Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
i love you



  Dengan cepat aku melepaskan pelukan jimin dari tubuhku, menatapnya nanar. Sebenarnya aku muak, hanya saja aku berusaha menahannya.


  "Hyerin, kau membuat kami khawatir. Kau pergi kemana." Ucap jimin lagi, yang malah membuat diriku semakin jengah.


  Bisa tidak dia bersikap seolah-olah dia tidak khawatir dengan hilangnya aku semalaman. Hal ini justru semakin membuat aku membenci jimin.


  "Kemanapun aku pergi, aku bisa menjaga diriku sendiri." Jawabku dengan nada yang berusaha sebiasa mungkin, walau kemungkinan tidak didasari nya sangat kecil.


  "Hyerin, baju mu bau alkohol, kau mabuk?" Tanya jimin, sambil memegang kedua lengan bagian atasku menatap wajahku dalam-dalam.


  Aku menepis kedua tangan jimin dari lenganku lalu mendorong tubuhnya pelan.


  "Aku tidak mabuk, aku baik-baik saja." Jawabku lalu berjalan pergi meninggalkan jimin, aku mendekat pada sehun dan eunwoo untuk sekedar memberi sapa.


   "Kalian sudah lama disini?" Tanyaku berbasa-basi, aku bukan mendapatkan jawaban ramah, tetapi malah sebuah tatapan tajam dari eunwoo dan sehun.


  "Semalam kau pergi kemana?" Tanya sehun dengan suara yang sangat dingin.


  Aku tersenyum menatap mereka berdua, sebenarnya aku sedikit takut apalagi melihat tatapan tajam sehun seakan siap menusuk ku.


   "Ayolah, aku sudah dewasa kemanapun aku pergi itu bukan lagi urusan kalian. Aku punya kehidupan, aku memiliki kepentingan sendiri." Jelasku, lalu melemparkan tas ku di atas sofa bersama dengan tubuhku yang ku biarkan bersandar disana.


   "Jika kau memang tidak kembali, setidaknya hubungi kami atau suami mu. Jangan buat kami khawatir!" Ucap eunwoo dengan nada naik satu oktaf, aku memutar bola mata jengah.


  "Baterai handphone ku habis, sudahlah lagi pula aku sudah kembali." Jawab ku dengan nada acuh tak peduli dengan tatapan khawatir yang di berikan oleh sehun, eunwoo dan jimin.


  Aku berdiri dari duduk ku lalu mengambil tas yang sebelumnya aku lempar ke atas sofa, aku meninggalkan mereka menuju kamarku ingin membersihkan diri karena bau alkohol masih terus tercium dari tubuhku.


   Aku melewati banyak lelaki yang berada diruang tamu, seperti mereka adalah anak buah sehun.


   Aku masuk ke kamar ku lalu merebahkan tubuhku lagi disana, ingin sekali rasanya aku menangis jika tahu akhirnya seperti ini. Dari mana pula sehun dan eunwoo tahu bahwa aku tidak kembali kerumah.


  Sehun dan eunwoo pasti marah kepadaku, apalagi mereka adalah orang yang paling khawatir padaku. Sampai sehun mengeluarkan anak buahnya untuk mencari ku.


  Aku menarik rambut ku dengan gusar, bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Bodohnya aku tadi bersikap dingin pada mereka bertiga, eunwoo yang peka pasti mengetahui bahwa aku berbohong.


 


  Aku mengambil handphoneku dari dalam tas, aku tidak berbohong tentang baterai handphone ku karena sedari kemarin aku tidak membukanya.


  Dan benar saja, saat ku lihat handphone ku habis dengan segera aku men-cas handphoneku. Setelah ku cas handphone ku terdengar beberapa dering telefon, sangat banyak bahkan belum berhenti setelah menit ke 2. Aku mencoba tidak peduli karena telefon itu sudah jelas dari eunwoo, sehun maupun jimin.


***


    Aku keluar dari kamar setelah selesai mandi dan membersihkan tubuhku, lapar. Perutku lapar sekali, apalagi semalam aku tidak makan dan pagi ini aku hanya memakan sup buatan lai.


   Saat aku turun ke lantai bawah, di ruang keluarga aku masih melihat sosok eunwoo dan jimin disana, mereka berdua tengah berbincang dengan cukup serius. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, karena penasaran aku medatangi mereka berdua.


