
Aku tidak pernah berpikiran kalau Raka akan membawaku ke tempat ini. Tempat balapan mobil liar kesukaannya. Fakta baru tentang Raka bahwa dia menyukai balapan liar seperti ini. Seperti sering kali di beritakan oleh media massa akan di larangnya balapan liar yang sering membuat orang terganggu.
Namun yang kutemukan faktanya adalah suatu hal yang bisa di katakan sebagai suatu pelampiasan semua pikiran dimana hanya otak dan adrenalin yang di pacu. Ini seperti sebuah olahraga menyehatkan. Lagipula disini hanya senang-senang dan semua lepas tertawa bahagia. Seperti layaknya manusia aktif melakukan sesuatu.
Tidak seperti sekolah yang membuat orang menjadi pasif dan terkesan seperti robot. Semua harus berjalan sesuai kurikulum dan guru berbicara serta bagaimana caranya mendapat nilai yang bagus. Bukan bagaimana caranya melakukan usaha yang bagus.
“Kalo hidup gue kaya gini terus, kayanya gue ga bakal cepet mati gara-gara tugas yang numpuk.” kataku pada Raka setelah pulang dari balapan liar.
Raka tertawa sebentar mendengarnya, “Kapan-kapan gue ajak lagi deh.”
“Beneran?”
Raka mengangguk seraya pandangannya masih tetap fokus pada jalanan di depannya.
“Tadi itu sama gilanya kalo Rega lagi sok-sokan ngebut di jalan naik motornya.”
Raka tidak langusng menjawab pernyataanku. Alih-alih menjawab ia malah mengalihkan percakapan ke yang lain.
“Mau gue kasih liat tempat bagus ga?” Raka menawari.
“Emang ada? Dimana?” jawabku antusisas.
“Makanya mau gue kasih liat. Mau ga?”
“Mau banget.”
Mobil terparkir di parkiran sebuah gedung yang kira-kira ada 15 lantai. Pikiranku langsung bertanya-tanya untuk apa Raka mengajakku kesini. Ini sudah malam, kalau ingin masuk mana boleh.
Sebelum aku memikirkan hal-hal yang kurasa sebenarnya tidak penting. Raka menarik tanganku agar berjalan mengikutinya. Dia menghampiri pos satpam yang sedang berjaga. Sedikit basa-basi entah bertanya apa aku tidak terlalu mendengarkan namun yang kutangkap Raka telah mengenal satpam tersebut. Yang jelas setelah obrolan itu Raka memegang segerombolan kunci.
“Ka, gelap iss.” aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Hanya beberapa ruangan penting yang di sinari cahaya.
“Lo ga pernah tau bukunya RA Kartini?” tanya Raka. “Habis gelap terbitlah terang.”
“Ga lucu, Ka. Ga lucu.”
Raka membawaku pada sebuah tangga darurat. Dalam hati aku mengeluh sendiri. Serius naik tangga?
“Ini – naik tangga?”
“Lift kalo malem udah mati. Naik tangga gapapa kan?”
Ya iya sih emang gapapa. Tapi kaki gue nya yang apa-apa.
Aku mengurungkan niat untuk berkata lebih lanjut. Memilih untuk mengangguk pasrah sambil mengikuti langkah-langkah kaki Raka yang lebar membuatku ngos-ngosan saat mengikutinya. Beberapa kali aku berhenti untuk mengambil nafas dan Raka dengan setia selalu menoleh ke belakang dan menungguiku.
Tepat pada tangga ke sembilan aku sudah tidak kuat. Nafasku kali ini sudah benar-benar putus-putus layaknya benang kusut.
“Lo naik duluan aja.” kata Raka memecah keheningan.
Aku yang masih capek mengernyit ke arahnya, “Gue lama. Lo pasti kesel nungguin.”
“Gapapa. Mau jalan lo kaya siput gue tetep di belakang lo kok.” jawabnya lalu mengulurkan tangan untuk membantuku naik satu tangga lebih atas darinya.
Berulang kali aku menengok ke belakang takut-takut ternyata Raka kesal karena jalanku yang lama. Namun reaksinya sungguh berbeda mengingat dia hanya berjalan santai seperti tidak menunggu apa-apa.
“Lo duluan deh, Ka. Gue udah ga capek lagi kok.” kataku akhirnya.
“Nanggung Van. Lagian ladies first, sekalin gue jagain lo dari belakang.”
Mendengar kata-kata terakhirnya membuat jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang.
****
Tak habis-habisnya aku mengumpat karena keindahan suasana dari atas gedung ini. Aku bisa melihat kerlap-kerlip Jakarta pada malam hari juga lampu-lampu mobil yang berkeliaran hilir mudik menyesakkan kota ini. Disini sangat sepi dan nyaman. Baru pertama kali aku menginjakkan kakiku di atas gedung.
Raka lah orang pertama yang membawaku kesini.
