Vanilla

Vanilla
Epilog



Ini sudah hampir setengah jam aku menunggu Rega di depan butik langgananku dengan keluargaku. Sudah berulang kali juga pelayan butiknya menyuruhku untuk menungguku di dalam, tapi aku menolak dengan alasan nanti malah tambah lama kalau Rega harus repot-repot memarkir mobilnya.


Rega tuh kenapa sih? Ini istrinya lagi hamil. H a m i l. Malah di suruh nunggu lama kaya gini? Janjinya Cuma meeting sebentar, tapi ini? Pokoknya kalau dia datang jangan harap aku akan ngomong sama dia. Oh ya, juga makan malam, masak saja dia sendiri atau beli.


Tepat pada saat aku sudah kesal tingkat dewa mobil hitam metalik yang plat nomernya sudah ku hafal di luar kepala berhenti tepat di depanku. Laki-laki di dalamnya alias Rega alias sua—Err aneh manggil dia suami, keluar dari mobil. Kacamata hitam yang di pakainya ia lepas saat menghampiriku.


"Lama ya?" tanyanya.


Udah tau nanya.


"Kamu tuh kenapa sih? Aku udah setengah jam nunggu ya disini—kamu bilang katanya Cuma sebentar meetingnya? Sebentar dari hongkong." yang tadinya aku berniat mendiamkannya aku malah menumpahkan kekesalanku.


"Yah maaf deh, aku tadi di jalan beli—" ia mengeluarkan sesuatu di balik pungungnya. "Ini dulu buat kamu." dan sesuatu itu adalah mawar merah. Mawar merah yang sama seperti dulu.


Tiba-tiba aku jadi tidak bisa berkata-kata, ingin marah tapi sudah terlanjur tidak marah lagi gara-gara ini. Rega selalu seperti itu, kalau aku sedang marah ia pasti akan melakukan hal-hal di luar bayanganku untuk membuatku tidak jadi marah. Dia sangat unpredictable.


"Sekali ini aja, kalo lagi-lagi kaya gini. Gak ada maaf. Tidur sana di luar kamar." aku mengancam Rega dengan menjentikkan telunjukku ke depan dia. Kemudian mengambil dengan ketus mawar nya.


Melihat reaksiku Rega malah menahan geli dalam senyumannya, "Oke jadi, bisa kita langsung pulang?"


"Bisa banget." aku ngeloyor langsung masuk ke dalam mobil. Di luar mobil aku bisa melihat Rega tersenyum renyah melihat tingkahku. Matanya sedikit menyipit akibat terkena sinar matahari. Lalu sebelum dia masuk ke mobil dia memakai kacamata hitamnya kembali.


Sudah hampir tiga tahun lepas dari peristiwa Rega yang menghampiriku setelah aku menghampirinya ke London. Rega yang sudah tau semuanya—juga tentang aku putus dengan Raka. Kemudian tanpa banyak berkata-kata dia melontarkan kalimat yang menurutku paling bermakna selama aku hidup.


"Would you be my Vanilla for the rest of my life?"


Buat apa lagi aku gengsi untuk pura-pura menolaknya terlebih dahulu? Toh kita berdua sudah sama-sama tahu tentang perasaan masing-masing. Jadi, singkatnya aku menerimanya.


Jadilah kami sekarang, setahun menikah dengan Rega membuatku—apa ya? Sebenarnya sama saja seperti dulu. Hanya saja sekarang sudah beda status. Dan Rega jadi manja. Entah sejak kapan sifat itu muncul.


"Sayang, jas aku yang minggu kemarin baru di beli mana?" suara Rega membuatku yang sedang menonton tv beranjak dari posisiku.


Tanpa berkata-kata aku berjalan ke arah kamar tanpa memedulikan pandangan Rega aku membuka lemari. Hanya beberapa detik aku dapat menemukan jas nya.