  Dan ketika aku sampai, pembicaraan mereka berhenti. Eunwoo dan jimin menatapku dengan tatapan aneh, terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.


  "Kemana sehun dan anak buahnya?" Tanyaku kini ikut duduk disamping eunwoo.


 


  "Sehun dan anak buahnya sudah pergi, dia bilang masih memiliki urusan." Jawab eunwoo, aku hanya mengangguk samar.


  Aku melirik jimin yang ternyata sedang memperhatikan interaksi antara aku dan eunwoo.


   "Kalian sudah sarapan?" Tanyaku melirik mereka satu persatu. Tak ada jawaban, mereka berdua hanya saling pandang dalam diam.


  "Aku menduga kalian belum sarapan bukan? Kalau begitu aku akan membuatkan kalian sarapan." Aku menepuk kedua pahaku untuk dijadikan tumpuan agar bisa berdiri dari duduk.


  Ketika aku melewati jimin, lenganku di genggam oleh jimin membuat diriku menoleh bingung padanya.


  "Biarkan aku yang memasak sarapan untuk mu, eunwoo bilang dia ingin bicara dengan mu." Jelas jimin, aku mengangguk kembali duduk ditempat semula, bersama dengan jimin yang sudah pergi dari ruang keluarga meninggalkan aku dan eunwoo berdua.


   "Kau masih tidak mau jujur?" Ucap eunwoo membuka percakapan aku dan dirinya.


  "Jujur untuk hal apa?" Tanyaku berpura-pura tak tahu apa yang dimaksud oleh eunwoo.


  "Untuk hal, semalam. Kau bermalam di rumah lai bukan? Kau mabuk berat hingga lai harus membawa mu kerumahnya." Jelas eunwoo, aku menatapnya dengan santai.


  Tidak heran eunwoo mengetahui hal ini, sehun adalah lelaki yang hebat kemanapun aku pergi sehun pasti mengetahuinya, tetapi kenapa mereka seakan tidak mengetahui kemana aku pergi? Atau mereka sengaja menutupinya dari jimin.


  "Jika kau memang mengetahuinya, kenapa harus bertanya padaku." Jawabku malas, aku melipat kedua tanganku lalu menaruhnya di dada, kemudian menyandarkan punggung ku pada sandaran sofa.


   "Alasan kau melakukan itu, aku hanya menginginkan alasannya." Ucap eunwoo lagi, dia terus menatapku dengan wajah galaknya.


  Aku mendecak kesal, eunwoo seperti tidak mengetahui diriku saja. "Hanya merasa lelah dengan dunia." Jawabku sambil membuang pandangan ku sembarang arah.


  "Kau memiliki masalah dengan jimin?"


  "Ya, tapi aku akan mencoba menyelesaikan masalah ku dengan jimin berdua." Jawabku lalu memandang eunwoo tak lupa memerkan sebuah senyum.


   "Kau tidak perlu khawatir, aku sudah dewasa sekarang." Aku menggenggam kedua tangan eunwoo.


  "Ck, bagaimana orang bisa menyebutmu dewasa jika semalam saja sudah hilang seperti anak remaja." Ucap eunwoo yang malah menarik tubuhku dalam pelukannya.


  Dia memeluk dengan sangat erat, eunwoo juga mengelus rambutku halus, aku terkekeh dalam pelukan eunwoo yang hangat.


  "Aku sayang oppa." Aku membalas pelukan eunwoo semakin keras, tak ingin melepaskan pelukannya yang hangat.


  Eunwoo memang sudah seperti kakak untukku, dia pengertian dan dia juga dewasa. Eunwoo melepaskan pelukannya padaku, lalu menatapku.


   "Kau tidak bekerja?" Tanyaku setelah lepas dari pelukan eunwoo.


  "Aku akan berangkat tapi siang, semalam aku tidak tidur." Jawab eunwoo, dia kembali bersikap seperti biasanya.


  "Maaf, karena aku, aku sampai harus mengorbankan waktu tidurmu." Ucapku lirih, lalu menundukan kepala merasa benar-benar bersalah pada mereka.


   "Tidak apa-apa, apapun untuk adiku." Jawabnya kembali memberikan sebuah senyum padaku.


   "Ayo, kau belum sarapan bukan? Mari makan bersama." Ajaku.


