
Setahun? Setahun bukan waktu yang sebentar, udah setahun gue pergi. Udah setahun gue ninggalin semua nya, ninggalin papa, dan kenangan yang bahkan sampai saat ini belum bisa gue lupain. Apa kabar papa? Arza harap papa udah bahagia karena papa gak perlu ngeliat Arza lagi, papa gak perlu merasa bersalah ke mama lagi, papa gak perlu nanggung beban ini lagi. Arza tetap ngejalanin janji Arza buat ngurusin dan ngembangin perusahaan papa.
Gue nangis, ya begini lah setiap kali ingat bagaimana tersiksanya papa setiap kali ngeliat gue, gimana papa harus menanggung beban nya sendirian. Gue udah nolongin papa, setidaknya papa gak akan merasa terbebani lagi.
Selama setahun ini gue juga ikut kuliah online, dan ngurusin perusahaan dari jarak jauh. Beruntungnya gue punya temen yang mau bantuin gue disaat gue sendirian.
" Lo mau sampai kapan kayak gini Za? Lo gak kangen apa sama bokap lo? Lo juga gak bisa selama nya sembunyi kayak gini."
" Sampai kapan kapan, gue gak bisa pulang Ka, gue gak mau bokap gue terbebani lagi. gue gak mau dia sedih setiap ngeliat gue."
" Dengan lo kayak gini, lo udah nyiksa bokap bahkan diri lo sendiri. Lo udah denger berita terbaru tentang bokap lo? Bokap lo sekarang..."
" Iya gue tau, bokap gue udah bahagia sekarang. Jangan dibahas lagi Riska, gue gak mau denger apa pun."
" Bukan itu permasalahannya sekarang Arza, gue gak mau lo nyesel, gue gak mau lo nyiksa diri lo sendiri. Gue senang lo mau tinggal sama gue, tapi biar gimana pun, itu bokap lo. Lo gak harus kabur kaburan kayak gini. Seandainya bokap lo tau lo tinggal sama gue, orang bokap lo bisa nyangka keluarga gue nyembunyiin lo Za."
"Sorry gue udah ngerepotin lo selama ini. Dalam waktu dekat ini gue bakalan pindah dari sini, jadi lo tenang aja."
" Arza bego, kenapa sih lo keras kepala banget. Pokoknya jangan salahin gue karena gak ngingatin lo ya."
Setelah itu Riska pergi, ya dia Riska. Riska Remos, teman kuliah gue, adik Rendi Remos. Selama ini gue tinggal bareng mereka di Queensland Australia. Riska dan Rendi pindah kesini buat ngurus perusahaan mereka disini. Awalnya gue hanya pengen liburan, setelah gue mengunjungi beberapa destinasi wisata, berakhir lah gue di Queensland, tanpa sengaja gue ketemu mereka. Maka berakhirlah gue disini selama setahun ini. Dan selama setahun ini gue selalu berusaha bekerja di belakang layar, setiap ada meeting gue selalu di gantiin Amel.
Gue butuh penyegaran, gue memutuskan untuk berjalan disepanjang pantai, dan duduk menikmati suasana pantai disini. Padahal sudah setahun gue disini, tapi pemandangan ini tak pernah membuat gue bosan. Gue akhirnya memutuskan untuk melihat berita bisnis selama setahun belakang, banyak nya berita tentang gue yang sekarang bekerja di balik layar dengan alasan pendidikan. Dan apa ini, Samuel Group sudah berhasil masuk 3 besar perusahaan terbesar, bersama ZEn's Group dan Brandt Group. Ya gue rasa semua orang sudah bahagia. Gue senang, setidaknya mereka bisa bahagia. Gue memejamkan mata sejenak untuk menikmati udara dan suasana disini.
" Apa udah terlalu lama gue ninggalin rumah, rasanya kangen rumah, kangen papa, apa kabar papa sekarang ya."
" Kalau emang lo kangen, kenapa gak pulang? Mau sampai kapan lo kabur kayak gini?"
Gue kaget, gue gak nyangka dia bisa nemuin gue disini, sejak kapan?
" Gak perlu sekaget itu, gue masih manusia kok. Bukan hantu."
" Lo kok bisa disini? Lo tau darimana gue disini?"
Tiba tiba dia meluk gue, ya dia Vivaldi, Vivaldi Samuel Brandt.
" Emang nya itu penting sekarang Za? Gue kangen lo Za. Kenapa lo pergi gitu aja? Kenapa lo gak ngomong sama gue?"
" Gue.... Gue..."
Gue gak tau harus ngomong apa, gue gak tau harus gimana, gue kaget, dia tiba tiba meluk gue. Jantung gue rasanya pengen loncat.
" Kita pulang ya Za."
Gue langsung ngelepas pelukan Valdi.
" Enggak, gue gak bisa pulang. Gue..Gue.."
" Papa lebih bahagia gak ada gue Valdi. Papa lebih bahagia kalau gak ngeliat gue. Papa gak butuh gue, papa cuma butuh penerus perusahaan."
" Lo salah Za, uncle Billy butuh lo, uncle Billy khawatir sama lo Za, uncle Billy selama ini sedih banget semenjak lo pergi, uncle Billy udah kayak mayat hidup Za."
" Enggak, lo bohong Valdi. Papa baik baik aja."
" Uncle Billy dirumah sakit sekarang Za. Dia butuh lo, pulang ya Za."
Gue gak percaya ini, bukannya papa tersiksa setiap ngeliat gue, bukannya papa cuma butuh penerus perusahaan, papa gak butuh gue. Tiba tiba hp Valdi bunyi.
" Hallo pa?"
...............
" Iya Valdi udah ketemu Arza, Valdi lagi sama Arza."
................
" Hah? Oke pa. Valdi bakal bawa Arza pulang sekarang."
" Kenapa Val?"
" Lo harus ikut gue pulang sekarang Za. Gue udah ngabisin waktu sebulan di sini buat nyari lo, Sekarang lo harus pulang, uncle Billy, dia...."
" Papa kenapa Val? Papa kenapa? Papa baik baik aja kan?"
" Mending sekarang lo ikut gue pulang, sebelum lo nyesel Za. Uncle Billy keadaannya drop lagi Za."
" Papa kenapa Val? Papa kenapa?" Gue nangis, pikiran negatif semuanya mulai menghantui gue.
" Mending Kita pulang sekarang Za, lo harus liat sendiri kondisi uncle Billy."
Gue harus pulang sekarang, gue harus ketemu papa, pa, please jangan kenapa napa. Papa tunggu Arza pulang, tungguin Arza pa, Arza janji gak bakal ninggalin papa lagi.
Saat gue sampai dirumah Riska, gue liat koper dan barang barang gue siap. Gue langsung bawa koper dan tas sandang gue. Gue dan Valdi udah ditunggu di mobil sama Reno. Dia sahabat Valdi.
" Apa kabar Arza?"
" Gue mau pulang Reno, gue mau ketemu papa."
" Kita berangkat sekarang. Oke."
Sepanjang jalan gue nangis, gue nangis dipelukan Valdi. Pikiran gue kacau, pikirin negatif udah menghampiri gue, untung nya Valdi kesini pakai private jet, jadi gue gak harus nunggu nunggu lagi. Gue nangis sampai kelelahan dan ketiduran. Perjalanan gue akan memakan waktu ± 18 jam.
---------------------------------------