
Setelah dapat tempat duduk, gue bilang sama Meriska untuk gak dengarin kata kata mereka. Tiba tiba ada yang gebrak meja gue
Brakkkk...
" Minggir, ini tempat gue."
" Sorry, disini gak ada tulisan nya kalau ini meja lo."
" Lo berani sama gue, lo gak tau siapa gue?"
" Enggak, dan gak mau tau."
" Heh, cupu, mending lo sama temen lo gak kampungan ini pergi dari sini, atau liat apa yang bakal gue lakuin."
" Za, kita pergi aja yuk."
" Gue sama temen gue yang duluan duduk disini, mending lo aja yang pergi."
" Kurang ajar lo ya sama gue, Dasar jalang."
Gue liat dia mau nampar gue, sorry gue paling benci yang nama nya orang main tangan. Gue tangkap tangan nya dan gue pelintir kebelakang.
" Lepasin gue jalang, lo semua bantuin gue."
Dia meneriaki temen temen nya, saat gue tatap, mereka gak ada yang berani gerak. Akhirnya gue lepas tangan nya, yang mengakibatkan dia jatuh terjerembab. Alhasil semua orang di kantin pada ngetawain dia.
" Mood makan gue hilang, kita cabut sekarang."
Gue ngajak Riska buat keluar dari kantin. Gak sengaja gue ngeliat Sendi dan temen temen nya ngeliatin gue gak jauh dari tempat gue tadi.
Gue langsung ngajak Riska buat keliling kampus.
-------------------------------------------
--- Sendi POV ---
Hari ini ada acara penyambutan mahasiswa baru, sebenarnya gue sama teman teman gue harus mengikuti acara tersebut, tapi karena malas, kita akhir nya pergi ke lapangan basket buat main basket. Saking asiknya main, gue sampai gak sadar kalau acara penyambutan mahasiswa baru udah selesai.
" Gue capek nih, kantin yok."
Dia Alvin Olandro, sahabat gue, pewaris Olandro Group. Perusahaan yang bergerak dalam bidang Fashion. Alvin juga designer muda. Tapi lebih berminat ngambil jurusan bisnis.
" Iya ni, gue juga capek banget. Udah lama gak main."
Kalau yang ini Rendi Remos, Nyokap nya pengusaha Berlian dan Bokap nya CEO Remos Group. Perusahaan nya bergerak di bidang Kuliner. Dia juga punya beberapa restoran berbintang yang tersebar di Amerika.
Kita langsung ke kantin, ya sepanjang jalan gue denger semua pujian pujian mereka, gue cuma masang wajah datar. Gak ada satupun yang menarik perhatian gue.
Saat tiba dikantin, ada hal yang buat gue tertarik, ada cewek yang berani ngelawan Tania Angkasa. Cewek terangkuh dikampus ini, yang udah lama ngejar ngejar gue. Gue perhatiin, kayak nya gue kenal.
" Hebat tu cewek, berani banget ngelawan si Tania." Kata Alvin.
" Akhirnya ada juga yang berani ngelawan tu cewek, boleh juga tu cewek. Bisa kali gue deketin." Kata Rendi.
" Mending cari cewek lain deh. Jangan coba coba lo berdua."
" Wait wait, kenapa ni Mr. Samuel? Gak biasa nya lo perduli sama cewek."
" Kalau gue bilang jangan dia ya jangan. Ngerti gak sih lo pada."
" Gue mencium ada nya tanda tanda cinta ni Vin, jangan jangan lo suka ya sama tu cewek Sen?"
" Berisik lo."
" Tuh tuh, dia keluar gaes, gila cantik juga tu cewek. Tapi kok kayak nya gue pernah liat ya. Tapi dimana ya?"
" Udah deh, lo pada jadi beli minum gak sih? Kalau enggak gue cabut nih." Kesel gue liat ni bocah berdua, malah ngegosip bukan nya beli minum.
