Vanilla

Vanilla
Episode 25



Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Rega belum juga masuk ke dalam kamar. Aku yang kebetulan memang sedang tidak bisa tidur akhirnya menyingkap selimut dan bangkit dari kasur untuk keluar kamar. Di ruang televisi dan dapur tidak kutemukan Rega.


Lalu langkahku beranjak ke arah balkon. Benar saja, Rega sedang duduk disana. Dia sedang—melamun? Sejak kapan Rega suka melamun? Malam-malam pula.


"Gak bisa tidur lagi?" tanya Rega yang merasakan kehadiranku.


Aku menggeleng pelan dan duduk di kursi sebelah Rega. Dia menyeringai untuk beberapa saat, dan sejak kapan Rega jadi suka menyeringai?


"Mau gue temenin lagi?" tanyanya menggoda.


"Never in your wildest dream." jawabku datar tapi setengah tajam.


"Kalo duduk disini malem-malem enak banget, lo bisa mikirin tentang apa aja." katanya.


Aku menoleh ke arahnya, "Apa aja? Termasuk tentang—Raras?" entah refleks darimana tiba-tiba aku bertanya seperti itu. Sayangnya perkataan dibibir bukanlah perkataan di sebuah tulisan yang bisa di hapus. Aku tidak bisa lagi menariknya lagi.


Rega mengernyitkan dahinya sebentar, "Kenapa jadi Raras?" tanyanya memastikan.


"Penasaran aja—Raras tuh orangnya easy going banget ya? Kaya gak pernah sedih gitu." jelasku.


Bibir Rega berkedut membentuk sebuah garis senyuman, "Raras emang baik—dia berjuang banget buat dapetin beasiswa kesini. Karena, dia pengen ngeliat almarhum bokapnya seneng di atas sana."


"A-almarhum? Maksudnya—"


"Bokapnya Raras meninggal waktu dia masih SMP, Raras anak pertama dan dia harus jadi tulang punggung keluarga buat biayain hidup nyokapnya sama dua adek nya," cerita Rega. "Gue salut banget sama dia, dia berjuang mati-matian banget buat hidup."


Aku terhenyak sesaat, berarti komentarku tentang Raras mengenai tipikal perempuan yang suka merawat diri salah besar. Bagaimana dia bisa merawat dirinya sementara ibu dan dua adiknya mengerang kelaparan?


Tiba-tiba aku merasa jadi sangat bersalah pada Raras. Dugaanku di awal benar, bagaimanapun juga tidak mudah untuk kesal apalagi benci dengan Raras. Dia terlalu—ceria, menurutku. Kalau aku jadi Raras mungkin aku sudah bunuh diri kalau dari SMP sudah harus jadi tulang punggung keluarga.


"Gue merasa, gue jadi useless dengernya." komentarku setelah beberapa saat diam. "Lo—suka dia?" akhirnya, kalimat inilah yang sudah ku pendam sejak pertama kali menginjakkan kaki kesini.


Rega diam beberapa saat lalu menghela nafas sebentar, "Mungkin."


Walaupun jawabannya memang bukan iya, aku merasa dunia tiba-tiba jadi gelap. Sekarang aku benar-benar merasa—terlambat. Mungkin ini karma yang kudapat setelah tidak peka dengan Rega. Dan aku harus menerima kenyataan kalau Rega sudah hampir pindah.


"Kadang gue merasa Raras bisa aja tiba-tiba jatuh, dan gue siap buat nolongin dia. Kapanpun."


Sekali lagi kawan, sekali lagi aku merasa benar-benar terlambat. Setelah aku mengetahui semuanya. Tentang perasaanku, perasaan Rega. Kini fakta berbalik 180 derajat dari yang sudah kuperkirakan. Kukira perjalananku sampai ke London akan membuahkan hasil. Tapi kenyataannya tidak seperti yang kukira.


"Raras pantes buat lo." tanggapku akhirnya. Aku menahan nyeri di ulu hatiku yang terdalam dan sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan butiran airmata. "Gue bakal dukung lo kalo lo sama dia."


Tapi setidaknya Rega tidak bersama dengan perempuan yang salah. Setidaknya Raras tidak seperti perempuan kebanyakan. Setidaknya Raras jauh lebih baik dariku. Setidaknya Raras tidak manja dan bego sepertiku. Setidaknya Raras lebih tegar dariku. Yah, akhir cerita tidak semuanya harus bahagia kan? Apalagi ini realita.


"Terus, lo gimana sama Raka? Masih kan?" tanya Rega kemudian.


Aku tersenyum miris tapi pasti tidak kentara, "Masih, kita.. baik-baik aja." dan terpaksa aku berbohong pada Rega. Tidak mungkin kan kalau aku bilang hubungan kami sudah berakhir? Tidak mungkin kan aku menyebutkan alasannya? Toh Rega juga sudah hampir pindah, jadi tidak ada gunanya.


"Bagus deh, dia gak pernah macem-macem kan sama lo?"


Aku tersenyum geli, "Nggak, Ga." jawabku.


