
**ini adalah bab terakhir, karena bab berikut nya adalah ending, cerita ini akan sangat berbeda dari bayangan kalian, ara harap kalian mengerti. jangan hujat ara, ara selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian semua, jangan berkomentar negatif atau menjelekkan cerita ara, ara hanya manusia terkadang ara juga sedih jika ada yang mengatakan cerita ara jelek dan menjatuhkan nama ara. Jika kalian pandai sebagai pembaca, maka kalian pasti tahu cara menghargai author kecil seperti ara, terimakasih
happy reading♡**
***
"Aku harus segera pergi, aku ada urusan sebentar." Ucapku sambil membereskan barang-barangku yang berada diatas meja makan.
"Kenapa terburu-buru?" Tanya eunwoo yang masih menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan, kau bisa pulang bersama dengan sehun kan?" Tanyaku pada Eunwoo karena lelaki itu memang datang bersama diriku.
"Ya, baiklah hati-hati." Jawab eunwoo.
"Mau membawa salah satu pengawal hyerin?" Tawar sehun dengan santainya.
Aku langsung menggeleng cepat, gila saja jika sampai aku membawa pengawal, bisa-bisa sehun tahu dengan siapa aku akan bertemu.
"Tidak perlu, aku hanya ke myeongdong sebentar. See you guys!" Pamitku dengan cepat sebelum sehun memkasa diriku untuk membawa pengawal.
Aku keluar dari kawasan restoran elit itu, sebelumnya aku sudah menghubungi jimin agar tidak perlu untuk menjemputku, aku beralasan memiliki urusan yang perlu aku selesaikan.
Aku masuk kedalam mobil purchase miliku, berbody kecil dan memang sangat cocok untuk aku gunakan sendiri. Membawa mobil melaju meninggalkan restoran untuk bertemu dengan yeonji.
***
Aku menatap cafe yang di maksudkan oleh yeonji didalam alamat, cafe sederhana yang tak terlalu populer. Setelag memarkirkan mobil ku dengan susah payah, karena lahan parkir yang cukup kecil, aku akhirnya memasuki cafe itu dengan detak jantung yang tak karuan, aku penasaran sekaligus takut tentang apa yang akan di bicarakan oleh yeonji padaku.
Saat masuk kedalam cafe, suasananya sangat sepi, hanya ada 3 orang yang tengah makan disana. Aku tak tahu, wajah yeonji karena aku tak pernah melihat fotonya atau semacamnya, walau aku pernah melihat jimin di restoran bersama seorang wanita itu tapi aku tidak yakin kalau perempuan itu merupakan yeonji.
"Hyerin!" Aku menoleh, mencari asal suara yang memanggil namaku dengan cukup keras.
Pandanganku berhenti ketika melihat seorang perempuan berambut panjang dengan wajah yang sangat cantik tengah melambaikan tangannya padaku. Aku langsung yakin bahwa perempuan itu adalah Yeonji, sedikit rasa tak percaya diri tiba-tiba menghampiri, pantas saja jimin sangat menyayangi perempuan ini, ternyata dia memang sangat cantik.
Aku mendatangi perempuan yang tengah duduk disalah satu meja itu, membalas senyuman yang ia berikan padaku. Tanpa mengucapkan apapun lagi, aku langsung mengambil kursi dan duduk berhadap-hadapan dengan yeonji.
"Hai, hyerin. Aku jung yeonji." Sapanya dengan wajah ramah.
Aku tersenyum tipis. "Ya, aku tak perlu mengenalkan diri bukan? Kau sudah tahu siapa aku." Jawabku dengan santai, meletakan tas milikku diatas meja.
Gestur yeonji berubah, dia menggeliat tak nyaman memperbaiki posisi tubuhnya ketika aku menyinggung tentang siapa aku sebenarnya. "Mau pesan makan?" Tanyanya lagi berbasa-basi.
"Tidak perlu, aku sudah makan siang sebelum kemari." Tolakku halus, walau mungkin yeonji menyangka aku sangat jutek karena nada bicara ku yang terkesan dingin dan angkuh, aku tak peduli. Toh, aku memang seperti ini pada orang yang tak dikenal.
"Bisa dipercepat? Aku ada rapat 1 jam lagi." Ucapku pada yeonji, aku tak berbohong soal rapat, karena memang hari ini ada jadwal pertemuan dengan para investor dan aku tak bisa menundanya.
"Baiklah, jadi mungkin kau sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan." Aku mulai menyimak apa yang sedang di ucapkan oleh yeonji.
"Sebelumnya aku minta maaf atas kejadian kemarin dirumah mu, aku tahu itu tak pantas dan aku nekad, tapi aku melakukan itu karena sebuah alasan." Jelasnya dengan nada menyesal.
