Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
stranger message



  "Morning by." Sapa jimin, begitu aku datang ke meja makan.


  "Morning too." Jawabku yang langsung mengambil kursi ikut duduk disamping jimin.


  Aku melihat makanan yang sudah tersaji diatas meja, ada makanan sederhana seperti sandwich hingga omelet yang pastinya buatan ahjumma jiena. Ya, semalam aku memberikan jimin kesempatan untuk kesekian kalinya, walau aku masih ragu, tapi aku selalu berdoa agar jimin benar-benar memanfaatkan kesempatan yang aku berikan ini.


  Semoga dengan ini juga hubungan ku dengan jimin semakin membaik.


   "Kau akan pergi bekerja hye?" Tanyanya, yang masih sibuk mengoles selai cokelat pada roti tawar.


   "Ya, aku akan bekerja, oh iya, siang nanti aku akan menjemput guanlin di bandara." Ucapku, menurutku aku harus meminta izin pada jimin untuk hal ini, aku tak ingin ada kesalah pahaman nantinya yang berujung pertengkaran seperti waktu itu.


   "Kau saja?" Tanyanya.


  "Tentu saja tidak, akan ada eunwoo dan sehun juga, mereka pasti akan menjemput guanlin." Tambahku, yang kini tengah memotong sandwich yang berada diatas piring milikku.


    "Baiklah, hati-hati nanti sepulang dari menjemput guanlin, aku akan menjemputmu."


  "Ya, oppa."


  Suasana meja makan kembali hening, diam aku dan jimin sedang menikmati sarapan tanpa bersuara dan berkomentar, hanya ada dentingan sendok juga pisau yang digunakan untuk memotong makanan.


   Sampai jimin bangkit dari duduknya, ekor mataku mengikuti setiap langkah jimin yang kini sudah berdiri didepan rak dapur.


   "JIM!" Teriak ku tergesa-gesa, pasalnya didalam rak itu, terdapat kotak susu ibu hamil yang aku sembunyikan, jika jimin sampai membuka rak itu, tamat sudah riwayatku.


   "Kenapa?" Tanyanya bingung.


   "Kau ingin membuat kopi? Biarkan aku yang membuatnya."


  "Tidak perlu, kau lanjutkan saja sarapan." Jawab jimin, yang langsung membuka rak itu untuk mengambil bubuk kopi yang tersimpan didalam sana.


   Aku menutup mata, takut, juga tak sanggup menjelaskan apapun pada jimin tentang kehamilan ku yang sengaja ku sembunyikan, alasan apa yang akan ku berikan pada jimin, apakah dirinya akan marah? Pastinya.


  Namun sampai beberapa menit, kemudian aku tak mendengar apapun, entah pertanyaan jimin tentang susu hamil yang ku simpan didalam rak, karena penasaran aku langsung membuka mata, aku bingung karena melihat jimin bertingkah biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, dia sedang menuangkan air panas pada cangkir yang ku yakini berisi kopi.


   Aku mengerutkan dahi bingung, apakah jimin tak melihat kotak susu itu? Atau dia pura-pura tak melihatnya. "Hye, kau kenapa?" tanyanya bingung.


  Aku langsung menggeleng, kembali berkutat pada pikiranku, ingin rasanya aku melihat kedalam rak itu, tapi nanti jimin akan merasa curiga, jadi aku memutuskan diam dan meneruskan sarapanku.


   "Oh tuan, maaf seharusnya saya yang membuatkan kopi." Aku melirik asal suara yang berasal dari ahjumma jiena.


  "Tidak apa-apa, ahjumma, ini bisa aku lakukan sendiri." Jawab jimin.


  Aku tak memperhatikan mereka berdua dan memilih menghabiskan potongan sandwich terakhir milikku. Tapi, aku cukup terkejut begitu melihat segelas susu sudah ada disampingku, aku menoleh, dan melihat ahjumma jienalah yang menaruh segelas susu itu disampingku.


