
ayey, ara akhirnya kasih kalian bonus, huhuhu ara suka banget sama feedback kalian tentang novel ini, makanya ara sempetin update, komen2nya yang buanyak biar ara update next chpater bonus lagi wkwkwk♡
***
5 tahun kemudian
"Dady, kepalaku pusing."
"Kemari, ingin dady gendong?"
"Iya dad."
Aku hanya bisa terkekeh melihat pemandangan yang ada di hadapanku, betapa manjanya seana kepada dady nya ketika merasa lelah setelah perjalananan yang cukup panjang.
"Sea mau minum?" Tawarku, ketika melihat anak itu menggeliat dalam pelukan hangat dadynya.
Hanya anggukan yang dijawab oleh sea, aku dengan segera mengambil sebotol air mineral yang ku beli tadi, memberikannya pada sea agar anak itu meminumnya.
"Pasti dia jet lag." Kata seseorang yang sekarang menggendong seana dengan sangat lembut, mengusap pelan rambut panjangnya yang berkeringat.
"Sehun dimana yah." Ucapku yang mencari keberadaan sehun.
Lelaki itu berjanji akan menjemput kami bertiga dibandara, namun sampai didepan parkiran aku tak menemukan tanda-tanda kedatangan seorang oh sehun.
"Mungkin dia terlambat."
Aku mengangguk menyetujui apa yang dikatakan olehnya, jujur aku saat ini tengah menjadi pusat perhatian karena beberapa orang mengatakan kami merupakan keluarga bahagia.
Ya, kelihatannya memang seperti itu, lelaki yang masih memperhatikan seana terlihat sangat tampan dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya, kacamata gaya yang menambah kesan maskulin pada penampilannya, namun terlihat dady able ketika dia menggendong seana dengan sangat perhatian dan penuh kasih sayang.
Lai guanlin, lelaki itulah yang sudah dianggap sebagai 'Dady' oleh anakku dan jimin, park seana, gadis yang sangat cantik, dengan senyuman semanis jimin. Umur seana sekarang sudah menginjak 5 tahun, dia tumbuh dengan sangat baik tanpa kekurangan kasih sayang sedikit pun, karena seana memilik tiga ayah, ralat 4 ayah.
Guanlin, sehun, eunwoo dan juga jimin.
Seana tak pernah complain tentang ayah yang ia miliki, sea malah senang dia mempunyai banyak ayah karena hanya dirinya saja diantara teman-temannya yang lain, yang memiliki ayah sebanyak sea dan terkadang teman-temannya iri dengan sea.
Selama 5 tahun ini juga aku berusaha menjauh dari keluarga park, menghapus semua jejak agar tak dapat mereka ketahui termasuk jimin yang kata eunwoo masih sering berusaha mencariku, tapi tentu saja tidak bisa, karena seorang oh sehun telah berhasil melindungi ku, menghapus segala jejakku agar tak diketahui oleh jimin.
Tapi hari ini, setelah aku merasa sea harus tahu akan segalanya, aku yang harus kembali menuju negeri ku. Akhirnya memutuskan untuk kembali, menepati janjiku pada jimin dulu, sea tahu tentang ayahnya yang ke 4 ini, aku sering menceritakan sosok jimin pada sea, dan tentu saja sea sangat senang mempunyai ayah baru.
Selama lima tahun terakhir, aku tak pernah memberi kabar pada jimin, entah soal kelahiranku ataupun pertumbuhan sea. Aku benar-benar menghilang bagaikan ditelan bumi tanpa ada kabar sedikitpun.
Nyonya park juga tak pernah tahu keberadaanku, biarkan saja. Walau sampai 5 tahun aku memisahkan sea dari ayah kandung tapi pada akhirnya aku selalu memberi tahu sea kalau dia punya ayah lain selain ketiga lelaki yang sering mengunjunginya sambil membawa banyak sekali hadiah, yaitu jimin.
Eunwoo dan sehun setiap bulan selalu mengunjungi ku ke amerika, mereka juga yang menemani ku saat melahirkan sea dulu, sangat miris. Aku melahirkan anak tanpa sesosok suami, tapi tak apa, aku masih sangat beruntung karena ada guanlin, sehun dan eunwoo yang menemaniku melewati masa sulit itu.
"Rin, lihat itu sehun." Kata guanlin menunjuk seseorang yang tak kalah tampannya dengan guanlin, tengah berdiri disamping mobilnya dengan pakaian casual jaket denim juga kacamata hitam yang bertengger dihidungnya, tak lupa dengan para pengawal yang berdiri mengelilingi lelaki itu.
