
Rega langsung menarikku ke motornya, menjalankannya dengan lebih cepat dari biasanya. Di sela-sela itu masih kusempatkan untuk mengirim sebuah line pada Raka. Takut kalau dia bingung.
Me: sori ya ninggalin, soalnya Rega takut telat. sori banget yaa
Bukannya semakin pelan karena sudah dekat dengan sekolah. Rega malah semakin mempercepat lajunya. Aksinya akhirnya menuai protes dariku.
“Pelan-pelan kek! Gue ogah mati mudaaa!” teriakku dari belakang.
“Motor-motor gue, suka-suka gue lah.” sahut Rega ngeselin. Rasanya ingin ku jambak rambutnya, tapi sayangnya ketutupan helm yang di kenakannya.
“Awas aja kalo gue mati.” dengusku.
Sampai di sekolah aku langsung turun dan berlari ke kelas. Ceritanya melarikan diri dari Rega, takut di tanya macem-macem. Tepat aku menjatuhkan bokongku di atas kursi dengan nafas yang masih tersengal-sengal, sebuah line masuk.
Abrega Mahardika: lo utang cerita, ok?
Kenapa sih gue punya sahabat kepo nya tingkat milenium?
Aku mengabaikan line dari Rega karena beberapa menit kemudian jam pertama telah di mulai. Pelajaran ekonomi, kenapa pagi-pagi begini udah ekonomi aja sih? FYI, aku tidak pernah hapal jadwal pelajaran seumur hidupku. Maka dari itu kadang aku selalu lupa untuk membawa buku.
“PR yang kemarin tolong kumpulkan di depan.” ujar Pak Bilal di depan kelas. Refleks tanganku mencari buku ekonomi di dalam tas.
Ha-ha, ga ada.
Ha-ha, ketinggalan.
“Ketinggalan nih.” dengan tampang memelas aku berbisik pada Ifa.
“DL.”
“Nyemot ah lo.” biasanya sih Pak Bilal akan dengan senang hati menyuruh keluar siswa yang tidak mengerjakan PR apapun alasannya. Dan sepertinya hari ini aku akan kena.
“Bagi yang tidak mengerjakan PR tidak akan bapak suruh keluar seperti biasa.” aku bernafas lega mendengarnya, setidaknya aku tidak malu-maluin berkeliaran di luar kelas saat sedang jam pelajaran. Ketahuan banget sedang di hukum, kecuali aku mau kalau harus mengumpet di kamar mandi atau perpustakaan. Tapi, perpustakaan? Tempat buku-buku berdebu? Ngga deh, ngga banget. “Tapi.. nanti jam istirahat yang tidak mengerjakan PR harus bernyanyi di kantin keras-keras.”
“Mampus, kayanya hidup gue berakhir sampe jam istirahat deh.” gerutuku, Ifa sudah menahan tawanya daritadi. “Apa lo tawa-tawa?”
Kulirik semua orang di kelas, sepertinya tidak ada yang tidak mengerjakan PR selain aku. Eh, aku mengerjakan sebenarnya hanya saja bukunya kan ketinggalan. Ah, hari ini kenapa kaya gini sih?
“Siapa saja hari ini yang tidak mengerjakan PR atau tidak membawanya?” tanya Pak Bilal.
Ragu-ragu aku mengangkat tangan ke atas.
“Oke Vanilla, saya tunggu pertunjukkan kamu nanti istirahat.” Pak Bilal tersenyum penuh arti terhadapku, membuatku mencibir diam-diam.
****
Yak bagus.
Sepertinya berita aku di hukum menyanyi di kantin sudah tersebar luas. Ini pasti gara-gara Adi nih, si ketua kelas tukang gosip. Dan sekarang, dari kelas X sampai kelas XII pun sedang berkumpul ke kantin. Namun ada juga yang masih di lapangan yang matanya menghadap ke kantin.
