
Rega memang kuat.
Buktinya hari ini dia udah masuk dan sekarang lagi nagkring di depan rumah. Sambil ngobrol sama Vika, itu kakak satu tiap ada cowok dateng ke rumah di ajakin ngobrol terus. Itu Vika yang kegatelan apa Rega nya yang sok asik? Kayanya Vika suka Rega deh.
Tapi itu gak mungkin deng, Vika udah punya cowok.
“Gatel banget sih pake ngobrol segala sama kakak gue.” komentarku saat naik ke atas motornya.
“Lah bocah,” gerutunya. “Kaya baru ngeliat gue ngobrol aja sama kakak lo.” jawabnya. Suara Rega masih terdengar sengau akibat flu dua hari yang lalu. Sekarang saja dia sedang bersin, jadi motornya sedikit oleng.
“Harusnya kalo masih sakit tuh gak usah jemput gue!” semburku setelahnya. “Ntar kalo jatoh, gue kenapa-kenapa gimana?”
“Anjir, krispi banget sih. Gue kira lo mau beneran sok care sama gue. Taunya..”
“Maaf telah mengecewakan anda.”
Rega tidak membalas, “Tapi.. serius deh, lo masih sakit gak sih?” karena tidak ada jawaban aku sedikit penasaran juga sih sebenarnya.
“Sebentar.. ini lo nanya beneran gak? Kalo ngga gue gak mau jawab.”
Langsung ku daratkan telapak tanganku ke belakang kepalanya, “Menurut lo?” tanyaku sewot. Pake banget.
“Masih sakit, sakit banget.”
“Boong.”
“Udah tau boong ngapain nanya?”
“Dasar si bacot kompor mleduk.”
Lalu kami berdua sama-sama diam. Sampai motor Rega memasuki gerbang sekolah, terlihat anak-anak sudah banyak yang berdatangan. Aku turun dari motor Rega, menyerahkan helm berwarna pink yang menurutku menjijikkan (re: helm di beliin Rega waktu itu gara-gara aku malas mengambil helm ke dalam rumah).
“Nanti pulang sekolah gue basket.” ujar Rega.
“Kok hari ini? Bukannya besok?”
“Di majuin, besok pelatihnya gak bisa dateng.” Aku membentukkan bibirku menjadi huruf ‘O’. “Tapi nanti gue anterin lo bimbel dulu, woles.”
“Gue sendiri aja ah.”
Rega menaikkan salah satu alisnya, “Really?”
No, not really.
“Ya!”
“Yaudah.”
Cowok macem apa lu, Abrega. Harusnya lo tuh maksa buat tetep nganterin gue. Lah ini? Seenak kentutnya bilang yaudah. Oke, gue sih gak papa eh ngga deng. Apa-apa sebenernya, tapi gitu deh pasti lo gak ngerti maksud gue.
“Ok.” singkat. Padat. Jelas.
Saat itu juga aku berniat lari menuju kelas. Udah sebel banget ceritanya sama Rega. Tapi—ternyata keajaiban datang.
“Nggak deng, hari ini gue gak latihan basket. Gue kan sakit.” di samping, Rega sudah senyam senyum alay.
“Gausah senyam-senyum alay lu!”
“Mau di anterin gak?” sekarang tampangnya berubah jadi sok galak. Sekarang dia juga sedang berkacak pinggang. Kesannya, aku adalah anak kecil yang baru berbuat kesalahan dan dia bilang padaku untuk berjanji untuk tidak mengulanginya.
“Sok galak.”
“Bawel lo ah, mau di anterin gak? Tinggal bilang iya atau ngga apa susahnya sih bocah.”
“Iya mau!”
****
Hari-hari menjelang Ujian Sekolah adalah hari paling menyibukkan sedunia. Catat ya, Ujian Sekolah. Bukan Ujian Akhir Sekolah. Aku harus mengulang pelajaran dari kelas satu sampai kelas tiga. Aku juga jadi jarang bolos bimbel, malah hampir tidak pernah kecual tidak enak badan auat acara keluarga.