Aku hanya ber-oh ria, malas menanggapi apa yang terjadi kemarin kemarin lusa. Ternyata benar, gadis yang berada di restoran juga dirumahku adalah perempuan yang sama yaitu yeonji.
"Aku adalah kekasih jimin sejak SMA, akulah yang pertama kali menyatakan rasa suka ku padanya dulu. Jimin tak pernah mengatakan apapun tentang perjodohannya, dan waktu itu dia menerima ku karena rasa kasihan, hubungan kami awalnya memang sulit, jimin tak pernah ingin mencoba jatuh cinta dengan siapapun termasuk aku yang merupakan kekasihnya." Yeonji menundukan kepalanya, kemudian mendongak memberikan tatapan sendu padaku.
"Sampai akhirnya aku menyerah dengan jimin, namun saat aku ingin pergi, jimin benar-benar menyatakan perasaannya padaku, mulai dia yang sangat mencintaiku dan takut kehilanganku. Rasanya sangat bahagia saat tahu jimin sudah jatuh cinta padaku, namun hubungan kami kembali renggang saat aku tahu bahwa jimin sudah dijodohkan, aku sudah benar-benar menyerah saat itu, tapi lagi-lagi jimin meyakinkan bahwa dia tidak akan menerima perjodohan itu untuk ku." Yeonji menghela nafas panjang, masih dengan raut wajah sedih yang sangat natural.
"Aku berusaha yakin dengan jimin, kembali mencoba mempertahankan hubunganku dengannya, sampai tiba disaat kalian akan menikah dan jimin menerimanya tanpa penolakan, aku rapuh, aku merasa ini akan benar-benar berakhir, tapi lagi dan lagi jimin masih berusaha meyakinkanku, bahwa ini tidak akan berlangsung lama." yeonji menutup mulutnya dengan tangannya, seakan tak kuat menceritakan hal ini, matanya berkaca-kaca menahan air mata.
"Dia mengatakan, bahwa hanya sebentar sampai istrinya melahirkan seorang anak dan memberikan cucu untuk ibunya, setelahnya dia akan menceraikan mu." Cerita yeonji yang kini sudah berlinang air mata, terisak pelan walau suara lirih terus terdengar.
Aku memegang dadaku sendiri, rasanya sangat sakit mendengar kenyataan yang diucapkan oleh yeonji. Dulu aku memang berniat seperti itu, memiliki anak lalu menceraikan jimin, namun semuanya gagal karena perasaan ku pada jimin.
"Pada awal pernikahan, apa kau sadar jimin sering tak ada dirumah, pergi keluar dan beralasan rapat? Dia berbohong hyerin, dia mendatangi ku dan mengatakan tak sanggup dengan pernikahan mu dan dia."
"Pada malam itu hyerin, dia mendatangi ku dengan keadaan yang sangat buruk, dia mabuk dan sangat berantakan, tapi aku tak menyangka hal itu malah membuat dosa untuk aku dan jimin." Cerita yeonji masih dengan suara terisakan juga air mata yang terus mengalir.
"Namun beberapa hari yang lalu, jimin mendatangiku untuk mengatakan perpisahan, jimin bilang dia sudah jatuh cinta pada istrinya, dan jimin tak ingin kehilangan mu."
"Seandainya jimin bisa mengatakan hal itu sejak dulu, aku bisa melepaskannya hyerin, tapi sekarang aku tidak bisa melakukannya. Aku hamil hyerin, aku hamil anak jimin. Maafkan aku."
Yeonji turun dari kursinya, langsung bersujud dihadapanku sambil memegang kedua kakiku. Aku menganga tak percaya, langsung meneteskan air mata begitu mendengar kenyataan yang di ucapkan oleh yeonji.
"Jangan bercanda!" Bentakku dengan nada tinggi, masih dengan air mata berlinang.
"Aku tidak bercanda, hyerin. Itulah alasanku melakukan hal memalukan kemarin, aku tak ingin kehilangan Jimin ketika sudah mengandung anaknya hyerin, anak kandungnya." Kilah yeonji yang sekarang sudah terduduk diatas lantai.
Aku semakin menangis sejadi-jadinya, menahan sesak yang teramat besar dalam dadaku, hatiku yang kembali terluka karena jimin. "Jika kau tidak percaya aku akan menunjukan buktinya." Tambah yeonji yang sekarang mengambil tasnya dan mengeluarkan sesuatu didalam sana.
Sebuah kertas pernyataan hamil dari rumah sakit, yang semakin membuatku yakin bahwa yeonji memang tak berbohong. "Hyerin aku mohon... Aku mohon biarkan aku bersama jimin, aku memang egois sebutlah begitu, tapi aku tak ingin anakku lahir tanpa seorang ayah hyerin, cukup aku saja yang tak memiliki siapapun didunia ini, jangan sampai anakku merasakan hal yang sama." Pinta yeonji masih menangis dengan sangat kencang.