“Tai tai tai, bodo gue pura-pura pingsan aja kali ya?” aku menarik-narik lengan seragam Ifa dan Bagas kemudian hendak berbalik arah yang langsung di cegat oleh Ifa dan Bagas.
“Ih gabisa gabisa, hukuman adalah hukuman. Lagian jarang-jarang kan lo jadi pusat perhatian selain pas sama Rega? Eksis woy eksis.”
“Bibir lo jeding tuh eksis.” kataku kesal.
Pak Bilal sudah berada di kantin dan tersenyum renyah saat menlihat kedatanganku. Aku hanya meringis terpaksa kepada semua orang. Suara gue jelek woy pergi kek lo pada, batinku.
“NYANYI! NYANYI! NYANYI!” teriak beberapa orang.
Dari lapangan kulihat Rega melipat kedua tangannya dan menaik-naikkan satu alisnya serta tersenyum sedikit geli juga. Kubalas dengan pelototan.
“Ayo silahkan Vanilla di mulai pertunjukannya. Yang nonton udah banyak kan ini?” sialan. sialan. Apaan sih Pak Bilal.
“Sumpah suara gue jelek, busuk, gembel, jadi yang gamau kupingnya sakit mending sana kek kemana kek. Plis suer busuk banget deh suara gue.” kataku.
“Hiburaaaan!” kata salah satu anak kelas XII. Bagas dan Ifa juga turut menyemangatiku dari sana.
Aku mengangkat kedua bahu acuh, “Yaelah, serah si gue mah.” lama-lama aku jadi biasa aja. “Mulai ya.. eh ini ga ada sound nya gitu biar lebih keren?”
“Tepuk-tepuk dah gampang, cepetan nyanyi!”
“Iye sabar.”
“AKU TERJATUH DAN TAK BISA BAAAANGKIT LAAAAGIIIII..
AKU TENGGELAM DALAM LAUTAN LUKA DALAAAAM..
AKU TERSESAT DAN TAK TAU ARAH JALAN PULANG..
AKU TANPAMUUUU..
BUTIRAAAANN DEBUUUUUUUUUUUUUUUUU..”
Selesai nyanyi langsung ramai. Pokoknya begitu. Ngomong-ngomong daritadi aku tidak melihat Raka. Dia tidak masuk lagi? Tapi emang kayanya ga masuk sih, dia aja ga bawa seragam.
****
“Gue gak suka lo deket-deket dia.”
Tanggapan Rega membuatku tersedak oleh es teh yang sedang kuminum. Setelah akhirnya cerita panjang lebar tentang Raka dan Rega yang daritadi diam saja seperti memikirkan sesuatu lalu tiba-tiba membuat tanggapan seperti itu. Itu benar-benar gimana gitu.
Padahal pulang sekolah aku sudah menghindari Rega dan berusaha lewat belakang sekolah. Namun tanganku keburu di tarik oleh seseorang, Rega.
“Gue tau lo bakal kabur.” katanya. Itu malu banget. Sumpah.
Dan sekarang, seperti biasa kami berada di bebek slamet, duduk berdua sambil Rega yang baru memberikan tanggapannya. Melihat aku yang batuk-batuk gara-gara tersedak, Rega buru-buru menepuk-nepuk punggungku.
“Pelan-pelan.” ingatnya.
Aku hanya mengangguk-ngangguk sambil mengusap-ngusap leher yang gatal gara-gara batuk.
“Kenapa gasuka?” tanyaku setelah reda.
“Au.” Rega sok-sok an meminum minumannya.
“Masa au? Jangan PHP dong, gue butuh kepastian. Kenapa gasuka?”
“Kaya tau aja lo PHP gimana.”
“Tau! Enak aja lo!”
“Deket sama cowok aja ga pernah.”
“Pernah, nih gue lagi sama cowok. Ato jangan-jangan.. sebenernya lo bukan cowok? Jangan-jangan lo seorang dewa waria yang lagi nyamar buat merusak dunia?”