Komunikasi dengan Raka juga hanya sesekali sebatas di line, pokoknya aku benar-benar sibuk sesibuk sibuknya orang sibuk.
Hari ini aku bimbel, hanya try-out saja. Dan seperti biasa, aku selalu menunggu jemputan.
Kata Papa, kalau Pak Joko belum jemput aku di suruh nunggu aja di dalem. Tapi, di dalem sepi gak asik. Jadi aku memutuskan untuk seperti biasa, menunggu di luar. Pas banget ketika aku keluar, sebuah mobil melintas di depanku.
Raka turun dari mobil dan menghampiriku, di tangan kanannya ia membawa sebuah surat. Eh, surat? Tapi itu bukan kertas-kertas gitu, lebih tebel.
“Lo suka banget sih lewat sini.” kataku saat Raka menyapaku.
Dia hanya **** senyum sekilas, “Kalo sekarang gue emang niat nyamperin lo.”
Aku mengerutkan dahi dan meringis ke arahnya, “Terus yang kemarin-kemarin?” kataku bercanda.
Raka tidak menjawab, dia hanya tersenyum simpul seperti tadi. Di berikannya sesuatu yang di tangan kanannya kepadaku. Ternyata itu sebuah undangan.
“Serius?” senyumku mengembang saat membacanya, Raka mengangguk terlihat dari matanya sedikit memancarkan aura sesuatu. Dia terlihat sedikit lebih berbeda, mungkin sekarang dia sedang dalam masa bahagianya. “Gue turut seneng ya, Ka.”
“Ternyata Om Ginanjar emang serius sama nyokap. Waktu gue cerita semuanya ke lo dan lo bilang gue harus bahagiain nyokap. Seminggu kemudian gue, nyokap, Om Ginanjar makan malem bareng.
“Gue bilang ke dia kalo serius sama nyokap. Paling lama tiga bulan dia harus ngelamar nyokap. Dan yah, dua bulan kemudian akhirnya dia ngelamar.” jelasnya panjang lebar. Memang sih, semenjak mendekati Ujian Sekolah. Aku sudah tidak lagi sibuk berinteraksi dengan orang-orang kecuali membahas masalah pelajaran.
Jadi, jelas jika tiba-tiba Raka datang kepadaku sambil membawa sebuah undangan aku kaget.
“Semoga Om Ginanjar yang terbaik ya buat tante Shalom,” tepat pada saat itu mobilku datang. “Emm, gue udah di jemput. Sampein salam gue buat tante Shalom ya, Ka.”
“Pasti.”
Aku membuka pintu mobil ketika Raka tiba-tiba memanggilku. Aku refleks menoleh kepadanya.
“Lo bisa dateng bareng Rega kalo mau.”
****
Besoknya, kebetulan Rega mengajakku ke toko buku. Katanya untuk beli buku soal sama buku referensi lain yang lebih simple dari buku pelajaran. Rega itu orang ter-telat sedunia. Aku saja sudah membeli banyak buku di awal kelas tiga. Lah ini? Beberapa bulan menjelang Ujian Nasional dia baru mau beli.
“Yang ini aja sih, Ga. Lebih lengkap.” rekomenku padanya, dengan menunjukkan sebuah buku.
“Ngeliat bukunya aja gue udah gak niat belajar, cari yang lebih berwarna kek.”
“Apa perlu gue beliin lo cerita dongeng yang banyak gambarnya? Ha?”
“Ya ngga cerita dongeng juga kali.”
“Cepetan ah pilih sendiri! Gue mau ke foodcourt, laper.”
Baru akan pergi, tanganku di tarik olehnya. “Iya yaudah, gue pilih yang tadi aja. Sama yang mana yang menurut lo bagus?”
Aku **** senyum lebar, aku memilih beberapa yang menurutku bagus dan beberapa yang sama yang aku punya.