"Udah malem banget nih, tidur gih. Nanti lo kedinginan terus sakit lagi."


Aku tersenyum mendengarnya, mau bersama Rega atau tidak. Yang penting Rega tetap menjadi sahabatku. Dia tetap peduli terhadapku.


"Lo juga ya." kataku sambil bangkit dari kursi dan masuk ke dalam kamar. Berjalan gontai ke kamar dan membuka pintu perlahan. Di balik selimut kemudian aku menumpahkan semuanya.


Forget me, forget you. I can't remember what I was so into. When you feel alone, don't try to come in anymore cause I outgrew. Your smile, your eyes, you should know..


You're not that unforgettable, Abrega Mahardika.


****


Dua hari setelahnya aku memutuskan lebih baik untuk kembali ke Jakarta. Ini tidak seperti niat awalku untuk berada disini selama dua minggu. Ini baru seminggu dan aku sudah ingin pulang. Untuk apa berlama-lama disini kalau sudah mengetahui jawabannya?


"Pa, Vanilla mau pulang ke Jakarta.." itu kalimat keesokan paginya kepada Papa lewat telpon setelah mengetahui segalanya. Tadinya Papa bingung kenapa aku ingin cepat pulang. Aku hanya menjawab tidak kuat dengan cuaca disini dan terkena flu. Papa percaya dan mengiyakannya.


"Tiba-tiba Papa nelpon katanya ada acara keluarga penting, gue juga gak tau acara apaan." itu kalimat kepada Rega setelah aku baru selesai menelpon Papa.


Rega dan Raras mengantarku sampai ke bandara. Setengah jam lagi aku sudah boleh masuk ke dalam pesawat. Raras tidak henti-hentinya bilang kepadaku harusnya aku bisa lebih lama disini dan dia bisa menunjukkan tempat-tempat bagus. Tapi aku hanya menjawab nanti saja kalau ada liburan lagi.


"Jadi—ada surprise lagi kah?" tanya Rega saat aku sudah bersiap bangun dari tempat duduk karena sudah harus masuk pesawat.


"Mau banget?" tanyaku.


Rega mengacak rambutku, "Take care without me, again."


"I will."


Setelah mengucapkan kalimat barusan Rega membawaku ke dalam dekapannya. Mungkin sehabis ini tidak akan lagi pelukan-pelukan seperti ini. Jelas tidak mungkin, siapa tahu sehabis menyelesaikan kuliahnya Rega langsung melamar Raras.


"Gue seneng banget bisa ketemu sama lo, Ras." kataku.


"Gue juga!" katanya. Lalu kami berdua pelukan juga. "Kirim-kirim email ya, jangan lupa." sambungnya.


Aku ingin sekali bilang jagain Rega ya selama disini. Jangan sampai kesangkut bule-bule yang genit-genit. Tapi tidak jadi.


Aku melambaikan tanganku untuk terakhir kalinya pada mereka. Sekilas sebelum aku berjalan menjauh aku melihat ada seberkas kilatan cahaya di mata Rega. Entah apa, aku tidak tahu.


Aku berjalan dan tidak menoleh ke belakang lagi.


Sampai rumah aku memasang wajah pura-pura senang sehabis liburan. Biar tidak ada yang tahu. Aku juga tidak memberi tahu Ifa dan Bagas mengenai kepulanganku yang lebih cepat. Kalau mereka tahu pasti mereka akan bertanya-tanya soal apakah aku sudah mengatakan semuanya apa belum. Dan aku sedang tidak ingin membahas masalah itu.


Untuk pertama kalinya aku menulis diary seumur hidupku. Bukan diary juga sebenarnya. Melainkan sebuah kertas—surat bisa di bilang.


Sekarang gue baru percaya karma itu ada, gue gak nyesel kejadian ini nimpa gue sekarang. Gue malah bersyukur seenggaknya ini bisa ngebales semua perlakuan gue ke Rega selama ini. Dan rasanya sakit, itu pasti. Tapi yang bikin gue seneng, berarti gue sama Rega sama-sama pernah ngerasain.


Ha-ha, gue sama dia emang kayanya udah sehati banget. Oke, sehati dalam konteks berbeda. Gara-gara ini gue jadi lebih belajar buat ngerti perasaan orang dan bisa sedikit lebih peka.


Someone said:


"Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, but falling in love with you was beyond my control."


I'm sorry, Abrega.


I'm falling in love with you.


 


 


-V-


 


 


Bukan apa-apa, anggap saja ini semacam benda untuk mengingatkan aku kembali saat aku sudah mempunyai kehidupan masing-masing.


****


Rega


 


 


Gue terpaksa boong sama Vanilla. Gak mungkin banget gue move on secepet itu. Mungkin kalo gue punya waktu 50 tahun buat hidup. Selama itu pula rasa sayang gue Cuma buat Vanilla.


Pernah denger yang namanya cinta pertama?