“Kebanyakan baca fantasy otak lo jadi sedeng.” Rega menunjuk-nunjuk dahiku dengan tulunjuknya. Seakan aku adalah anak nakal yang baru saja memecahkan sebuah piring atau gelas. Dan bego nya aku tidak membantah.
“Cepetan ah kenapa gasuka sama Raka?” desakku.
“Ya lo pikir aja sendiri, ngapain dia malem-malem –ujan-ujan- kerumah lo?”
“Kenapa harus lo?”
“Emang kenapa kalo gue?”
Rega mendengus kencang, mungkin kesal karena aku yang bertanya-tanya terus. Bodo, aku hanya butuh jawaban yang pasti. Aku butuh kepastian.
“Lo itu cewek, Vanilla. Ce-wek.” sahutnya. “Kaya si Raka gapunya temen cowok aja buat di tumpangin? Kenapa juga harus lo? Mana di rumah lo kan Cuma ada lo sama Bi Inah, gimana kalo lo di apa-apain?”
“Ya.. buktinya gue ga di apa-apain kan?”
“Tuh kan, makanya gue males ngejelasin ke lo. Lo pasti ga bakal ngerti deh. Susah ngomong sama anak kecil.”
“Palalo anak kecil! Gue udah mau tujuh belas tahun dodol!”
“Iya tujuh belas—setaun lagi.”
“Tau ah bete.”
“Ktp aja belom punya, SIM apalagi. Haha, sok-sok an nyetir mobil ujung-ujung nya nabrak pohon. Lo tuh kerjaannya nyusahin orang tau ga? Bikin orang panik.”
“Hmm.. ketauan lu ya panik waktu itu? Ya kaaaan?” aku mengikuti Rega sewaktu tadi, mengangkat-ngangkat alis berkali-kali.
“Ngga.” dengan sok stay cool nya Rega meminum minumannya kembali.
Aku mendekatkan wajahku ke arahnya, “Cieee panik ni yee.”
“Diem lu ah anak kecil.”
“Update dulu ah di twitter..”
“Serah lo.”
****
Memang dari pulang sekolah langit telah menunjukkan tanda-tanda akan hujan. Tapi gara-gara Rega yang memaksaku menceritakan tentang Raka, jadi mampir dulu ke bebek slamet dan alhasil baru lima menit naik motor, hujan sudah turun.
“Ada halte tuh, Ga!” tunjukku di ujung jalan sana. Rega melipirkan motornya ke halte tersebut. Sepi. Tidak satu pun orang berada di sana apalagi lewat. Kurasa orang-orang sudah tau hujan akan turun jadi tidak ada yang keluar rumah.
“Gara-gara lo nih jadi keujanan!” sungutku sembari memeras baju seragam bawahku yang sudah basah.
“Yaelah itu sih takdir kalee.”
Aku sibuk memeras seragamku, sesekali mengusap-ngusap telapak tanganku agar tidak kedinginan. Tiba-tiba Rega sudah memberikan jaket jeans nya padaku.
“Nih pake.” katanya.
“Kasian ntar lo kedinginan, ntar sakit. Terus ga ada yang nganter jemput lagi deh.” komentarku yang langsung di balas dengan toyoran di jidat.
“Yee kurang ajar lo, udah cepetan pake.”
“Berdua deh berdua, biar kaya di novel-novel gitu, Ga.” kataku, Rega hanya mencibir dan akhirnya menjadikan jaket itu sebagai tameng di belakang agar angin tidak masuk dari belakang. “Biasanya sih ya kalo di novel-novel------“ aku ngomong panjang lebar kemudian aku baru sadar bahwa sejak tadi Rega diam saja.
Jangan bilang dia kesurupan.
“Ga? Dengerin gue gak sih?” aku menoleh pada Rega yang sedang menatap lurus ke depan. Di panggil seperti itu, ia menoleh kepadaku.
Dan,
ya ampuuuuun!
Jarak antara wajahku dengannya hanya---hanya berapa senti ya? Pokoknya ini deket banget sumpah.