"Ayo lin." Aku dengan segera mendorong troli yang membawa koperku, guanlin dan tas milik sea karena guanlin sendiri tengah sibuk mengurusi sea yang akan sangat manja terutama ketika sakit seperti ini.
"SEHUN!!" Teriak ku dengan sangat kencang, membuat lelaki itu menoleh pada arahku, ku lambaikan tanganku padanya untuk segera membantuku membawa troli ini, jujur saja ini berat.
Benar saja, sehun langsung menyuruh pengawalnya untuk membantuku membawa troli yang ku dorong tadi. "Maaf aku terlambat, seoul jadi sering macet akhir-akhir ini." Jelasnya begitu aku dan guanlin sampai dihadapannya.
"Tidak apa-apa." Jawabku.
"Lho? Sea kenapa?" Tanya sehun khawatir yang langsung mengecek suhu tubuh sea menggunakan punggung tangannya.
"Dia jet lag." Jawab guanlin, sementara sang pusat perhatian masih terdiam meringkuk pada guanlin.
"Kita kerumah sakit setelah ini." Ucap sehun yang langsung ku hadiahi dengan pelototan.
"Jangan berlebihan, sea hanya jet lag Istirahat juga nanti sembuh." Jawabku menolak ajakan sehun.
Jangan terlalu sering membawa anak kerumah sakit hanya karena masalah sepele, terkadang hal itu akan membuat dampak buruk dikehidupannya nanti, jadi selama itu masih bisa ku mengerti dan ku pahami aku selalu mengurus sea sendirian jika memang hanya sakit ringan saja.
"Ya, dia hanya butuh istirahat saja hun." Tambah guanlin yang membelaku.
Setelah mendengar penolakan ku dengan guanlin, sehun mendecih sebal lalu mengajak kami untuk masuk kedalam mobilnya yang super besar dan mewah tak lupa masih dengan pengawal yang berjaga di sekeliling.
***
Aku turun dari mobil sehun, sambil membawa sea dalam gendonganku. Anakku satu-satunya itu sudah terlelap dalama tidurnya karena terlalu lelah, saat dimobil tadi dia sempat merengek namun berhasil aku tenangkan dan berakhir sea tidur dalam pangkuanku.
Sehun, guanlin bersama pengawalnya yang lain tengah membantu menurunkan barang-barang miliku dari dalam mobil yang kami tumpangi tadi, sementara aku kini tengah berjalan masuk kedalam rumah yang 5 tahun sudah aku tinggalkan.
Tak ada yang berbeda dirumah ini, semuanya masih terlihat sama, mulai dari interior, cat hingga pot tanaman yang masih berdiri pada tempatnya dulu. Aku menatap sendu rumah yang memiliki banyak kenangan ini, tak menyangka akhirnya aku akan kembali lagi setelah lama pergi.
Begitu aku membuka pintu rumah yang sangat besar dengan susah payah karena masih ada sea dalam gendonganku, pandanganku berhenti pada satu titik fokus, menatapnya lekat mencoba menahan buliran air mata yang siap membuka kisah baru setelah lama membiru.
Ahjumma jiena, perempuan yang sudah semakin renta usianya itu menatap ku dengan sangat dalam, tak membuka pembicaraan sedikitpun karena kami sibuk menatap dalam diam, menyalurkan kerinduan tanpa ucapan yang hanya ada tangisan yang berusaha aku tahan.
"Hallo ahjumma, alin merindukan ahjumma."
Suara berat milik guanlin membuyarkan acara salam kerinduan kami yang tak mengeluarkan suara, dia dengan cepat memeluk ahjumma jiena yang masih terpaku dengan posisi berdiri.
Aku menahan senyum, melihat guanlin yang memang tak berubah, masih sangat suka menjahili ahjumma jiena. Terkdang guanlin juga sering memanggil ahjumma jiena dengan sebutan 'ibu teko' padahal bentuk tubuh Ahjumma jiena sangat berbeda jauh dengan teko, karena bisa dibilang wanita di korea memiliki berat badan yang proporsional, termasuk dengan ahjumma jiena walau usianya tak lagi muda.
"Moommmy."
Atensi ku teralihkan begitu sea terbangun, mulai bergerak gelisah sambil mengusap wajahnya kasar, sehun yang melihat itu langsung mengambil sea dalam gendonganku, memeluk sea dengan sangat erat.
"Sea tidak rindu dengan dady sehun, hm?" Tanya sehun pada sea yang masih ia dekap.