“Nih.” aku memberikannya pada Rega. Tanpa banyak basa-basi, Rega langsung berjalan ke kasir dan membayarnya.
Di foodcourt, sembari menunggu pesanan datang. Aku mengeluarkan undangan pernikahan tante Shalom. Rega mengernyitkan keningnya ketika aku memberikan itu padanya.
“Apaan nih?” tanyanya.
“Undangan pernikahan tante Shalom, nyokapnya Raka.”
Rega diam sebentar, seperti sedang memikirkan sesuatu. Kurasa ia ingin bertanya, kenapa Mama nya Raka menikah lagi. Tapi, tak ada yang keluar dari bibirnya. Tak berapa lama kemudian ia membukanya.
“Kenapa lo nunjukkin ke gue?” tanya Rega setelah selesai melihat isinya.
“Kata Raka, gue boleh ngajak lo.”
Rega memberikan undangan itu kepadaku. Bukannya memberi tanggapan ia malah sibuk mengeluarkan ponselnya.
“Mau ikut gak?” tanyaku pada akhirnya.
“Apa?”
“Iss, ke pernikahannya tante Shalom!” jawabku kesal.
“Kalo gue bilang ngga juga lo bakal maksa gue.”
Aku meringis mendengarnya, “Hehehe, jadi mau kan?”
“Emang ada pilihan lain?”
“Nggak.” kataku senyum-senyum.
“Kapan si?” tanya Rega.
“Ha?”
“Kapan nikahnya, bolot.”
“Bolot mah pelawak, aduh lucu deh lu, Ga.”
“Serah.”
“Lagian gak baca apa tanggalnya?”
“Lo ga pernah denger kata lupa?”
“Dimana?”
“Di gold garden, Abrega Mahardika.” jawabku dengan intonasi sama seperti tadi.
“Gausah ngomong lo, sok imut.”
“I hate you so much.” aku melempar tatapan paling kejam sedunia ke arahnya. Tapi, tanggapannya malah menahan ketawa karena melihatku seperti itu.
****
Vika yang memilihkanku gaun apa yang akan kupakai nanti saat pernikahan tante Shalom. Hampir dua jam aku mutar-muter toko hanya demi sebuah gaun yang sekarang sudah tergolek lemah di atas kasur, karena yang akan memakainya sedang di dandani habis-habisan sekarang.
“JANGAN MENOR-MENOR!” ujarku untuk ke sekian kalinya. Berulang kali aku ingin bercermin untuk melihat hasil dandanan Vika. Tapi berulang kali itu juga Vika mencegahnya. Jadi, aku hanya bisa sabar.
“Muka gue gak enak banget ya Tuhaaan, di apain ini gueee.”
“Shut up, girl.” lama-lama Vika risih juga mendengarnya, mungkin mengganggu konsentrasinya untuk merias.
Bodo amat.
Bel rumah berbunyi sekali, itu pasti Rega.
“Sip, sekarang lo boleh ngaca.” kata Vika setalah selesai merias dan menyuruhku untuk memakai gaunnya. Gaun berwarna ungu soft telah melekat di tubuhku.
Sebenarnya jantungku sedikit was-was juga untuk melihat hasil akhirnya. Gimana kalau jelek? Gimana kalau gak bagus? Gimana kalau kemenoran? Gimana kalau---
“Anjrit, itu siapa?!” tunjukku di depan kaca. Sumpah ya, ini pasti gak mungkin gue kan? Kok jadi cakep banget sih?
Well, kok cakep banget sih itu kayanya terlalu kepedan deh. Maksudku, itu kaya bukan aku. Itu beda banget. Pantes aja ya, make up bisa merubah segalanya. Jadi, jangan mau di tipu dengan orang cantik tapi hasil make up.
“Gue juga gak percaya kalo itu elo.” kata Vika di belakangku. “Cepetan turun, Rega udah nungguin, kan?”