  "Tidak perlu, aku harus segera kembali." Jawabnya sudah bersiap untuk pergi.


  "Tapi, kau belum sarapan." Elakku.


  "Tak perlu, aku bisa sarapan di rumah. Sampaikan salamku pada jimin hyerin." Ucap eunwoo lalu berjalan meninggalkan ruang keluarga setelah mengusap pelan rambutku.


    Aku membuang nafas pasrah, kemana pun aku pergi pasti akan selalu di temukan, terutama aku berurusan dengan seorang oh sehun dan cha eun woo yang akan melakukan apapun untuk menemukanku. Dan bersyukurnya aku karena eunwoo tidak memberi tahu bahwa aku menginap dirumah lai.


  Aku dengan cepat berjalan menuju dapur untuk makan sesuai dengan apa yang aku katakan tadi, saat sampai dapur aku melihat jimin tengah menyusun makanan di atas meja makan.


  "Eunwoo kemana?" Tanyanya masih terus fokus menata makanan.


  "Dia pulang, dia harus bersiap-siap pergi ke kantor." Jawabku sambil menarik salah satu kursi untuk aku duduki.


  "Kimbap?" Tanyaku saat melihat piring yang berisikan kimbap.


  


   "Ya, aku hanya bisa memasak kimbap itu pun di bantu oleh ahjumma jiena." Jawab jimin sambil melepaskan apron yang sebelumnya ia pakai.


   "Tidak apa-apa." jawabku, lalu menyuapkan kimbap itu kedalam mulutku, rasanya enak tidak buruk, jimin sangat pandai masak untuk seorang lelaki.


   "Semalam kau pergi kemana hye? Aku khawatir, apa yang akan eomma dan appa katakan padaku jika sampai kau hilang."


  "Uhukk uhukk!" Aku terbatuk mendengar penjelasan jimin tadi, dengan segera dia memberikan segelas air padaku.


  Aku dengan cepat meminumnya untuk menghilangkan rasa perih di tenggorokan ku. Setelah merasa lebih baik, aku kembali diam tidak menanggapi ucapan jimin, sungguh ucapannya membuatku sakit hati.


  Disaat seperti ini jimin masih mengatakan dia takut pada kedua orang tuanya, aku mengepalkan tanganku dengan sangat erat mencoba menenangkan hatiku sendiri.


  "Hye, kau belum menjawab pertanyaanku." Ucapnya lagi, aku meletakan garpu yang sedang aku genggam.


  Menatap jimin dengan wajah tanpa ekspresi. "Sudah ku katakan, itu urusanku."  jawabku dengan selembut mungkin.


  "Lalu kau menginap dimana?" Tanyanya lagi, aku membuang nafas kesal. Kenapa jimin sangat kepo, padahal saat dirinya semalaman tak ada kabar aku bahkan tidak menanyakannya.


  "Menginap di rumah temanku." Jawabku, kembali sibuk dengan kimbap.


  "Maksudmu jennie? Semalam dia mengatakan bahwa kau tidak bersama dengannya." Jawab jimin.


   "Memang oppa pikir temanku hanya jennie saja, walaupun aku ini introvert masih banyak orang baik yang mau membantu ku." Jelasku tanpa menatap jimin.


  "Syukurlah, jujur aku sangat khawatir."


   "Ya, aku mengerti"


  Aku mengerti jimin khawatir jika nyonya dan tuan park marah padanya, hanya itu yang Jimin khawatirkan. Tak ada alasan lain.


   "Hye."


  "Kenapa oppa?" Tanyaku menatap jimin dengan bingung.


   "Terserah pada oppa saja, aku mengikuti kemanapun oppa pergi." Jawabku tak berminat membahas tentang bulan madu, apalah istimewanya bulan madu.


  Tentu saja, aku lupa bulan madu adalah hal yang sangat istimewa untuk pasangan yang menikah dengan rasa cinta, bukan rasa terpaksa seperti aku dan jimin.


  "Bagaimana kalau kita pergi bulan-bulan ini?" Tanyanya lagi, kini menatapku antusias.


  "Terserah oppa saja." Jawabku lagi tak mengalihkan pandanganku dari kimbap.


  "Bagaimana kalau kita bulan madu ke maldives, kau tahu itu tempat yang sangat romantis untuk pasangan suami istri." Jelasnya.