"Ini dady sehun?" Tanya sea walau dengan suara parau.
"Tentu saja, ini dady sehun—mu yang sangat tampan." Puji sehun pada dirinya sendiri.
Sea yang mendengar ucapan sehun langsung tertawa terbahak-bahak, sehun bagi sea memang moodboster terutama dengan sikap sehun yang sangat lucu ketika dihadapan sea.
"Jangan berbohong dady sehun, yang paling tampan itu dady guanlin." Jawab sea yang sekarang tampak begitu ceria.
Semua yang berada diruangan ini terkekeh, termasuk guanlin yang kini langsung memberikan kecupan singkat pada sea. "Sea pandai sekali."
"Hyerin."
Aku mendongak, menatap seseorang yang memanggil ku tadi, tentu saja dia adalah ahjumma jiena. Dengan cepat aku menghampirinya, lalu memeluk erat ahjumma jiena.
"Ahjumma, aku merindukanmu." Kataku.
Ahjumma membalas pelukanku dengan sangat erat, sama rindunya seperti diriku karena sudah lima tahun tak bertemu. "Selamat, kau sudah berhasil jadi ibu yang hebat nak, ahjumma bangga padamu." Ucap ahjumma jiena, dalam pelukan.
"Terimakasih ahjumma." Jawabku yang sangat terharu dengan pujian ahjumma jiena.
Jujur saja jika bukan karena guanlin, sehun dan eunwoo aku tidak akan menjadi ibu yang sekuat ini, mereka semua banyak memotivasi ku, mendukung ku agar aku tak mudah menyerah. Menjadi single parent's tidaklah mudah, banyak hal yang perlu dilakukan seperti ketika menjadi orang tua lengkap, terutama ketika sea kecil menanyakan siapa ayah kandungnya, hal itu pernah membuatku down karena tak tahu harus menjawab apa.
Aku melepaskan pelukanku pada ahjumma jiena, setelah dirasakan cukup melepaskan rindu walau terkesan singkat. "Momy."
Aku langsung mengalihkan pandanganku pada sea yang masih bermain dalam gendongan sehun. "Ada apa?" Tanyaku.
"Siapa dia mom?" Tanya sea menunjuk ahjumma jiena.
Aku tersenyum pada sea, meminta agar gadis kecil itu turun dari rangkulan sehun dan mendekat ke arahku. "Dia adalah aunty yang pernah momy cerita padamu." Jelasku dengan suara pelan pada sea.
Ekspresi wajah sea langsung berubah, matanya berbinar sesekali melirik ahjumma jiena sekilas lalu menatapku lagi seakan bertanya 'apakah benar?'. Aku mengangguk sekali lagi, meyakinkan sea bahwa perempuan yang berada di belakang ku ini adalah ahjumma jiena.
Sea dengan cepat menghampiri ahjumma jiena, menatapnya dengan sangat lekat, sambil membenarkan rambut panjangnya yang menutupi wajah sea. "Hallo aunty! Namaku park seana, panggil saja sea, momy bilang dia punya banyak kenangan indah dengan lautan maka dari itu dia menamai ku dengan nama sea, yang jika dalam bahasa inggris artinya adalah lautan, senang bisa berkenalan dengan aunty. Momy selalu menceritakan tentang aunty kepadaku." Jelas sea yang membuat aku terkekeh sendiri.
Sea memang gadis yang pandai bersosialisasi, cerewet dan terkadang manja, aku tidak tahu sea bisa mendapatkan sifat seperti itu dari siapa, sepertinya dari jimin, karena sedari kecil aku dikenal sangat introvert.
"Hai sea, benarkah? Momy mu memang sering bercerita apa pada sea?" Tanya ahjumma jiena yang malah menarik tangan sea untuk diduduk di sofa bersama dengannya.
Aku yang melihat itu merasa sangat senang, jika pada ahjumma jiena saja sea mudah berbaur, mungkin dengan jimin juga bisa, apalagi mereka adalah ayah dan anak kandung.
"Rin, aku lelah ingin istirahat."
Aku menoleh pada sang empu pemilik suara manja yang merengek itu, tentu saja dia lai guanlin siapa lagi? Aku langsung memberinya sebuah anggukan kecil.
"Sea tunggu disini bersama aunty dulu yah, momy mau mengantar dady mu ke kamarnya." Ucapku pada sea yang masih asik berbincang-bincang bersama dengan ahjumma jiena.
