Vanilla

Vanilla
Episode 14



Sampai malam pun aku masih merasa ada yang mengganjal di bibirku. Berulang kali aku menatap ke kaca yang menyatu dengan lemari dan memegang-megang bibirku. Ciuman pertama memangnya bakalan membekas seperti ini ya? Padahal ini sudah lewat dari jam dua belas malam itu artinya sudah lebih dari 4 jam sejak kejadian tadi.


Aku baru menyadari bahwa aku telah melewati batas dari jam tidur malamku yang biasa. Biasanya, lewat dari jam sepuluh dimana pun berada aku pasti akan tertidur. Tapi ini? Sembari mendengus kesal karena tidak bisa tidur juga karena ada sesuatu di bibirku, aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasur.


Me: Ga


Karena bosan aku mengirim sebuah line pada Rega. Namun aku tak banyak mengharap balasan dari Rega, karena aku tahu Rega tidak jauh berbeda dariku yang mempunyai jam batas tidur kurang dari jam sepuluh.


Namun getaran di ponselku mengubah pemikiran barusan. Ternyata Rega membalas line ku! Wah, bisa samaan gini?


Abrega Mahardika: gue tebak lo gabisa tidur


Me: ih, kok tau?


Abrega Mahardika: tau lah, gue


Kayanya Rega tau banget gitu ya tentang gue.


Me: Ga


Abrega Mahardika: apansih Ga Ga mulu


Me: masa bibir gue jadi aneh


Abrega Mahardika: aneh gimana?


Me: gitu deh, kaya ada sesuatu gitu


Abrega Mahardika: alah bilang aja seneng gue cium


Me: APANSI


Abrega Mahardika: yaudah gausah di pikirin, kan kita udah sepakat tadi itu anggep aja ga pernah kejadian? sekarang mending lo tidur gih, awas aja besok gue harus nunggu lama garagara lo telat bangun


Me: gabisa tidooooorrrr


Line terakhir yang kukirim hanya di read oleh nya. Aku mencibir sebentar, ah pasti Rega udah tidur. Pasti dia ketiduran. Namun lagi-lagi pemikiran barusan berubah karena ponselku bergetar bukan hanya sekali, namun berkali-kali.


 


 


Rega Calling..


 


 


“Kenapa gabisa tidurnya?” suara berat Rega terdengar di ujung sana, sambil memasang earphone di telinga dan menatap ke langit aku menjawab.


“Gara-gara tadi di bilang.”


Helaan nafas terdengar, “Yaudah, terus gue harus apa biar lo tidur?”


Aku menimbang-nimbang sebentar, “Emm, gatau.” aku menyerah untuk mencari jawaban. Jika aku menyuruh Rega nyanyi juga tidak akan di kabulkan. Mana mau Rega nyanyi?


“Kaya bayi aja sih lo,” kata Rega. “Sekarang coba tutup mata lo.” Rega memberikan instruksi, aku mengikuti instruksinya. “Udah tutup belom?”


“Hmm.”


“Bentar ya.” terdengar suara ponselnya di letakkan dan Rega beranjak menjauh. Aku mengernyit dalam pejaman mataku. Namun tetap memejamkan mata karena ingat instruksinya. Hampir satu menit akhirnya terdengar suara grasak-grusuk.


“Itu apaan grasak-grusuk?” tanyaku.


“Diem aja deh, tutup aja mata lo.” sahut Rega. “Tarik nafas terus buang.”


“Ini lo lagi nyuruh gue senam pendinginan apa?” komentarku.


“Bawel, ikutin aja.”


Aku mengikutinya. Ada jeda dari kalimatnya tadi sebelum aku benar-benar memfokuskan pendengaranku dengan apa yang ku dengar saat ini.


Suara gitar?


“Ga..” panggiku. “Lo.. sejak kapan bisa gitar?”


“Baru belajar sih sebenernya tiga bulan yang lalu—udah deh jangan banyak komentar, dengerin gue main gitar aja. Oh iya, FYI aja ya, lo orang pertama yang denger gue main gitar, oke? Berbanggalah anda.”


Aku hanya mencibir mendengar kalimatnya tadi. Malas juga untuk berbacot ria dengan Rega apalagi ini sudah malam. Beberapa saat kemudian mengalun sebuah instrumen dari senar-senar gitarnya. Pelan, lembut, membuat pikiranku tenang. Rasanya aku berada di sebuah dimensi lain selain kamarku.


