Vanilla

Vanilla
Episode 11



Suara gaduh dari lantai bawah juga suara cempreng milik Vika terdengar masuk ke telinga. Aku mendesah seraya merubah posisiku miring ke kiri dengan bantal yang kuangkat paksa agar dapat menutupi telingaku. Baru suara Vika mereda kali ini suara gelas pecah diiringi luapan kaget Vandy.


Ini hari minggu dan masih pagi, keluargaku memang terfreak sedunia. Hal-hal kecil saja sudah di buat heboh. Suara gaduh mereda lalu terdengar mobil yang sedang di panaskan dan tak berapa lama kemudian melesat menjauh.


Limabelas menit kemudian aku bangun dari tidur cantikku karena sudah tidak nyaman. Seharusnya aku bisa tidur hingga jam sepuluh. Tapi gara-gara orang rumah jadi ga mood lagi buat tidur.


“Bi Inaaah!” aku menguap sambil berkacak pinggang keluar kamar. Bingung karena rumah berubah menjadi sunyi.


Dimana Mama? Papa? Vandy? Vika?


“Iya, kenapa non?” Bi Inah datang dari arah belakang.


“Yang lain pada kemana?”


“Oh pergi ke bandung non, kan katanya adik nya mama nya non baru ngelahirin tadi malem.”


Kenapa gue selalu merana sendiri sih! Kenapa gue selalu di tinggal-tinggal?


 


 


Saat aku akan mengirimkan sebuah line pada Rega, sebuah line terlebih dahulu masuk ke dalam ponselku. Dalam hati aku sudah menebak kalau itu pasti Rega. Tapi nyatanya..


Jeng.. jeng..!


 


 


Raka Revaldy: vanilla


Tidak seperti Rega yang langsung nyerocos keinginannya. Misalnya mengajakku untuk menamaninya nonton atau sekedar nongkrong di cafe. Raka lebih suka basa-basi dulu atau menyapa.


Me: iya?


Raka Revaldy: hari ini mau kemana?


Tanpa perlu pikir panjang aku langsung curhat colongankepadanya.


Me: ngga kemana-mana, semua nya pada ninggalin gue sendiri dirumah. Ngga deng, ada Bi Inah.


Raka Revaldy: haha sian. daripada sendirian di rumah mending cari angin di luar, mau ga?


Me: kemana?


Raka Revaldy: namanya juga cari angin. kemana aja lah jadi.


Me: yaudah oke deh


Raka Revaldy: siangan ya gue jemput


Tak lama setelah line terakhir dari Raka, sebuah line masuk ke ponselku. Dari Rega, ini anak kenapa sekarang kalau line sukanya abis Raka nge-line ya?


Abrega Mahardika: nyuk, bebek slamet yok


Me: ogah! bosen tujuh turunan gua kesana mulu


Abrega Mahardika: sok lu nyuk


Me: nyuk itu maksudnya kunyuk ya?


Abrega Mahardika: ya


Me: t a i


Abrega Mahardika: sekarang deh gue jemput, lo dirumah kan?


Me: apaan lu, emang gua udah bilang iya? gabisa, gue ke bandung jenguk keponakan baru gue


 


 


Untuk kesekian kalinya aku berbohong pada Rega untuk alasan yang aku juga tidak tahu kenapa. Yang jelas aku merasa gimana gitu kalau menceritakan tentang Raka. Mengingat sepertinya Rega juga agak gimana gitu sama Raka. Ah, kenapa namanya harus sama-sama R sih depannya.


****


Tiga orang manusia duduk-duduk di sofa milik kediaman keluarga Mahardika. Rega, Ifa, dan Bagas tengah berkutat dengan kesibukannya masing-masing. Rega yang sedang memain-mainkan ponselnya tidak semangat. Bagas yang asyik dengan Xbox nya serta Ifa yang sibuk membaca majalah.


“Ck.” Rega berdecak kesal untuk yang kesekian kalinya.


Membuat Bagas yang sedang konsentrasi bermain Xbox melirik kesal ke arahnya, “Apaan si lu dari tadi cak cek cak cek melee.”


“Galau dia gara-gara Vanilla susah di ajak jalan.” seru Ifa sambil senyam senyum seperti bisa membaca pikiran Rega.


“Nenek moyang lo tuh galau.” ketus Rega.


“Nenek moyang gue namanya Sari, bukan galau.”


“Elah serah.”


Tiba-tiba Bagas mem-pause Xbox nya untuk sementara dan berbalik menghadap Rega.


“Ga, kayanya ada yang aneh deh sama lo.” Bagas mengatakan itu sambil matanya memberi sinyal-sinyal lewat Ifa yang di sambut dengan senyuman seakan tahu segalanya.


“Aneh kenapa?”


****


“Jangan bilang ke gue kalo lift nya udah mati.” gumamku.


Yang di sambut dengan Raka menarik tanganku dengan semangat, “Ngga kok.”


Dan disinilah kami berdua, menatap terbenamnya matahari bersama. Seakan jika aku hendak menggapai matahri aku bisa menggapainya saat ini juga. Hari sudah semakin gelap ketika matahari telah sukses terbenam.


