Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
meeting again



 



***


Aku berjalan pelan mendatanginya, sambil sesekali menahan rasa tak enak di dalam hati pasalnya aku dan dia kini saling bertatapan setelah sekian lama berpisah karena alasan tak jelas.


  Aku menatap manik matanya yang indah hazel warna itu yang aku sukai, tapi fokus ku teralihkan ketika sehun menatapku sinis, rahangnya mengeras tanda tak suka dengan pertemuan ku dengan nya, tapi aku berusaha agar terlihat it's fine for me and im okey!


  Aku langsung duduk di kursi samping sehun, dia sangat tampan dengan kemeja berwarna putih yang dia kelinting sampai siku, rambutnya dia biarkan terurai di bagian depan menambah kesan ke seksian seorang oh sehun.


Astaga!


Aku baru saja membayangkan betapa seski mya seorang oh sehun, tidak tidak tidak... Aku tidak boleh memikirkan hal itu, aku dan sehun hanya sahabat, ingat itu hyerin hanya sahabat.


Tak lama ku lihat eun woo datang, wajahnya terlihat fresh dari pada saat dia turun dari mobil ku, tapi masih dengan tatapan tajam Eunwoo sepertinya marah padaku karena kejadian membawa mobil itu.


Sejenak keheningan menengahi kami, tak ada yang mau berbicara sedikit pun termasuk aku yang lebih memilih diam sambil menatap meja kosong yang belum terisi makanan.


   Aku tahu mereka semua gugup, eunwoo, sehun dan 'Dia' kami hampir 8 tahun tak bertemu, dan sekarang kami di persatukan dalam tempat yang sama, walau rasa yang berbeda mungkin perlu waktu untuk mereka beradaptasi termasuk dengan diriku.


  "Oke.. Kalian ingin memesan apa?" Kulihat eunwoo berusaha membuat suasana ini tak canggung seperti tadi, tujuan kami memang sedari awal adalah untuk makan siang.


"Aku ingin makanan biasa? Bisa kau pesankan eunwoo?" Tanyaku pada Eunwoo, eunwoo mengangguk dia menunggu permintaan teman lama nya ini.


"Aku juga woo." Ucap sehun sambil menaikan jari telunjuknya, menatap eunwoo yang sudah berdiri dan segera pergi.


  Sementara 'Dia' yang menggunakan turtle neck berwarna hijau dengan topi yang membungkus rambut nya itu hanya diam, sambil menatap ku, eunwoo dan sehun secara bergiliran.


"Aku juga!" Ucapnya setelah mendapat isyarat pukulan kecil dari sehun.


Eunwoo mengangguk paham, lalu berjalan hengkang untuk memesan makanan. Aku, sehun dan dia yang tak lain adalah sahabat ku sendiri sewaktu SMA Lai guanlin ingat! Namanya guanlin.


Ya lelaki mantan terindah ku adalah lai guanlin, tapi sayangnya kisah ku dan dia tak bisa diteruskan karena suatu permasalahan yang terjadi akibat kekerasan hati orang tua ku yang tak merestui hubungan kami.


Dan berakhirlah guanlin menduakkan ku di saat aku tengah kuliah di luar negeri, miris bukan?


Tapi setelah kejadian dimana aku memergoki dirinya ketika tengah berselingkuh, guanlin tak pernah menunjukkan dirinya di hadapan ku, dia sempat meminta maaf berulang kali namun ku tolak karena alasan terlalu sakit hati dengan perlukannya padaku, sebelum itu aku tak mengetahui bahwa orang tua langsung mendatangi guanlin untuk memintanya menjauh dariku, sehingga ada banyak rasa kebencian yang aku curahkan pada guanlin.


  Namun setelah mengetahui hal itu, aku sadar bahwa guanlin juga di paksa, dan entah ancaman apa yang dikatakan ibuku sehingga membuat guanlin menjauh.


Dan sekarang itu masih menjadi misteri.


"Hye.. Maaf.. "


Aku mendongak menatap arah suara itu, kulihat guanlin lah yang mengatakan kata tadi, dia menatapku sambil menunjukan sebuah senyuman yang entah apa maksudnya.


Aku tertegun, ini sudah hampir 9 tahun yang lalu, tapi dia masih sempat meminta maaf?


Tanpa sadar aku sudah merasakan kedua tanganku di genggam erat oleh guanlin, aku sempat melirik sehun yang masih diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


"Tak perlu meminta maaf lin.. Aku sudah memaafkan mu." Aku menarik tanganku dari genggaman hangat tangan guanlin, bukan tak menghargai tapi aku hanya merasa tidak nyaman dengan perlakuan guanlin.


"Hyerin... Aku minta maaf sungguh, bukan maksudku melakukan itu hanya appa dan eomm-"


  "Ssstt-guanlin, sudah ku katakan bahwa aku sudah memaafkan mu, tak perlu lagi di ungkit." Aku memotong ucapan guanlin sebelum dia mengingatkan ku tentang kematian eomma.


"Terimakasih hye.. " Jawab guanlin sambil tersenyum membuat bagian matanya sedikit menyipit.


  "Hanya saja... Aku meminta padamu agar tidak menyimpan dendam pada eomma maupun appa, karena aku tahu apa alasan mereka memisahkan kita lin." Ucap ku sambil memberanikan diri untuk menatap kedua bola matanya.