"Ini apa?" kataku ketus. Rega hanya cengar-cengir. "Kalo nyari tuh tangannya yang kerja bukan mulutnya." aku baru akan keluar lagi dari kamar sebelum sesuatu merengkuh tubuhku dari belakang.


"Yah kalo kaya gitu apa gunanya kamu dong? Kamu kan istri aku, tugas istri harusnya ngelayanin suaminya." katanya tepat di samping telinga.


Aku berbalik menghadapnya, "Tapi istri itu bukan pembantu ya. Jangan tega dong nyama-nyamain istrinya sama pembantu."


"Aku gak bilang kaya gitu lho tadi." Rega terkekeh sebentar.


"Tapi kalimat kamu menyiratkan kaya gitu. Udah deh, jangan bikin kesel mulu. Mau nih ntar anaknya jadi rada-rada kaya orang gila?"


"Apaan sih, orang gila-orang gila. Bapaknya ganteng gini masa anaknya jadi rada-rada." katanya.


"Iya iya serah, sana cepetan ganti baju. Ntar telat ke kantor, jangan mentang-mentang perusahaan keluarga kamu seenaknya masuk."


"Iya sayang iyaaa."


****


Untuk ke sekian kalinya aku harus menunggu Rega. Memang sih aku tahu dia sibuk—banget. Tapi bisakan harusnya ngabarin dulu atau paling tidak jangan memberi janji-janji palsu. Katanya di awal sudah bilang di awal iya gak akan telat. Taunya?


Tapi kali ini setengah jam yang lalu Rega memang sudah mengabariku lewat pesan singkat yang mengatakan ia harus menemui klien, mendadak memang katanya. Tapi dia bilang tiga puluh menit lagi akan sampai. Tapi—ini? Satu jam.


Aku baru mengambil baju pesananku di butik untuk pergi ke acara pernikahan teman semasa SMA. Juga mantan semasa SMA. Yah, Raka akan menikah minggu depan. Bulan lalu aku mendapatkan undangannya dan aku setengah berteriak melihat siapa mempelai wanitanya. Bahkan Rega sampai tergopoh-gopoh menghampiriku yang berada di depan pintu.


Raras.


Dia sudah hampir menikah dengan Raka. Aku turut senang mendengarnya. Langsung saja aku menelpon Raka saat itu juga. Aku meminta penjelasan kenapa dia bisa bertemu Raras sampai akhirnya mau menikah seperti itu.


Singkatnya, Raka sedang ada tugas keluar kota di Bandung dan kebetulan sekali Raras baru menyelesaikan kuliahnya di London. Mereka bertemu—nyambung—saling suka—pacaran—hampir menikah.


Dan sudah tepat satu jam aku menunggu Rega.


Aku menekan dial pada nomer Rega untuk menelponnya. Saat nada sambung terdengar, sebuah tangan melingkar di pinggangku.


"Lagi nungguin suaminya ya?" suara Rega lembut terdengar di telingaku. Mendengarnya membuat tanganku hampir menjatuhkan ponselku.


Tapi aku tidak mau terlena dengan itu semua, aku buru-buru melepaskan tangannya di pinggangku.


"Malem ini kamu tidur di luar." kataku datar.


"Kok gitu?" Rega memasang tampang innocent nya.


"Aku marah sama kamu."


"Aku gak bisa tidur kalo gak sama kamu.. jangan marah dong yaa? Janji deh aku gak kaya gitu lagi. Serius, sumpah."


Aku mendelik ke arahnya dan meninggalkannya lalu masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Rega masih bersikeras tidak mau tidur di luar ataupun di kamar lain. Melihat Rega yang seperti itu mau tidak mau aku luluh juga.


"Iya boleh di tidur di kamar, tapi jangan deket-deket aku tidurnya." kataku.


"Yaah, aku gak bisa meluk kamu dong?"


"Apaansih Rega udah di kasih hati jangan minta jantung dong."


Dan Rega hanya bisa mengangguk mengiyakan. Mungkin di pikirannya, daripada tidur di luar.


