Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
beautiful



Aku membuang nafas panjang, lelah, mengantuk dan sekarang aku membutuhkan tempat tidur.


Aku ingin sekedar menutup mata ini dan mengistirahatkan Otakku yang sudah terlalu banyak berfikir, banyak sekali rentetan kejadian sialan yang menimpaku hari ini.


Dan sekarang aku sedang mencoba menghadapinya.


  Setelah jimin mengatakan bahwa aku akan menikah dengannya tiga hari lagi, aku sempat membentak jimin karena ucapannya.


  Namun setelah dia menjelaskan bahwa ini semua permintaan orang tuanya, aku menjadi lebih mengerti.


Jimin bilang nyonya park dan tuan park akan pergi ke jerman selama beberapa minggu kedepan, dan mereka berdua menginginkan aku dan jimin menikah secepatnya.


  Baiklah aku tak bisa menolak permintaan nyonya park dan tuan park.


  "Hyerin-yya?"


Suara jimin membuyarkan lamunanku, dengan wajah bingung aku menatapnya menarik sudut bibirku membentuk sebuah senyuman.


"Kau ingin yang mana?" Tanya jimin padaku, aku seketika mengingat bahwa sekarang aku sedang berada di toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan kata eomma.


  Aku bingung, semua cincin disini sangat bagus dan menarik hati, hanya saja terlalu berlebihan, seluruh desainnya sungguh tak sesuai keinginanku.


Aku masih sibuk menatap etalase yang menampilkan beberapa perhiasan yang sangat indah, mulai dari kalung, gelang, cincin dan macam macam perhiasan yang lain.


  Kulihat di paling ujung dari etalase, sebuah cincin sederhana yang hanya berhiaskan berlian murni berbentuk bulat, sepertinya hanya ini yang paling sederhana di antara yang lain.


  "Jimi.. Aku mau yang ini." Aku mengarahkan jari telunjukku, ketempat cincin itu berada, tempatnya sulit untuk dipandang mata, seperti di asingkan.


  "Ya sudah, mba! Tolong ambilkan dua cincin itu." Titah jimin, aku hanya menunggu pelayan toko perhiasan ini mengambilakan cincin itu.


  "Coba.. Kau pakai." Aku mengambil salah satu cincin itu, lalu memasangkan nya ke jari telunjukku, tak terlalu kencang, ukurannya juga pas dengan telunjuk ku.


  "Ukurannya pas." Jawab ku, jimin hanya mengangguk setelah itu berbicara kembali dengan pelayan, aku memutuskan untuk keluar dari toko perhiasan itu tanpa menunggu jimin.


  Rasanya toko itu terasa sesak, padahal ku lihat ruangannya memiliki AC.


  entahlah, aku hanya merasa seperti itu.


Tak lama ku lihat jimin keluar dari toko sambil membawa sebuah paper bag yang kuyakini berisi cincin tadi.


"Kenapa keluar tiba tiba?" Tanya jimin ketika berhasil menemukanku, lalu menatapku tajam, apa jimin merasa keherenan?


"Maaf, aku tadi hanya merasa terlalu panas berada di dalam." Jawabku jujur, biarlah jimin mengatakan aku aneh, tapi yang jelas aku merasakan hal itu dan yang terpenting aku tak berbohong.


"Kau baik?" Tanya jimin bingung, aku hanya menyunggingkan senyum, lalu mengangguk mengatakan secara tidak langsung bahwa aku baik baik saja.


"Baiklah, setelah ini kita pergi ke butik teman ibuku, dia bilang sudah memesan beberapa gaun pengantin disana untuk kau pilih." Ucap jimin, aku hanya menghela nafas lelah, kapan ini akan berakhir.


  Mau tak mau aku mengikuti jimin menuju tempat yang dia maksud, dan itu masih di sekitar daerah garosugil, yang aku tahu tempat ini adalah salah satu pusat perbelanjaan pakaian hits dan brand ternama di korea selatan, selain di myeongdong.