  Aku tertegun, tak tahu harus mengucapkan apa, karena aku tak memesan susu untuk minum pagi ini, dan sepertinya ahjumma jiena yang memindahkan kotak susu ku. Pantas jimin tak melihatnya didalam lemari.


   "Te—terimakasih ahjumma." Jawabku gugup, ahjumma jiena hanya mengangguk kemudian pergi dari ruang makan.


  "Hye, sejak kapan kau suka minum susu?" Tanya jimin yang sepertinya menyadari segelas susu yang berada disampingku.


  "Tidak tahu, semalam aku memesannya pada ahjumma jiena." Jawabku berbohong, tanpa perduli dengan ucapan jimin aku langsung menegguk habis susu itu tanpa tersisa.


   "Hye, aku harus segera berangkat, ada rapat pagi ini." Ucap jimin yang sudah mengambil tas miliknya, juga iPad yang ia masukan kedalam tas berisi laptop tersebut.


   Aku mengangguk, mengikuti langkahnya menuju pintu keluar utama rumah. "Aku berangkat hye, hati-hati dijalan nanti." Nasihatnya sambil mengusap surai panjangku.


   "Tentu saja oppa." Jawabku dengan cengiran kuda.


   Sebelum pergi jimin memberikan sebuah kecupan singkat pada dahiku, aku sempat berdebar dengan ciuman singkat itu, walau sangat singkat, namun rasanya ada banyak cinta yang tersalurkan dalam ciuman sederhana tadi.


   Setelah jimin pergi dan menaiki mobilnya, aku bergegas masuk kedalam rumah, mencari keberadaan ahjumma jiena untuk meminta penjelasan, tentu saja aku bingung, bagaimana ahjumma jiena menemukan susu itu.


  Aku berjalan menuju taman belakang, biasanya setiap pagi ahjumma jiena akan ada disana untuk menyiram bunga-bunga. Dan benar saja begitu aku memasuki area taman belakang, aku melihat ahjumma jiena yang sedang menyiram tanaman.


   "Ahjumma!!" Panggilku sambil berlari menuju kearahnya.


   Ahjumma jiena langsung menoleh padaku dan segera menyimpan teko berisi air. "Pelan-pelan non jangan berlari." Peringat ahjumma jiena yang melihat aku sedikit berlari ketika memasuki area taman.


   "Ah, maaf, aku lupa." Jawabku lagi dengan kekehan, aku memang seorang ibu yang lalai, bagaimana bisa aku berlari-lari ketika sedang mengandung seorang janin dalam perutku.


  "Ada apa non?" Tanya ahjumma jiena.


  "Ahjumma, bagaimana ahjumma bisa tahu tentang susu itu?" Tanyakku begitu penasaran.


  Ahjumma ber-oh ria, lalu tersenyum lembut sambil mengambil kedua tanganku untuk ia genggam.


   "Non, jika ingin menyembunyikan sesuatu harus lebih baik lagi, ahjumma ucapkan selamat atas kehamilannya." Jelas ahjumma jiena yang membuat ku sedikit malu, pasalnya aku memang bodoh dalam hal berbohong ataupun menutupi sesuatu.


   "Terimakasih ahjumma, tapi—mm, ahjumma tidak memberi tahu jimin oppa kan?" Tanyaku lagi.


  Perempuan setengah abad itu menggeleng pelan, wajahnya sangat lembut penuh kasih sayang. Sedari dulu ahjumma jiena merupakan pembantu tepercaya yang di pilih oleh eommaku, ahjumma jiena adalah orang yang lembut dan penyayang, dulu sewaktu kecil aku selalu bermain bersama ahjumma jiena ketika eomma dan appa tak ada di rumah.


   "Terimakasih ahjumma, sudah mau mengerti dengan keadaanku." Parau ku, merasa malu karena ahjumma jiena tahu dengan masalah keluarga ku walau tak secara gamblang ia katakan.


