sekali di hubungi. Aku mengirimkannya email saja baru di balas beberapa hari kemudian. Awalnya aku masih biasa saja, maklum. Mungkin Rega sibuk karena tugas kuliah.
Tapi, ini sudah dua bulan lebih. Bahkan aku tidak lagi ber-skype an dengan Rega. Hanya berkirim email itu pun di balasnya seabad.
"Kenapa? Dari kemarin mukanya gak enak terus?" aku baru selesai nonton dengan Raka. Sumpah, aku bahkan tidak tahu jalan cerita filmnya seperti apa. Karena terlalu sibuk berpikir.
"Aku gak ngerti kenapa dua bulan terakhir Rega susah banget di hubungin." curhatku.
"Mungkin dia lagi sibuk, Van. Kan kita nggak tau sistem kuliah di luar kaya gimana. Bisa aja lebih sibuk."
Iya tau sibuk, tapi bisa kan bales email nya gak seabad? Emang Rega gak punya internet lagi apa? Gak mungkin banget.
Dan aku sampai titik pada dimana aku sedang benar-benar kangen Rega. Rasanya aku ingin berlari kesana sekarang juga untuk menemuinya. Coba bayangkan, kalian sedang kangen berat sama seseorang but you can't do anything like hell. Rega sucks.
It was so sick.
A day without you is like a year without rain, Abrega. I swear to God.
Kalau seandainya tiba-tiba Rega bisa membaca pikiranku mungkin ia akan tertawa sekeras-kerasnya. Dia pasti tidak akan percaya kalau aku seperti ini.
Rega, lo dimana sih? Kenapa bales email lama? Kenapa gak pernah skype lagi? Gue kangen lo tau gak sih. Kangen. K a n g e n. Bodo amat gue jadi menjijikkan gini. Ini semua gara-gara lo. Gue jadi alay labil nan ababil gini pokonya fix gara-gara lo.
****
Kuputuskan untuk pergi ke rumah Ifa. Aku ingin curhat sejadi-jadinya. Siapa lagi kalau bukan tentang Rega? Rega bego, gak tau apa kalo gue kangen?
Ternyata Ifa sedang menjemput Mama nya yang sedang belanja di sebuah mall. Jadi aku langsung saja naik ke atas, dan masuk ke dalam kamarnya. Dan dengan kurangajarnya meniduri kasur Ifa yang padahal sepertinya baru di beresin.
Aku memejamkan mata sebentar, sampai aku tidak sadar kalau aku sudah setengah tidur. Tiba-tiba di dalam mimpiku aku terpeleset ke sungai, yang itu artinya di dunia nyata sekarang aku sudah berada di atas lantai. Jatuh dari kasur.
"Aduh." aku meringis sambil mengusap bokongku yang lumayan sakit.
Aku baru akan bangkit dengan tanganku sebagai tumpuannya. Tidak sengaja aku memegang sesuatu di bawah kasur. Kulongokkan kepalaku ke dalam sana. Kudapati sebuah kotak yang sepertinya itu sebuah hadiah. Juga ada seikat mawar yang sudah layu.
Untungnya itu kotak yang bisa di buka tutup. Jadi, kalau itu punya Ifa juga dia tidak akan tahu kalau aku pernah membukanya.
Aku memang orang paling kepo seluruh dunia.
Pertama ku amati dulu seikat mawar itu. Aku mengernyitkan kening dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa Ifa menyimpan mawar yang sudah layu begini? Apa mungkin dia lupa membuangnya? Atau apa? Kalau di lihat dari bentuk mawarnya, itu sudah seperti mawar beberapa bulan yang lalu.
Kutaruh mawar itu di samping kotak hadiah, kemudian tanganku mengambil kotak itu. Perlahan aku membukanya. Mataku membulat seketika menemukan apa isi kotak tersebut. Isinya adalah sebuah boneka yang waktu itu aku tunjukkan pada Rega. Tapi—ini punya Ifa? Kalau iya, dari siapa?
Tanganku bergetar mendapati surat yang terselip di antaranya. Entah perasaan apa tapi jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Pelan-pelan ku buka surat itu dan membaca tulisan di dalamnya.
Aku tahu benar yang sedang kubaca itu tulisan siapa.
Someone said,
"Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, but falling in love with you was beyond my control.."
I love you, my bestfriend.
I'm sorry.
-R-
Aku ingin teriak sekencang-kencangnya saat itu juga. Tapi semuanya tertahan seiringan dengan butiran airmata yang keluar dari pelupuk. Tanganku terasa lemas bahkan untuk memegang surat itu.
Bagaimana aku bisa sebegitu bodohnya untuk tidak menyadarinya? Bagaimana aku bisa tidak peka dengan perasaan sahabatku sendiri yang notaben selalu bersamaku?
Yang kulakukan hanya meringkuk sambil bersender tiang kasur. Menggigit bibir sekeras-kerasnya untuk menahan sesuatu yang bergejolak pada diriku.
Selama ini aku yang terlalu egois untuk tidak ingin melihatnya secara kasat mata. Selama ini aku hanya mementingkan tentang perasaanku sendiri. Sekarang aku benar-benar menjadi wanita ter-egois.
Satu demi satu setiap reka adegan selama aku bersama Rega berputar di benakku. Perhatiannya, kebaikannya, selama ini menyiratkan sesuatu yang tidak pernah kusadari yang sayangnya kuabaikan begitu saja seperti layaknya debu jalanan.
Rega yang selalu care terhadapku. Rega yang selalu mengalah.
Kenapa aku baru tahu setelah semuanya berakhir? Rega yang mengambil beasiswa dan tanpa bilang terlebih dahulu padaku jelas pasti ada alasannya tentang masalah ini. Juga Rega yang tiba-tiba sekarang seperti tidak ingin berkomunikasi denganku. Jelas ia sedang menghindar dariku.
Tapi—dengan perilakunya yang seperti itu—aku tidak bisa.
Aku baru menyadari sekarang, perasaan kehilangan yang kualami akan Rega—itu pasti bukan semata-mata merasa kehilangan.
Tapi takdir memang selalu seperti itu. Segalanya disadari setelah semuanya terlambat atau mungkin berakhir. Begitu juga dengan penyesalan. Tidak ada penyesalan yang datang di awal, kalau di awal namanya pendaftaran—kata entah siapa--.
Pintu kamar terbuka menampilkan sesosok Ifa yang baru pulang dari menjemput Mamanya.
"Vanilla sorry ya gue—" belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Seketika tas yang sedang ia bawa jatuh ke lantai.
"Fa—kenapa gue baru sadar sekarang?"
Bahkan aku tidak sempat bertanya kenapa kotak dan mawar itu ada di Ifa.
*