Lama aku menikmati alunan gitar yang di bawakan Rega. Perlahan mataku mulai terpejam secara alami, bukan di paksakan. Tubuhku seakan rileks dalam posisi nyaman. Masih bisa kudengar sayup-sayup suara alunan gitar tersebut sampai aku merasa benar-benar akan tertidur.


“Udah tidur?” samar aku mendengar suara Rega, aku ingin menjawabnya namun mataku tak ingin berkompromi hanya untuk sekedar membukanya apalagi mulutku seakan telah terkunci.


Beberapa saat aku sudah tidak mendengar apa-apa lagi, mungkin telponnya sudah terputus mengingat aku tidak menjawab-jawab pertanyaan Rega. Barangkali Rega mengira bahwa aku sudah tidur.


Memang, sekarang aku benar-benar berada di alam mimpi.


 


 


“Love you,”


****


 


 


Pagi-pagi sekali aku pergi ke rumah Rega di antar oleh Vandy yang akan berangkat nge-gym. Mbok Diah, pembantu di rumah Rega mempersilakan ku masuk. Aku langsung naik ke atas dan mengendap-ngendap masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Rega masih meringkuk di atas kasurnya sambil sebuah bantal menutupi kepalanya.


Suara dengkuran khas Rega terdengar, aku berjalan mendekati Rega. Kuambil jam weker yang terletak di atas meja dan menyalakan alarm.


TRIIIIINGGG!


Demi Tuhan ya, hal paling susah selain pelajaran di sekolah adalah membangunkan Rega. Seumur-umur aku belum pernah berhasil membangunkannya kecuali kusiram air dengan gayung. Itu juga ujung-ujungnya Rega hanya marah-marah sebentar lalu melanjutkan tidurnya kembali.


“Regaaaa bangoooon!” kataku, suara alarm yang melengking masih memenuhi kamar. “REGAAAA! REGAAAAA!” capek teriak-teriak dan keberisikan sendiri karena alarm yang masih berdering.


“Bacot banget lo alarm berisik.” ujarku sambil mematikan alarm. Aku berkacak pinggang di samping Rega, itu anak satu masih dengan posisi tidurnya.


“Ga, bangun ih! Udah jam sembilan juga!” sebenernya aku ke rumah Rega gara-gara aku sudah bisa memasak. Hihi, mau tau masak apa? Liat nanti ya, tunggu Rega nya bangun dulu.


“Abrega, woy!” kuguncang-guncangkan bahunya yang hanya di balas dengan dengusan. “Rega gue mau nunjukkin sesuatu niiiihhhh ke eloooo.” yang di guncang-guncangkan tetap pada posisinya. Tidur.


Kemudian aku berhenti sebentar karena kelelahan mengguncang-guncang tubuh Rega yang besar seperti gajah, ngga deng boong. Ngga gajah juga.


Aku menarik nafas sebentar lalu menghembuskannya, “REGA, GUE HAMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIILLLL!”


Jeritanku sukses membuat Rega terlonjak dari tempat tidurnya, langsung berdiri di sisi ranjang berlawanan arah denganku. Wajahnya yang mengantuk terlihat tegang menatap ke arahku. Buru-buru ia menghampiriku.


“Serius? Lo hamil? Sama siapa?” tanyanya beruntun. “Masa gara-gara ciuman doang lo langsung hamil? Lagian itu udah dua hari yang lalu kali.”


“Haaaah sukseeessss!” seruku senang. “Bego lo, masa iya gue hamil. Sekarang ikut gue cepetan.”


“Sialan lo, gue kira hamil beneran.” kata Rega mengekor di belakangku detik selanjutnya ia menarik tanganku yang baru mau keluar pintu. “Eh, mau kemana?”


Aku langsung cengar-cengir ke arahnya, “Gue baru belajar masak, hehehehe.”


Rega menaikkan salah satu alisnya, “Terus?”


“Lo harus jadi orang pertama yang nyobain.”


“Idih ogah, ntar kalo gue keracunan gara-gara masakan lo gimana?”


Lagsung kubalas dengan tatapan sewot, ini anak bagus-bagus di kasih ultimatum sebagai orang yang nyobain masakan pertamaku malah menghina.


“Jadi lo gamau?” tanyaku ketus.


“Ngga deh kapan-kapan aja.” ujar Rega santai. Mendengar jawabannya aku langsung mengeluarkan ponselku. “Ngapain tuh ngeluarin hp?”


