
Kabar buruk baru saja menimpaku. Tidak ada yang menjemputku pulang bimbel. Pak Joko mengantar Papa ke bandara. Mama sama Vika gabisa nyetir. Vandy main sama temen-temennya. Harapan terakhirku hanya Rega.
Aku mengirimkan sebuah line kepadanya.
Me: lagi apa? dimana?
Kutunggu balasannya dengan sabar. Tempat bimbelku sudah setengah gelap. Beberapa teman bimbelku sudah pamitan pulang duluan.
10 menit..
20 menit..
Ini mah Rega pasti lagi main Xbox deh, elah lu Ga. Terus gue pulang sama siapa? Naik ojek? Naik taksi? Takut di culik, udah malem.
Aku duduk di bangku panjang tepat di depan pintu masuk. Menunggu keajaiban tiba-tiba Vandy lewat di depan tempat bimbelku atau mungkin Pak Joko. Tapi sepertinya itu tidak mungkin mengenai bahwa tujuan mereka berlawanan arah denganku.
Lama aku menimbang-nimbang dalam hati untuk menetapkan naik taksi. Saat aku sudah fix lalu berdiri untuk menyetop taksi sebuah mobil lewat dan berhenti tepat di depanku. Si pemilik mobil membuka kaca mobilnya.
“Vanilla?”
Ternyata dia Raka.
“Eh, elo.”
“Bimbel disini? Kenapa belom pulang?” tanyanya.
“Ngga ada yang jemput – ini baru mau naik taksi,”
“Bareng gue aja, rumah lo dimana?”
“Di jalan cendrawasih,”
“Searah kok sama gue – ayo masuk,”
Tiba-tiba perasaanku jadi aneh. Aku baru menyadari bahwa sebelum ini aku belum pernah duduk di mobil berdua dengan laki-laki selain Papa, Vandy, atau Rega. Ini menimbulkan efek pada detak jantungku. Memang sih dia teman sekolahku, tapi sesuatu yang tidak-tidak bisa saja kan terjadi? Eh, ya Tuhan tidak boleh berburuk sangka.
“Ko diem aja? Ayo masuk,” suara Raka membuyarkan lamunanku.
“I-iya,” dengan langkah gagap aku berjalan memutar dan masuk ke dalam mobilnya.
Ponselku bergetar, sebuah line masuk.
Abrega Mahardika: biasa. kenapa?
Tuh kan, pasti main Xbox deh. Betul ya kata orang kalau laki-laki sudah bermain Xbox lupa akan segalanya. Makanya, laki-laki yang rela meninggalkan Xbox nya demi membalas pesan atau sekedar chat tidak penting dengan pacarnya patut di acungi jempol.
Alah Rega, enol gede buat lo.
Me: gpp
“Gapapa kan kalo gue nyalain dvd?” Raka memecah keheningan.
“Ini kan mobil lo, ya terserah lo lah.” tanggapku.
“Harus ngehormatin orang yang lagi sama kita dong. Peduli apa mobil nya punya siapa.” Raka tersenyum tipis, sekarang aku tahu cara dia tersenyum. Ya seperti itu, tipis. “boleh kan?”
“Boleh lah,”
Raka menekan tombol play, mengalunlah sebuah lagu.
“Eh, lo juga suka Bon Jovi?” tanyaku.
“Dari jaman gue SD gue udah suka sama dia,”
“Serius? Gue kira gue doang yang nerd suka lagu jadul,”
“Jadul gitu tetep keren – lo juga suka?”
“Suka! Suka banget!”
“Its my life
And its now or never
I ain’t gonna live forever
I just want to live while I’m alive
(Its my life)
My heart is like an open highway
Like frankie said
I did it my way
I just want to live while I’m alive..”
Sepanjang perjalanan kami berdua bernyanyi bersama sampai Raka mengantarku tepat di halaman rumah.
