
Butuh waktu sekitar beberapa menit sampai aku mengatakan iya. Aku tidak bakal menyangka kalau Raka akan menyatakan cintanya secepat itu. Dan aku bingung harus menjawab apa. Di tambah lagi, sebelumnya seseorang-seseorang yang pernah menyatakan cintanya padaku dulu selalu melalui telpon atau pesan singkat.
Dan aku selalu menolaknya dengan alasan gak gentle banget. Kebanyakan dari mereka membuat janji kepadaku untuk besoknya pasti akan mengatakan langsung. Tapi—aku hanya menerima ucapan pertama mereka. Jadi, aku tetap menolak.
Darahku berdesir-desir detik-detik aku berpikir, apalagi tatapan Raka yang menyiratkan harapan. Jadi, dengan segenap hati aku telah memutuskan.
I said yes.
Ponselku bergetar di dalam clutch yang ku bawa, setelah aku menerima Raka aku izin ke toilet. Untuk menumpahkan segalanya. Perasaan ababil jaman sekarang. Senang dan lain-lain.
Rega Calling..
"Regaaa." sapaku tidak tahan untuk tidak menyembunyikan perasaan senang dalam benakku.
"Van, gue—"
"Ga, tadi Raka nembak gue—"
Sebelum Rega menyelesaikan kalimatnya, aku tidak tahan juga untuk cepat-cepat memberi tahunya. Aku ingin Rega menjadi orang yang pertama tau tentang diriku. Tentang semuanya. Entahlah, tiba-tiba suaraku menyerobot untuk keluar tanpa dapat ku stop.
Aku menaarik nafas sebentar saat ingin mengatakannya. Senyum tergambar jelas di bibirku.
"And i said yes."
Kalimat terakhir yang kuucapkan hanya sebuah kalimat dengan nada rata-rata tanpa ada perasaan apapun. Seakan aku hanya ingin mengatakannya. Tidak bermaksud lebih apalagi berlebihan. Aku mengucapkannya dengan menahan satu tarikan nafasku.
Tapi tidak ada jawaban dari sana.
Tidak ada jawaban dari Rega.
"Ga?" panggilku.
Masih tidak ada jawaban.
"Rega? Lo masih di sana kan?"
Sekarang malah nada sambung terputus. Aku menjauhkan layar ponsel dari telingaku dan mengernyitkan kening untuk melihatnya.
"Kok di matiin sih!"
Aku mencoba untuk menelpon Rega, tapi setelah suara operator disana berbicara, aku baru ingat kalau pulsaku habis. Jadi, aku hanya mengirimkan sebuah line pada Rega.
Me: kok mati, Ga? lo dimana? kok ilang?
Ifa menginap di rumahku selepas acara prom night. Dari awal dia seperti memendam sesuatu terhadapku. Tatapannya itu menyiratkan kecurigaan. Apalagi, Ifa yang pertama melihatku dengan Raka pulang dari atap gedung. Pasti dia berpikiran macam-macam. Tapi aku berlagak seakan tidak ada apa-apa. Nanti saja kalau di tanya.
"Kemana tadi lo sama Raka?" tanya Ifa to the point sambil menghapus sisa-sisa make up.
"Atap gedung biasa, abisnya gue bete. Jadi gue iyain aja ajakannya." jawabku. Pasti sebentar lagi Ifa bakal langsung nanya, batinku.
"Kok muka lo kaya seneng gitu? Emang ada apa?" tanyanya lagi.
"Emang seneng ya?" tanyaku balik.
"Iya—cerita deh mending sama gue, lo kenapa sama Raka? Mana gue liat dari pas perjalanan pulang lo senyum-senyum terus."
Refleks aku membekap bibirku dengan tangan kananku. Emang gue senyum-senyum apa?
"Sebenernya gue—" kalimatku terhenti di tengah jalan.
"Jangan bilang lo sama Raka—"
"Gue udah jadian sama dia." sahutku menahan senyum. Tapi reaksi Ifa berbeda, ia malah diam sambil berdehem sebentar dengan mukanya yang super datar. "Kok gitu sih reaksinya? Rega juga tuh tadi tiba-tiba matiin telponnya." langsung terbayang peristiwa tadi.