“Lo tau ga kenapa setiap hari gue anter jemput lo ke sekolah?” tiba-tiba Rega bertanya seperti itu.
Dengan polosnya aku menggeleng pelan, “Ngg.. engga, emang kenapa?”
Rega tersenyum miseterius, dan dia—kenapa aku baru sadar kalau Rega itu benar-benar tampan? Pantas saja ya banyak yang suka. Sebagai sahabat aku merasa gagal mengenali sahabat sendiri.
“Karena setiap lo nyerocos hal-hal yang sebenernya gapenting itu—gue suka dengernya. Apalagi kalo lo lagi marah-marah sampe muka lo merah. Dan mukul-mukul helm gue sambil teriak minta buat pelan dikit. Lo yang selalu ngeles dan manja nya naujubilah. Gatau kenapa gue suka.” jelasnya.
Aku terdiam, “Jangan nyindir, plis.” jawabku.
Mendengar jawabanku Rega hanya tersenyum geli. Namun detik berikutnya raut wajahnya berubah serius.
“Gue..” katanya terputus. “Shit,”
Detik berikutnya aku hanya terpaku diam. Sebuah benda lembab dan basah menyentuh permukaan bawah bibirku. Bahkan mataku masih membuka saat menerimanya, terlalu kaget dan tidak sempat untuk menutup. Ini tidak seperti yang aku bayangkan. Seharusnya ciuman pertamaku tidak seperti ini. Ini malu-maluin.
He stole my first kiss.
Rega stole my first kiss.
REGA STOLE MY FIRST KISS, EVERYBODY!
MY BEST FRIEND STOLE MY FIRST KISS!
YOU GUYS SHOULD KNOW ABOUT THIS!
SO, I’M ABOUT TO DIE.
Kejadiannya begitu cepat bahkan sebelum mataku refleks menutup. Mungkin juga tidak ada lima detik. Lagipula bibir kami hanya menempel. Tidak seperti di novel atau film yang penuh gairah dan terlalu erotis. Ini flat abis. Ih, kok jadi jijik ya?
“Ga, lo tau ga?” kataku setelahnya masih sedikit linglung.
“Apa?”
Aku berdiri di hadapannya dan sambil menunjuk kearahnya menggunakan telunjuk aku berteriak, seperti baru menyadari sesuatu. “LO NYURI CIUMAN PERTAMA GUEEEEEEEEEEEEE!”
Rega tertawa-tawa melihat tingkahku, “Terus kalo gue nyuri ciuman pertama lo kenapa?” tanyanya setelah tawanya reda.
“Ini gak etis serius. Gue pikir ciuman pertama gue kaya di film-film gitu atau novel. Di depan menara eiffel bagus tuh harusnya atau pas banget pas di atasnya ada kembang api. Tapi ini, Ga—ya Tuhaaaan di halte ini! Di h-a-l-t-e! Fix gue bete banget.” aku kembali duduk di sampingnya sambil melipat kedua tanganku di depan dada.
“Kita tuh hidup di realita, bukan di novel atau film. Yaudah lah terima aja ciuman pertama lo di halte, lagian keren kan view nya pas lagi ujan? Cukup kaya film kok.” Rega merangkulku.
“Apaan! Bodo ah, pokonya itu ceritanya bukan ciuman pertama gue ya! Anggep aja ga pernah terjadi. Aaaaaaa ga lucu banget gitu di halte.”
“Ciuman pertama sebagai sahabat deh anggep aja.”
“Tau ah.”
Rega berdiri dan menatap ke langit, “Udah reda nih, pulang yok!”
Aku masih duduk sambil mengerucutkan bibir, ceritanya masih kesal. Rega menghampiriku dan menarik tanganku.
“Yaudaaaah, anggep aja itu ga pernah terjadi, oke? Oke, yok sekarang kita pulang.”
Aku pun bangkit dan beranjak ke atas motor Rega. Diam-diam aku menyentuh bibirku dengan jari-jariku. Sesaat aku menyunggingkan sebuah senyuman.
*