
Setiap kata yang keluar dari bibir Ifa, membuatku semakin merasa bahwa aku adalah orang yang paling egois di dunia. Ifa menceritakan semuanya. Tanpa ada yang di potong sedikit-pun. Bahkan sampai titik dimana Rega akan menyatakan perasaannya dan dengan bodohnya aku malah—sudahlah.
Aku mengelap sisa-sisa airmata yang masih tersisa, "Rega bener-bener cinta sama lo, Van. Gatau ya gue lebay apa ngga, tapi gue merasa ya.. dia cinta sama lo." kata Ifa. "Lo gak tau gimana setiap Rega ngeliatin lo tanpa lo sadarin. Dan akhirnya gue dan Bagas menyimpulkan kalo dia udah mulai suka sama lo sejak itu."
"Emang semua salah gue.. gue nya yang bego dan gak peka." kataku pelan.
"Bukan sepenuhnya salah lo, Van." sahut Ifa menengahi. "Karna mungkin lo udah terbiasa sama Rega, tiap hari lo ketemu dia, dijemput dia—jadi, lo tuh gak bisa ngebedain perasaan sayang lo ke Rega sebagai apa." jelasnya.
"Dan lo sadar pas lo udah gak sama dia lagi. Lo merasa ada yang kosong dalam diri lo pas lo gak sama Rega." tambahnya. "Harusnya lo bersyukur Rega pergi dari lo—seenggaknya itu bikin lo sadar, kan?"
"Tetep aja gue merasa gue salah, harusnya waktu pas Rega nyi—" aku kelepasan ngomong dan buru-buru menutup bibirku dengan tangan kananku.
"Nyi? Maksud lo—"
"Rega pernah nyium gue—sekali—di bibir—plis gak usah di bahas." jawabku setengah malu.
"SUMPAH! Gue gak nyangka kalo kalian berdua udah sampe kesana." ucap Ifa seakan tidak percaya dengan apa yang baru di dalamnya. "Gimana ceritanya lo sama—sialan, gue speechless banget."
"Itu gak sengaja—di luar kendali—udah elah gak usah di bahas." kataku. "Terus sekarang gue harus gimana?"
"Masalah lo Cuma satu." jawab Ifa cepat.
Aku tahu benar apa masalahku.
Masalahnya memang Cuma satu dan itu terletak pada satu orang. Raka. Sekarang dia adalah pacarku—bagaimana caranya aku bisa mengatakannya pada Raka?
Kenapa sih hidup ini harus ribet banget?
"Gue gak yakin bisa, Fa."
"Lo coba bilang baik-baik ke Raka."
"Ya lo ngomong gampang sekarang—coba lo jadi gue, di depan lo ada pacar lo dan lo harus bilang ke dia kalo ceweknya udah move on. Terus ceweknya minta putus." celotehku. "Itu gue kurang jahat apa coba? Gue udah egois sama Rega. Dan sekarang gue harus jahat sama Raka? Mau di kata cewek apa gue?"
"Emang sih—tapi mau gak mau lo harus bilang ke Raka. Jangan sampe lo nyakitin Raka gara-gara tiap jalan sama dia, pikiran lo ke cowok lain."
"Gue gak yakin, Fa. Demi apapun."
"Makanya coba!"
Mungkin aku memang harus mencoba. Entah kapan.
Malam ini aku makan malam bersama Raka, tapi pikiranku sudah melayang-layang entah kemana. Memikirkan tentang Rega yang entah apa kabarnya. Masalah perasaanku terhadap Rega. Juga masalah hubunganku dengan Raka. Semuanya menyatu malam ini.
Mungkin karena Raka merasa aku daritadi hanya diam saja. Apalagi makananku juga tidak tersentuh—baru dua suap aku makan—Raka meletakkan sendok dan garpunya ke samping.
Raka menghela nafas sebentar, "Akhir-akhir ini aku merasa kamu diam terus, kenapa?" tanyanya.
Aku mencoba untuk tersenyum walaupun rasanya susah sekali dan menggeleng pelan, "Gapapa, Ka." dan aku mengambil sendok dan garpuku, pura-pura makan.
Dalam hati aku merutuki diri sendiri. Gak mungkin kan kalau aku bilang ke Raka kalau aku sedang memikirkan laki-laki lain selain dia? Gak mungkin kan kalau aku bilang ke dia tiba-tiba? Tentang—semuanya. Perasaanku yang bisa di bilang mungkin telah berubah.
Kalian boleh menyebutku apapun yang kalian mau. Silahkan judge diriku, tapi perasaanku memang telah berubah setelah minggu lalu semua rahasia baru ku ketahui.
Raka mungkin mengerti dan sebagai balasan ia juga tersenyum mengalah, "Kalo ada masalah, aku siap dengerin kok."
Dan, kalimatnya sukses membuatku makin sulit untuk mengatakan semuanya, Raka terlalu baik untuk di tinggalkan. Sepertinya dia salah memilih wanita. Seharusnya dia tidak menyukaiku dari awal.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Di dalam mobil tidak ada yang berbicara di antara kita berdua. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk memulai pembicaraan. Dan sepertinya Raka mengiraku sedang badmood sehingga dia tidak mengajakku berbicara.