"Siapa bilang gue gak seneng? Gue seneng kalo lo seneng." Ifa tersenyum renyah. "Gue masih perlu kenal aja sama Raka, dia baik apa nggak buat lo."
"Raka baik kok, serius." yakinku padanya.
Ifa hanya mengangguk-ngangguk sambil menguap lalu merebahkan dirinya membelakangiku.
"Akhirnya gue punya pacar juga.." kataku.
****
Jelas aja Rega nutup telponnya, gimana juga coba caranya orang lagi patah hati bisa ngomong bener sama orang yang bikin dia patah hati? Yang ada malah ketauan.
Walaupun Ifa bukan Rega, tapi rasanya mendengar Vanilla sudah sama Raka membuat hatinya ikutan sesak juga. Vanilla tidak tahu sebesar apa perasaan Rega ke dia. Vanilla tidak tahu sudah berapa lama Rega memendam perasaannya.
Tapi, kenapa akhirnya jadi begini?
Ifa hanya bisa menghela nafas dengan berat. Besok, setelah pulang dari rumah Vanilla. Ia harus mengajak Bagas untuk langsung ke rumah Rega.
Jam delapan pagi, Ifa sudah langsung pamit pulang sama Vanilla. Jam lima pagi buta tadi, Ifa sudah mengirimkan line pada Bagas tentang semuanya. Juga, Ifa meminta Bagas untuk menjemputnya di rumah Vanilla.
"Lo serius gak sih, Fa?" tanya Bagas setengah berteriak akibat jalanan kota yang ramai.
"Serius, Gas." jawab Ifa. "Gue gak kebayang Rega kaya apa sekarang."
"Jangan sampe kita telat." kata Bagas.
"Ha? Telat?"
"Gue takut Rega udah bunuh diri."
Sahutan Bagas langsung di balas pukulan oleh Ifa, "Emang Rega se-desperate itu apa? Ini baru di tinggal jadian bukan nikah apalagi mati."
"Ya kali aja, namanya lagi patah hati orang bisa ngelakuin aja."
"Gue sih yakinnya Cuma satu apa yang bakal Rega lakuin." kata Ifa 100% yakin. "Rega udah bakal pasti nerima itu beasiswa."
Pandangan kedua remaja tersebut sekarang tertuju pada laki-laki yang sekarang sedang duduk di atas kasurnya. Ifa dan Bagas menghela nafas lega melihat Rega masih baik-baik saja. Tidak ada luka sedikit-pun.
"Gue bersyukur lo gak bunuh diri, Ga." Bagas menepuk punggung Rega.
"Gue gak sebego itu." jawab Rega.
"Sekarang perasaan lo gimana? Nyesel?" tanya Ifa.
"Nyesel banget waktu tadi malem. Tapi setelah gue pikir-pikir, belom tentu juga Vanilla bakal nerima gue kalopun gue tadi malem gak keduluan—buktinya Vanilla nerima Raka, itu tandanya dia suka Raka." jawab Rega datar. "Sekarang gue tinggal berdoa aja supaya si Raka emang udah yang paling baik buat Vanilla."
"Karena gue udah mutusin bakalan ngambil itu beasiswa dan gue berharap Raka bakalan jagain Vanilla selama gue gak ada." tambahnya. Dari raut mukanya Rega terlihat tenang, tidak menampakkan emosi atau hal pesakitan lainnya yang baru ia rasakan.
Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa terhenyak. Demi samudra atlantika, jarang sekali orang yang sedang patah hati mau berlapang dada dan menerima segala situasi yang sedang ada di kehidupannya.
"Lo berdua juga, telpon gue kalo Raka macem-macem sama Vanilla." sekarang senyum Raka mengembang. "Dan juga, buat sementara rahasiain dulu tentang beasiswa gue ke Vanilla."
Setelahnya, yang ada hanya keheningan. Melihat Rega yang seperti itu membuat mau tidak mau Ifa menitikkan air matanya juga.
Padahal tidak ada yang perlu di tangisi.
Sementara Bagas hanya menatap kosong ke bawah.
"Satu lagi," Rega bangkit dari duduknya dan berjalan ke laci meja. "Gue titip ini," Rega memberikan sesuatu pada Ifa dan Bagas, sebuah hadiah juga mawar yang tadi malam akan ia berikan pada Vanilla. "Gue gak minta lo berdua buat ngasih ini ke Vanilla, gue Cuma nitipin ini sampe gue pulang dari London."