  "eum-tentu saja, Bagaiamana keadaan eomma?" Tanya guanlin tanpa sebuah rasa bersalah, apakah dia tak tahu bahwa eomma sudah tak ada?


"Eomma sudah meninggal." Jawab sehun secara tiba tiba, aku melirik sehun sebentar kulihat dia masih dengan ekspresinya yang dingin. Menyebalkan!


"Ap-ap apa yang terjadi hyerin?" Tanya guanlin.


"Nanti saja di ceritakannya, sekarang aku lapar oke?" Ucap sehun membuat jawaban ku tertahan di bawah bibir, apa sih yang dia inginkan?!


"Maaf mengganggu lama." Eunwoo langsung mengambil kursi duduk di sampingku, aku menatapnya, aku bisa bernafas lega ketika dia memberikan sebuah senyuman padaku, kupikir dia akan terus marah.


Pelayan itu menaruh seluruh pesanan makananku diatas meja, sambil tersenyum ramah menatap kami berempat, nama pelayan itu adalah jeon hanna dia pemilik cafe ini, dia sungguh sangat baik karena sering membantu karyawannya mengantar makanan.


Umurnya memang sudah cukup tua, namun dia masih terlihat sangat segar, dan eonnie hanna tahu kalau kami berempat adalah pelagan setianya.


"Sudah lama aku tidak melihat kalian berkumpul ber empat." Ucap eonnie hanna, yang hanya kujawab dengan senyuman seadanya.


"Kami sungguh sibuk noona, aku bahkan sampai tak memiliki waktu istirahat." Cerita eunwoo pada eonnie, membuatku meliriknya sebentar, apakah dia sesibuk itu?


  "Kalau guanlin, noona. Harus bekerja keluar negeri, noona masih ingat tidak dengan alin." Ucap guan sambil menunjukan pupy eyesnya pada eonnie.


"Tentu saja noona ingat, alin kan sangat tampan." Eonnie hanna terkekeh, di antara kami berempat hanya guanlin lah yang paling manja, sangat.


"Eonnie mari makan siang bersama." Tawarku pada pada eonnie hanna.


"Lain kali saja yah... Eonnie harus mengantarkan banyak pesanan, nikmati saja waktu kalian berempat, pasti kalian akan sangat rindu." Jawab eonnie hanna berlalu meninggalkan kami berempat.


"Noona hanna masih saja terlihat muda." Puji guanlin sambil mengambil makanan miliknya.


"Iya noona memang awet muda" Jawab sehun yang akhirnya mengeluarkan suara setelah hampir beberapa menit diam tanpa sebab.


  Aku mengangguk sambil memakan kimchi kesukaanku.


Lalu setelahnya tak ada lagi percakapan, semuanya sibuk dengan makanan masing masing, akupun begitu hanya diam menikmati setiap rasa pedas dan gurih dari kimchi khas cafe ini.


"Bagiamana dengan jimin, hyerin-yya?" tanya sehun tiba tiba, bisa tidak dia tidak usah membawa-bawa nama jimin, seharusnya dia paham kita sedang berkumpul bersama setelah lama berpisah, sehun membuat mood ku buruk.


"Jangan bahas jimin oke?" Ucapku dengan penuh penekanan, dasar sehun dengan wajah dingin menjijikkan.


"Jangan marah hyerin, aku hanya ingin tahu perkembangan ceritanya." Sehun tertawa garing, sungguh candaan nya tidak lah lucu apa dia memiliki selera humor yang sangat rendah?


"Tak ada yang lucu sehun." Aku menatap sehun tajam dengan kilatan kemarahan, dia memang bodoh sangat malah.


  "Hey! Ada apa ini? Siapa jimin?" tanya guanlin kebingungan dengan arah pembicaraan aku dan sehun.


Sehun sialan!


"Bukan siapa siapa." Jawabku dengan ketus, haruskah aku mencubit sehun agar berhenti membahas soal jimin.


  "Ceritakan saja hye." Tutur sehun lagi, kurang asem memang sehun.


"Tak apa hye.. Guanlin perlu tahu." Tambah eunwoo aku semakin terdesak dengan ini, disatu sisi aku tak mau guanlin tahu ini, karena yang kutakutkan guanlin sakit hati mendengar pernyataan ini. Tapi di satu sisi guanlin harus tahu bahwa aku akan segera menikah.


  Aku menghela nafas panjang, melihat guanlin menatap ku dengan rasa penasaran yang sangat besar, apa dia seingin tahu itu?


"Baiklah baiklah, aku akan menceritakannya."


Aku menarik nafas berharap guanlin tidak akan marah ataupun merasa sakit hati.


"Jimin... Itu adalah calon suamiku, aku dan dia dijodohkan, eomma dan appa sudah merencanakan perjodohan ini semenjak aku masuk smk."


Jelasku dengan suara sepelan mungkin agar guanlin tak mendengar segala ucapanku yang dapat merobekkan hatinya, pikirku.


Tapi ternyata aku salah, guanlin sudah diam dengan wajah datar yang menyeramkan, tangannya mengepal menahan rasa kemarahan dan juga sakit hati.


Sehun dan eunwoo sialan! Mereka menghancurkan reuni indah ini.


Konfliknya belum nyampe inti☺


Vomment❤


Ucucucucu guanlin sini aku cium:)



Tbc❤