Mobil Raka memasuki halaman rumahku.
"Makasih ya, Ka." ujarku pelan.
Aku baru akan membuka pintu mobil ketika tanganku di tahan olehnya. Refleks aku menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku siap dengerin kapanpun kamu mau cerita." katanya.
Seperti ada palu godam yang **** dadaku. Sialan, masalahnya itu ada di kamu, Raka. Tapi aku gak mungkin kan blak-blak an buat bilang?
Tapi—sepertinya aku harus mencoba.
Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Aku menggigit bibirku pelan, "Sebenernya aku—"
Tiba-tiba Raka mengulumkan senyum kepadaku, "Aku tau, Van."
****
Raka
Akhir-akhir ini setiap gue jalan sama Vanilla, gue merasa kalo gue lagi gak jalan sama dia. Tubuhnya emang ada di samping gue, tapi jiwanya entah kemana. Gue gak tau apa yang di pikirin dia. Tapi gue merasa ada sesuatu yang dia pengen bilang ke gue tapi dia gak bisa.
Setelah gue perhatiin cukup lama, akhirnya dia nyoba buat ngomong.
"Sebenernya aku—"
"Aku tau, Van." jawab gue cepat.
Vanilla sedikit terperangah karena kalimat gue tadi, "Kamu—"
"Ya aku emang gak tau apa masalahnya. Tapi aku siap dengerin—walaupun kamu kaya susah buat cerita. Tapi—aku siap dengerin apapun yang keluar dari bibir kamu."
Vanilla menghela nafas sebentar, berat.
"Aku—aku udah tau semuanya—tentang Rega," katanya. "Rega.. dia.. semenjak dia pergi buat ngambil beasiswanya, aku merasa ada yang kosong dalam diri aku. Awalnya aku ngira itu mungkin Cuma kehilangan sahabat yang biasanya aku selalu sama dia—tapi semenjak seminggu yang lalu—aku nemuin surat Rega—dia—" Vanilla diam sebentar, dia kaya udah gak bisa nerusin lagi.
Mungkin dia takut buat nyakitin gue. Tapi gak perlu di jelasin lebih lanjut lagi gue ngerti maksudnya.
"Aku ngerti maksud kamu, Van." gue nyoba buat senyum ke dia.
"Maaf, Ka." Vanilla nundukin mukanya. Merasa bersalah.
"Aku tau kamu gak bisa bilang ini ke aku—jadi aku aja yang bilang ke kamu." gue menghela nafas sebentar. "Kita sampai disini aja,"
Vanilla langsung natep muka gue, pandangan bingung sekaligus—senang juga.
"Kamu pasti gak enak kan buat mutusin aku? Jadi aku aja yang mutusin kamu." kata gue. "Sekarang udah gak ada yang perlu kamu takutin lagi."
"Kamu—serius?"
"Kapan aku pernah bercanda sama kamu?"
Detik itu juga Vanilla langsung ngehamburin dirinya ke gue. Dia meluk gue, sebagai tanda terimakasih. Gue Cuma bisa senyum aja. Gue yakin ini keputusan yang terbaik.
Gue gak bisa egois sama perasaan gue tanpa mikirin perasaan Vanilla. Gue sayang dia, tentu. Tapi gue mau ngeliat dia bahagia, walau kebahagiannya bukan sama gue. Gue juga gak mau jadi cowok brengsek yang seakan buta tentang semuanya. Pura-pura nggak tau perasaan Vanilla tapi sebenernya gue tau.
Vanilla seneng, gue juga seneng.
Dan gue pikir itu keputusan terbaik yang pernah gue ambil setelah keputusan gue meng-iyakan lamaran Om Ginanjar ke Mama dulu.
"Makasih, Ka. Makasih sekalgi lagi.." bisik Vanilla berulang kali.
"Anytime, Vanilla."
****
Perasaanku tidak tergambar saat ini—Raka memang terlalu baik—kebaikan malah. Yang kulakukan setelahnya adalah masuk ke dalam rumah dan baru aku membuka pintu utama rumah, aku langsung berteriak lantang.
Seakan segala penjuru rumah dan isinya harus tau.
"MA, PA, VANILLA MAU KE LONDON!"
Dua detik setelah aku mengatakan itu, pintu kamar Mama dan Papa langsung terbuka. Diikuti suara pintu kamar dari atas milik Vandy dan Vika. Juga Bi Inah tergopoh-gopoh muncul dari arah dapur.
"APA?"
Jawaban mereka semua sama. Tampang mereka semua terkejut. Tidak menyangka, anak bungsu sekaligus adik bungsunya dengan lantangnya bilang ingin ke London.
Vandy dan Vika nongol dari balkon, "SERIUS?"
"Vanilla mau ke London, Ma, Pa, gimanapun caranya. Vanilla mau ketemu Rega." kataku. "Ya siapa tau Vanilla juga ketemu One Direction."