Gadis mungil dengan rambut panjang sepinggang itu menoleh padaku, lalu memberikan jari jempolnya padaku.
"Hun, kalau mau minum ambil aja didalem yah." Ucapku juga pada sehun yang sudah sedari tadi merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang sambil menatap sea.
"Iya."
"Ayo lin."
Setelah izin kepada semua orang, akhirnya aku dan guanlin pergi dari ruang tamu menuju kamar yang akan ditempati oleh guanlin. "Tidak ada yang berubah dari rumah ini." Katanya sambil menatap sekitar rumah.
"Memang tidak ada." Jawabku.
"Kapan terakhir kali aku datang kemari yah?" Tanyanya.
Aku sempat terdiam, mengingat kapan terakhir kali guanlin mendatangi rumahku, rasanya sudah lama sekali. "Sudah lama sekali, aku sendiri lupa."Jawabku.
Guanlin hanya menjawabnya dengan kekehan kecil, lalu kembali sibuk meneliti setiap inci dari rumah ini. Setelah cukup lama saling berdiam tanpa suara, akhirnya aku dan guanlin sampai depan kamar yang akan ia tempati selama beberapa hari nanti.
"Ini kamarmu, ahjumma jiena pasti mengurusnya dengan baik. Kalau kau perlu sesuatu, kau bisa datang ke kamarku, oke?" Jelasku pada guanlin.
Lelaki itu mengangguk paham dengan apa yang baru saja ku katakan. "Kalau begitu, aku pergi." Pamitku.
Namun sebelum aku pergi, guanlin menahan lenganku membuat aku menoleh menatapnya kebingungan. "Ada apa? Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?" Tanyaku lagi, berpikir bahwa guanlin membutuhkan sesuatu.
"Aku butuh jawabanmu segera." Ucapnya yang sekarang langsung berlalu pergi masuk kedalam kamarnya.
Aku diam membeku, sadar dengan maksud dari ucapan guanlin tentang jawaban. Jika kalian berpikir bahwa aku dan guanlin sudah menikah, jawabannya salah, aku tak pernah menikah lagi setelah bercerai dari jimin. Guanlin pernah beberapa kali melamarku, mengajakku untuk menikah bersama dengan dia.
Namun aku selalu menolak dengan alasan trauma dengan pernikahan, setelah kegagalan ku kemarin membangun bahtera rumah tangga bersama Jimin. Aku tak mau terlalu terburu-buru, tanpa ada persiapan mental maupun fisik seperti pernikahan ku dengan jimin, karena aku tahu bahwa pernikahan itu bukanlah sesuatu yang dapat dipermainkan.
Sudah cukup sekali, aku tak mau mengulanginya untuk kesekian kalinya.
Dan untuk jawaban yang dipinta oleh guanlin tadi merupakan lamarannya padaku, walau telah ku tolak beberapa kali, guanlin tak mudah menyerah, dia terus mengajakku untuk menikah dan membuktikan bahwa dia benar-benar sayang kepadaku juga kepada sea.
Aku memintanya untuk memberi ku sedikit waktu untuk berpikir, apakah aku sudah siap membangun rumah tangga lagi? Bersama orang lain?
Entahlah, hal itu masih belum ku temukan jawabannya dalam diriku, aku masih bingung dengan perasaan ku kepada guanlin, karena sejujurnya sampai sekarang aku belum bisa menghapus rasa cintaku pada seorang park jimin.
***
Aku menatap jam tangan yang melingkar ditanganku, ini sudah lewat dari 15 menit, tapi kenapa sea belum keluar dari sekolahnya. Aku mendecih sebal, karena sudah hampir 30 menit aku menunggu didepan gerbang sekolah sea, namun tak ada tanda-tanda bahwa sekolah telah berakhir.
Ini sudah seminggu sejak kepindahan ku dari amerika, aku memutuskan untuk menetap di korea, tak ada niatan lagi kembali ke Amerika karena memang ini adalah tanah kelahiranku.
"MOMY!!" Aku tersentak, bahkan aku langsung memegang jantungku karena terkejut oleh teriakan yang sangat kencang itu.
Aku sudah tahu siapa pemilik suara berisik itu, park seana tentunya, dan benar saja aku sudah melihat anak itu berjalan mendekat kearahku dengan sebuah cengiran lebar. "Hai momy!!" Sapanya.
"Sea berisik sekali, momy kaget." Kataku.
Sea malah tertawa, selain cerewet aku lupa kalau sea adalah anak yang sangat jahil. "Maaf momy, sea kelepasan." Jawabnya.
