
Daripada peristiwa waktu ulangtahun tante Shalom terulang lagi. Aku meng-iyakan saja ajakan Raka. Setelah membuka-buka lemari cukup lama sampai berantakan. Aku baru ingat kalau tidak punya dress. Maksudku, dress yang cukup dengan tubuhku yang beranjak telah SMA. Karena seingatku, terakhir kali aku membeli dress saat prom night SMP.
Karena kata Raka, makan malam sekarang tepat di sebuah restoran. Jadi, kalau aku menggunakan pakaian seperti sehari-hariku, malu-maluin banget. Iya gapapa kalo Cuma kumpul keluarga tiga bulan sekali. Toh, Caramel sama Mocha juga ogah pake begituan.
“Kak, pinjem baju doong.” aku menyambangi kamar Vika. Dia sedang memakai lotion di kakinya.
“Baju lo kemana emang?”
“Bukan baju sih, dress sebenernya.”
“Dress? Ga salah? Emang mau kemana si? Tumben mau pake dress, oh gue tau. Mau kencan yaa?” tebak Vika.
Buru-buru ku sangkal, “Apaan sih, gue di undang tante Shalom buat makan malem.”
“Siapa tu tante Shalom?”
“Nyokap Raka.”
“Oh jadi sama Raka nih sekarang? Bukan sama Rega?”
“Apaan sih lu bacot, kalo gak mau minjemin yaudah!”
“Ciee ngambek, yaudah sana buka lemari pilih aja sendiri.”
Aku mencari-cari baju yang cocok dalam artian yang simple dan tidak aneh-aneh. Untungnya dress koleksi Vika rata-rata simple semua sih. Ku putuskan untuk memilih yang berwarna tosca.
“Pinjem yang ini.”
Langsung aku meninggalkan kamar Vika. Tepat di depan pintu aku berhenti dulu. “Btw, thanks sister!”
Vika hanya mengacungkan satu jempolnya. Saat keluar dari kamar Vika, Vandy baru muncul dari tangga. Sambil melempar-lempar kunci mobil dan bersiul-siul.
“Idih, bawa apaan tuuh?”
“Kepo.”
“Dress? Gak salah?”
“Salah! Bye.” aku langsung berlari menuju kamarku.
“MAMA VANILLA MAU KENCAN!” teriak Vandy.
“BOONG!” balasku teriak dan langsung ku tutup pintu dengan keras, menimbulkan suara gema yang cukup membuat jantung bergetar.
****
Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang memenuhi di antara kami ber-empat. Dari awal Raka diam saja, tapi entah kenapa dari awal pula tante Shalom sudah cukup senang dengan kehadirannya.
“Minggu depan Papa mau pindah ke Belgia.” suara Om Tommy –Papa Raka- memecahkan suasana.
Raka menghentikan aktivitas makannya, “Kenapa?” pertanyaannya lebih bernada datar namun ada kesan ingin tahu di dalamnya.
“Perusahaan Papa yang di Indonesia biar On Wahyu aja yang nanganin, di Belgia kan baru resmi di buka 6 bulan yang lalu. Papa mau perusahaan itu terus maju.”
“Oh,” jawab Raka lalu melanjutkan makannya kembali. “Sekeluarga?” yang di maksud sekeluarga itu adalah Papa nya Raka dengan keluarga nya yang baru.
“Iya, sekeluarga.”
Raka mengangguk sekali, “Oke.”
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam, kami bersiap-siap untuk pulang. Tante Shalom menggiringku saat Raka sedang mengambil mobil.
“Terimakasih sekali lagi ya, Vanilla. Karena kamu Raka akhirnya mau di ajak makan malam bersama kami berdua.” ujar tante Shalom.
“O-oh, iya tante.”
“Om juga terimakasih ya sama kamu, Vanilla.”
Aku hanya meringis-ringis tidak enak, apa hubungannya aku dengan Raka akhirnya mau di ajak makan malam dengan mereka? Sebelum sempat berfikir macam-macam, mobil Raka sudah tiba. Raka turun dari mobilnya.
“Raka nganter Vanilla dulu, Ma.” pamit Raka pada Mama nya. Pandangannya kini beralih pada Om Tommy, meski ragu akhirnya dia bicara juga padanya. “Saya pulang dulu—dan, semoga baik-baik di sana. Permisi.”
Kalimat Raka barusan membuat senyuman mengembang di wajah Om Tommy.