****


Resepsi pernikahan Raka dan Raras sama seperti Tante Shalom waktu itu. Mereka berdua memilih pesta kebun. Mungkin karena kalau di gedung akan terasa pengap kali ya. Lagipula juga bosan.


Ifa sudah datang dengan Dio—teman sekelas Rega waktu di SMA, mereka sudah menikah dan di karunia satu anak perempuan. Umurnya baru sekitar lima bulan. Yang jelas Ifa menikah lebih dahulu daripada aku. Sementara Bagas juga datang bersama Dita—pacarnya sejak SMA, Bagas memang sepertinya sudah cinta mati sama Dita, hubungan mereka awet sekali dari SMA. Mereka baru menikah bulan lalu.


Melihat itu semua, aku tersenyum pada diri sendiri. Tidak menyangka mereka semua sudah  menikah. Padahal dulu kami suka bermain ABC lima dasar bersama, kabur bersama, juga melepas masa-masa putih abu-abu bersama. Dan sebenarnya ini terasa aneh bagiku. Apalagi Ifa yang notaben benci anak kecil malah sekarang yang pertama lebih dahulu punya anak.


"Selamat ya.. i'm happy for you both." kataku saat menghampiri Raka dan Raras. "Semoga langgeng sama kakek nenek."


Raka tersenyum, "Thanks, Van. Lo juga ya sama Rega." Raka melirik Rega.


"Congrats, bro." kata Rega menyalami Raka. "Raras cewek baik-baik, jangan di sakitin."


Buru-buru ku cubit pinggang Rega, Rega mengaduh.


"Apaan sih, Ga. Emang Raka bakalan ngapain Raras sih?"


Raka dan Raras hanya tertawa menanggapinya.


"Gue percaya kok, Raka yang terbaik hehe." sahut Raras.


Setelah itu kami befoto bersama.


Badanku serasa pegal semua sehabis dari acara pernikahan Raka dan Raras. Entah mungkin itu efek dari kehamilanku juga kali ya? Padahal biasanya aku tidak gampang pegal-pegal.


"Capek?" tanya Rega menghampiriku ke samping tempat tidur sambil menyentuh kepalaku. Aku hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Gak."


Terakhir kali aku meminta di pijat, Rega bukannya memijat malah—Err tidak usah di jelaskan kalian pasti mengerti. Maka dari itu, aku tidak pernah mau lagi di pijat. Never.


"Udah sana ah tidur, aku mau tidur." kataku.


"Yaudaah."


****


1 year. 12 months. 365 days. 8760 hours. 525600 minutes. 31536000 seconds later..


 


 


 


 


"Siapa cowok paling ganteng di duniaaa?"


Papa.


Yah, aku sudah tau jawaban yang akan di berikan Nathan terhadap pertanyaan Papa nya barusan. Rega selalu menanyakannya seperti tidak pernah bosan dan Nathan selalu menjawabnya.


"Papa!"


Benar kan?


"Cowok ganteng kedua siapaa?"


Nathan.


Jawaban itu pun aku sudah tahu. Sebelum Nathan lahir, Rega sudah mempersiapkan semuanya. Hasil dari dokter katanya anaknya perempuan. Rega sudah membeli peralatan yang berbau pink-pink. Dan hari dimana aku melahirkan Nathan—semua orang mendadak diam. Yang keluar ternyata laki-laki.


Rega sudah mempunya niatan untuk membeli peralatan untuk laki-laki dan menyumbangkan saja peralatan yang berwarna pink-pink. Tapi aku selalu menentangnya.


"Gimana kalo anak kita nanti jadi agak mirip—cewek?" Rega bergidik memikirkannya. "Gak, aku gamau."


"Yaudah si, Ga. Emang ada hubungannya? Sayang-sayang banget udah beli peralatan sebanyak ini masa mau di sumbangin gitu aja? Gak, aku gamau."