" Oke wait wait, tungguin kita bentar."
Setelah mereka pergi, gue nelfon Arza,
" Hello?"
" Lo dimana?"
" Menurut lo? Ya di kampus lah, kan lo nampak tadi."
" Maksud gue sekarang."
" Ooo, lagi keliling kampus sama Meriska, kenapa?"
" Hari ini lo ada kelas?"
" Enggak lah, kan baru hari pertama. Kenapa?"
" Ooo, yaudah lo pulang bareng gue ya."
" Ogah, gue masih harus ke kantor."
" Gue anterin. Udah ketemu di parkiran."
" Nelfon siapa lo?"
" Bukan siapa siapa."
" Yaelah pakai rahasia rahasia segala."
" Udah deh, gue cabut duluan."
Gue langsung ke parkiran ninggalin tu curut berdua. Dan nunggu Arza di dalam mobil.
-----------------------------------------
--- Arza POV ---
Setelah berkeliling kampus, tiba tiba hp gue bunyi, ternyata Sendi.
" Hallo?"
" Lo dimana?"
" Menurut lo? Ya di kampus lah, kan lo nampak tadi."
" Maksud gue sekarang."
" Ooo, lagi keliling kampus sama Meriska, kenapa?"
" Hari ini lo ada kelas?"
" Enggak lah, kan baru hari pertama. Kenapa?"
" Ooo, yaudah lo pulang bareng gue ya."
" Ogah, gue masih harus ke kantor."
" Gue anterin. Udah ketemu di parkiran."
Yaelah, kebiasaan ni orang suka suka hati nya aja. Gue belum selesai ngomong juga.
" Siapa Za?"
" Ha? Bukan siapa siapa kok. Gue keingat ada urusan, gue balik duluan ya."
" Oh, yaudah hati hati ya."
" Oke Bye, Ketemu besok dikelas ya."
Setelah misah dari Riska gue langsung nyamperin Sendi di parkiran.
" Lo tu mau nya apasih Sen? Cepetan ngomong. Gue harus balik ke kantor."
" Siniin tangan lo."
" Tangan? Buat apa?"
" Udah siniin aja."
Tiba tiba dia narik tangan gue. Dan ngasih obat merah ke lengan gue. Loh ini tangan gue kok luka? Kapan luka nya? Kok gue gak kerasa.
" Liat, lo gak sadar kan kalau tangan lo luka. Besok besok jangan berantem lagi. Gue gak mau lo kenapa napa."
" Tapi kan tu cewek duluan yang mulai. Lagian ngapain sih dia angkuh banget dikampus. Berasa kampus punya dia."
" Dia dulu gak kayak gitu. Dulu dia baik, semenjak bisnis orang tua nya sukses, dia berubah jadi kayak gitu. Sewaktu belum sukses dulu, dia sering dijadiin bahan bully sama temen temennya."
" Tau banget lo cerita nya, jangan bilang dia mantan lo juga?"
" Iya."
" Ya ampun Sendi, bisa gak sih lo pacaran tu sama orang yang bener, kasian gue liat lo. Apasih yang lo liat dari mereka sampai lo bisa pacaran sama mereka. Heran gue."
" Makanya sekarang gue pacaran sama lo. Kan udah bener."
" Tolong digaris bawahi. Gue bukan pacar lo. Itu lo nya aja yang ngaku ngaku."
" Udah selesai. Tangan lo udah gue obatin. Gue anter ke kantor sekarang?"
" Hmm.."
Selalu kayak gitu, dia selalu ngalihin pembicaraan kalau udah ngebahas hubungan gue sama dia. Haish, gue capek kayak gini. Gue ngerasa nipu semua orang.
Sepanjang perjalanan ke kantor gue diem aja, gue males ngeladenin Sendi. Rasanya gue capek. Sesampainya di kantor, gue langsung turun dari mobil Sendi tanpa mengucapkan satu kata pun.
-------------------------------------------