“Sa-ya, pamit dulu ya, tante, om.” aku mengangguk sopan lalu masuk ke dalam mobil saat Raka mempersilakanku masuk.
“Gue liat koleksi CD lo ya.” aku minta izin padanya, tepat pada saat aku membukanya tepat pada saat itu sebuah bungkus rokok terselip di dalamnya. “Lo masih nge-rokok?”
Raka melihat ke arah bungkus rokok yang aku pegang kemudian mengambilnya sambil membuka kaca mobil. Di jatuhkannya bungkus rokok tersebut.
“Kadang—tapi mungkin kalo lo minta gue buat berhenti total.” Raka menghela nafas sebentar. “I’ll do it.”
Sumpah, mungkin kalau ini bukan malam dan bukan di dalam mobil. Raka pasti bakal tau kalau wajahku telah benar-benar merah layaknya kepiting rebus.
“Really?”
“Yep.”
“Then, do it.”
****
Minggu-minggu ujian kenaikan kelas adalah minggu ter-sibuk. Seperti biasa, full satu minggu Ifa menginap di rumahku untuk belajar bareng. Jadwal besok adalah Matematika dan Pkn, setidaknya Matematika hanya hitung-hitungan bukan hafalan.
“Seberapa deket sih elo sama Raka?” tanya Ifa sambil membuka buku Pkn.
“Gatau.”
“Seriously? Barusan lo cerita tentang dia layaknya lo itu sama dia udah deket. Pake banget.”
“Deket banget ya menurut lo?” Ifa mengangguk kalem.
Emang deket banget ya? Padahal aku Cuma menceritakan masalah Raka yang mau berhenti merokok kalau aku yang melarangnya.
“Serius deh Van, lo suka sama dia?”
Kalau sedang curhat dengan Ifa itu tanggapannya selalu tepat sasaran. Membuat orang susah untuk menjawabnya. Sepertinya dia cocok jika jadi seorang psikolog.
Gue suka sama Raka?
“Gatau elah.”
“Jawaban gatau lo itu menandakan lo suka sama dia.”
“Emang gitu?”
“Ya gitu, kalo emang lo ga suka, apa susahnya bilang ngga?”
Iya sih, tuh kan susah deh ngomong sama Ifa. Semua bisa kebongkar.
But, the problem is,
do I like him?
****
Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan masalah nilai rapot sih. Sebenarnya aku biasa aja. Bahkan ketika teman-temanku mulai berkicau di sosial media, aku lebih memilih untuk berkicau tentang yang lain. Masalah yang lebih penting dari nilai. Namun aku bukan berkicau di sosial media. Aku berkicau pada diriku sendiri. Berkicau tentang perasaan. Oke, kalian mikir aku orang yang super tolol. What? No, I mean, aku sudah cukup belajar pelajaran di sekolah dengan sangat cukup baik.
Aku menganut paham bahwa, tidak ada keberuntungan yang tidak di mulai dengan usaha. Jadi, aku berusaha dan aku sudah sangat siap untuk hasilnya. Intinya, aku tidak memikirkan masalah nilai. Ya begitulah. Kalau kalian tidak mengerti, anggap saja kalian tidak pernah membaca kalimat di atas. Dan lupakan saja.
Tuh kan,
sekarang saja aku sedang berkicau pada diriku sendiri bahkan saat ponselku berdering menerima pesan-pesan yang memberi tahu aku ranking berapa dan bla bla bla, i’m out.
Dari pagi Mama sudah berangkat dengan supir untuk ke sekolahku dan mengambil rapot. Tapi hingga sekarang dia belum juga pulang ke rumah. Pasti dari sekolah langsung belanja. Yah, susah susah senang juga punya Mama yang shopaholic. Susah karena kadang dia suka seenaknya menyeretku pergi bersamanya dan menghabiskan berjam-jam di toko-toko, entah toko sepatu, sandal, baju, atau apalah sampai aku rasanya ingin bunuh diri akibat bosan. Senang karena jika nilai rapotku jelek, setidaknya sampai rumah dia tidak marah-marah karena rasa marahnya tergantikan oleh rasa puas setelah belanja.
Weird memang,
tapi mau bagaimana lagi? Dia Mamaku.
Yep, ini sudah keterlaluan. Aku sudah keluar dari topik yang sebenarnya. Jadi, sampai mana aku tadi?
Drrrtt....
Dan, oh, suara apa itu?
Ponsel? Dimana ponselku? Sial.