“Kepo.” balasku, beberapa saat kemudian setelah mengetikkan sebuah kalimat ponselku langsung di ambil oleh Rega.


“Apaan nih? Mau nge-line Raka? Gue bilang kan gue gasuka lo deket sama dia, batu.”


“Lagian lo gamau jadi orang pertama yang nyobain masakan gue, yaudah gue mau line Raka deh buat jadi orang pertamanya.”


“Ngga! Ngga bisa.” ujar Rega cepat membuatku mengernyit sesaat. “Ngg..maksud gue—emang siapa sih sahabat lo? Raka? Emang dia siapa lo? Ngga jadi, gue mau deh nyobain. Sekarang cepetan sana ke dapur masak yang enak buat gue.” Rega mendorongku agar turun ke bawah.


“Plin plan! Katanya tadi gamau?” cetusku.


“Masak-masak aja sana.” aku mencibir sambil berjalan ke dapur.


“Ko sepi sih rumah lo, Ga?” teriakku dari dapur. “Mbok Diah, aku aja yang masak sarapan buat Rega. Mbok ke kamar aja ya? Ya? Oke, daaah mbok.”


“Pergi!” balas Rega sambil teriak juga.


****


Rega


 


 


Klontang! Klontang!


Tuh kan, baru juga dua menit ada di dapur ada aja benda yang jatoh. Mau ga mau, gue rada ketawa dikit juga. Gangerti gue sama jalan hidup Vanilla. Bodo amat dah dia lagi ngapain kek di dapur. Liat aja nanti hasilnya.


“Waaaa!” teriakkan Vanilla terdengar sampai ruang tv. Gue yang lagi santai-santai nya nonton doraemon mau ga mau nengok juga.


“Kenapaa?” aku yang kepo sebenernya dia masak apa sampai kayanya ribet banget bertanya.


“Gapapaa.” jawab Vanilla.


Oke, serah lo dah Van.


Setelah beberapa menit akhirnya Vanilla menyuruhku ke dapur. Dan ngga heran lagi, gue udah ga shock kalo nasip dapur rumah gue jadi macem kapal kebelah jadi seribu. Di depan gue sekarang Vanilla lagi cengar-cengir sambil mengangkat sebuah piring.


“Omelet isi kornet ala chef Vanillaaaa!” Vanilla mempersembahkan masakannya, bikin gue ketawa. Banget.


Gue liat Vanilla mengerucutkan bibirnya karena gue ketawa. Tapi ini emang lucu banget, kalo Cuma omelet ginian mah gue juga sering kali bikin. Buat ngehargain usahanya karena udah mau bikinin sarapan buat gue, apalagi katanya gue orang pertama yang nyobain masakannya. Gue seneng aja jadinya. Jadi, gue stop ketawa.


“Bilang makasih kek apa kek udah di masakin!” ujar Vanilla.


“Iyaa iyaa, makasih yaaaa.”


Gue bawa itu omelet ke meja makan, dengan Vanilla yang daritadi ngeliatin gue terus kayanya ngarep banget makanannya di komentarin. Tapi lama-lama gue risih juga di liatin.


“Gila ya, gue ga mood makan nih kalo di liatin terus.” kata gue.


Tapi malah di sambut dengan senyuman cerah olehnya, “Ih lama banget si makan doang, gue suapin aja sini.”


Sebelum gue sempet megang itu piring, piringnya keburu di rebut sama Vanilla dan dia motong omelet itu pake sendok. Membawanya ke depan mulut gue sekarang. Gue merasa gagal menjadi seorang laki-laki. Gue merasa di ambiguin sama cewek ini.


“Aaaaa!” kata Vanilla. “Cepetan ih makan!”


Selebihnya, gue udah stres duluan deh ngadepin dia.


PS: Omelet isi kornetnya enak juga, kalo mau nyobain minta aja gih sama Vanilla. Sekarang gue lagi di tarik sama dia buat mandi terus di suruh nganterin dia beli buku.


****


Setelah beli buku banyak di toko buku, aku dan Rega pergi ke sebuah cafe rekomendasi dari Bagas. Katanya waktu pas pertama nge-date sama Dita ga sengaja dia nemuin itu cafe. Tempatnya asik banget katanya. Rega harus memarkir motornya di jarak yang cukup jauh dari cafe karena cafe itu tidak ada tempat parkirnya.