Angin malam membuatku cukup kedinginan. Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku satu sama lain dan meniup-niupkannya agar memberi secercah kehangatan. Sampai aku benar-benar merasa hangat saat Raka melepas jaket jeans yang ia kenakan dan menyampirkan jaket itu padaku.


“Thanks.” kataku pelan.


Lama kami duduk dalam diam, hanya menikmati semilir angin juga kota Jakarta yang gemerlap malam. Kulihat Raka mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah iPod.


“Dari kecil gue selalu dengerin ini lagu kalo perasaan gue lagi ga enak.” Raka menyodorkan salah satu earphone nya kepadaku yang kuterima dengan sedikit penasaran.


Selera musik dia kan keras, gimana caranya coba nenangin perasaan yang ga enak? Yang ada malah jantungan.


“Sambil dengerin, tutup mata lo..” suara Raka yang terdengar sebelum sebuah instrumen memenuhi rongga telingaku.


Saat itulah mengalun sebuah instrumen piano dari earphone tersebut. Mataku refleks terpejam untuk menikmatinya. Menyerap setiap ritme yang tercipta. Mencoba mengartikan sendiri dari setiap nadanya.


Ini sungguh indah,


dan aku menyukainya.


Saat itu aku sedikit bisa merasakan bagaimana sisi putih Raka. Bukan sisi hitam nya yang penikmat musik keras. Ternyata dia juga menyukai juga sebuah instrumen piano seperti ini.


****


“Sejujurnya ga ada yang namanya dua sahabat antara cewek dan cowok, Ga.” Bagas mulai menjelaskan. “Fakta yang ada tuh pertama, kalo ngga cinta yang bertepuk sebelah tangan. Fakta kedua perasaan keduanya lagi bermetafosis menjadi sesuatu yang beda.”


“Gue.. gue gangerti.”


“Kalo bukan salah satu dari keduanya yang cinta sama salah satunya. Ya dua-dua nya saling cinta. Lo tinggal terka aja gimana elo.” Ifa menambahi, membuat yang sedang di beri pengertian mengacak rambutnya sedikit frustasi.


“Terus gue harus apa?”


Bagas dan Ifa saling memandang satu sama lain. Lalu keduanya sama-sama mengangkat bahu acuh tak acuh.


“Jawabannya ya dari diri lo sendiri.” jawab Bagas. “Perasaan lo gimana sekarang?”


“Gue juga gatau.”


“Lo sendiri aja gatau, gimana Vanilla?” kata Ifa seraya mendekati Rega. “Sebenernya dari awal gue ketemu lo berdua waktu MOS gue udah tau.”


“Terserah deh, gue gangerti sama lo berdua.” Rega bersiap berdiri untuk meninggalkan mereka. “Aneh.”


****


 


 


Aku dan Rega baru saja selesai menonton film di sebuah bioskop. Setelah Rega yang dengan pantang menyerahnya memintaku untuk menemaninya menonton. Padahal ada Bagas dan Ifa, tapi ia berkelit kalau Bagas sudah menonton film itu dengan Dita saat date pertamanya sementara Ifa bukan tipe-tipe yang suka menonton di bioskop. Ia lebih memilih menontonnya dirumah secara dia punya home teater sendiri.


“Rega, lucu banget itu bonekanya liat deh!” tunjukku pada sebuah etalase yang menjual sederet boneka.


“Apaan sih biasa aja.”


“Ga gaul lo.” aku langsung masuk ke dalam toko boneka tersebut dan bertanya pada mbak-mbak penjaganya.


“Harganya satu juta dua ratus limapuluh ribu rupiah, kak.”


Refleks aku menelan ludah. Buset, mahal anjrot Di belakang Rega sudah cekikikan melihat perubahan wajahku yang mungkin jika orang tidak mengenalku tidak tahu. Buru-buru aku mengucapkan terimakasih pada mbak-mbak itu dan berjalan keluar.


“Huahahaha.” diluar tawa Rega meledak membuatku malu setengah hidup.


“Bacot lu ah diem.” sungutku.


Hampir lima menit Rega tertawa, selera humor Rega memang payah. Padahal tidak lucu, dia malah tertawa.


“Ya lo lagian yang bego, udah tau itu boneka asli.”


“Tau ah.” aku melipat kedua tanganku di depan dada.


“Cemberut aja lo ah.” Rega merangkulku dari samping. “Gue traktir es krim mau ga?”


“Emang gue anak kecil apa sukanya es krim!”


“Yaudah si kalo gamau mah, gue mau beli sendiri.” Rega melepaskan rangkulannya dan berjalan santai meninggalkanku.


Membuatku mencibir ke arahnya dan mau tak mau berjalan cepat menyusulnya dan memegang pundaknya seraya lompat-lompat.


“Maaauuuu!”


Rega meringis-ringis hampir terduduk akibat ulahku, ia langsung menarik tanganku dan merangkulku kembali.


“Pendek ngiri aja sama yang tinggi.”


“Monyet gue tinggi ya!”


Mirisnya adalah fakta bahwa aku hanya mencapai bahu Rega.


*.