Vanilla

Vanilla
Episode 34



Sepanjang jalan gue nangis, gue nangis dipelukan Valdi. Pikiran gue kacau, pikirin negatif udah menghampiri gue, untung nya Valdi kesini pakai private jet, jadi gue gak harus nunggu nunggu lagi. Gue nangis sampai kelelahan dan ketiduran. Perjalanan gue akan memakan waktu ± 18 jam.


---------------------------------------


- Amerika, New York City -


Akhirnya gue pulang, setelah sampai, gue, Valdi, dan Reno langsung menuju ke Rumah Sakit buat ngeliat kondisi papa, uncle Dirga bilang kondisi papa drop. Gue langsung ke kamar papa dirawat.


Didepan kamar, ada uncle Dirga, tante Tasya dan Sendi. Gue liat Sendi makin keliatan dewasa, dia banyak berubah semenjak terakhir kali kita ketemu. Tiba tiba Sendi meluk gue.


" Gue minta maaf Za. Gue tau dulu gue udah nyakitin lo banget. Jangan pergi lagi Za. Semua orang butuh lo disini Za."


Gue langsung ngelepas pelukan Sendi. Sekarang bukan waktunya ngenang masa lalu, sekarang gue harus liat kondisi papa. Gue langsung masuk ke ruangan papa di rawat. Valdi juga masuk keruangan papa sama gue. Papa terbaring dan memejamkan matanya.


" Papa, Arza pulang pa. Papa bangun ya. Jangan tinggalin Arza. Arza janji gak bakal kabur kaburan lagi pa."


Papa tetap diam aja, betapa damainya wajah papa sekarang, Seakan semua masalahnya hilang seketika.


" Pa, bangun pa, Arza pulang pa. Papa gak mau ketemu Arza lagi? Kenapa papa gak bangun?"


" Kita terlambat Za. Maafin gue Za, seharusnya gue bisa lebih cepat nemuin lo."


" Enggak Val, papa gue gak kenapa kenapa kan? Papa gue cuma tidur aja kan? Nanti papa pasti bangun kan Valdi? Papa udah janji sama gue kalau papa gak bakalan ninggalin gue lagi Val."


" Yang sabar Za. Lo harus kuat Za. Lo masih punya kita disini."


" Ini salah gue, kalau gue gak pergi, papa pasti baik baik aja, kalau gue gak pergi, papa pasti masih sama gue disini, kalau gue gak pergi, semuanya gak bakal kayak gini."


Gue nangis, gue ngerasa bersalah, kenapa waktu itu gue kekanak kanakan? Kenapa gue malah kabur? Kenapa gue menghilang? Kenapa gue sembunyi? Kenapa? Kenapa?


" Ini bukan salah kamu Arza, sebenarnya Billy memiliki Kanker darah stadium akhir. Selama ini dia selalu menyembunyikan ini dari kita semua. Uncle juga baru tau setengah tahun yang lalu, pada saat Billy koma. Jadi ini bukan salah kamu."


" Enggak, ini salah Arza, ini salah Arza. Arza gak jagain papa dengan baik, Arza gak berbakti, Arza anak gak berguna."


Gue gak bisa nerima kenyataan ini, akhirnya gue pingsan.


------------------------------------


Ini dimana? Rumah sakit? Gue kenapa? Gue coba ngingat apa yang sebelumnya terjadi, papa? Papa gue.


" Papa, papa dimana?"


" Arza, lo baru sadar, jangan langsung berdiri."


" William? Papa gue Will, papa pergi Will, papa ninggalin gue Will, gara gara gue papa pergi Will."


" Iya gue tau Za, semua bukan salah lo, ini udah yang terbaik buat uncle Billy, dan ingat Arza, lo gak sendiri, lo masih punya gue, masih ada mama Nikita dan papa gue."