Dia berada di kolong kasur, good job Vanilla. Kenapa hp lo selalu berakhir di kolong kasur kalo lo gak sadar dimana keberadaannya? Oke, itu semacam kebiasaan lama. Lupakan.
Drrrtttt....
Rega Calling...
“What?”
“Sok inggris, inget nilai b.ing lo semester kemaren berapa.”
“NILAI GUE SEMBILAN APA LO!”
“Ya, oke. Jadi, lo dimana?”
“Lupa.”
“Plis ya Vanilla, sekali aja lo gak kaya orang sinting.”
“Plis ya Rega, sekali aja lo gak nyebut gue dengan kata-kata yang menghinakan gue.”
“Apa? Menghinakan? Kalo kenyataannya emang gitu, gimana?”
“Apa? Kalo kenyataannya emang gitu, ngapain lo masih mau temenan sama gue? Bye.”
Langsung ku matikan sambungan telpon dengannya. Sebel. Lagi enak-enak nya mikir malah di telpon. Udah gitu bikin kesel lagi. Baru aku akan melempar ponsel itu entah kemana, ponsel itu bergetar lagi.
Rega Calling...
Buru-buru ku matikan lagi, bodo amat. Beberapa detik kemudian sebuah line masuk.
Abrega Mahardika: awas ada anjing galak
Aku mengernyitkan kening.
Me: ha
Abrega Mahardika: anjing galak sedang membaca line ini
Me: MATI LO
****
Aku meminta Pak Joko untuk mengantarku ke sebuah kedai. Kedai ini tempat Mocha biasa memainkan jari-jari diatas keyboard laptop nya disini. Baru sempat aku kesini, setelah beberapa bulan yang lalu Mocha memberi tahu nya saat acara keluarga tiga bulan sekali.
Ini sudah malam, tadinya Pak Joko menolak untu mengantarku karena khawatir. Tapi aku tetap bersikeras untuk sampai disini. Jadi, disinilah aku. Duduk sendiri sambil menyesap segelas coklat panas.
Untung kata Mocha tempat ini bukan tempat orang-orang pacaran. Setidaknya aku tidak di lihat orang sedang duduk sendiri dan tidak di tatap seperti layaknya mereka berbicara padaku “pasti jomblo”. Terus, kenapa kalau gue jomblo?
Setelah menghabiskan sisa-sisa coklat panas, aku menelpon Pak Joko untuk segera menjemputku. Dan aku bilang kepadanya, aku menunggu di toko ujung jalan karena aku ingin membeli tiramisu sebentar.
Jam telah menunjukkan pukul delapan malam, tapi suasana disini sudah lumayan sepi. Aku berjalan menelusuri trotoar yang sedikit lembab akibat hujan sore hari. Kebiasaanku yang lain adalah, senang sekali masuk ke dalam gang-gang jika melihatnya. Dan tepat pada saat itu ada sebuah gang di ujung jalan dekat toko kue tersebut. Penasaran, aku membelokkan langkahku pada gang tersebut.
Baru beberapa langkah berjalan terlihat dari ujung ada sekiranya tiga orang laki-laki asing. Melihatnya, aku memutar arah dan berniat kembali ke tujuan semula. Toko kue. Entah kenapa aku merasa ada yang mengikuti, buru-buru ku percepat langkahku.
Sialnya, ternyata toko kue itu telah tutup saat aku sampai di depannya. Aku menoleh ke belakang dan kudapati tiga laki-laki tadi.
Pikiran yang terlintas di kepalaku saat ini adalah, menelpon Rega. Itu seperti sebuah gerakan refleks.
“Ga.. gue..” panik. Tiga laki-laki itu semakin dekat.
“Vanilla? Lo kenapa?”
“Gue.. di depan toko strawberry.. ada.. tiga laki-laki.. gue..”
Tidak bisa kuteruskan obrolan tersebut, karena tiga laki-laki itu kini berada tepat dua meter di depanku.
“Gue ke sana sekarang juga.”
Tanganku refleks menutup telpon dan menyembunyikannya di balik punggungku. Walau suasana temaram aku dapat melihat seringaian dari tiga laki-laki tersebut.
Gue mau di apain? Jangan sampe gue muncul di berita hanya dengan nama. Plis, gue masih muda. Masa depan gue masih panjang. Gue juga belom nikah. Gue—
“Sendirian aja?” laki-laki yang badannya cungkring mengusap dagunya. Najis lu jijik.
Aku memundurkan langkahku, “Jangan coba buat deket-deket gue, asshole.”