  Tapi aku yakin, ahjumma jiena sudah sering melihat pertengkaran ku dan jimin sehingga bisa memaklumi dan mengetahui secara tidak langsung masalah yang aku hadapi dengan jimin.


   "Sama-sama non, oh iya nona ingin pergi ke kantor kan? Ayo sudah terlambat." Ucapnya masih dengan nada lembut yang penuh kasih sayang.


  "Iya, ahjumma sekali lagi terimakasih." Aku membungkukan tubuhku 90 derajat sebelum akhirnya berlari meninggalkan ahjumma jiena ditaman belakang.


   Aku sedikit lega karena pada akhirnya ada yang mengetahui kehamilan ku selain aku, eunwoo, dan sehun. Setidaknya dengan begitu aku memiliki seseorang yang dapat ku ajak kerjasama nanti.


    ***


  "Kau seharusnya tak bekerja park hyerin!" Tegas seseorang lelaki berwajah dingin dengan rahang yang simetris itu.


  Aku merollingkan mata malas, profektif sekali. "Sudahlah sehun, hyerin tak harus selalu berada diatas kamar, dia juga butuh beraktivitas, aku tak mau anaknya nanti menjadi seorang pemalas jika terus beristirahat tanpa bergerak." Ucap eunwoo yang melakukan pembelaan.


  Aku yang melihat perdebatan kedua orang itu hanya bisa tertawa kecil, aku senang mereka semua mengkhawatirkan kondisiku. Tak ingin ikut melerai, aku memilih untuk memperhatikan orang-orang yang keluar dari bandara.


  Ya, kini aku, sehun dan eunwoo tengah menunggu di parkiran bandara, sehun sudah menghubungi guanlin dan memintanya datang ke tempat parkir.


  Mungkin ada yang berpikir, kenapa hubungan persahabatan kami mudah membaik, sebenarnya eunwoo maupun sehun sudah tahu tentang guanlin yang diancam oleh kedua orang tuaku, tapi mereka berdua tak mengatakannya, takut aku malah tak percaya dengan ucapan mereka, jadilah eunwoo dan sehun membiarkan aku tahu sendiri tentang ancaman itu.


   Aku juga sudah memaafkan guanlin atas kejadian waktu itu, jadi tak ada lagi dendam diantara kami berdua.


   "Guanlin!!" Aku memanggil nama itu dengan cukup keras, ketika melihat seseorang lelaki dengan kacamata hitam tengah melirik sekeliling yang jelas pasti mencari kami bertiga.


  Lelaki itu melirik ku, lalu membuka kacamata hitam yang ia gunakan, guanlin langsung berjalan menuju ke arahku. Dia sangat tampan dengan kemeja berwarna baby blue yang pada bagian lengannya sengaja dia gulung sampai siku.


   Sekitar bandara sudah di jaga oleh bodyguard sehun, karena aku yakin lelaki itu pasti akan di kerumuni banyak fans jika tidak dilakukan pengamanan yang sangat ketat, dan ketahuilah fans-fans seorang artis tidak akan ada yang diam jika bisa bertemu langsung dengan idolanya.


   Maka dari itu, sedari tadi semua pengawal sehun sudah berjaga-jaga, melarang semua paparazzi untuk datang ke area bandara. Selain karena guanlin yang merupakan seoang artis, seorang oh sehun juga sangatlah terkenal, dia disebut sebagai pengusaha tampan yang menarik hati banyak kaum hawa, bisa dibilang lelaki idaman wanita terutama dengan sikap dinginnya yang menjadikannya semakin sempurna dimata banyak wanita.


   Mereka berdua langsung mengalihkan pandangannya padaku, aku hanya bisa menatap garang kedua lelaki yang sedikit terkejut karena pelototan yang aku berikan pada mereka.


   "Hyerin."


  Aku hampir terjatuh begitu merasakan pelukan hangat yang guanlin berikan padaku, aku sempat  terkejut karena ku pikir guanlin tidak akan memeluk seperti ini.


