
"Ah, astaga maafkan aku. Aku harus segera pergi." Ucapku dengan nada panik yang di buat-buat.
"Kenapa?" Tanya callum bingung.
"Aku mendapatkan berita bahwa terjadi kericuhan diantara di kantor, dan sepertinya aku harus segera kesana. Maafkan aku." Aku membereskan barang-barang ku dari atas meja, bersiap untuk pergi dari restoran yang menurutku menyebalkan ini.
Callum dan zoe hanya bertatap dengan bingung, aku mencoba tidak peduli dengan mereka berdua. "Maafkan aku, kalian teruskan saja makannya, aku yang akan membayarnya. Apapun yang kalian mau pesan saja, maaf yah. Lain kali kita bertemu lagi." Aku memeluk zoe dan callum secara bergantian, lalu meninggalkan mereka berdua.
Sebenarnya ini hanyalah alasanku saja, tidak ada kericuhan atau masalah seperti apa yang aku katakan tadi. Aku hanya mencoba menjauh dari tempat ini, sebelum hatiku benar-benar sakit menghadapi kenyataan pahit.
Sepanjang perjalanan menuju mobil ku, aku tidak bisa membendung air mataku lagi. Aku menangis walau tanpa suara, terisak pelan berusaha menyembunyikan rasa sakit ku.
Siapapun yang berada di posisiku saat ini pasti akan sama sedihnya seperti diriku, melihat seorang suami sahnya sendiri berkencan bersama dengan wanita lain.
Aku membuka pintu mobilku, lalu memasuki mobil. Setelahnya kembali menangis dengan sangat kencang, cara terbaik untuk melampiaskan seluruh rasa sakit hanya dengan menangis.
***
Aku menatap tidak minat pada makanan yang ada di hadapanku, seolontang, odeng dan makanan lainnya sudah tersaji di atas meja kerjaku. Semua ini adalah pesanan eunwoo, dia bilang aku harus makan siang walau sejujurnya aku sedang tidak nafsu.
"Kau terus bersedih, ada masalah?" Tanya eunwoo, sedari tadi lelaki itu terus bertanya.
Dan kini eunwoo tengah makan siang di ruanganku. "Sudah ku katakan! Ini mood swing!" Bentak ku dengan suara tinggi pada eunwoo.
Eunwoo tersentak, hingga dirinya tersedak makanannya sendiri. "Maaf, aku lupa." Ucapnya setelah meminum air, aku hanya memutar bola mata malas.
"Hyerin." Aku memberikan lirikkan mata pada eunwoo, karena suara halusnya yang memanggil namaku.
"Aku adalah orang yang sudah mengenalmu sedari SMA, aku tahu kau benar-benar jujur atau bohong padaku. Jika kau belum bisa menjelaskannya sekarang tidak apa-apa, yang jelas aku ada untukmu. Selalu." Jelas eunwoo.
Aku tertegun dengan ucapannya, ya aku salah telah membohongi eunwoo, tapi aku hanya ingin menyelesaikan masalahku sendiri, tanpa aku tidak ingin membuat eunwoo khawatir dengan diriku.
Setelahnya eunwoo keluar dari ruangan ku, meninggalkan segala makanan ini di meja kerja ku. Aku membuang nafas pasrah, tidak tahu jelas harus menceritakan masalah ini pada siapa.
Tapi aku teringat akan makam kedua orang tuaku, sepertinya aku harus mengunjungi mereka untuk menceritakan masalahku.
Dengan segera aku mengambil barang-barangku, kunci mobil menuju makam kedua orang tua ku.
***
Aku menyusuri pemakaman yang mulai sepi oleh pelayat, aku berjalan menuju makam kedua orang tuaku yang sudah di beri tempat khusus untuk peristirahatan terakhir mereka.
Setelah sampai di makan eomma dan appa aku meletakan sebuket bunga untuk masing-masing. Lalu menatap sendu pada batu nisan yang menampakan nama mereka, nama kedua orang tua ku yang sudah pergi.