Aku menggeleng, lalu menarik tangan sea agar menjauh dari kerumunan anak-anak yang keluar dari sekolah. Ini adalah hari pertama sea sekolah disalah satu taman kanak-kanak, sea bukanlah anak manja yang selalu harus ditemani oleh orang tuanya, sea bahkan menyuruhku untuk pergi ketika aku memperhatikannya belajar didalam kelas, sungguh rasanya seluruh sifat sea tidak ada yang menurun dariku.
"Momy, aku ingin makan tteokboki." Rengek sea padaku.
Aku mengangguk meng-iyakan keinginan sea untuk membeli tteokboki, ketahuilah selama dikorea sea sangat suka dengan tteokboki, hampir setiap hari sea selalu meminta untuk dibelikan tteokboki.
Sebenarnya aku dan sea sedang menunggu jemputan guanlin, dia bilang setelah ini akan mengajak kami berdua untuk makan siang bersama, namun sampai sekarang guanlin tidak kelihatan batang hidungnya.
"Momy, itu hyun seo."
Aku melihat sea menunjuk seorang anak lelaki yang tengah berdiri di atas trotoar, wajahnya pucat pasi dengan air mata yang berusaha ia bendung.
"Hyunseo? Siapa dia?" Tanyaku pada sea.
"Dia teman sekelas sea momy, sepertinya hyunseo sedang sakit, karena dikelas tadi hidungnya mengeluarkan darah mom." Jelas sea.
Aku meringis prihatin, membayangkan betapa sakitnya mengelurkan darah dihidung dengan usia sekecil hyunseo. "Mau menyapa temanmu sea?" Tawarku pada sea, kebetulan guanlin belum datang, setidaknya aku bisa berbincang-bincang sebentar dengan anak yang bernama hyunseo itu.
"Boleh mom." Jawab sea.
Akhirnya aku bersama dengan sea mendekati hyunseo yang berdiam diri sendirian dipinggir trotoar, begitu melihatnya dari dekat aku sangat khawatir karena wajahnya yang sangat pucat, wajahnya sendu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hyunseo? Kau baik-baik saja?" Tanya sea yang sangat pasih berbahasa korea.
"Oh, seana? Aku baik." Jawab anak bernama hyunseo itu.
"Hai, kau hyunseo?" Tanyaku.
"Iya, bibi pasti mamahnya sea? Benar?" Jawabnya sambil memberikan pertanyaan lagi padaku.
"Aku tidak memiliki orang tua."
"Ah? Maaf, bibi tidak tahu." Jawabku menyesal karena sudah bertanya tentang orang tua hyunseo.
"Tidak apa-apa, bi." Jawab hyunseo.
Aku tersenyum tipis kepada hyunseo, anak lelaki yang sangat kuat. "Lalu? Kau sedang menunggu siapa?" Tanya sea yang ikut berdiri disamping hyuseo.
"Paman ku, biasanya diakan menjemputku. Jika sempat." Jelas hyunseo.
Aku bingung, jadi hyunseo tinggal bersama pamannya? Malang sekali nasib anak lelaki ini.
"Mom, bolehkah aku menemani hyunseo disini sampai pamannya datang menjemput?" Pinta sea, aku mengusap daguku berpikir.
"Tidak ada salahnya, lagi pula dady mu belum datang." Jawabku yang akhirnya menuruti permintaan sea.
"Terimakasih mom."
Aku tersenyum lalu mengusap rambut panjang sea yang berwarna cokelat, sedari lahir rambut sea memang berwarna cokelat terang entah bagaimana bisa sea memiliki rambut dengan warna cokelat itu.
"Bi, kalian pindahan dari luar negeri?" Tanya hyunseo padaku.
"Ah, iya. Kami baru pindah beberapa minggu yang lalu." Tenangku pada hyunseo.
"Pantas, sea masih sering mecampur bahasa inggris dan korea dalam kalimat yang ia ucapkan." Jelas hyunseo.
Aku terkekeh membenarkan apa yang dijelaskan oleh hyunseo, memang benar sea masih sering mencampur bahasa dalam kalimat yang ia ucapkan. Walau hyunseo terlihat buruk dari penampilan, tapi anak itu cukup pintar untuk mengetahui hal kecil seperti itu.
"Tidak, aku tidak melakukan itu hyunseo." Sanggah sea sedikit tak suka dengan ucapan hyunseo.
"Kau sering melakukannya sea, kau saja yang tidak sadar." Terang hyunseo lagi yang kukuh dengan asumsinya.