Kata orang first love mean true love, tapi kayaknya itu nggak buat gue. Vanilla udah seneng sama Raka. Terus gue bisa apa? Gak mungkin gue kaya orang tolol tiba-tiba bilang gue cinta dia sementara dia taunya kita berdua Cuma sebagai sahabat.


"Harusnya lo bilang tentang semuanya, Ga." suara Raras memecah lamunan gue. "Nggak seharusnya lo berlagak akting di depan dia. Gue juga jadi merasa bersalah soal kemarin-kemarin. Seakan-akan kita tuh ada apa-apa."


"Gue rasa Vanilla cemburu ngeliat kita waktu itu, lo gak liat dari raut mukanya yang tiba-tiba berubah?" lanjut Raras.


"Gak mungkin dia cemburu, buat apa dia cemburu?"


"Whatever ya, Ga. Gue sih Cuma ngeluarin pendapat aja."


Seminggu setelah Vanilla pulang ke Jakarta. Om Hendra nelpon gue. Gue lagi di perpustakaan dan terpaksa harus keluar gara-gara gak mau ganggu yang lain.


"Makasih ya, Ga. Kamu udah nemenin Vanilla selama seminggu disana. Sayang ya, Vanilla gak tahan cuaca dingin jadinya dia harus pulang."


Cuaca dingin?


Tunggu—Vanilla bilang ke gue kalau dia ada acara keluarga. Gue baru mau nanya maksudnya Om Hendra apa tapi Om Hedra udah lebih dulu ngomong.


"Yaudah ya, Ga. Om mau kerja lagi. Makasih ya sekali lagi."


"I..ya, Om."


Dan seharian ini gue mikirin kenapa Vanilla harus bilang ke gue kalau mendadak ada acara keluarga? Kenapa dia gak bilang yang sebenernya ke gue?


"Gimana sama Vanilla disana?" gue lagi skype-an bertiga sama Ifa, Bagas. Akhir-akhir ini semenjak Vanilla pulang ke Jakarta dia jadi jarang email gue lagi kaya waktu dulu. Sekarang malah kebalikan, dia yang balesnya lama.


"Ya gak gimana-gimana."


"Vanilla udah bilang?" tanya Ifa.


"Bilang apa?" gue balik nanya.


"Bilang—" Ifa baru mau ngelanjutin tapi Bagas motong.


"Lo sama Vanilla udah jadian, kan? Dua minggu cukup tuh buat ngelepas kangen?"


"Tunggu, gue gak ngerti sama omongan lo semua. Lagian Vanilla disini Cuma seminggu bukan dua minggu."


Ifa natep bingung ke gue, "Jadi—dia belum bilang ke lo?"


"Bilang apasi?" gue jadi mulai was-was.


"Tentang semuanya." kata Ifa, gue makin bingung. "Vanilla udah tau hadiah, mawar, sama surat lo—"


Gue udah gak bisa dengerin apa-apa lagi. Yang gue lakuin saat itu juga adalah berdiri dari tempat gue dan langsung mesen tiket pesawat ke Jakarta buat besok. Gue udah gak peduli apa-apa lagi selain.. Vanilla.


****


Aku memegang dua surat itu di tanganku. Ternyata benar ya kata orang, suara ombak pantai adalah musik paling indah yang bisa menghangatkan jiwa. Tiba-tiba aku merasa ingin pergi ke pantai dan langsung meminta Pak Joko untuk membawaku ke sana.


Sebentar lagi matahari akan terbenam. Memberi tambahan keindahan pantai. Aku memejamkan mata untuk turut merasakan keindahannya sampai suara yang sangat kukenal terdengar sampai ke telinga.


"Kenapa putus dari Raka gak bilang-bilang gue?"


Aku cepat menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sosok yang selalu kurindukan berada di depanku.


"Re-ga?" nafasku tertahan di kerongkongan.


"Kalo tau gitu kan gue bisa langsung ngejar lo." bibirnya terangkat sebelah ke atas. "Gue udah tau semua, Vanilla." suaranya berubah jadi lembut.


Aku mengerjapkan mata, ini bukan mimpi kan? Kalau memang ini mimpi, aku mohon dengan sangat jangan bangunkan aku dari mimpi ini.


"Gue cin—"


"Nggak, nggak. Gue gak mau denger. Gue bisa gak bayangin lo ngucapin itu ke gue." kataku memotong. "Gue ngeri."


Rega mendekat kearahku dan langsung memelukku, "Gue cinta sama lo, mau lo gak mau denger juga gue tetep bakal bilang dan bakal selalu bilang kalo selamanya lo di samping gue." kata Rega pelan di sela-sela pelukannya.


"Raras gimana?" tanyaku.


Rega tertawa sebentar, "Lo jangan ngaco, gak mungkin gue bisa pindah dari lo."


"Boong."


"Kalo boong—"


"Ngapain nanya."


Rega mengacak rambutku sebentar, senyum tergambar jelas di bibirnya. Kemudian wajahnya berubah menjadi serius. Menghela nafas sebentar lalu---


"Would you be my Vanilla for the rest of my life?"


-THE END-