  "Biarkan seperti ini sebentar saja rin, aku merindukan mu." Bisiknya ditelingaku dengan sangat lembut.


   Aku menolak pelukan hangat yang diberikan oleh guanlin, sudah hampir beberapa bulan aku tak bertemu dengan guanlin, sama sepertinya aku juga merasakan rindu yang teramat dalam, walau aku sendiri ragu dengan perasaan ku pada guanlin.


   "Ekhem."


  Guanlin langsung melepaskan pelukannya padaku saat mendengar suara batuk seseorang yang disengaja, siapa lagi kalau bukan oh sehun, lelaki itu sangat menyebalkan.


  "Jangan peluk lama-lama, dia udah jadi istri orang." Nasihat sehun yang kini membawa guanlin dalam dekapannya, hanya sebentar karena guanlin langsung mendorong tubuh sehun kasar, menunjukan wajah kesal karena lelaki itu menganggunya.


  "Apa kabar?" Tanya eunwoo yang menepuk pundak guanlin pelan.


  "Aku baik, senang bertemu dengan kalian lagi. Kalian harus repot sampai menyiapkan pengawal untuk menutup akses ke bandara." Ucap guanlin yang kini sudah membungkukan tubuhnya 90 derajat.


   "Ya, tentu saja, kau adalah sahabat kami, ini bukan hal yang besar." Jawabku, walau sejujurnya aku tak membantu apa-apa karena semua ini merupakan persiapan dari seorang oh sehun.


  "Ayo, kita berniat untuk makan siang bersama bukan?" Tanya eunwoo yang serentak kami angguki.


   ***


    Siang ini, aku bersama dengan ketiga sahabat ku tengah berada disebuah restoran yang cukup tersohor, tempat yang hanya bisa di kunjungi oleh para petinggi yang memiliki budget untuk membayar makanan mahal yang disediakan disini.


   Kami berempat sudah memesan makan siang sesuai keinginan masing-masing, namun bodohnya seorang oh sehun malah meminta pada seorang pelayan untuk menyeduh susu hamil yang pengawalnya bawa.


  Aku sempat tercengang, sehun memang profektif bagaimana dia bisa selalu membawa susu hamil itu kemanapun, apa dia gila? Dan hal itu sontak membuat guanlin yang tak tahu apa-apa bertanya.


    "Katakan saja hye." Tambah eunwoo.


  Aku akhirnya pasrah, bersiap mengatakan kenyataan selanjutnya seperti saat ketika aku mengatakan bahwa aku akan menikah dengan jimin seperti waktu itu.


   "Aku sedang hamil anak jimin." Ucapku tak mau menatap guanlin, aku mengalihkan pandangan ku menuju arah lain merasa sesak jika guanlin sampai tahu tentang hal itu.


   "Wah, selamat hyerin. Aku sangat senang mendengarnya." Jawab guanlin sambil menunjukan senyuman manisnya yang malah membuat aku tertunduk.


   Mungkinkah guanlin sudah tak mencintaiku lagi? Atau dia sudah melupakan beberapa ucapannya tentang menunggu ku? Mungkin ya, tapi itulah yang aku harapkan, guanlin bisa melupakan diriku, agar aku tak merasa bersalah pada dirinya.


  Aku merasa lega saat itu juga, ku pikir guanlin akan marah atau semacamnya, namun sepertinya pikiran ku salah, guanlin sudah dewasa dan mengerti apa yang seharusnya dia lakukan.


  "Tapi, sayangnya jimin berselingkuh, lebih tepatnya masih berhubungan dengan kekasihnya." Tambah sehun.


  Aku lagi-lagi melotot pada lelaki itu, kenapa dia harus mengatakan hal itu dihadapan guanlin?


  "APA!! dia berselingkuh? Aku tidak bisa membiarkan ini, lelaki brengsek."