Rega.
Mendengar tahu bahwa Rega sudah menungguku di bawah membuatku jadi mual. Pasti nanti dia ketawa melihat penampilanku.
“Yah, gue takut di ketawain nih sama Rega.” kataku.
“Lo cantik, ok? Bye. Sekarang mending lo cepetan turun.”
Seperti anak tikus aku jalan pelan-pelaaaan banget. Takut menimbulkan suara dan semua orang menoleh ke arahku. Di bawah ternyata Rega sedang ngobrol sama Mama sama Vandy.
Sampai anak tangga terakhir, aku berhasil tidak menimbulkan suara karena mereka sama sekali tidak menoleh ke arahku. Sampai Vika berdehem untuk memecah keheningan.
“Ehem.” tegur Vika, membuat yang lain menoleh ke arah Vika. Vika langsung menunjukku dengan lirikan matanya.
“ELO VANILLA? ADEK GUE CAKEP JUGA KALO DI DANDANIN!” teriak Vandy. Aku hanya membalas dengan cibiran.
“Ya ampun Vanilla, Mama jadi terharu nih.”
Plis deh, Ma. Maksudnya apaan terharu?
Vika seperti bangga dengan hasil karyanya. Selagi Vandy, Vika, dan Mama sibuk mengomentari penampilan baruku. Aku masih tidak mendengar Rega mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya memandangku dari awal matanya menangkap bayanganku. Ohiya, hari ini Rega juga kelihatan beda. Dia memakai tuksedo warna putih dan di tiban dengan jas berwarna hitam.
“Udah sana kalian berdua berangkat, nanti acaranya keburu selesai.” ujar Vika.
Rega menarik salah satu sudut bibirnya ke atas lalu mengangguk. Ia memberikan tatapan padaku untuk berjalan mendahulinya. Semoat kudengar Vandy seperti membisikkan sesuatu pada Rega.
Setting yang di ambil untuk acara resepsi pernikahan tante Shalom itu adalah outdoor, jadi semacam pesta kebun.
Sampai di sana Rega mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan tangannya di atas sana. Tak berselang lama ponselku bergetar. Ada line dari Rega, aku langsung melirik ke arahnya. Yang di lirik tidak menanggapi, ia malah sibuk berjalan ke depan. Meninggalkanku yang akan membaca line nya.
Abrega Mahardika: u cool with ur dress, but u look perfection if u smile.
Kalau bukan di tempat umum dan tidak banyak orang. Rasanya aku ingin berteriak memanggil Rega dan bilang sekeras-keras kepadanya, “Ini serius kata lo, Ga?” tapi itu gamungkin.
Buru-buru aku berjalan menghampiri Rega, “Thankyou.” kataku saat sampai di sampingnya.
Baru juga beberapa menit di dalam, bahkan aku belum melihat Raka. Rega sudah izin ingin ke toilet. Penyakit besernya kuat. Dan sekarang aku bingung harus kemana. Kalau aku menghampiri tante Shalom dengan Om Ginanjar rasanya tidak enak, masih banyak sanak saudara yang ingin berfoto.
“Perfect.” ujar sebuah suara dari belakang.
“Thanks.” jawabku.
Sama seperti Rega, Raka juga mengenakan tuksedo yang di barengi dengan sebuah jas. Terlihat sangat dewasa.
“Lets have some food.” ajaknya.
Aku hanya mengambil sepotong pudding dengan fla nya, kemudian berjalan sedikit menjauh dari keramaian dan duduk di sebuah bangku taman.
“Gue belum ketemu nyokap lo.” kataku.
“Nanti sama gue, nyokap gue seneng banget pas tau lo mau dateng.”
Aku tersenyum renyah, “Itu yang pake jas abu-abu disana, siapa?” terlihat laki-laki seperti umur 13/14 tahun berdiri di samping tante Shalom.
“Anaknya Om Ginanjar, adek tiri gue.” aku mengangguk-ngangguk.