Jadi kami harus berjalan sebentar agar sampai, di tengah jalan Rega meraba-raba kantongnya.


“Dompet gue ketinggalan,” katanya. “Lo masuk duluan aja, nanti gue nyusul. Awas tuh jalan yang bener tengok kanan sama kiri nan—“


“Aduuh berisik ah, iya iya.” belum sempat Rega menyelesaikan kalimatnya aku langsung ngeloyor pergi.


Aku berjalan santai menuju ke cafe, kulewatkan beberapa toko yang menarik perhatianku. Sebentar aku berhenti dahulu lalu melihatnya kemudian berjalan lagi. Tinggal menyebrang jalan satu kali aku sampai pada cafe tersebut. Namanya cafe bean.


Karena terlalu semangatnya menuju cafe aku sampai lupa pesan Rega. Aku tidak tenog kanan dan kiri saat menyebrang, sebelum sempat sadar apa yang akan terjadi. Sebuah suara terdengar dari ujung sana.


“VANILLA, AWAS!” aku menoleh ke sumber suara, ternyata Rega sedang berlari ke arahku sekitar seratus meter dari tempatku berada. Wajahnya panik bukan main. Aku bingung, ada apa sebenarnya? Sebelum tahu apa yang terjadi, kurasakan tubuhku terjengkang ke belakang. Refleks aku menutup mata.


Jadi, apa aku ketabrak mobil? Apa aku sudah mati? Kok tidak sakit rasanya? Hanya saja, sedikit nyeri bagian sikutku. Tapi kurasa tidak, aku tidak ketabrak—maksudku, ah syukurlah. Jadi, apa ada yang menolongku? Rega?


Perlahan aku membuka mata dan mengerjap-ngerjap sebentar. Aku meringis sebentar sebelum benar-benar membuka mata. Kurasakan tubuh seseorang berada di atasku dan tangannya menjaga kepalaku agar tidak terbentur jalanan. Wanginya bukan wangi Rega.


“Lo.. gapapa?”


Aku bengong sesaat saat tahu siapa dia, “Ra-ka?” bagaimana dia bisa berada disini?


“Lo gapapa kan?” ulangnya. “Sikut lo berdarah.” Raka membantuku untuk bangun. Aku menoleh pada sikutku, hanya luka kecil.


“Thanks ya udah nolongin gue.” kataku pelan.


“Anytime, luka lo harus cepet di obatin.” tukas Raka sambil mengecek sikutku.


“Biar gue aja yang ngobatin.” suara berat khas Rega terdengar sampai ke telingaku. Dia sudah berada di sampingku sambil memegang lenganku. “Sakit?” kata Rega lembut ke arahku.


Aku hanya meringis, “Iyalah sakit!”


Rega menatap sebentar ke arah Raka, “Thanks ya.” katanya walau sedikit canggung dan kelihatan tidak ikhlas.


“Sip.” jawab Raka lalu melirik ke arahku sebelum aku di bawa Rega meninggalkan tempat. Aku sempat tersenyum ke arah Raka sebelum Raka beranjak pergi berlawanan arah dengan kami.


“Adow sakit tau! Pelan-pelan kek! Gue cewek nih!” untuk ke sekian kalinya aku protes pada Rega yang sedang mengobati lukaku.


“Ck, bagus-bagus di obatin! Ini udah paling pelan! Lagian gue meragukan kecewekan lo.” kalimat terakhirnya membuatku mencubit lengan Rega. Dia hanya meringis pelan. “Udah ah capek gue.” kata Rega setalah membalut lukaku.


“Ya emang udah.” aku meniup-niupnya.


“Ngapain sih di tiup-tiup?”


“Biar sakitnya ilang.”


“Susah ngomong sama orang yang otaknya terbang.”


“Rega, guesebelsamalobodo.” kataku cepat dan memalingkan wajahku darinya.


****


Setiap tiga bulan sekali keluargaku selalu mengadakan acara keluarga. Terdiri dari sepupu, saudara, keponakan, tante, om, bude, pakde, juga eyang putri dan kakung. Kali ini di adakan di sebuah restoran di pinggir pantai. Suasananya sangat romantis untuk keluarga juga pasangan muda-mudi.


Anak adik dari Papa, Caramel meghampiriku seperti biasa. Dia adalah saudaraku yang jutek nya minta ampun. Setiap kali kami bertemu pasti dia akan selalu berbicara tentang Rafa-nya. Rafa yang ngeselin, bikin sewot, bikin naik darah. Semua hal yang Caramel tidak suka dari dirinya.