Aku mengusapnya pelan, bersama dengan tetesan air mataku yang tidak dapat lagi ku tahan. Aku terisak tanpa suara mencoba bertahan dengan keadaan, walau rasanya menyulitkan.
Ku usap cairan bening di mataku, tersenyum tipis berusaha kuat di hadapan kedua orang tuaku. Setidaknya mereka tidak akan sedih jika melihat aku tidak bahagia di sini.
"eomma, appa aku mengunjungi kalian lagi." Aku mengusap satu persatu batu nisan mereka dengan sangat lembut.
Membayangkan bahwa eomma dan appa tengah menatapku dari surga sana, semoga mereka bahagia.
"Maafkan aku, eomma, appa. Aku belum bisa memenuhi apa keinginan kalian untuk hidup bahagia bersama dengan jimin. Sementara jimin tidak pernah bahagia denganku." Aku kembali terisak walau sekuat tenaga ku tahan.
"Aku tahu, pilihan kalian tidak pernah salah. Tapi semua ini tidak akan pernah berakhir bahagia, jimin punya kebahagiaannya sendiri. Seperti aku yang akan bahagia jika bersama dengan guanlin." Aku menyelipkan rambutku yang mulai memanjang pada sela-sela telingaku.
"Jika suatu saat nanti aku berpisah dengan jimin, tolong maafkan aku eomma, appa. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk terus bertahan bersama dengan jimin, tapi apabila aku gagal, izinkan aku untuk pergi."
Tangisku kembali pecah ketika mengucapkan kata-kata itu, hal yang selama ini ingin aku ucapkan pada kedua orang tuaku yang tidak pernah berhasil ku utarakan.
"Semoga kalian berbahagia disana." Aku kembali mengelus batu nisan mereka berdua.
Setelahnya aku berdiri meninggalkan makam eomma dan appa. Dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, sejujurnya aku ingin lebih lama lagi menangis didepan mereka, hanya saja aku tidak sanggup jika harus melihat mereka bersedih.
Ada rasa lega dalam relung hatiku, yang tidak lagi seberat tadi. Sekarang rasanya sudah berkurang walau masih tersisa sedikit setidaknya ini tidak separah tadi.
Aku membuka pintu mobil ku, duduk di jok belakang untuk meneruskan acara menangis ku hingga aku benar-benar lelah dengan keadaan ku sendiri. Isakan demi isakan terus terdengar, dalam kesunyian.
Seperti janji ku pada eomma dan appa tadi, aku harus terus bertahan sampai jimin benar-benar tidak lagi menginginkan diriku. Dan saat itu akan benar-benar pergi.
***
Aku membuka mataku pelan, mataku terasa sangat sakit dan juga berat. Saat aku melihat sekeliling ternyata aku masih didalam mobil. Dan ternyata mobilku juga berada di pelataran menuju makam.
Aku menghembuskan nafas lega, untung saja aku tidak mati di dalam mobil karena kehabisan oksigen. Karena ku lihat jendela mobil depan ku masih terbuka walau hanya sedikit.
Aku berpindah tempat menuju kursi pengemudi untuk mengendarai mobilku segera menjauh dari makam ini.
Entah kemana tujuan ku sekarang, yang pasti aku tidak ingin pulang ke rumah biarkan jimin sendiri, lagi pula dia tidak mungkin mengkhawatirkan diriku bukan? Pasti dia akan bahagia dengan tidak adanya diriku di rumah.
Aku mendengus kesal mencoba tidak lagi peduli dengan masalahku dan jimin. Toh jimin juga tidak memikirkannya, kenapa aku harus khawatir? Aku memang bodoh, menangis untuk lelaki yang sebenarnya sama sekali tidak peduli dengan keadaan ku.
Bodoh sekali.
Aku melirik arloji bergaya simple yang berada di lengan kiriku, aku cukup terkejut karena sekarang jam menunjukan pukul tujuh malam. Heol berapa jam sudah aku tertidur.
Berpikir sebentar, mungkin aku harus pergi ke suatu tempat untuk menenangkan hatiku, atau mungkin bersenang-senang. Ya, rasanya aku perlu melakukan hal itu.