Butuh waktu tiga hari aku meyakinkan tentang keinginanku yang tiba-tiba pada kedua orangtuaku. Berbagai alasan kukeluarkan agar mereka memperbolehkanku. Dan keputusan akhir adalah BOLEH. B O L E H.
Papa langsung menghubungi orangtuanya Rega, dimana ia mengatakan bahwa aku akan ke London. Tapi buru-buru aku bilang ke Papa, bilang ke Rega nya jangan aku yang datang. Bilang saja anaknya temannya Papa nya Rega yang ingin jalan-jalan ke London. Dan Rega harus menjemputnya.
Aku ingin memberikan kejutan untuk Rega.
Jadi, aku tidak mau kalau sebenarnya anak temannya Papa nya Rega itu ya aku, Vanilla.
Keberangkatanku ke London sekitar dua minggu dari sekarang. Email balasan dari Rega juga sengaja kubiarkan. Biarkan saja. Di balesnya ntar aja pas ketemu langsung, pikirku. Dua minggu terakhir ini aku sibuk senyum-senyum sendiri. Menerka-nerka bagaimana reaksi Rega kalau tiba-tiba aku disana.
Ah, aku tidak sabar bertemu Rega.
"Syal, jaket, sepatu boots, udah?" Mama yang paling repot mengurus kepergianku. Apalagi musim di sana sedang musin dingin. Jadi segala keperluan agar aku hangat harus di bawa dan tidak boleh ada yang tertinggal.
"Udah, Ma." kataku.
"Obat-obatan?"
"Ribet amat, Ma." sahut Vandy yang baru pulang kuliah.
"Gimana gak ribet? Ini adek kamu mentang-mentang baru masuk kuliah udah minta pergi ke luar negri—jauh lagi."
Ifa dan Bagas mendengar kabar bahwa aku akan ke London juga seakan tidak percaya.
"Lo serius, Van?"
"Lo gak boong, kan?"
"Ngapain sih gue boong."
Pada akhirnya Ifa dan Bagas sibuk nitip barang yang mereka inginkan untuk aku bisa membelikannya disana. Alasannya sih biasa, gak ada di Indonesia.
Dan bla bla bla.
****
Setelah menempuh perjalanan lama dan bokongku pegal akibat kelamaan duduk di pesawat. Akhirnya aku menginjakkan kakiku di London Heathrow Airport. Seperti orang yang tidak tahu apa-apa, aku celingukkan mencari Rega.
Rasanya deg-degan sekali setelah sekian lama tidak bertemu dengan Rega dan tiba-tiba akan bertemu kembali. Sambil menarik koper aku berjalan saja ke arah papan arahan membawaku keluar. Aku hanya berpanduan pada tulisan exit.
Sampai aku bisa melihat dari kejauhan tubuh yang sudah lama aku rindukan berada sekitar duapuluh meter dari tempatku berdiri.
Rega, dengan jaket jeans yang melekat di tubuhnya berdiri duapuluh meter di depanku. Tangannya sibuk memegang ponselnya, seperti menelpon seseorang. Sepertinya dia menelpon Papanya karena si anak temannya lama banget datengnya.
Keliatan dari raut mukanya yang sudah sedikit kesal.
Dengan semangat juga sambil menarik koperku, aku berjalan mendekatinya. Senyum jelas tergambar di bibirku. Sampa jarakku bersisa sekita lima meter di belakangnya, aku baru akan menyapanya.
"Re—" tapi suaraku tertahan di dalam kerongkongan ketika kulihat siapa yang baru datang dan sekarang berdiri tepat di depan Rega. Catat, berdiri dengan jarak yang cukup dekat. Aku memerhatikan dengan seksama apa yang mereka lakukan.
Rega menaruh ponselnya di dalam saku celananya dan sibuk berbicara dengan perempuan yang di depannya tadi.
Demi alam semesta, selama aku bersahabat dengan Rega belum pernah aku melihatnya sedekat itu dengan perempuan. Apalagi sampai tertawa seperti itu.
Ada perasaan aneh di dalam hatiku—yang kuyakin itu pasti.. cemburu.
Tiba-tiba yang tadinya aku bersemangat untuk bertemu Rega menjadi tidak lagi bersemangat. Semuanya seperti jatuh dan hanya menyisakan bulir-bulir kecil. Sebenarnya siapa perempuan itu? Temannya? Tapi—Rega tidak pernah bercerita tentang teman perempuan. Bahkan dalam emailnya yang selalu seabad di balasnya.
Sebelum sempat memikirkan semuanya, Rega berbalik untuk menghadap ke belakang. Dan di saat itulah tatapan kami bertemu.
Bisa kulihat dengan jelas wajahnya yang sangat terkejut melihat keberadaanku. Dia seperti baru melihat hantu, coba saja kalau sebelumnya aku tidak melihatnya dengan perempuan itu. Mungkin aku sudah tertawa. Tapi—aku hanya diam saja.
"Vanilla?"
Bagus, lo masih inget nama gue, Ga.
*
I