Aku tak menjawab ucapan yeonji dan memilih menutup wajahku dengan kedua tanganku, menahan isakan rasa sakit dan teriakan yang ingin aku keluarkan. Apakah semudah itu yeonji mengatakan untuk aku meninggalkan jimin? Apakah hanya dirinya yang tak ingin anaknya lahir tanpa seorang ayah? Bagaimana dengan anakku, bagaimana dengan darah daging jimin yang sedang aku kandung, apakah dia harus rela lahir tanpa seorang ayah?
"Lepas, lepaskan aku!" Bentakku yang langsung mendorong tubuh yeonji agar mepelaskan kakiku. Setelah yeonji melepaskan kakiku, aku memutuskan pergi dari cafe itu sambil membawa kertas pernyataan hamil milik yeonji.
Pergi dengan perasaan campur aduk karena berita ini, sesuatu yang aku takutkan akhirnya terjadi. Aku kembali terluka karena jimin yang egois tak bisa memilih di antara aku ataupun yeonji, aku tak tahu harus berbuat apa, namun aku sudah cukup merasa sakit karena jimin, dan aku sudah cukup lelah untuk mendapatkan hal menyakitkan lainnya.
Aku berhenti sampai disini, biarkan aku pergi.
***
Setelah hampir 2 jam menangis dan menangkan diri, aku sudah merasa lebih baik, walau tak mungkin rasa sakit yang aku dapatkan bisa segera hilang, nyatanya rasa sakit itu masih membayangi terumata ketika aku mengingat tentang jimin juga kekasihnya itu.
Mulai dari niatnya yang memanfaatkan aku, dan juga segala kebohongan yang dia lakukan membuat rasa sakit dihatiku semakin bertambah, jimin yang berjanji dengan segala ucapan manisnya, juga janjinya tak akan membuat aku kembali terluka nyatanya hanya sebuah bualan belaka, jimin bahkan tak pernah menjaga dirinya untuk ku. Tidak pernah.
Untuk rapat tadi, aku sudah meminta eunwoo menggantikan diriku, aku beralasan pada eunwoo bahwa tiba-tiba diriku merasa tidak enak badan dan ingin beristirahat, walau dia bersikeras meminta ku untuk mengatakan keberadaan diriku, namun aku tak mau jika dia tahu bahwa aku berbohong.
Ya, aku tengah berada di tempat pemakaman kedua orang tuaku, menangis disana selama dua jam, menceritakan segala keluh kesah yang selama ini aku pendam. Tentang keputusan yang ingin ku ambil, yaitu perpisahan. Satu-satunya jalan yang bisa ku tempuh, agar semua ini segera berakhir.
Aku bangun dari dudukku, sebelumnya aku membiarkan diriku duduk diatas tanah tanpa alas apapun saking tak tahannya menahan rasa sakit ini. Aku membersihkan bajuku yang terasa kotor karena tanah yang menempel, merapihkan rambutku yang lepek karena keringat dan air mata.
Keadaan ku tak baik-baik saja, menangis di pemakaman merupakan hal yang sangat wajar, tidak ada yang akan menganggap ku gila karena semua orang tahu pemakaman adalah tempat bersedih dan berduka yang paling menyakitkan.
Aku berjalan pelan meninggalkan makam kedua orang tua ku, masih teringat jelas dalam pikiranku ucapan yeonji tentang anaknya yang membutuhkan seorang ayah, dengan dirinya yang tak ingin anaknya hidup sendirian.
Aku mengerti dengan perasaan yeonji, tapi bagaimana denganku, apakah aku harus merelakan jimin dengan yeonji? Sementara aku dan anakku harus rela menanggung semua dosa yang dilakukan oleh jimin.
Tapi aku sudah bulat dengan keputusanku, aku akan benar-benar melepaskan jimin tanpa alasan apapun.
Ya, setidaknya dengan ini anakku akan mengerti nanti, bahwa apa yang aku lakukan demi kebahagiaannya walau terlihat sangat egois.
***
Aku masuk kedalam rumahku dengan wajah sedih yang masih kentara, setidaknya aku mencoba terlihat tegar dihadapan beberapa orang yang melihat ku tadi, walau sejujurnya rasa sakit ini masih begitu menikam.
Seperti apa yang aku duga, hal pertama yang aku lihat adalah keberadaan jimin yang masih lengkap dengan kemeja kerjanya, rambutnya yang terlihat berantakan menatapku sambil memegang sebuah amplop.
Dia menatapku tajam, penuh pertanyaan.
"Hyerin, katakan apa maksdunya ini?" Tanyanya sambil mengacungkan amplop putih itu.
"Aku tahu aku pasti mengerti." Jawabku sendu.