“Kayanya lo harus belajar buat manggil Om Ginanjar papa deh.” kataku.
“Im trying.”
Takut Rega mencariku, aku beranjak dari bangku dan ke tempat pertama Rega minta izin ke toilet. Ternyata Rega sudah berdiri disana sambil tangannya siap dengan ponselnya.
“Kalo lo mau nelpon gue, itu gaperlu.” sahutku.
Rega menoleh, “Kemana aja lo?”
“Makan pudding.” jawabku kalem.
“Thanks ya udah dateng.” kata Raka tiba-tiba, sekarang pandangan Rega beralih ke Raka. Seperti baru sadar bahwa Raka sedang berada di sampingku.
“Nope.”
****
Its 09.00 PM.
Dan aku sama Rega masih duduk-duduk lesehan sambil menunggu jagung bakar yang kami pesan setelah pulang dari acara resepsi pernikahan tante Shalom. Rega menyampirkan jas nya ke tubuhku agar aku tidak kedinginan. Sekarang ia hanya menyisakan tuksedo nya yang kancingnya sudah ia lepas dua dari atas dan lengan yang ia gulung sampai sikut.
“Gatau kenapa kalo setiap pergi ke acara pernikahan seseorang, gue merasa gimana gitu.” kataku.
“Gimana?” Rega membelakangkan tangannya untuk menumpu tubuhnya, posisi rileks.
“Lo sadar gak sih? Kita udah SMA, sebentar lagi juga kita bakal ngehadepin UN, sukur-sukur dapet SNMPTN jadi gak perlu belajar lagi buat SBMPTN.” aku menarik nafas sebentar. “Gak kerasa ya, Ga. Kita udah kenal selama enam tahun.” aku mengingat jama-jaman SMP ku. “We grew up up so fast.”
“Inget gak waktu kita berdua di hukum gara-gara gue gak bawa buku paket MTK dan lo ngasih pinjem buku MTK lo ke gue terus lo bilang kalo lo gak bawa buku ke gurunya—“
“Dan dengan bego nya lo kekeuh kalo lo yang gak bawa buku.” sambung Rega datar. “Lo itu aneh, udah mau di tolongin malah gak mau.”
Aku tertawa sebentar, “Abis itu kita di hukum deh berdua. Gara-gara bikin bingung.” sahutku. “Gue juga masih inget tuh, lo yang ngajarin gue belajar ngendarain sepeda tapi selalu gak berhasil karna gue jatoh terus.”
“Lo payah di bidang setir menyetir, waktu kemaren aja nyetir mobil ujungnya nabrak pohon.” ujar Rega sewot.
“Hhh.. gak kerasa ya kita udah mau kuliah.” kataku lebih pada diri sendiri. “Oh iya, lo mau kuliah dimana? Bareng yuuuuukk.”
Langsung mendapat lirikan tajam dari Rega, “Lo pikir ini jaman SD yang semuanya serba bareng? Ini kuliah, Vanilla. Lo harus punya pilihan sendiri. Jangan suka ikut-ikutan orang lain, ngerti?”
“Yaaah, tapi kan gue mau nya tetep bareng sama lo.”
Rega mengacak rambutku sebentar, “Bego. Lo tinggal inget nama gue juga pasti gue bakal ada. Gue kan anak cenayang.”
“Najong, cenanyang.”
Kemudian kami berdua sama-sama diam. Sampai jagung bakar kami di antarkan. Aku dan Rega makan dalam keheningan.
“Ah! Satu lagi!” kataku ketika ingat sesuatu. “Di antara kita berdua, kira-kira siapa yang bakal nikah duluan yaa?”
****
Rega
Yang bakal nikah duluan itu kita berdua. Karena gue berharap lo yang bakal ada di samping gue saat gue ngucapin kalimat suci itu.
Tapi semua balik lagi ke tangan Tuhan. Gue Cuma bisa berusaha.
*