"Sampe gue ngelupain semuanya."
Bagas langsung menatap Rega dengan pandangan sedikit cemas, "Lo—gak bakal balik? Liburan?"
"Gue gak bakal pulang sampe gue bener-bener harus pulang." tandas Rega.
****
Karena line ku tidak di balas-balas selama tiga hari oleh Rega. Aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Aku meminta Pak Joko untuk mengantarkanku.
"Hoy!"
Tanpa perlu mengetuk pintu aku langsung masuk ke kamar Rega. Dan sebuah pemandangan tidak menyenangkan yang kulihat.
"Sabar, sabar, lagian salah sendiri masuk gak pake ketok pintu dulu." ujar Rega santai, kudengar suara lemari di buka.
Aku mengintip lagi, Rega sedang mengenakan baju.
"Kenapa waktu itu telponnya mati? Kenapa line gue gak di bales-bales? Kenapa tiba-tiba lo ngilang?" tanyaku beruntun.
"Hp gue rusak di banting si gentong, waktu telponnya mati hp gue low, kalo ngilang—gue kebelet dan pas balik lo gak ada. Jadi gue pulang."
"Boong."
"Kalo boong—"
"Ngapain nanya—iya, Ga. Gue udah tau kata-kata selanjutnya."
"Udah pinter ya sekarang." kata Rega setengah menahan senyum. "Di ajarin Raka ya?"
"Apasih."
"Lo udah jadian kan sama Raka? Gimana rasanya punya pacar? Seneng?"
"Biasa aja."
"Ati-ati ya di apa-apain."
"APASIH!"
Rega hanya tertawa-tawa menanggapinya.
****
Rega
Hanya tinggal hitungan minggu gue bakal ninggalin semua yang gue punya. Termasuk harapan paling indah seumur hidup gue. Kalau kalian bertanya apa gue nyesel dengan semua yang baru gue lewatin? Jawabannya se-simple dengan rasa cinta yang tumbuh perlahan dalam hati gue.
Gue gak pernah nyesel sama semuanya. Gue gak pernah nyesel pernah menempatkan Vanilla pada titik terdalam yang paling atas dalam simpul hati gue.
Dengan semua ini gue bisa mengambil pelajaran walau sampai saat ini gue juga belum tau pelajaran apa yang bener-bener nyampe pada gue sendiri. Maksud gue, pelajaran yang bener-bener buat gue terhenyak.
Sampai detik ini, Vanilla belum tau tentang beasiswa gue. Tenang, gue gak bakal ngebiarin Vanilla ngejar gue di airport. Gue juga gak bakal sanggup buat pergi tanpa bilang permisi ke dia. Gue Cuma nunggu waktu yang pas.
Sekali lagi gue ngeliatin tulisan di note hp gue. Tulisan yang gue tulis di dalam hadiah yang pernah pengen gue kasih ke Vanilla. Tulisan yang nunjukkin perasaan gue yang sebenernya.
Tulisan yang mungkin gak akan pernah Vanilla tahu.
****
Setelah dua hari perjuangan untuk menempuh SBMPTN, akhirnya selesai juga. Aku berbeda tempat ujian dengan Rega, Ifa, dan Bagas. Aku dimana, mereka dimana. Entah kenapa Rega tidak ingin memberi tahu dimana dia ujian. Tapi kupikir, yasudahlah. Tidak penting juga.
Rencananya aku dan Rega akan nonton bioskop, refreshing ceritanya. Aku menunggu Rega mandi sambil membaca-baca majalah otomotif Rega yang tergeletak di atas kasurnya. Tidak sengaja aku menjatuhkan majalahnya karena suara Galih yang bikin kaget. Pasti dia lagi mainan sama temannya.
Aku mengambil majalah yang terjatuh, saat aku mendongak untuk bangkit. Aku melihat sebuah kertas terselip di laci meja. Penasaran, aku membuka laci meja itu dan mengambil kertas yang ternyata adalah sebuah surat.
Aku melirik ke arah kamar mandi, suara shower masih terdengar. Itu artinya Rega masih mandi. Aku membukanya secara perlahan, seakan takut lecek. Siapa tau itu surat penting.
Dan,
apa yang baru saja kulihat?
