
Menyerahkan semuanya pada takdir dan menyatakan bahwa aku sudah tak sanggup dengan semua ini. Menjauhi kenyataan dan memilih pergi bersama dengan rasa kelelahan?
Aku bingung, harus bagaimana diriku, jimin juga ternyata sama sama tersiksa karena pernikahan ini, kenapa takdir begitu jahat padaku dan jimin.
Tak bisa kah aku bahagia bersama dengan pasangan yang aku inginkan, bukan hidup bersama dalam keterpaksaan, bisakah aku mengakhiri ini semua, aku tak ingin ada yang terbebani disini, maupun Jimin ataupun aku.
Aku kembali mengusap air mataku pelan, hatiku benar benar dalam kebimbangan, antara pergi atau bertahan?
Aku harap waktu bisa menjawabnya dengan segera, aku tak ingin terus terjebak dalam delusi cinta yang fana.
***
Aku melenguh kesakitan ketika merasakan seluruh tubuhku ngilu dan nyeri disetiap sendinya, aku mengedarkan pandanganku dan tersadar bahwa kini sudah berada dikamarku, tapi? Bukankah semalam aku tengah berada dibalkon? Lalu kenapa aku bisa berada ditempat tidur.
Sudahlah mungkin semalam tanpa sadar aku pindah sendiri.
Aku memutuskan untuk keluar dari kamar untuk melihat keadaan jimin, ya perasaan ku mulai membaik, walau kenyataan aku masih belum mendapatkan jawaban pasti akan keputusan yang harus aku tetapkan.
Biarlah nanti kupikirkan lagi.
Saat sampai sofa, aku tak melihat jimin sama sekali, aku sudah sangat ketakutan mungkinkah jimin terluka semalam? Aku segera mencari jimin keseluruh penjuru rumah, ahh bodohnya aku yang mementingkan perasaanku tanpa memperdulikan jimin yang tengah sakit.
Saat aku tengah mencarinya dari arah dapur aku melihat seseorang tengah memasak lengkap dengan apron yang ia gunakan, dari belakang aku tahu orang itu adalah jimin.
Dengan segera aku mendatanginya hendak memarahi lelaki itu, lihatlah dia masih membaik tapi terus memaksakan diri.
"Jimin!" Aku membentak jimin membuatnya menoleh kaget. "Kau sudah bangun? Kau membuatku terkejut." Ucapnya sambil mengelus dadanya.
Aku terkekeh tapi tak menghilangkan kesan galak yang aku tunjukan padanya. "Apakah keadaanmu sudah membaik? Kau demam tinggi semalam." Aku mendekati jimin lalu menaruh punggung tanganku didahi jimin, kulihat jimin hanya terdiam, dan yang kurasakan suhu tubuh jimin mulai menurun.
"Hmm panas mu sudah turun, tapi ingat kau jangan terlalu lelah." Ucapku sambil memicingkan mata, aku tahu Jimin keras kepala dia tidak akan menurut begitu saja dengan apa yang aku katakan.
"Iya... Terimakasih." Jimin tersenyum sambil mengusap pucuk rambutku, aku hanya mengangguk kemudian mengambil alih masakan yang tengah jimin buat.
"Kau istirahat saja sana, aku akan melanjutkan ini." Aku mengambil spatula yang digenggam oleh jimin, dia sedang memasak nasi goreng rasa ayam.
Aku tak mendengar jawaban apapun dari jimin, dia tak mengucapkan sepatah katapu, bingung aku kembali menatap jimin yang ternyata masih diam dengan fokus mana yang tengah menatapku.
"Hei? Kenapa?" Tanyaku, jimin tersentak kaget karena panggilanku aku hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Hyerin? Semalam kenapa kau tidur dibalkon?"
Aku melotot pasalnya kenapa jimin tahu aku tidur dibalkon? Bagaimana bisa? Aku membalikkan tubuhku menatap jimin dengan curiga.