Hah, dasar cewek zaman sekarang. Dimana-mana benci jadi cinta. Tapi Caramel selalu mencak-mencak dan menentangnya.


“Gimana si Rafa?” tanyaku.


“Lumayanlah, nilai rapotnya naik. Gue aja mangap pas kepsek ngasih tau gue.” ceritanya baru saja di mulai. “Kemarin aja tiba-tiba dia ngajak gue ke restoran jepang gitu. Ya gitulah, ga ngerti gue.”


“Mulai suka kali sama lo.” cerocosku.


“Sampe eyang ikut xfactor gue ga suka sama dia.” jawabnya. “Gue gabisa kebayang kalo gue sama dia. Tiap hari gue marah-marah, terus gue kena penyakit darah tinggi, lama-lama gue jantungan. Gue keriput, gue menua. Lalu gue mati bukan pada waktunya. Ngga deh, ngga.” Caramel bergidik membayangkannya membuatku tertawa.


“Ngomong-ngomong, mana Mocha?”


Adalagi saudaraku yang satu itu namanya Mocha, Mochaccino. Adik pertama dari Papa. Mengingat Papa ku anak pertama, Papanya Mocha anak kedua dan Papa nya Caramel anak terakhir. Nama kami sama kan? Maksudnya namanya aneh, macem rasa. Tiba-tiba Mama yang mempunyai ide seperti itu karena kebetulan kami lahir di tahun yang sama hanya saja bulannya berbeda-beda. Jadi, begitulah.


“Tuh dia.” tunjukku pada seorang perempuan yang sedang duduk di pinggir pantai. Kebiasaannya emang suka menyendiri. Walaupun ternyata kalau di telusuri lebih jauh anaknya asik banget gila.


“Eh disini ternyata, calon penulis.” sahut Caramel sambil duduk di samping Mocha.


“Gimana novel nya?” tanyaku.


“Lagi proses, tapi gue bingung soalnya tu novel dari cerita gue sendiri.”


“Non-fiksi gitu?”


Mocha mengangguk, “Soalnya kemaren gue ketemu cowok di cafe pas gue lagi nulis. Dia—ah lo berdua harus liat sendiri deh.”


“Gimana sih emaaang?”


“Matanya item banget. Banget, pake D. Tajem, nusuk, gue suka banget sama matanya. Kek mata elang gitu. Dan lo tau ga ternyata namanya siapa?”


“Siapa?”


“Namanye Elang.”


“Weh, jangan-jangan lo bakalan move-on lagi dari siapa tuh namanya..Al..”


“Alfa?” sambungku.


“Nah iyalah gitu.”


Lalu kami berdua terlibat dalam obrolan remaja sepeti biasanya. Dari mulai Rafa, Elang, Alfa, siapa aja lah yang enak jadi bahan omongan. Sampai topik mengarah kepadaku.


“Gimana kabar Rega?” tanya Mocha.


Duh, cerita ga ya tentang yang waktu itu..


 


 


“LO SERIUS?” dengan dahsyatnya Caramel berdiri dari tempatnya. Seakan tidak percaya. “Gila! Kok lo bisa di cium sama dia?”


“Gatau.”


“Gampang lah di tebak cerita-cerita kaya lo. Nanti lo pasti juga ujung-ujungnya sama Rega.” sahut Mocha. “Sahabat antara cewek sama cowok kan dimana-mana emang pilihannya Cuma dua. Lo sama dia saling suka atau salah satu dari lo harus merasakan sakit hati.”


“Ngga, ngga mungkin Rega suka sama gue. Gue sama dia udah sahabatan dari SMP, jadi ga mungkin. Kayanya pendapat lo salah Cha, gue sama dia sama-sama gasuka. Dan ciuman itu Cuma refleks gara-gara suasana.” jelasku. “Lagian.. kayanya gue lagi suka sama seseorang.”


Teringat kejadian minggu kemarin saat Raka menolongku. Seperti ada gelenyar rasa berbeda saat pertama kali aku membuka mataku dan mendapati dia baru saja menolongku.


“SIAPA?”


“Tapi gatau juga sih ini suka apa ngga, kayanya gara-gara rasa terimakasih gue deh gara-gara minggu kemarin dia nolongin gue.” jelasku lagi.


*