Vanilla

Vanilla
Episode 8



Daritadi aku hanya menggerak-gerakkan kakiku dengan gusar. Tak henti-hentinya rapat osis ini selesai, padahal masalahnya sepele. Hanya membahas tentang lomba-lomba yang akan di adakan saat classmeeting. Kalau aku ingin mendengarkan lagu juga tidak enak, nanti Rama sang ketua osis memelototiku.


Me: bete


Aku mengirimkan sebuah line pada Rega yang tepat berada di sampingku. Sengaja aku mengatakannya lewat line, kalaupun berbisik juga pasti akan terdengar karena suasananya sedang sepi sekali.


Abrega Mahardika: sama


Me: gerah


Abrega Mahardika: sarap lu gerah dari arab saudi! AC dua gini juga


Me: gue gerah sama si Rama. Tai, mending ganteng


Abrega Mahardika: lah


Me:pulangggggg!!!!!!!!


Abrega Mahardika: diem lu ah, liat tuh si Rama ngeliatin kita


“Rega, Vanilla, lo ada pendapat ga?” tanya Rama yang ngegep aku dan Rega sama-sama saling memegang ponsel.


Pansi lo Rama nanya-nanya pendapat gue segala.


“Apaan? Pendapat gue? Tentang lomba?” tanyaku balik.


Rama mengangguk menunggu jawaban.


“Ga asik,”


GILA LU VANILLA LU BEGO APA GOBLOK SIH! MULUT LO MINTA DI COCOL SAMBEL BANGET SIH, ok tenang.


Benar kan, akibat ke-goblokan yang barusan ku buat sekarang semua mata di ruangan ini tengah menatap tepat ke arahku. Alah kambing, jawab apaan gue. Tatapan mereka seakan-seakan berbicara, “maksud looooeeee?”


Bahkan Rega tadi menendang kakiku dari bawah. Yang kusambut dengan dengusan kesal.


Iya sih aku memang ngeselin, mereka sudah capek-capek mikir apa saja yang akan di jadikan lomba biar menarik dan dengan santai nya plus biadab nya aku bilang ga asik.


“Dari tahun ke tahun lomba gitu-gitu doang. Basket, voli, bulutangkis, cheers – yaelah biasa banget. Bikin kek lomba fashion show gitu baju dari apa aja, mau koran kek seprai kek. Ato boleh juga tuh lomba eat bulaga, tapi gapake yang heboh. Yang paling datar tuh yang menang.”


Sebodo teuing ini pendapat di terima apa kaga. I’m done, bitches.


Namun, reaksi mereka ternyata berbeda dari dugaanku. Senyuman pertama timbul di wajah Rama yang diikuti dengan senyum sumringah lega.


“Boleh juga tuh tambahin juga tuh lomba tahan tawa kalo bisa.”


Dan blah, blah, blah. Semua riuh mengusulkan lomba-lomba yang aneh-aneh. Ha, berterima kasihlah padaku wahai kalian semua.


“Emang tuh bibir lo perlu di sumpel pake jerigen.” kata Rega setelah selesai rapat. “nyeplos aja kek kereta.”


“Lucu.”


Rama dan Sinta (oke ini kaya nama apa gitu ya lupa) berjalan mendekat ke arah kami. Sinta sambil membawa-bawa aqua gelas yang biasanya di bagi-bagikan kepada anak-anak osis setelah rapat.


“Thanks ya Van usulnya.” kata Rama.


“Iye.” jawabku. “bagi dong Sin minumnya.”


Sinta menyerahkan sebuah aqua gelas padaku.


“Sedotannya mana?”


“Yah abis Van.”


Aku duduk-duduk di motor Rega sambil berusaha mencoblos aqua gelas yang tadi ku dapat pakai tangan. Rega berdiri sambil menyender pada motornya seraya tangan kanannya memegang aqua gelas yang sudah habis daritadi.


Dengan susah ku payah ku tusuk-tusukkan auqa itu sampai akhirnya.


SPLASH!


Yep, aqua gelas itu memang berhasil bolong. Namun, hanya menyisakan setengahnya karena setengahnya lagi sudah tumpah pada seragam sekolahku.


“Kutil gajaaaaahhhh!” teriakku.