"Jadi semalam kau yang membawa ku kekamar?" Tanyaku balik, Jimin mengangguk membenarkan pertanyaan ku. "Astaga." Aku mengusap wajahku kasar, apa jimin melihat sesuatu saat aku tengah tertidur? Itu pasti akan sangat buruk.
"Maaf aku merepotkan, padahal kau dalam keadaan tidak baik." Aku menyesal karena tak hati hati hingga membuat jimin dengan susah payah membawa ku kekamar, pasti butuh perjuangan yang sangat besar untuk jimin mengangkat kudalam keadaan seperti itu.
"Tidak apa-apa, hanya aku bingung kenapa kau bisa tidur diluar?" Tanya jimin lagi, aku terdiam sebentar memikirkan kata apa yang harus aku ungkapkan, tak mungkin bukan aku berkata jujur bahwa aku menangis karena jimin?
"Mm aku sedang merindukan orang tuaku." Bohongku, ku lihat jimin hanya membuang nafas berat, "Jika kau memang merindukannya, siang ini kita berdua pergi ke makam kedua orang tua mu." Ucap jimin, aku yang sebenarnya tak bermaksud seperti itu hanya bisa mengangguk pasrah mengikuti kemauan jimin.
***
Siang ini seperti apa yang diucapkan oleh jimin, aku dan jimin pergi untuk mengunjungi makam kedua orang tuaku, aku sudah mengucapkan seluruh keluh kesahku pada kedua orang tuaku.
Yah, setidaknya itu cukup membuat beban ku berkurang.
"Sudah selesai?" Tanyanya padaku, jimin sedang menunggu ku dimobil, aku melarang jimin untuk ikut bersamaku, karena aku ingin menceritakan segalanya tanpa adanya jimin.
"Yah..." Aku menarik senyum tipis, walau sedikit sulit karena kiranya aku sedari tadi menangis, semua ini cukup berat aku tak sanggup jika mengingatnya lagi.
"Setelah ini kita akan kemana?" Tanya jimin yang berjalan memasuki mobilnya, aku mengikuti jimin masuk kedalam mobil.
"Beristirahat tentunya, jangan sampai kau terlalu banyak melakukan aktivitas jim." Jelasku, aku tak ingin lelaki yang duduk disamping ku ini sampai sakit parah, jika dia bisa beristirahat hari ini, kenapa tidak?
"Hm... Baiklah." Jawab jimin, tak lagi ku tanggapi ucapan jimin, aku memilih diam sambil menatap jalanan dari jendela mobil.
Tiba-tiba dipikiran ku terlintas satu nama, lai guanlin, aku merindukannya.
Dan benar saja, guanlin mengirimi ku beberapa pesan dan aku sama sekali belum membacanya.
Lai guanlin
[Hai? Hyerin jangan lupa makan malam, salam untuk jimin]
18.53
Lai guanlin
[Aku merindukan mu hyerin]
21.25
Aku tersenyum masam membaca pesan dari guanlin, ini semakin rumit apa yang harus aku lakukan guanlin masih mengharapkan ku, sedangkan diriku berada dalam status pernikahan bersama dengan jimin.
Lagi lagi ada banyak hak yang tak pernah ku pikirkan bisa terjadi di kehidupan ku yang sekarang.
Kim hyerin
[Lin... Apakah yang harus aku lakukan?]
Terkirim
***
"Jimin aku akan pergi sebentar..." Aku mendatangi jimin yang tengah asyik menonton tv, hari ini dia izin tidak bisa datang kekantor yah karena keadaannya kurang baik.
"Mau kemana?" Tanyanya aku duduk disofa bersampingan dengan jimin. "Menemui eunwoo, ada beberapa hal yang harus aku katakan padanya." Jawabku dengan jujur, memang aku akan bertemu dengan eunwoo untuk membahas sesuatu, dengan sehun juga sepertinya.