Kemudian aku menancapkan gas mobil semakin tinggi menuju tempat yang ingin aku datangi, kebetulan tempat itu tidak terlalu jauh dari pemakaman tadi. Sehingga kini mobilku sudah masuk ke halaman sebuah tempat yang begitu luas dan ramai oleh beberapa orang yang mulai masuk kedalam tempat itu.
Setelah selesai memparkirkan mobilku, aku turun dari mobil sambil menatap sekeliling. Aku juga sudah melihat pantulan diriku di kaca spion mobil, lumayan tidak terlalu buruk untuk seseorang yang urakan seperti diriku.
Aku berjalan memasuki pintu berwarna-warni dimana 2 orang satpam berdiri di setiap sisi pintu, aku menatap mereka sekilas dengan tatapan dingin.
Mereka dengan segera membukakan jalan untuk ku, dan yah, kini aku sedang berada di sebuah club ternama di seoul. Aku sudah beberapa kali datang ke tempat ini, hingga satpam penjaga pun sudah hafal denganku. Walau beberapa bulan ini aku sudah jarang pergi ke club.
Pemandangan pertama yang aku lihat adalah beberapa orang tengah menari dengan alunan musik dj yang menggelegar hingga membuat pengak telinga. Aku tidak berminat sama sekali untuk ikut menari di bawah terangnya lampu berwarna-warni.
Aku mendatangi sebuah meja untuk memsan sebuah minuman, duduk di sebuah kursi berhadapan langsung dengan seorang bartender.
"Whiskey satu, kadar alkohol 50%."
Ucapku pada seroang bartender lelaki yang cukup tampan, namanya adalah ahn lainee. Dia akrab denganku, karena pernah beberapa kali bertemu, dia juga adik kelasku saat SMA.
Lai hanya mengangguk setelahnya pergi untuk meracik minuman. Aku menunggu beberapa menit lalu lai datang dengan membawa segelas kecil minuman pesananku.
Aku mengucapkan terimakasih pada lai, setelahnya ku menenggak habis minuman itu. "Sudah lama Noona tidak berkunjung kemari." Lai membuka pembicaraan, aku hanya mengangguk kecil pada lai.
"Ya, aku sibuk." Jawab dengan asal, aku sebenarnya adalah pemabuk yang buruk. Ini baru gelasku yang pertama tapi aku sudah mulai merasa pening.
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Ah sialan, aku masih ingin bersenang-senang kenapa aku sudah tidak kuat.
"Ck. Noona adalah pemabuk yang buruk, suka sekali meminum alkohol tetapi tidak sanggup menahannya." Samar-samar aku mendengar lai berdecak sebal.
Mataku berkunang-kunang, perutku bergejolak ingin mengeluarkan sesuatu yang ada di dalamnya. Ini baru satu gelas. Setelahnya aku tidak bisa melihat apapun lagi, semuanya menjadi hitam.
***
Aku terbangun dengan keringat bercucuran di seluruh tubuhku, mengusap peluh di daerah pelipisku hingga yang ku dapati baju ku benar-benar basah.
Aku melotot saat melihat pakaian ku berubah menjadi sebuah piyama tidur berwarna putih. Tunggu, aku ada dimana?
Aku mengucek kedua mataku berusaha menjelajah ruangan ini, dan benar saja ini bukan kamarku. Dan semalam apa yang terjadi, aku memukul kepala ku sendiri karena rasa sakit masih terus ku rasakan.
Sekelebat memori tentang kejadian hari kemarin membuatku tersadar, semalam aku sedang mabuk lalu sekarang aku ada dimana?
Aku turun dari ranjang king size dengan sedikit berlari, menggapai gagang pintu berharap ini bukan tempat aneh yang akan membuatku menyesal seumur hidupku.
Dan ketika aku menarik gagang pintu, yang kudapati adalah ruang tamu dengan gaya minimalis modern. Ruang tamu yang sangat rapih, walau terlihat kecil. Aku menyusuri ruangan ini, berharap kini aku tengah berada di rumah seseorang yang ku kenal.