  Jimin memberhentikan mobilnya di sebuah toko, entah toko apa yang jelas ku lihat seperti toko baju, karena dari sini aku bisa melihat, berbagai macam menequen yang berjejer rapih.


  "Ayo turun." Aku mengkuti langkah jimin memasuki toko itu, tidak terlalu ramai tapi ku perhatikan cukup banyak baju yang memenuhi toko ini.


   Saat memasuki toko, aku melihat seorang wanita cantik dengan baju yang cukup fashionable menghampiri jimin.


Wanita itu tersenyum pada jimin, lalu memeluknya, jimin juga membalas pelukan wanita itu, mereka terlihat cukup akrab.


  Aku hanya memandangi dua insan yang sedang bermesraan itu, sambil menunjukan raut wajah biasa saja.


Memang kan? Untuk apa aku marah melihat jimin bersama dengan oranglain, toh aku pun tak peduli.


"Jimin... Aku sangat merindukanmu." aku mendengar ucapan wanita itu setelah melepaskan pelukannya dari tubuh jimin.


  "Aku juga" Jawab jimin, dia melirik ku sekilas, kami sempat saling memandang tapi aku memberi kode untuk meneruskan pembicaraannya dengan wanita itu.


  "Kau sangat sombong jim, sampai tak sempat mengunjungi ku." Wanita itu mengeluh, menggelayuti lengan jimin dengan manja.


Sepertinya jimin mempunyai hubungan spesial dengan wanita ini.


"Aku terlalu sibuk" Jawab jimin, jimin pun sepertinya tak menolak kegiatan wanita itu di lengannya.


"Kau terlalu sombong memang." Wanita itu mendengus kesal, aku sempat terkekeh tak kala jimin menyenggol tubuh wanita itu dan hampir membuatnya terjatuh.


  "Kau membawa siapa jim?" Tanya wanita itu yang sadar aku terus memperhatikan mereka berdua.


Dasar sialan, sedari tadi kau anggap aku apa?


  Aku tersenyum ketika wanita itu membulatkan mulutnya membentuk huruf O.


"Ahhhh dia cukup cantik jim." Wanita itu menggoda jimin dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Nama ku park yenjuon, panggil aja juon, sepupunya Jimin." Wanita yang namanya juon itu mengangkat tangannya mengajak ku untuk berjabat tangan.


"Kim hyerin." Jawab ku lalu membalas jabatan tangan juon, ternyata juon itu adalah sepupu jimin, entah kenapa aku merasa tenang mendengar pernyataan juon.


"Dimana ahjumma?" Tanya jimin pada juon.


"Ibu baru saja pergi bersama dengan ayah, ibu menitipkan untuk mengajakmu melihat lihat gaun pengantin, mari!" Juon berjalan pergi di ikuti langkah ku dan jimin dari belakang.


Aku memperkirakan jimin dan juon memiliki umur yang tak terlalu jauh berbeda, juon juga tak segan menggoda jimin atau sekedar menjahilinya.


"Ibu bilang beberapa gaun pengantin ini yang kemarin dipilihkan oleh ahjumma, dan ahjumma bilang untuk menunjukan ini pada mu dan hyerin." Juon menujukan hampir sepuluh menequen berbalut gaun pengantin dengan warna yang berbeda dan desain yang berbeda pula.


  "Kau bisa memilh gaun pengantin apa pun yang kau suka." Jimin menyuruhku untuk memilih satu dari sepuluh gaun pengantin itu, aku sempat menatap seluruh gaun yang sudah terpajang di hadapanku, tak ada yang menarik, semua desainnya terlalu berlebihan.


Bukan aku tidak suka, hanya saja ini tak sesuai dengan fashion ku yang lebih ke sederhana dan oriental, itu lebih baik menurut ku.