“Asshole? Apa itu artinya bercinta? Hahaha.” laki-laki yang lebih sedikit berusaha manjawab bodoh.
Gila, pantes aja lo semua nafsu-nafsu liat cewek cakep dikit. Asshole aja gak tau artinya, goblok.
Laki-laki terakhir kini mencoba mendekatiku dan hendak menyentuh tanganku. “Don’t. ever. fucking. touch. me.” desisku. “Kalo lo semua gak tau artinya, sana buka kamus oxford. Or, lo gak tau kamus oxford itu apa? Plis ya, lo semua itu sampah. Sam-pah.”
“Sampah, hmm?” dia mengangkat daguku dengan cepat. “Gimana kalo sekarang lo jadi lalat nya? Lalat cinta sampah.”
“Perumpamaan lo itu gak mutu dan gak lucu.” jawabku.
“Jangan banyak omong, sikat aja udah.” sebelum aku sempat berkata-kata, dua laki-laki di belakangnya menerjang ke arahku. Aku mencoba memberontak. Namun cengkraman tangannya di lenganku membuat ku tidak bisa apa-apa.
Jijik melihat wajah-wajah mereka, aku menutup mata. Sekarang aku tinggal menunggu detik-detik nama ku akan tersebar di koran atau berita saja.
Rega, lo kemana sih? Buruan kek dateng!
Sebelum sempat tahu perbuatan apa yang mereka lakukan terhadapku. Aku merasakan cengkraman di lenganku terlepas. Tiga laki-laki itu kini sedang terlibat adu kekuatan dengan. Well, siapa?
Karena semakin gelap di tambah mereka sedang adu kekuatan sekita tujuh meter di depanku. Aku tidak bisa melihat wajah-wajah mereka. Yang jelas tiga laki-laki itu sekarang telah babak belur.
Aku berpikir bahwa itu Rega, karena sebelum itu aku tadi menelponnya.
Tapi,
“Lo gapapa?” katanya, nafas satu dua sehabis berantem tadi.
“Raka?”
****
Rega
Detik itu juga gue keluar rumah, kata Vanilla dia ada di toko kue strawberry. Oke, itu sekitar 15 menit dari sini. Ngga, 10 menit cukup buat gue. Gue ngga tau apa masalahnya di sana yang jelas gue gak mau Vanilla kenapa-kenapa. Tadi suaranya kaya—takut, jadi gue menafsirkan dia kenapa-kenapa.
Seperti dugaan gue, 10 menit cukup buat gue.
Faktanya sekarang adalah gue nemuin Vanilla yang berdiri pas di depan toko itu dan Raka yang baru aja mukul tiga cowok sampe babak belur.
Ada suatu perasaan gak terima di diri gue. Gue gak tau apa. Yang jelas, gue merasa seharusnya gue yang nolongin Vanilla. Bukan orang lain, apalagi Raka. Kedengarannya egois? Emang. Tapi apa salahnya gue egois? Hampir enam tahun gue sahabatan sama Vanilla. Gue tau sifat luar dalem dia di luar kepala. Kalo ada apa-apa Vanilla selalu minta tolong sama gue.
Tapi semenjak ada Raka, gue merasa semuanya di ambil oleh dia.
Cemburu?
Jelas.
Karena faktanya, gue suka Vanilla.
Gue cinta dia.
Tapi gue gak tau cara ngungkapinnya.
“You okay?” gue jalan ngehampirin Vanilla.
“You think?” balasnya. Bikin gue mau gak mau senyum juga, seengganya Vanilla selalu beda kalo sama gue. Gue yakin kalian gak ngerti apa yang bedain gue sama Vanilla dengan Vanilla sama Raka atau yang lainnya.
Karena gue merasa Cuma gue dan Tuhan yang tau.
“Sori, tadi gue gak sengaja lewat sini dan ngeliat Vanilla—yah gitu.” Raka mulai ngomong.
“Okay, thanks.” seengganya gue mulai sadar sesuatu. Raka bukan ngga baik buat Vanilla, dugaan gue salah. Sebenernya itu bukan dugaan. Gue Cuma merasa takut kalau suatu hari—gue gak mau nerusin. “Vanilla pulang sama gue.”
“Thanks again ya, Ka. You saved me.” kata Vanilla.
Raka mengangguk pelan dan senyum ke Vanilla.
You saved me, katanya.
Seharusnya kalo aja gue lebih cepet dari Raka, kalimat barusan itu buat gue. Bukan buat dia.
*