"Kau ingin bercerai dengan ku? Karena apa hyerin? Apa alasannya?" Tanya jimin membentak.
Aku tersenyum sarkastik, lalu mengambil sesuatu didalam tasku, kertas pernyataan hamil kekasih jimin. Aku mendekat pada jimin, melemparkan surat itu pada dada jimin dengan sangat keras. "Baca." Ucapku tenang.
Jimin membuka kertas itu dan apa yang terjadi sama persis dengan apa yang aku bayangkan, jimin menatapku tak percaya, raut wajahnya berubah menjadi terkejut dan juga tegang sekaligus.
Aku tertawa dengan sangat keras melihat ekspresi jimin, ingin sekali aku menangis lagi dihadapan jimin tapi aku tak ingin terlihat lemah, aku sudah lelah terus menangis.
"Apakah alasan ku kurang kuat untuk meminta sebuah perpisahan jimin? Apakah itu tidak cukup?" Tanyaku menahan air mata.
"Hye—"
"Cukup jim, aku lelah, aku sudah tak sanggup lagi, aku tak bisa memberikan dirimu beribu-ribu kesempatan, ketika kesempatan terakhir ini kau sia-siakan."
"Kau memang berniat baik dengan meninggalkan yeonji, tapi sayangnya kau terlambat jimin semuanya berantakan." Tambahku yang akhirnya menangis lagi untuk kesekian kalinya.
"Jim, kasihanilah kekasih mu itu, dia hamil anakmu jimin. Jangan biarkan anak itu lahir tanpa seorang ayah, aku mohon..."
"Aku mohon, lepaskan aku, biarkan aku bahagia." Lirihku sambil menangis, terisak pelan berusaha terlihat tegar, padahal kenyataannya aku begitu lemah.
"Biarkan aku bahagia jimin, biarkan aku pergi."
Aku menjatuhkan tubuhku diatas lantai, kembali menangis sekeras-kerasnya disana menampik semua rasa ke egoisan diriku, rasa takut dianggap lemah oleh jimin, karena aku sudah berada pada titik terendah dalam hidupku.
Isakan ku bersautan bersama dengan rintihan jimin yang ternyata ikut meneteskan air mata, aku tak bisa melihat jimin menangis karena aku terus menunduk menatap nanar lantai rumahku, tak berniat mengatakan apapun lagi.
"Maafkan aku hye, maafkan aku." Suara pelan mendayu itu terdengar sangat rapuh ditelingaku.
"Aku akan melepaskanmu, jika memang kau akan bahagia dengan hal ini." Ucapnya, setelahnya aku melihat derap langkah menjauh meninggalkan aku sendirian di ruang tamu, masih dengan posisi ku yang sebelumnya.
Tepat setelah pintu rumah tertutup, tangis ku semakin menjadi, semakin keras aku mencoba melawan perasaan takut kehilangan semakin nyeri hatiku melihat kenyataan.
Aku tak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini, melepaskan seseorang yang sudah ku anggap sebagai bagian dari hidupku bukanlah perkara yang mudah. Aku terlalu mencintai jimin sampai lupa bahwa hatiku selalu terluka karenanya.
Aku terkejut ketika sebuah dekapan hangat merengkuh tubuhku dengan sangat erat, dari aroma yang ku cium aku tahu siapa dia, aku semakin menjerit dan menangis dalam pelukan lelaki ini.
Guanlin, lelaki itulah yang sekarang tengah memelukku dengan sangat erat, memberikan aku kekuatan disaat rasa menyakitkan begitu memberatkan.
"Lelaki brengsek, aku tidak akan membiarkan dia bahagia begitu saja, dia menghamili gadis lain! Ketika sudah memiliki seorang istri." Geram seseorang yang suaranya sangat asing di indera pendengaran.
"Sabar sehun, biarkan hyerin menyelesaikan ini sendirian."
Walau masih menangis dalam pelukan guanlin aku tahu suara siapa itu, eunwoo, dia pasti juga datang padahal aku tak memberi tahu siapapun tentang ini.
Entah sehun yang menyuruh pengawalnya untuk mengikuti ku, aku tak tahu yang jelas aku tak akan bisa menyembunyikan masalahku dari mereka bertiga.
Dan aku mengaku, bahwa aku kalah, aku kalah dengan perasaan ku sendiri, aku tidak berhasil menahan rasa cintaku pada jimin.
Yang akhirnya membuat diriku terluka.
***
Huhuhuhuu HUAAHHHH HUAHH HIKS HIKS HIKSS satu bab lagi tamat gaesuuuu huhuhuhu sad buanget, kayaknya ini bakal sad ending😭😭
Maafkan aku gaesu aku gak suka liat kalian bahagia, makanya suka buat cerita sad ending😭😏
Awokawokawokawok, see you next chapter ayang ayang♡