Tapi siapa? Tidak mungkin sehun, tidak mungkin eunwoo rumah ini terlalu kecil untuk ukuran seorang cha eun woo dan oh sehun.
"Hei, noona sudah bangun?"
Aku tersentak begitu mendengar suara bass di belakangku, dan saat aku membalikkan badan aku langsung membuang nafas lega.
Ternyata ini adalah rumah lai, untung saja lai mau membawaku kerumahnya, apalah jadinya jika lai tidak memperdulikan ku.
"Lai, kau membuatku takut." Ucapku langsung mendudukan tubuhku di sebuah sofa, merasa lega dengan apa yang kini aku dapatkan.
"Mianhae noona. Aku membuat sup untuk noona."
Aku melongo, merasa sangat merepotkan lai. "Maaf aku merepotkan lai." Aku meminta maaf pada lia. Padahal yang ku tahu lai sudah tidak memiliki kedua orang tua, dia juga hidup sendirian selama ini.
"Tidak apa-apa." Lai berjalan meninggalkan ku di ruang tamu, aku mengikuti langkah kakinya hingga melihat dirinya berhenti di sebuah meja makan kecil.
Meja makan dan dapur rumah lai di buat menjadi satu ruangan yang cukup luas, tidak ada sekat antara dapur dan ruang tamu sehingga akan tampak jelas keadaan dapur. Dapur lai sangat rapih, bersih dan tertata semua alat-alat dapur benar-benar di tata sedemikian mungkin.
Walau rumah lai tidak terlalu luas, tapi dia sangat pandai membuat rumahnya tidak terlihat sempit.
"Noona ayo makan." Ucap lai yang sudah duduk di kursi, bersiap untuk memakan sajian yang sudah ia buat.
Aku tertegun sebentar, makanan yang di buat lai adalah makanan yang bahkan aku sendiri tidak bisa membuatnya. Aku melihat sebuah mangkuk yang berisi sup, sepertinya di siapkan untukku.
Aku menarik salah satu kursi di samping lai, lalu menatapnya sebentar. "Lai, maafyah karena telah merepotkan mu." Aku untuk kedua kalinya mengatakan permintaan maaf pada lai, rasanya ini benar-benar merepotkan.
"Tidak apa-apa noona, ayo makan." Ajaknya, aku mengangguk pelan langsung memakan sup buatan lai.
Satu suap, rasanya tidak buruk ini malah sangat enak untuk ukuran lai. "Apakah rasanya tidak enak noona?" Tanyanya menghentikan aktivitas makannya, saat melihat aku berhenti mengunyah.
"Lai, ini rasanya sangat enak." Aku memuji sup buatan lai, aku memang tidak berbohong masakan lai sangatlah enak.
"Ah, Terimaksih noona." Dia tersenyum semringah, walau terlihat sekali dia malu karena pujian dariku.
Kami berdua kembali meneruskan sarapan pagi masing-masing dengan tenang, tidak ada perbincangan hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Setelah selesai sarapan, lai membersihkan sisa makan kami, aku juga membantunya. Karena aku sudah begitu banyak merepotkan lai.
Saat lai hendak mencuci piring, aku dengan segera menahannya. "Lai, biar aku yang melakukannya." Aku menepis tangan lai dari wastafel sebelum dia meneruskan kegiatan mencuci piring.
"no, biar aku saja noona." Tolak lai.
Aku mencebik sebal menatap tak suka pada lai yang memang keras kepala. "Tidak lai, biar aku saja." Aku kembali menarik beberapa piring yang sudah di bereskan oleh lai di dalam wastafel.
"Sekarang lebih baik kau bereskan meja makan, lihat sangat kotor." Aku mencoba mengalihkan lai agar mau mengalah dan membiarkan ku untuk mencuci piring.
Setelahnya yang ku dengar hanya helaan pasrah lai, lalu menyingkirkan tubuhnya dari depan wastafel untuk membiarkan ku meneruskan mencuci piring.
Sementara lai melakukan apa yang ku suruh tadi untuk membersihkan meja makan. Hening, tidak ada lagi percakapan, aku sibuk dengan cucian piring yang memang tidak terlalu banyak jumlahnya. Sedangkan lai sibuk mengelap meja makan.