  Marah guanlin yang sudah berdiri dari duduknya, bersiap pergi. "Sudah tenanglah guanlin, biarkan hyerin menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri." Tahan eunwoo pada guanlin dengan suara yang sangat tenang.


   "Tapi eunwoo, lelaki itu berselingkuh ketika hyerin sudah memberikan segalanya." Guanlin melakukan pembelaan.


  "Sudahlah, kau pasti paham kondisi kekasih jimin, dia berpacaran sejak sma dan harus berpisah dengan jimin hanya karena perjodohan ini, baik jimin maupun diriku tidak akan ada yang rela menikah seperti ini." Jelas ku sambil menundukan kepala.


  Aku yakin, guanlin paham, karena dirinya juga berada pada posisi yang sama dengan yeonji, guanlin pernah mencoba mengejarku ketika aku sudah menikah, menawarkan segala hal yang tak aku dapatkan dari jimin.


  Ku lihat guanlin hanya terdiam sambil menatap nanar padaku, ya aku rasa guanlin mengerti dengan posisi Yeonji sekarang.


  "Jangan bahas itu lagi oke? Kita sedang melepas rindu saat ini." Tambahku yang meraskaan suasana sedikit canggung karena ucapanku tadi.


  Tak lama setelah itu, pelayan datang dan membawakan makanan pesanan kami berempat, semuanya sibuk dengan makanan masing-masing, aku yang sibuk memotong daging dan yang lain juga sama.


  Tapi kegiatan ku terhenti, begitu dering telefon ku berbunyi, dengan segera aku mengambil ponselku yang berada didalam tas. Aku melihat layar ponsel dan melihat dua notifikasi pesan belum terbaca, aku langsung membuka room chat dan melihat nama jimin terpampang paling atas, juga dibawahnya ada nomor tidak dikenal.


  Aku mengerutkan dahi bingung, pasalnya nomor ini yang tahu hanya Keluarga ku saja, seperti jimin dan sahabat-sahabat ku yang lain, atau mungkin ada teman ku yang mengganti nomornya. Karena menurutku tidak penting aku lebih memilih membuka chat dengan jimin.


Jimin oppa♡


[*Hyerin, kau sudah selesai dengan acaranya?]


[Jika sudah, aku akan menjemputmu kesana* ]


12.36


[belum oppa, nanti ku hubungi lagi jika sudah selesai]


Terkirim


  Setelah mengetikan pesan balasan pada jimin aku langsung beralih menuju pesan dari nomor yang tidak dikenal tadi. Oh iya, jangan heran dengan nama kontak jimin, jimin sendirilah yang menggantinya, entah apa maksudnya dan aku hanya bisa menurut.


Unknown


[*hyerin, ini aku jung yeonji, bisakah kita bertemu siang ini? Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu]


[Jika kau bisa bertemu, aku menunggu mu di cafe xxx, didaerah myeongdong*]


  Aku terdiam menatap pesan dari seseorang yang mengaku sebagai yeonji tadi, apakah yang ingin dia bicarakan? Tentang hubungannya dengan jimin? Atau ada hal lain yang ingin dia bicarakan? Ku yakin hal itu mengenai jimin dan hubungan tentu saja.


   Aku kembali memasukan handphone ku kedalam tas, berpura-pura bersikap biasa saja dengan pesan yang baru saja ku dapatkan, aku tak ingin sahabat ku ikut campur dengan urusan ku kali ini, biarkan aku yang menyelesaikan nya dengan cara ku sendiri.


  ***


Kaget gak? Pura2 kaget dong, heheh:v


Cerita ini mau tamat makanya aku fast update, oh iya gimana bab ini? Kalian udah tebak endingnya belum?


Apa hayoo yang mau di omongin sama yeonji, dapet dari mana tuh nomor hyerin? Nanti deh ku kasih tahu:) kalau ada yang bisa nebak ku kasing fly kiss nih


/mwahh


Heheh, see you next chapter!!


  


  jung yeonji as miyeon gidle