Rega langsung menengok ke arahku dengan pandangan heran. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat aku yang sudah SMA masih kacau untuk membuka sebuah aqua gelas.


****


“Permainannya kali ini adalah pokonya lo gaboleh ngomong kotor seperti anj—tiiitt, ta—tiiiit, ba—tiiiitt, sama bang—tiiiitt. Yah pokonya semacam itu lah, apapun yang terjadi, walau badai menghadang. Lo ga boleh ngomong itu. Kalo ngelanggar pulang sekolah—“ Bagas menghentikan ucapannya sebentar. “BAKSO PAK SOMAAAAADD COOOYY!”


“Gimana? Deal? Deal?”


“Deaalll!”


Kami bertiga sepakat untuk mengikuti permainan itu. Ini permainan yang tidak biasanya sih. Tidak berbicara kotor seperti itu saja. Gampang. Aku hanya tinggal diam.


Tiba-tiba Fatan melempar sebuah mainan kecoak-kecoakkan ke seantero kelas. Dan, kecoa kedua tepat jatuh di atas mejaku.


“ANJING TAI BABI *** LO TAN!”


“BAKSO PAK SOMAD YE GAK, FA?”


“YOIII,”


Bagas dan Ifa bertos-tos ria, sementara aku menatap murka pada Fatan yang hanya tertawa-tawa cekikikan.


“Bangsat bodo tai kebo! Rese lu Tan gara-gara lu gua kalah bego!”


Aku hanya menunjuk-nunjuk ke arah Fatan yang masih cekikikan. Tidak sadar bahwa sejak tadi seseorang di bangku pojok tengah menatapku lama dan tersenyum penuh arti. Raka. Aku melupakan tentang dia.


****


Sambil menunggu Vandy nge-gym aku keluar mencari tempat yang enak untuk bisa menunggu. Lalu kutemukan sebuah cafe di ujung jalan. Tidak berpikir lama aku masuk ke dalamnya. Tepat sekali saat masuk, aku melihat Raka berada di smoking area. Sedang menyesap benda kecil panjang itu, aku berjalan mendekatinya.


Sadar akan ada orang di dekat nya Raka menoleh. Melihat aku berada di depannya buru-buru ia mematikan rokoknya.


“Boleh duduk disini?” kataku meminta izin.


“Ga ada yang ngelarang, kan?” Raka tersenyum renyah sambil mengangkat kedua bahunya. Aku menarik kursi di depannya.


“Sering kesini?” tanyaku.


“Lumayan, buat ngilangin pikiran.”


Refleks aku melirik pada bungkusan rokok di depannya. Raka menangkap arah lirikanku pada rokoknya. Ia pun mengambilnya lalu mengantonginya.


“Kenapa?” tanya Raka.


“Emm, lo ngerokok?”


“Dari kelas 4 SD gue udah nyoba-nyoba.”


“Oh,” seakan terhenyak oleh jawabannya. Hell-o, kelas 4 SD sudah berani-beraninya nyoba-nyoba sebatang benda mematikan itu?


“Kaget ya?”


“Dikit.” aku meringis ke arahnya.


“Yah, mau gimana lagi. Rokok udah kaya temen sehari-hari. Temen curhat lah anggapannya.”


“Emang enak ya?”


Ke-goblokanku mulai keluar, kenapa sih harus memberikan pertanyaan norak seperti itu.


Raka malah tertawa mendengarnya, “ya gimana? Enak ga enak, tapi nikmat aja rasanya.”


Sejujurnya aku merasa aneh berdekatan dengan orang yang baru saja merokok atau sedang merokok. Papa, Vandy, Bagas, juga Rega tidak ada yang perokok. Di keluarga ku juga tidak ada yang menyukai asap rokok. Namun, agak aneh sebenarnya melihat Raka yang seperti selalu fresh apalagi setiap main basket adalah seorang perokok.


“Kan bisa di ganti permen – eh, nyolot banget ya gue? Yaudah si itu hak lo mau ngerokok apa ngga. Bukan urusan gue.”


Setelah itu aku memanggil pelayan untuk memesan. Tidak sadar perubahan raut wajah Raka.


“Lo ga suka rokok?” tanyanya.


“Ngga sama sekali.”


*