“Gimana rasanya?” Raka sudah berara di sampingku, turut melihat apa yang kulihat.
“Rasanya kaya lagi di atas kawan.” aku tersenyum saat menjawabnya. Angin malam semakin berhembus kencang menambah larutan suasana. Juga bintang malam yang terlihat lebih sedikit di makan oleh polusi udara bumi.
“Tiap gue lagi stres atau ada masalah gue selalu kesini.” suara Raka mirip sebuah gumaman pada diri sendiri.
Aku menoleh ke arahnya. Menatapnya yang sedang menatap lurus ke depan. Angin membuatnya rambutnya bertambah berantakan. Yang membuatku ingin sekali membenahinya.
“Sendiri?” tanyaku.
Raka mengangguk lalu sekarang tatapannya bertemu pada tatapanku. “Cuma lo orang satu-satunya yang gue ajak kesini.”
Aku tercengang beberapa saat mendengarnya. Apa tadi aku tidak salah dengar?
“Kenapa gue?”
Raka mengalihkan pandangannya dan menatap kembali Jakarta di malam hari. Menggeleng beberapa saat dan sudut bibirnya tertarik ke atas membuat sebuah senyuman kecil yang menurutku .. manis.
“Kenapa elo?” ujarnya. “Gue juga gatau.” ia mengangkat kedua bahunya.
“Pasti ada alesannya kan?”
“Ga setiap pertanyaan atau pernyataan harus ada alasan atau jawabannya kan?” tiba-tiba suasana berubah sedikit menjadi mellow. “Gue gatau alesan kenapa lo orang pertama yang gue ajak kesini. Mungkin – ini masalah naluri gue yang mengharuskan bawa lo kesini, ke tempat ini.” jelasnya cukup membuatku diam beberapa saat. “Lo – ga keberatan kan?”
Lama aku mencerna kalimatnya. Kemudian aku menggeleng pelan dan tersenyum penuh arti terhadapnya. “Ngga kok. Gue sama ngga keberatan.”
Malam itu entah kenapa walau sedikit bintang di langit. Namun, terlihat bintang itu memancarkan cahaya lebih terang dari biasanya.
****
Pertandingan final antara Pelita Harapan dengan SMA 56 di adakan tepat pada hari ini. Aku tidak lagi telat seperti waktu itu. Aku datang tepat sepuluh menit sebelum pertandingan di mulai. Di taksi aku me-line Rega yang pasti sudah menduga kalau aku bakalan telat.
Me: sukses ya pertandingannya! kalo menang traktir dong. oke? oke.
Baru aku akan memasukkan ponselku kembali ke dalam saku celana ketika teringat bahwa Raka juga akan ikut bermain dalam pertandingan tersebut. Ku ketik sebuah line untuknya.
Me: semangat ya!
Pertandingan berjalan cukup sengit mengingat dua tim itu sama-sama kuat. Sampai akhirnya Rega berhasil mencetak tiga angka hasil melakukan three point nya. Skor berakhir dengan kemenangan Pelita Harapan. Ifa dan Bagas yang terpisah duduknya dariku melambai-lambai dari arah yang berlawanan.
“Lama si lo datengnya. Udah keduluan orang jadinya tempatnya.” kata Bagas saat kami bertiga sedang duduk-duduk di warung bakso, menunggu Rega.
“Ini udah paling cepet kali.”
“Cepet nya elo mah kaya siput sih.”
“Yaa serah lo deh.”
Sebuah tangan merangkulku dari belakang. Sudah kutebak bahwa itu pasti Rega. Kebiasaan yang tidak kusukai mengingat Rega merangkulku dalam keadaan keringetan apalagi masih mengenakan baju basketnya. Walau aku tidak bisa bilang bahwa Rega bau. Nyatanya ia memang tidak bau. Cukup wangi untuk ukuran laki-laki.
“Tumben ga telat?” Rega mengacak-ngacak rambutku sebentar lalu memindahkan posisinya agar duduk di sampingku, memesan semangkuk bakso serta minumannya.
“Gue berasa jadi Raisa deh, serba salah.” ujarku sambil mengaduk-ngaduk es teh. “Traktir dong traktir, kan menang tadi.”
“Ntar ini bakso gue bayarin. Serah lo dah mau mesen berapa mangkok.”
“SERIUS?” sumpah itu bukan suaraku. Tapi suara Bagas yang selalu dengan senang hati menerima berbagai tawaran traktir atau di jajanin atau semacamnya.
“Iya serius.”
Aku tidak berminat untuk memakan bakso lagi. Jadi walau begitu aku tetap memesan mie ayam bakso dua bungkus untuk di bawa pulang ke rumah. Antisipasi kalau-kalau aku tiba-tiba terserang lapar.
Sedang asyik-asyik nya menunggu Rega di motornya yang sedang berbicara sebentar dengan Pak Setya selaku pelatihnya sambil bermain di iPad. Sebuah suara membuatku memalingkan wajahku dari sana.