"Hei! Aku bilang aku tidak melakukan itu." Bentak sea dengan nada yang cukup tinggi.
Aku meringis, merasa sifat tak baik yang kali ini ditampilkan oleh sea merupakan turunan dariku yang sangat suka berteriak juga membentak.
"Sea, tidak boleh membentak orang lain, apalagi hyunseo adalah temanmu." Ucapku menasihati sea.
"Tapi momy, dia baru saja menghinaku." Bela sea yang tampak marah karena ucapan hyunseo.
"Hyunseo tidak bermaksud menghina mu, dia hanya mengatakan sesuatu yang menurutnya benar, semua orang berhak memberikan pendapat mereka sea." Jelasku, tentu saja setelahnya sea cemberut, wajahnya sangat masam dengan bibir yang sengaja dia majukan.
"Sekarang, sea minta maaf yah pada hyunseo." Tambahku lagi.
"Iya, hyunseo, im so sorry." Sea dengan gerutuannya meminta maaf pada hyunseo.
Anak lekaki berwajah pucat itu hanya membalas permintaan maaf sea dengan anggukan kecil. "Sudah kan mom?" Kata sea yang sekarang menatapku.
Aku merotasikan mata malas, sea memang menyebalkan sama seperti dirirku dulu, tak heran dia memiliki sifat seperti itu.
"Ah, itu pamanku."
Aku langsung mengalihkan pandanganku ketika hyunseo mengatakan bahwa pamannya sudah tiba, ketika netraku menangkap sesosok lelaki dengan setelan jas lengkap berjalan kearahku, dengan lekukan wajah yang tak asing bagiku. Aku terkejut, bahkan sempat menahan nafas saat dirinya mulai mendekat, menyadari hal itu aku dengan segera membuang muka, berharap bahwa dia tak melihatku.
"Maaf telah membuat mu menunggu hyunseo, paman ada urusan sebentar."
Mendengar suara itu lagi, setelah sekian tahun sudah membuat jantungku berdebar dengan sangat cepat, ritme jantung yang sudah lama tak aku rasakan setelah pergi dari korea.
"Tidak apa-apa paman, lagi pula ada yang menemaniku. Oh iya, ini temanku park seana."
Aku tak dapat melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan, karena aku masih sibuk membuang muka, bahkan sekarang aku membalikan tubuhku berharap lelaki itu, park jimin benar-benar tidak menyadari bahwa ini adalah aku.
"Hai paman! Namaku park seana, panggil saja sea, indah luas dan biru seperti lautan, itulah diriku." Jelas sea dengan percaya diri, jujur aku sangat menyesal mengajarkannya untuk ramah dan percaya diri pada semua orang, sekarang malah terkesan sangat memalukan.
"Wow, nama yang bagus, kedua orang tuamu pasti sangat menyukai lautan." Jawab jimin sambil terkekeh.
Aku berdoa dalam hatiku agar hyunseo tidak meminta ku untuk berkenalan dengan pamannya itu, aku tak ingin bertemu dengan jimin sekarang, aku masih belum siap.
"Tentu, momy ku bilang dia punya kenangan yang sangat indah dengan lautan." Tambah sea lagi.
"Dan, bibi ini adalah momy—nya sea."
Damn!
Sudah ku duga bahwa hyunseo akan memperkenalkan ku pada jimin. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Berlari? Tidak bisa, menutup wajahku dengan sesuatu? Tapi apa? Aku tidak membawa apapun didalam tasku.
"Momy." Sea memanggilku.
Aku tidak bisa melakukan apapun lagi selain melihat jimin dan membuatnya tahu bahwa aku adalah kim hyerin. Pada akhirnya aku membalikan tubuhku, menatap jimin dingin berpura-pura tidak pernah terjadi apapun antara aku dan jimin.
Benar saja, saat aku menunjukan wajahku pada jimin dia langsung diam membeku, wajahnya terlihat sangat terkejut, tentu saja dia terkejut.
"Hye—rin?" Tanyanya sambil menunjuk ku dengan jari telunjuknya.
"Ya, senang bertemu denganmu." Jawabku berusaha terlihat biasa saja, kembali memutar otak agar bisa segera pergi dari sini.
"Hyunseo, pamanmu sudah datang bukan? Bibi bersama dengan sea akan pergi—oh, dady sea sudah datang, kebetulan sekali, kalau begitu, ayo sea kita pulang." Ucapku yang melihat guanlin sudah datang dan tengah melambaikan tangannya disebrang jalan kepadaku.