  Aku melirik jimin tanpa semangat, hanya anggukan tipis yang aku berikan padanya.


   "Baik, kalau begitu kita ke maldives bulan ini." Ucapnya dengan suara lantang.


  Aku memutar bola mata jengah, apa yang dia pikirkan, saat dirinya sudah memiliki kekasih kenapa sangat ingin berbulan madu dengan perempuan lain.


"Oh iya, hye nanti siang eomma akan datang kemari." Tambah jimin lagi membuat jantungku hampir terjatuh dari tempatnya.


  "Eo—mma? Apakah dia tahu bahwa semalam aku tidak pulang kerumah?" Tanyaku gelapan, apa yang akan di pikirkan oleh nyonya park jika mengetahui diriku tidak kembali semalam.


   "Tenang saja, eomma baik appa tidak ada yang mengetahuinya. Katakan ini adalah balas budi ku atas bantuan mu waktu itu." Jelas jimin lalu mengedipkan sebelah matanya menggoda diriku.


 


  ***


Aku merebahkan tubuhku di atas kasur setalah selesai makan tadi, hari ini aku memutuskan untuk tidak masuk bekerja. Biar saja aku adalah pemilik perusahaannya, tidak masuk sehari tidak membuat perusahaan keluarga ku bangkrut.


   Sambil bersantai di atas kasur aku mengambil handphoneku yang berada di atas nakas, saat ku lihat baterai handphoneku sudah penuh.


  Ketika aku membuka ruangan chat di handphoneku. Isinya sudah penuh oleh spam chat dari eunwoo, sehun dan jimin, juga ada beberapa panggilan tak terjawab dari mereka bertiga. Dan ternyata jennie juga ikut menanyakan diriku, terbukti dia mengirimi aku chat online beberapa kali.


  Tapi, ada satu nama yang menarik perhatianku yaitu pesan dari guanlin. Apa mereka juga memberi tahu guanlin?


 


(21) Missed call from lai guanlin


Lai guanlin


[Hye, kau dimana? Sehun bilang kau belum kembali?]


Lai guanlin


[Hye, kau dimana? Jangan buat aku dan mereka khawatir]


Lai guanlin


[Hye, angkat telefon ku]


   Dan masih banyak lagi isi pesan dari guanlin, aku tidak membaca semuanya. Langsung saja aku mengetikan sebuah pesan untuknya.


  Kim hyerin


[Maaf lin, semalam aku menginap dirumah teman, dan baterai handphoneku habis, lupa mengabari jimin]


Send


    Tak butuh waktu lama, pesanku langsung dibaca oleh guanlian, sepertinya dia juga sedang tidak sibuk sehingga bisa cepat membalas pesanku.


  Lai guanlin is calling


Aku langsung mengangkat video call dari guanlin, tanpa peduli dengan wajahku yang entah bagaimana rupanya.



  "Oh, hye kau membuat ku khawatir sekali"


  Semprotnya saat aku mengangkat telefonnya, aku terkekeh pelan begitu melihat wajahnya di layar ponsel.


  "Maaf" Jawabku.


  "Kau baik-baik saja bukan?"


   Tanyanya lagi, aku dengan segera mengangguk kecil dari sini. Aku melihat guanlin masih menggunakan sebuah setelah jas, mungkin untuk kepentingan pemotretannya.


  "Bertemu dengan lai, kau tahu lainee?" Tanyaku, guanlin juga tahu siapa itu lainee karena setelah kejadian aku menolong lainee dia jadi sering menyapaku dan kadang dia memberi ku makanan.


  "Untuk apa kau bertemu dengan lai?"


"Hanya ingin mengenang masalalu." Jawabku lalu tertawa dengan cukup kencang.


   "Hanya berdua saja?"


  "Kau gila!? Tentu saja tidak, aku bersama dengan teman wanita lai, namanya jireum. Sepertinya lai dan jireum memiliki hubungan khusus." Terangku, masih mengakat layar telefon itu di wajahku.


   "Baguslah jika ada teman yang lain, ingat hye kau sudah punya suami."


  Aku yang mendengar ucapan guanlin tertawa kecil, caranya mengucapkan kata suami sangatlah lucu.


  "Iya lai guanlin, oh yah, kapan kau kembali ke seoul?" Tanyaku, guanlin masih belum kembali dari luar negeri, dia memang artis yang sangat sibuk.