"Dengan sehun juga." Tambahku lagi, ku lihat raut wajah jimin berubah heran, aku rasa jimin sangat marah jika aku menyebutkan nama sehun.
"Apa harus dengan sehun? Tak bisa eunwoo saja?" Tanyanya, benar saja jimin memang tak suka dengan sehun, ya jika dilihat lihat sehun adalah orang yang misterius dan juga cuek.
"Oh ayolah, sehun adalah temanku." Rengekku sambil menggoyang goyangkan lengan jimin. "Tak bisa hanya eunwoo?" Tanyanya lagi, aku menggeleng tentu saja tidak akan bisa, walau aku meminta agar sehun tidak hadir lelaki itu akan selalu mempunyai kejutan.
"Baiklah hanya eunwoo dan sehun?" Ucapnya aku menelisik sebentar, apakah aku akan mengajak jennie? Tidak mungkin, wanita itu akan selalu sibuk, mungkin lain kali saja aku akan menemui jennie.
"Hanya mereka berdua." Jawabku mantap, jimin mengangguk setuju aku tersenyum senang, "Aku akan pulang sebelum jam makan malam." Pamitku sambil pergi meninggalkan jimin.
Sesampainya direstoran, aku mencari keberadaan eunwoo dan sehun mereka berdua bilang sudah datang, tak lama aku menemukan mereka berdua.
"Hai!" Aku menyapa mereka sambil tersenyum manis, sudah berapa hari aku tak menemui mereka, rasanya sangat rindu.
Aku memeluk sehun, sehun juga tak sungkan untuk membalasnya, tak lupa aku memeluk eunwoo yang berada disamping sehun.
Setelah bersapa sapa aku duduk menghadap mereka berdua, dengan senyum yang tak bisa aku hentikan untuk tidak merekah ketika bersama dengan kedua orang sahabatku ini.
"Apa kau gila hyerin? Berhenti tersenyum tak ada yang lucu disini." Pekik eunwoo yang langsung mendapatkan hadiah tatapan tajam dari sehun, aku terkekeh mereka memang tidak akan pernah akur, eunwoo akan selalu meledekku sedangkan sehun akan selalu membelaku.
"Aku merindukan kalian berdua." Ucapku kemudian, lalu tersenyum lebar, eunwoo menatapku dengan tatapan jijik, Sebenernya hanya jijik yang dibuat buat. Sedangkan sehun sudah tersenyum tipis karena ucapan ku, hehe sehun memang seperti itu.
"Katakan saja, kau sedang ada masalah?" Tanya eunwoo, aku terkekeh menahan tawa oke eunwoo memang peka, aku menggeleng niatku memang tak ingin menceritakan masalah ku, hanya berusaha menenangkan diri.
"nope, i just miss you." Jawabku sambil tersenyum lebar, "Aku belum memesan minuman." Pekikku ketika sadar dimeja hanya tersaji dua minuman, dan aku haus.
"Oh ayolah aku ingin minum..." Rengekku pada eunwoo dan sehun, sehun tersenyum gemas padaku dia hanya tertawa pelan lalu mengacak acak pucuk rambutku, sehun sangat manis saat tertawa seperti itu.
"Sudahlah aku gemas padamu, aku akan memesankannya untukmu, your favorite right?" Tanya sehun, aku mengangguk antusias, ya kedua temanku ini sangat perhatian dan pengertian, mereka tahu apa yang aku butuhkan dan apa yang aku inginkan.
Sehun beranjak dari duduknya, meninggalkan aku dan eunwoo berdua, sebenarnya teman yang sangat mengerti dan eunwoo juga seorang pendengar yang baik.
Ya kedua sahabatku adalah orang yang sangat baik padaku, betuntungnya diriku memiliki sahabat seperti sehun dan eunwoo.
***
komen gaes biasanya aku cepet update kalau banyak yang spam komen, kaya moodboster banget komenan kalian itu♡