"Tapi sayang—"


"Nggak, Rega." dan pada akhirnya dia mengalah. Dia memang selalu mengalah.


Maka dari itu Rega bersikeras mendidik Nathan agar jadi laki-laki banget walaupun dulu peralatannya sampai kamarnya pun berwarna pink. Tapi—kayanya bertanya siapa yang paling ganteng kayanya itu tidak nyambung deh. Yaudah lah, terserah Rega aja.


"Nathan!" suara Nathan terdengar sampai telingaku.


"Tos dulu dong yang sama-sama ganteng." aku yang mendengarnya menjadi senyum-senyum sendiri. Cara Rega mendidik anak memang super aneh.


"Kalo cewek yang paling cantik di dunia siapaa?" tanya Rega lagi.


Aku sudah kepedean dengan jawaban yang akan di berikan Nathan. Pasti gue lah, gue kan emak nya, batinku.


"Nadiaa!"


APA?


Nathan—kayanya kamu sudah tertular virus kekurangajaran Papa mu deh. Nathan baru masuk sekolah dasar bulan lalu dan aku baru tau kalau ternyata diam-diam dia sudah suka-sukaan sama perempuan?


Aku langsung beranjak ke depan tv untuk melihat Nathan dan Rega yang sedang duduk-duduk bareng sambil main mobil-mobilan.


"Siapa tuh Nadia?" tanyaku sambil duduk di sofa.


"Nadia cantik, Ma. Aku suka Nadia." jawab Nathan tanpa dosa.


Aku mengerjapkan mata sesaat, "Su-ka?" aku melirik Rega, seperti menyalahkan. "Gara-gara kamu nih."


"Kok aku?" Rega menatapku dengan tampang tidak bersalah.


"Kamu sih dulu genit sama cewek jadinya anaknya ikutan kan."


"Sejak kapan aku pernah deket sama cewek selain kamu?"


Iya sih.


"Pokoknya gara-gara kamu." aku tetap menyalahkan.


Rega berbalik memandang Nathan, "Kalo Papa sih, cewek paling cantik di dunia jelas Mamanya Nathan laah. Yaa walaupun sering bolot."


"REGA!" Rega hanya tertawa-tawa menanggapi.


"Oh iya, aku lupa. Iya deh Mama deng yang paling cantik." Nathan menghentikan mainan mobil-mobilnya lalu berjalan mendekat ke arahku. "Mama yang paling cantik di dunia!" Nathan memegang kedua pipiku dengan tangannya yang masih kecil.


Aku jadi merasa terharu gimana gitu. Ya Tuhan, kenapa anak yang kau berikan padaku lucu sekali sih?


"NATHAAAAN!" Nathan langsung menoleh ke arah pintu utama. Sepertinya teman-temannya sudah memanggilnya untuk bermain. "MAIN YUUUK!"


"Ma, Nathan mau main dulu yaa. Boleh kan?" ijinnya kepadaku.


"Iya boleh sayang, jangan kotor-kotoran ya mainannya."


"Pulangnya jangan kesorean." sambung Rega.


"Iya Mama cantik. Iya Papa ganteng." jawabnya. "Dadaaaah!" Nathan berlari-lari kecil keluar rumah. Aku memandangnya dengan senyuman di wajahku, begitupun juga Rega.


Rega tiba-tiba sudah duduk di sampingku dan merangkulku, "Nathan kan lagi main.."


"Terus?"


"Kita bikin adek buat Nathan yuk, kayanya Nathan kesepian deh."


"REGA AP—"


Belum sempat aku berteriak menjawab aku sudah di bawa Rega menuju ke kamar. Percuma juga mau memberontak seperti apa. Lagipula, itu sudah menjadi tugas seorang istrikan untuk melayani suami?


"I hate you so much." kataku.


"Love you too."


Kemudian di tutup dengan bibirnya yang menyentuh bibirku. Selanjutnya-------bye. Itu rahasia.


*