"Oh. Ya, lai? Aku ingin bertanya, kau yang mengganti pakaianku?" Tanyaku masih sibuk dengan piring..
Sebenarnya pertanyaan inilah yang ingin aku tanyakan pada lai, karena aku sudah tidak lagi memakai pakain ku sebelumnya. Tapi anehnya piyama yang aku gunakan sekarang adalah piyama wanita, tidak mungkin lai memilikinya bukan?
"Bukan! Aku memanggil teman perempuan ku untuk menggantikan pakaian noona dan pakaian yang noona pakai adalah miliknya." Jelas lai, aku hanya mengangguk paham tanpa melirik lai, karena masih sibuk dengan pekerjaanku.
"Iya, maaf yah lai sampai harus membuat mu memanggil teman perempuan mu." Ucapku.
"Sudah ku katakan noona, aku sama sekali tidak merasa di repotkan. Apa yang aku lakukan hari ini tidak bisa membalas apa yang noona pernah lakukan padaku dulu ." Jawab lai, aku terdiam sebentar lalu mencerna apa yang baru saja di ucapakan oleh lai.
"Itu hanya sebuah kebetulan lai, kau beruntung hari itu." Jawabku yang kini tengah menata piring didalam rak piring yang tersedia.
"Tapi, apa yang noona lakukan dulu telah membuatku menjadi aku yang sekarang."
Aku hanya tersenyum tipis mendengar ucapan lai, padahal itu hanya sebuah kebetulan. Dulu, saat lai SMA aku sempat melihat lai di tendang oleh seorang oknum guru administrasi keuangan sekolah. Lai di perlakukan seperti itu karena tidak membayar uang bulanan sekolah. Aku, sehun, eunwoo dan guanlin yang hendak menuju ruang administrasi, terkejut saat melihat lai sudah terjatuh di lantai dengan oknum guru itu yang bersiap untuk menendang lai lagi.
Aku dengan segera menahan guru itu, bersama dengan sehun kembali membalas perbuatan guru itu. Setelahnya aku mengadukannya pada kedua orang tua sehun hingga oknum guru itu di pecat dari pekerjaannya dan lai di beri kebebasan untuk tidak membayar biaya bulanan sampai lulus sekolah.
Padahal menurutku itu hanya hal kecil, tapi ternyata sangat berharga untuk orang lain hingga sangat berbekas.
***
Aku sudah pulang dari rumah lai, setelah mobilku di bawa oleh tukang derek dari club yang semalam ku kunjungi. Aku sudah memakai pakaian ku yang kemarin, walau lai sempat menawarkan untuk memakai kemejanya, tapi aku menolak.
Tadipun di rumah lai, perempuan yang lai maksud datang. Dia terlihat seumuran dengan lai, bahkan lai dan perempuan bernama choi jireum itu sangat cocok.
Aku turun dari mobilku saat sampai di depan rumahku. Padahal aku sangat malas kembali kerumah, ingin sekali aku pergi sejauh mungkin agar tidak bertemu dengan jimin, tapi, sekali lagi aku harus sabar menghadapi ini semua.
Saat aku turun, aku melihat beberapa mobil terpakir di halaman rumahku, dan jelas aku tidak mengetahui siapa yang datang ke rumahku.
Aku yang semakin penasaran, memasuki rumah ku dengan langkah terburu-buru ingin segera melihat siapa yang mengunjungi rumahku.
Dan ketika aku membuka pintu utama, hal yang aku lihat adalah beberapa lelaki dengan pakaian serba hitam. Di ruang tamu aku melihat jimin, eunwoo dan juga sehun tengah duduk dengan raut wajah khawatir.
Mereka semua menatap ke arahku, termasuk jimin, eunwoo dan juga sehun. Dengan sebuah gerakan cepat jimin berlari ke arahku lalu memeluk dengan sangat erat, merasa seperti kehilangan.
"Kau pergi kemana hyerin?"
***
Double update, for you all guyss, happy reading