Aku dengan segera menarik tangan sea, untuk berjalan menjauh dari jimin yang masih terdiam pada posisinya, aku yakin jimin juga melihat kedatangan guanlin karena ketika aku mengatakan 'dady' jimin sempat menoleh mencari keberadaan seseorang yang ku sebut dengan dady yang tak lain adalah lai guanlin.
"Tunggu hyerin."
Aku menghentikan langkahku, begitu suara jimin mengintrupsi. Aku menghela nafas panjang, sudah tahu bahwa akan berakhir seperti ini jika aku bertemu dengan jimin.
Aku tidak menjawab apapun pada jimin, memilih untuk memberikan isyarat pada guanlin agar segera datang kemari, dan benar saja begitu aku menatapnya dengan tajam, guanlin langsung menyebrangi jalan sambil menatap ku bingung.
"Bawa sea sama hyunseo, aku harus bicara dengan jimin."Kataku.
Guanlin diam, dia sekilas memandang ke arah jimin lalu menatapku. "Baiklah." Jawab guanlin.
"Jim, bilang pada hyunseo untuk ikut bersama dengan guanlin." Perintahku.
Jimin menurut, dia berbicara dengan hyunseo meminta anak itu untuk mau ikut bersama dengan guanlin juga sea, sedangkan aku akan pergi bersama dengan jimin. Untuk menyelesaikan, beberapa masalah yang tertunda karena kepergian ku selama lima tahun ini.
***
Disinilah aku bersama dengan jimin, duduk berdua didalam sebuah cafe sederhana yang tak banyak dikunjungi orang. Saling bertatapan dalam diam, setelah hampir lima tahun lamanya tak bertemu, lebih tepatnya sengaja menjauh.
Secangkir kopi menemani kesunyian kami berdua, asap yang mengepul dari dalam cangkir terkadang menjadi perhatianku karena sedari tadi jimin tak mengeluarkan sepatah kata apapun, dia malah asyik memandangi diriku dengan tatapan yang menurutku 'aneh'.
"Apa yang ingin kau bicarakan jim?" Tanyaku pada akhirnya karena merasa waktu ku sudah habis, aku harus bertemu dengan sea, juga teman-temanku yang lain.
"Bagaimana kabarmu hye?" Jimin malah memberikan pertanyaan padaku, tangannya sibuk memainkan gagang cangkir kopi yang berada di hadaapnnya.
"Seperti apa yang kau lihat, aku baik-baik saja." Jawabku santai.
"Ya, kau terlihat baik-baik saja, bahkan kau memanjangkan rambutmu?" Tanya jimin lagi, aku tersenyum penuh tipis karena pertanyaan jimin.
"Ya, aku sengaja memanjangkannya, aku ingin merasakan sesuatu yang berbeda." Jawabku, aku merasa kerongkongan ku sangat kering jadi aku memutuskan untuk mengambil secangkir kopi itu lalu meminumnya pelan, karena suhu kopi yang masih panas.
Jimin terkekeh, sangat lucu dimataku karena sampai sekarang tak ada yang berubah dari jimin, dia akan selalu khas dengan rambut berwarna pirang ke abuan miliknya, juga wajah, wajah itu tetap sangat tampan walau sudah lama tak melihatnya lagi.
"Hyerin, park seana adalah anakku bukan?" Tanyanya langsung pada inti pembicaraan.
Aku mengangguk meng-iyakan, karena memang kenyataannya seperti itu, park seana adalah anak kandung jimin. "Ya dia anakmu dan anakku, dia tumbuh dengan sangat baik tak kekurang kasih sayang sedikitpun." Jelasku.
Jimin kembali terkekeh, namun kini dia membawa kedua tangannya untuk menopang dagunya lalu menatapku lekat-lekat. "Tentu saja dia tidak akan kekurangan kasih sayang, jika kalian bertiga hidup layaknya pasangan suami istri." Kata jimin, ucapannya seperti menyindir diriku dan guanlin.
Oh, apakah jimin cemburu?
"Itu termasuk, tapi seana senang karena dirinya punya 4 ayah, kau, guanlin, sehun dan juga eunwoo." Aku meluruskan ucapan jimin yang memang terang-terangan menyindir diriku.
"Kau dan guanlin sudah menikah?" Tanya jimin mengalihkan pembicaraan.
"Belum." Jawabku malas jika sudah membahas hubungan ku dengan guanlin.
"Berarti, segera akan terlaksana?" Tanyanya lagi.