Ini surat dari kedutaan.
Tentang,
beasiswa?
Maksudnya apa? Jadi Rega dapat beasiswa? Aku membaca dengan seksama surat tersebut. Di London? Jadi—bagus, Rega mendapatkan beasiswa di London dan dia sama sekali tidak bilang padaku.
Aku merasa—tidak tahu, yang jelas tiba-tiba rongga di dadaku sesak.
Tepat pada saat itu pintu kamar mandi terbuka. Aku refleks mendongak dan menurunkan surat itu.
"Kenapa gak bilang.." suaraku sekarang benar-benar seperti tikus kejepit. Rega berjalan mendekatiku dan mengambil surat itu dari tanganku. Aku menengadahkan kepalaku untuk dapat melihatnya.
"Pantesan lo gak mau bilang dimana lo ujian—ternyata lo gak ikut ujian." sambungku.
Rega duduk di sampingku, "Sorry gue—"
"Gausah jelasin apa-apa, gue belom selesai ngomong." potongku. "Kenapa dari awal gak bilang lo dapet beasiswa? Lo sengaja apa gimana? Siapa aja yang udah tau?"
"Ini tuh bukan maksud gue—"
"Ifa sama Bagas tau?"
Rega hanya bisa mengangguk.
"Bagus, jadi Cuma gue doang yang gak di kasih tau? Kenapa sih, Ga? Lo sebel sama gue? Lo benci sama gue? Kenapa?"
"Gue gak tau gimana cara ngasih tau ke lo."
"Tinggal ngasih tau Van, gue dapet beasiswa—selesai kan?"
"Terus kalo gue bilang kaya gitu lo mau apa?" tanya Rega.
Gue mau apa? Kalo bisa gue mau nahan lo, tapi itu gak mungkin.
"Lo sendiri juga gak bisa jawab kan?" sahut Rega lagi.
Dan sekarang ini airmata kenapa kurangajar banget tiba-tiba keluar gini. "Terus lo terima gak, Ga?" tanyaku pelan. Kuusap airmataku dengan jari telunjukku. "Pasti di terima, iyalah ke London siapa yang gak mau." aku menjawab sendiri, tapi lebih bicara pada diri sendiri. "Kapan berangkat?"
"Seminggu lagi."
Aku makin galau di buatnya.
KENAPA REGA KURANG AJAR.
"Terus kalo lo pergi, gue gimana.." ini pernyataan paling melas yang pernah ku lontarkan.
"Sekarang kan lo udah sama Raka, anggep aja sementara dia buat jadi pengganti gue."
"Tapi gak ada yang bisa gantiin lo, Ga."
Jawabanku membuat Rega menarikku ke dalam dekapannya. Seketika itu juga pertahananku runtuh. Aku nangis sejadi-jadinya. Dan Rega Cuma bisa mengelus lembut kepalaku. Tak ku hitung berapa lama aku dalam posisi menyedihkan sekaligus menjijikkan seperti itu.
"Ga.. lo gak punya tisu?" kataku masih sesenggukan.
Rega mangangkat sebelah alisnya, "Tisu?"
"Bagi tisu buat ngelap airmata, dodol! Apa perlu gue ngelap pake baju lo?"
"Iya sabar. Bentar."
Rega bangkit berdiri dan mengambil segepok tisu. Aku mengelap airmata sekaligus mengeluarkan ingus. Duh, pokoknya ini nangisnya paling gak keren deh. Untung sama Rega bukan sama yang lain. Malu-maluin.
"Udah-udah gak usah nangis. Gue kan pergi masih di sekitar bumi, bukan di dunia lain."
"Tau ah, gue bete. Pokoknya seminggu ini lo harus nemenin kemanapun yang gue mau." sekali lagi aku mengelap airmata yang jatuh. "Ohiya, kalo ketemu One Direction—salam ya dari gue."
"Masih sempet-sempetnya ya lo—"
"Lo gak usah marah deh. Yang harusnya marah tuh gue! So shut the freak up—lagian gue masih nangis, jangan di ganggu."
Rega mengacak rambutku, "Lo tenang aja, kalo gue pulang dari sana. Gue bisa mastiin kalo lo adalah orang pertama yang bakal gue temuin." ujar Rega dengan **** senyum di bibirnya.
"Promise."
*