“Nunggu Rega?”
Di depanku kini berdiri Raka yang telah berganti baju.
“He-eh.” jawabku.
Sekilas kulihat Raka melirik tempat Rega berada yang sepertinya sadar bahwa Raka sedang berbicara denganku.
“Oke, balik dulu ya.”
“Siip.”
****
Suara teriakan, benda pecah, tangisan yang bergemuruh menjadi satu terasa di kedua telinga bocah kecil itu. Demi tidak ingin mendengarnya ia menyumpalnya dengan sebuah earphone dan ia setel sebuah lagu dari PSP hadiah ulangtahunnya yang ke-delapan. Mengalun sebuah instrumen yang telah lama ia kenal. Sebuah instrumen lullaby pengantar tidur.
Bocah itu sama sekali tidak menangis. Dia sudah terbiasa mendengar semua itu setiap malam menjelang tidurnya. Dia lebih kuat dari yang orangtuanya bayangkan. Mereka tidak tahu, sebuah rasa egoisme akan berakibat pada seorang anak yang tidak tahu apa-apa. Berakibat fatal pada hati seseorang kelak.
****
Malam ini aku tidak bisa tidur karena menunggu hari esok. Hari dimana konser penyanyi kesukaanku semenjak aku memasuki kelas 6 sekolah dasar. Avril Lavigne. Betapa beruntungnya aku bisa mendapatkan tiket konsernya sekaligus meet and greet nya. Dan betapa baik nya Rega yang dengan sukarela memberi surprise ini kepadaku. Ada saat dimana Rega menjadi orang yang sangat amat menyebalkan. Ada dimana Rega menjadi orang yang sangat amat peduli pada sahabatnya.
Semenyebalkan apapun Rega, sesering apapun Rega mengusiliku. Bagaimanapun aku dan dia adalah sahabat dari aku menginjakkan kaki di sekolah menengah pertama.
“Rame banget, Ga.” kataku. “Nanti kalo gue ilang gimana?”
“Sini pegangan sama gue makanya.” ujarnya. “Jangan di lepas.”
Aku mengangguk patuh menuruti perintahnya.
Aku menggenggam jaketnya erat dari belakang, seakan takut kalau bisa saja detik berikutnya terlepas. Di dalam Venue telah ramai oleh little blackstars yang sedang mengantri masuk.
Blah, blah, blah.
Aku tidak bisa menahan teriakanku ketika sang punk princess keluar dari belakang panggung. Aku refleks teriak sekencang yang aku bisa dan berpikir kalau-kalau Avril dapat mendengarnya. Hampir 20 lagu ia nyanyikan, aku turut terbius dengan pesonanya serta ikut bernyanyi bersama hingga kurasa suaraku benar-benar hampir habis. Avril kembali ke belakang panggung, para little blacktars meminta encore.
“WE WANT MORE! WE WANT MORE!”
Tak berapa lama kemudian ia kembali ke atas panggung sambil membawakan sk8er boi dari album pertamanya. Setelah selesai menyanyikan sk8er boi ia mengumbarkan goodbye kiss dari jauh lalu kembali ke belakang panggung.
Aku mendesah kecewa karena konser ini berakhir. Namun aku juga senang karena sebentar lagi aku akan bertemu dengannya karena aku mempunyai tiket meet and greet. Sebagian besar ada yang berfoto sebentar untuk mengabadikan ada juga yang segera beranjak pulang. Tanganku refleks mencari jaket milik Rega yang saat masuk ku genggam erat.
Namun ia tak ada, kuedarkan pandanganku ke segala penjuru. Sayangnya Rega masih tidak dapat kutemukan. Sekarang aku sedikit merasa menyesal karena terlalu larut dalam konser tadi dan tak menghiraukan Rega. Aku mengambil ponsel yang berada di saku dan sialnya batre ku habis.
Kurasakan segerombolan orang tak sengaja mendorongku dari arah kanan dan kiri. Aku terhuyung karena tak bisa menopang tubuhku sendiri. Saat aku benar-benar merasa akan jatuh sebuah tangan mencegatku agar aku tetap seimbang.
Aku menolehkan kepalaku saat kudapati Rega tengah menggenggam kedua lenganku dari belakang. Cukup lama kami dalam posisi seperti itu.
“Gue bilang jangan lepasin pegangan.” katanya setelah segerombolan itu telah keluar. “Batu banget.”
“Iya maap.”
“Yaudah cepet.”
Tangan Rega beralih pada tanganku untuk ia genggam. Lalu kami berdua berjalan keluar dari venue dan beralih ke ruang dimana meet and greet di laksanakan.
Mungkin aku dan Rega tak menyadarinya.
Tangan kami masih saling bertautan sampai aku naik ke atas motornya untuk kembali ke rumah.
*