   "Beberapa hari lagi, aku masih memiliki schedule untuk pemotretan."


Jelasnya, aku mengangguk kembali diam untuk meneruskan perbincangan ini.


  "Aku merindukan mu." Ucapku, ku lihat dari sana lai guanlin tersenyum kecil dengan deretan giginya yang tampak.


  "Aku juga merindukan mu, sangat. Oh iya, kau ingin aku bawakan hadiah?"


  "Mm, mungkin, aku ingin miniatur mobil Lamborghini aventador. Kau bisa membelinya untukku?" Jawabku, guanlin mengangguk.


  "As you wish, my princess."


"Hahah, Terimaksih my enemy."


  "Aku harus mengakhiri percakapan ini, aku ada pemotretan lagi. Aku akan menghubungi mu nanti, i love you hyerin."


  "Love you too alin" Jawabku, lai guanlin tersenyum disana bersama dengan panggilan video yang berakhir.


  Aku meletakan telefon genggam ku diatas nakas, tenggorokan ku terasa haus. Jadi aku memutuskan untuk turun dari tempat itu, tapi pandanganku menemukan sosok jimin yang tengah berdiri di daun pintu sambil melipat kedua tangannya.


  "Apa kau selalu seromantis itu dengan guanlin?" Tanyanya membuat gerakan ku berhenti seketika.


  Aku meliriknya dengan tatapan bingung, menandakan aku tak paham dengan apa yang jimin bicarakan.


  "Apa kau selalu mengatakan kata i love you, dan ucapan sayang lainnya pada guanlin?" Tanyanya lagi, aku menggaruk tengkuk ku paham dengan maksud jimin.


  "Ya, aku selalu seperti itu dengan guanlin." Jawabku masih duduk di samping ranjang.


  "Termasuk dengn sehun dan eunwoo? Atau teman mu yang lain?" Ucapnya lagi, aku mengernyitkan alis bingung.


 


   "Kau tahu bukan? Eunwoo terlalu dewasa, sehun kaku, dan aku hanya melakukan hal itu pada guanlin setidaknya sifat kami mirip." Jelasku, kalau bukan karena guanlin menelfon ku tadi mungkin sudah ku hancurkan wajah jimin, seenaknya dia berkata seperti itu seakan menganggap ku wanita murah. Lalu dirinya apa? Pergi bersama wanita lain disaat dirinya berstatus sebagai suami orang.


  "Tunggu, oppa cemburu?" tanyaku lalu menatap mata jimin, dirinya masih berdiri di daun pintu kamar.


   Tak ada jawaban dari jimin, lelaki dengan kaos v neck itu hanya mendatangi ku lalu merebahkan tubuhnya disampingku.


   "Ya, aku cemburu hyerin, kau tak akan paham rasanya saat melihat orang yang kau sayangi tertawa bersama lelaki lain." Ucapnya yang kini sudah memindahkan kepalanya dari kasur ke pahaku.


   Aku diam, tidak ingin menjawab ucapan jimin. Apa dia lupa bahwa dia memiliki seorang kekasih yang dia cintai, lalu aku ini apa? Hanya boneka atau mainannya. Kenapa rasanya sangat menyakitkan sekali, saat jimin mengatakan bahwa dia mencintaiku.


   Biasanya aku akan bahagia saat ada seseorang yang mengatakan hal itu, tapi kenapa sekarang, rasanya hatiku terbelah dua terutama saat mengingat kenyataan aku bukanlah yang utama di hidup jimin.


  "Hyerin aku merindukan mu, sangat." Deru nafasnya terasa hingga aku bisa mencium bau mint dari mulut jimin.


  Dan ucapan jimin membuatku tersadar seketika, "Jangan jim, eomma akan datang siang ini." Tolak ku pelan, merasakan tangan jimin yang sudah tidak mau diam.


  "Sebentar saja, aku berjanji hanya sebentar. " Ucapnya dengan wajah memelas memohon padaku.


  Jika sudah seperti ini, aku tidak bisa menolaknya lagi kecuali mengangguk pasrah membiarkan jimin bermain dengan caranya dan aku cukup mengikuti juga mengimbangi.


  ***


**Sorry ara gak jago ngedit, jangan lupa vomment yah, guyss!


See you next chapter**!