  Sebenarnya jika aku ingin aku bisa mendesain gaun pengantin sesuai dengan keinginanku, hanya saja waktunya sudah tak cukup, jadi aku memutuskan memilih salah satu dari sepuluh baju pengantin ini.


  Aku melihat sebuah gaun yang sederhana, berwarna putih dengan sentuhan mawar di bagian pinggang dan pundak gaun itu.


Baiklah dari pada tak mendapat gaun sama sekali, aku memutuskan untuk mengambil gaun ini sebagai pilihan ku.


"Jimin.. Mungkin aku ingin memilih gaun yang ini." Aku menujukan gaun itu pada jimin, jimin hanya menjawab dengan anggukan kecil, sepertinya itu tanda dia setuju dengan pilihanku.


"Kau coba terlebih dahulu, aku menunggu mu disini." Jimin memberikan isyarat pada juon untuk mengajakku mencoba gaun ini.


"Kamar ganti di sebelah sana, hyerin-Sshi" Tunjuk juon, aku mengangguk lalu pergi menuju sebuah bilik kamar yang di tunjukan oleh juon.


  Tak tahu apakah ukuran gaun ini pas padaku, tapi sepertinya nyonya park sudah mempertimbangkan ukuran tubuhku.


Dengan susah payah aku memakai gaun ini, apalagi gaun ini memperlihatkan punggung bagian belakang ku, aku melihat merek gaun ini, aku mengerti ini adalah merek gaun terkenal, tapi aku tak nyaman menggunakan gaun ini.


Terlalu terbuka.


Tahan hyerin, tahan, ini semua demi eomma dan appa.


Aku menenangkan diriku agar tak marah dengan nyonya park karena telah memilihkan gaun yang sangat terbuka dan dari sepuluh gaun tadi hanya ini yang memiliki desain paling tertutup.


  Persetan dengan sepupu jimin yang sama sekali tak membantuku menggunakan gaun ini.


Sialan!


Akhirnya setelah berhasil menarik resleting punggung belakang gaun ini, aku keluar bilik kamar, sambil sedikit mengangkat gaun yang sedikit panjang.


  Aku mencari keberadaan jimin, di mana dia? Aku tak melihatnya, juga juon? Dimana wanita itu.


Karena tak menemukan keberadaan juon maupun jimin, aku memutuskan untuk membenarkan rambutku yang kusut karena tertiup angin, kebetulan didalam butik ini tersedia kaca sehingga aku bebas untuk memperbaiki rambutku ini.


Karena sangat panas, aku mengikat rambutku asal, rambutku pendek sedikit sulit untuk mengikatnya.


Tapi ku usahakan.


Tak lama kulihat jimin dan juon menghampiriku, kesal! Tentu saja tak tahukan jimin bahwa gaun ini sangat panas dan berat.


Ada yang aneh, jimin tak lagi menggunakan kemeja warna abunya lagi, namun kini pria itu menggunakan tuxedo berwarna hitam dan kemeja berwarna putih.


  Astaga dia sangat tampan, tuhan kuatkan imanku agar tak goyah saat melihat ciptaan mu yang indah ini.


"Hyerin... Kau cantik sekali!" tiba tiba sudah kulihat juon berada dihadapan ku sambil tersenyum aneh menatapku.


  Kulihat jimin diam, diam karena apa aku tak tahu, dia menatapku lekat mungkin dia tak suka dengan gaun ini.


Juon yang menyadari diamnya aku dan jimin, tiba tiba berlari kearah jimin dan berbisik di telinga jimin, aku hanya memperhatikan mereka berdua bingung, lalu jimin menghampiri ku.


"Kau sangat cantik."


Jimin mengucapkan kata itu? Astaga aku kenapa, pipi ku tiba tiba terasa panas apa karena cuaca sekarang.


  Tapi siapapun selamatkan jantungku, yang sudah berdegup tak karuan seperti ini.


  Vomment, buat kalian yang suka baca try for love mohon komen, siapa tahu aku dan kamu dapat berteman baik😙