****
Istirahat aku pergi ke kantin bersama Ifa, sementara Bagas sudah kabur pura-pura ke kamar mandi dari dua puluh menit terakhir pelajaran PKN. Aku mengenyitkan kening bingung saat terlihat lapangan di penuhi oleh anak-anak. Ifa yang penasarannya tingkat kuadrat mulai mencari-cari info.
“Eh, ada apaan?” tanya Ifa pada salah satu anak.
Rega dan tim nya duduk menatap Raka dari samping lapangan, juga ada Pak Setya guru olahraga. Teman-temannya berbisik-bisik satu sama lain, pasti mengomentari permainan Raka.
Mau sekeren apapun permainan Raka, tetap saja bosan. Aku memilih menarik Ifa agar membawanya ke kantin.
“Sumpah keren abis tadi Raka.” Ifa mulai berkomentar.
Aku memesan pada Teh Tanti sepiring somay dan es teh. Apapun makanannya, minumnya harus tetap es teh. Bukan teh botol sosro.
“Tapi dia kayanya lebih ke street ball ya?”
“Yakali, tanya aja sama orangnya.” jawabku.
Aku keluar dari kelas lebih lama dari biasanya karena Pak Eko, guru ekonomi memberi latihan yang tidak boleh di jadikan PR. Apapun alasannya harus selesai hari ini. Jadilah aku kerja rodi bareng Ifa untuk mencari jawaban.
“Duluan ya Van,” mobilnya sudah datang menjemputnya. Tinggal aku yang mencari Rega sekarang dimana.
“Sip,”
Biasanya Rega menungguku di parkiran kalau aku pulang lebih lama. Tapi ini mana orangnya? Seperti anak itik yang kehilangan induknya aku celingak-celinguk mencari Rega.
“Ga di jemput lagi?”
Aku mendapati suara milik Raka berkata padaku.
“Lagi nunggu orang hehe,” jawabku padanya sambil tetap celingak-celinguk mencari Rega.
“Perlu di temenin?”
“Ngga usah, Ka. Lo pulang aja duluan.”
“Kali aja lo ga ada yang jemput lagi terus bisa nebeng sama gue.”
Aku tersenyum tidak enak padanya, bingung harus berkata apa.
“Dia pulang sama gue,” suara berat milik Rega terdengar di telingaku. Tiba-tiba dia sudah berdiri di sampingku dan tanpa berkata apa-apa ia naik ke atas motornya lalu sebelum memakai helmnya ia menoleh ke arahku. “naik cepet,”
Aku patuh pada perintah Rega dan langsung naik. Sebelum motor Rega jalan aku menaruh pandanganku pada Raka dan tersenyum sebagai ucapan sampai jumpa.
“Ga, itu tadi Raka ngapain di lapangan?” tanyaku di sela-sela bisingnya jalan raya.
“Mata lo katarak apa gimana sih? Main basket jelas-jelas,”
Langusng ku tabok helm nya dari belakang, “bego lo! Maksud gue buat apa segala gitu-gituan?”
“Tes masuk tim gue,”
“Terus?”
“Dia masuk,”
“Terus?”
“Yaudah,”
“Terus?”
“Terus terus aja lo sampe nabrak awan,”
“Galucu,”
“Lucuin,”
“Ketawa dong,”
“Haha,”
“Maksa,”
“Boam,”
“Gatemen,”
“Oke,”
“Jangan ngomong sama gue,”
“Siap,”
Terjadilah perang-perangan kata yang biasa kulakukan jika sedang tidak ada pembicaraan saat sedang naik motor.
“Besok temenin gue ke gramed dong,” kataku.
Rega diam saja.
“Rega!” kutarik-tarik jaket jeans yang biasa ia kenakan ke sekolah.
“ABREGAAAAAAAA!”
“Katanya jangan ngomong sama gue?”
“Ih yaudah gajadi,” sungutku. “besok temenin pokonya,”
“Iya bawel,”
****