"Bisa jadi ya, bisa jadi tidak."
"Kenapa? Kau masih mengharapkan ku?"
Aku tertawa garing, lupa bahwa seorang park jimin merupakan lelaki yang super percaya diri. "Tentu saja tidak, karena sekarang aku tahu bahwa pernikahan tidak bisa dianggap sebagai mainan, aku tidak ingin mengulangi kesalahanku dimasalalu." Jelasku
Jimin mengangguk sepertinya sepakat dengan pendapat yang ku utarakan tentang pernikahan.
"Kita disini untuk membahas sea bukan?"
"Ya, membahas seana anakku."
"Dia tahu kalau kau adalah ayah kandungnya. Maksduku dia tahu bahwa yang bernama park jimin adalah ayah kandungnya, aku selalu menceritakan tentang mu kepada sea, tapi aku tidak pernah memberikan fotomu pada sea." Terangku dengan panjang lebar.
"Apakah kau menceritakan sesuatu yang buruk tentang ku pada sea?"
Sekali lagi aku tertawa garing, merasa jengkel karena pertanyaan jimin. Dia mungkin beranggapan bahwa aku akan menjelekkan dirinya dihadapan sea, sebenci-bencinya diriku dengan park jimin tidak akan pernah melibatkan masalah ini dengan anakku dan jimin.
"Tidak, tentu saja tidak. Jika sea tahu tentang keburukan mu dia pasti akan malu memiliki ayah seperti mu." Jawabku yang ku yakin sangat menusuk.
Aku tidak dendam pada jimin, sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal itu. Namun melihat jimin yang seakan mencurigaiku membuatku terpaksa melakukan ini, berkata sesuatu yang pasti akan membuatnya terluka.
Jimin diam, dia tak lagi menjawab penjelasanku dan memilih untuk melemparkan pandangannya pada jalanan kota seoul yang ramai. "Semua ini kesalahanku, seandainya saja aku tak pernah berkhianat dan meminta yeonji untuk bersama denganku."
"Hanya perumpamaan seandainya yang dapat kau harapkan di khayalanmu, karena kata seandainya tidak berlaku dunia nyata, semuanya telah terjadi dan tak ada yang dapat merubahnya."
"Kau benar, aku masih terjebak dalam rasa bersalah itu sampai sekarang. Maaf." Lirih jimin.
Aku tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh jimin, kupikir hanya aku yang masih terjebak dalam dilema masalalu yang begitu menjeratku, tapi nyatanya Jimin juga.
"Ah, bagaimana anakmu dengan yeonji? Apakah dia sekolah? Dia berbeda tiga bulan dengan sea." Tanyaku berusaha membuat suasana sedih ini menghilang, aku tak ingin kembali bernostalgia dalam rasa yang sama.
"Ya, dia sudah sebesar sea sekarang."
"Siapa namanya?" Tanyaku penasaran.
"Choi hyun seo."
Aku tertegun, langsung menyeritkan alis bingung, pasalanya hyunseo berkata bahwa jimin adalah pamannya, tapi hyunseo merupakan anak dari Yeonji?
"Tunggu, tapi tadi hyunseo memanggilmu dengan sebutan paman?" Tanyaku bingung.
"Dia bukan anakku, Yeonji hamil anak selingkuhnya ketika aku sibuk dengamu, yeonji tidak hamil anaku." Jelas jimin.
Aku terpaku seketika, merasa sangat lemah menerima kenyataan yang baru saja ku ketahui setelah lima tahun lamanya, bahkan eunwoo maupun sehun tak ada yang memberitahuku tentang ini.
Sekarang aku merasa sangat menyesal karena sudah memisahkan jimin dengan sea karena rasa sakit yang ku derita, rasa sakit palsu karena keteledoranku yang terlalu didera rasa amarah pada jimin karena sudah mengkhianati ku.
"Semuanya tak seperti apa yang kau pikirkan hyerin, aku tidak tahu apakah ini sudah terlambat atau belum, tapi aku ingin mengatakan satu hal padamu, aku masih mencintaimu, selalu, sekarang dan hingga nanti."
***
*Heehhe NGEHAHAHAHAHAHA, ***** kalian, ini gimana, balikin lagi jangan hyerin sama jimin? Terus guanlin gimana dong? Sed boi banget tuh anak, kasian.
Cerita ini fiks ku gantung sampai sini, kalau kalian penasaran, tunggu nanti yah heheh.
Papay**
park seana
susah bener nyari ulzzang anak2😭
Itu emaknya😭😏