Gue nangis dalam dia, cuma William yang gue punya sekarang. Tak lama, uncle Jery masuk bersama dengan uncle Dirga. Gue udah gak bisa nangis lagi, rasanya air mata gue udah habis,


" Bagaimana kondisi kamu Arza? Hari ini acara pemakaman Billy akan kita laksanakan. Waktu kita sudah tertunda sehari."


" Papa, Arza baru sadar, kasih Arza waktu."


" Papa tau Willi, tapi kasian Billy kalau kita harus menunda lagi."


" Tapi pa..."


" Kita pergi sekarang Uncle."


Gue udah memutuskan, kalau gue kayak gini lebih lama lagi, bener kata uncle Jery, kasian papa. Gue diantar William buat siap siap, dan langsung menggelar acara pemakaman. Setelah acara pemakaman selesai, Uncle Jery menemani beberapa tamu dan kolega bisnis papa. Beberapa kolega dan klien gue juga pada datang, yang melayani mereka adalah Amel, gue rasanya udah gak ada tenaga mau ngapa ngapain. Gue cuma duduk dikamar papa sambil megang foto papa dan mama.


Setelah cukup lama dikamar papa, gue memutuskan untuk keluar dan menyapa beberapa tamu yang sudah datang, gak sopan rasanya kalau gue gak nemuin mereka. Tapi ketika gue turun dari tempat tidur papa, gue gak sengaja kesandung kotak kayu yang lumayan besar.


Karena penasaran, gue pun nge buka kotak tersebut, didalam ada beberapa surat, sepertinya surat yang ditulis papa sebelum koma.


Gue membaca beberapa surat yang ada didalamnya, itu cuma kenangan surat cinta yang papa tulis untuk mama. Tapi ada satu surat yang ada nama gue.


" Untuk Vanilla Zarsya ZEn's, putri kesayangan papa."


" Apa kabar Arza sayang? Papa harap kamu baik baik saja, kemungkinan ketika kamu membaca surat ini, papa udah gak ada disamping kamu, papa tau papa bersalah sama kamu dan mama kamu, papa gak bisa menjaga kamu dan mama kamu. Maaf untuk kesekian kalinya papa harus mengecewakan kamu lagi, maaf karena papa menyembunyikan ini semua dari kamu, awalnya papa ingin memberitahukan masalah penyakit papa ke kamu, tapi bahkan sampai kamu pergi pun, papa gak bisa ngomong ke kamu, papa gak mau ngeliat wajah kecewa kamu lagi, tapi tanpa papa sadari, papa sudah mengecewakan kamu lagi. Papa jahat kan sayang? Papa egois kan? Papa akuin semua itu sayang.


Kamu tau Za, sebenarnya papa tau kalau waktu itu kamu ke kantor saat papa sedang berbicara dengan Jery. Tapi papa gak menyangka kalau kamu mendengar pembicaraan papa dengan Jery. Papa minta maaf. Kamu adalah anak kandung papa, papa hanya malu mengakui kesalahan papa ke kamu. Papa hanya malu karena telah menelantarkan anak kandung papa sendiri. Papa malu untuk bertemu dengan kamu.


Sebenarnya papa tau kalau kamu tinggal dengan keluarga Remos, mereka menghubungi papa sehari setelah kamu memutuskan untuk tinggal bersama mereka di Queensland. Mereka keluarga yang baik, setelah mereka memberitahukan keberadaan kamu, mereka terus mengabari papa bagaimana kondisi kamu disana. Tapi papa terlalu pengecut untuk menemui kamu, papa gak sanggup jika harus melihat wajah kecewa dan benci kamu ke papa seperti waktu itu. "


Ternyata selama ini papa tau dimana gue, ternyata selama ini gue salah sangka ke papa, maafin Arza pa. Arza gak tau kalau papa sebegitu menderitanya. Arza gak pernah benci sama papa. Hari itu Arza cuma kebawa emosi, setelah itu menyesal makanya Arza pergi ke kantor buat nenangin diri. Tapi ternyata takdir memang gak berpihak ke Arza, sekali lagi Arza kecewa sama kata kata papa, tapi Arza gak benci papa.


-------------------------------