
Aku berusaha bersikap biasa saja saat membaca pesan itu, tapi jujur ada rasa sakit yang ku rasakan, rasa sesak dan keinginan untuk menangis seperti terus mengajak ku untuk saling beradu perasaan.
"Hye, sedang apa? Menggunakan ponselku?"
Takut terkejut dan dengan segera meletakan ponsel milik jimin pada tempatnya semula. "Maaf, aku hanya meminjam senter handphonemu, tadi aku melihat semut yang mengambang diatas kuah, ku pikir bukan jadi ku pinjam handphone mu untuk melihatnya." Jelasku dengan gugup.
Semoga jimin percaya, alasanku cukup logis bukan?
"Jika memang ada semut, lebih baik menggantinya. Aku pesankan lagi." Tawar jimin yang kini berjalan menuju sudut kamar untuk mengambil pakaiannya yang masih berada didalam koper.
"Tidak perlu, hanya semut mati, sudah ku buang." Tolak ku sambil memakan sup itu.
"Jangan dipaksakan hye, aku tidak mau jika nantinya kau sakit." Ucap jimin, yang langsung mengambil mangkuk sup itu dari tanganku kemudian menaruhnya kembali diatas nakas.
"Kita pesan lagi." Finalnya, setelahnya berlalu pergi dari hadapanku.
Aku hanya menghela nafas panjang, sebenarnya menahan rasa sakit dalam hatiku. Aku terdiam memikirkan betapa bodohnya aku yang terlalu mengharapkan seorang park jimin, jelas-jelas lelaki itu tak pernah mencintaiku, baginya aku hanya sebuah alasan kebahagiaan kedua orang tuanya. Bukan segalanya.
Aku memukul pelan kepala ku sendiri, lalu berdiri untuk memakai pakaian miliku karena sedari tadi aku hanya menggunakan bathrobe.
"Hari ini kita akan pergi ke pantai, jangan gunakan pakaian aneh. " Ucapnya, jimin sendiri masih sibuk dengan bajunya sedangkan diriku sudah mengambil sebuah baju bermotif frolar yang sudah ku siapkan sebelumnya.
"Memang oppa berpikir aku akan menggunakan bikini? Ada-ada saja." Jawabku sambil menggelengkan kepala.
Berjalan memasuki kamar mandi untuk memakai pakaian ku sendiri. Jimin memang aneh, untuk menggunakan dress diatas lutut saja aku tidak nyaman apalagi menggunakan sebuah bikini?
Setelah selesai dengan pakaian ku, aku sempat menatap diriku pada pantulan kaca. Membenarkan sedikit rambutku yang berantakan, aku mengambil pouch make up yang juga ku bawa. Membukanya dan mengambil beberapa alat make up. Sebenarnya aku bukan tipe gadis yang suka berdandan hanya saja jennie bilang seorang gadis perlu untuk merawat diri, setidaknya terlihat bersih.
Dan karena jennielah aku mengerti beberapa alat make up, termasuk yang sekarang aku gunakan, sebuh foundation berwarna sama dengan kulitku. Aku mulai menghias wajahku dengan natural make up, tidak terlalu berlebihan tetapi tidak terlalu polos juga.
Aku kembali melihat penampilan ku pada pantulan cermin, cukup bagus, celana denim diatas lutut ini membuat penampilan ku semakin keren. Setelah membereskan alat make up ku, aku keluar dari kamar mandi dan masih melihat jimin tengah asyik dengan ponselnya.
Lagi-lagi aku mendengus, apakah wanita Itu harus setiap saat menghubungi jimin? Apakah dia tidak tahu bahwa jimin tengah berbulan madu dengan istrinya? Atau dia memang sengaja melakukan hal itu?
Aku hanya mencoba mengabaikannya, berjalan dengan sedikit menghentakkan kakiku, aku menyimpan kembali pouch make up ku kedalam koper.
"Aku baru sadar, kau ternyata sangat cantik." Sebuah suara halu yang ku yakini milik jimin itu membuat ku sedikit berdecih jijik.
Dia berkata aku cantik? Kemana saja dia selama ini? Apakah dia melihat ku jelek dahulu? Oh tentu saja, wanita yang paling cantik menurut jimin hanyalah yeonji, hanya gadis itu saja yang cantik.
Oke, katakanlah aku sangat julid, tapi memang kenyataannya seperti itu, jimin akan selalu mencintai gadis itu dan bukan aku, aku jadi penasaran seberapa cantik gadis bernama yeonji itu.
"Dan kau sangat fashionable" Tambahnya lagi, aku hanya bisa tersenyum miris. Ternyata lelaki seperti jimin masih banyak didunia ini
Aku membalikan badanku untuk menatap jimin secara langsung. "Apa oppa lupa? Aku adalah seorang fashion desainer, untuk hal seperti itu sudah tak asing lagi denganku." Jawabku.
Terdengar kekehan jimin yang membuatku semakin merasa aneh. "Aku hampir melupakan fakta itu." Ucapnya.
Ya, tentu saja dia lupa, dalam pikirannya hanya ada yeonji, bukan aku.
Aku tak menjawab ucapan jimin dan lebih memilih untuk membuka tirai kamar yang masih tertutup, jendela besar kamarku langusng menunjukan pemandangan pantai yang sangat indah, jimin sengaja memesan kamar yang langsung mendapatkan view pantai yang indah.
"Ayo, kita turun." Aku terkejut karena tangan jimin sudah menarik tanganku lembut, menggandeng diriku keluar dari kamar hotel.
Setelah keluar dari halaman hotel, hal yang pertama aku lihat adalah hamparan pasir putih, dari sini aku bisa melihat laut yang sangat indah, warnanya biru bercampur dengan warna hijau yang mendominasi di bibir pantai.
Aku sempat terperangah, karena sebelumnya aku hanya mendengar keindahan pulau cocoa dari berita dan kisah beberapa orang. Dan hari ini aku berdiri ditempat ini, ditempat yang dielu-elukan sebagai tempat terindah dan kenyataannya memang seperti itu.
"Tempat ini sangat Indah." Ucapku, aku melepaskan genggaman tanganku pada jimin dan memilih untuk berlari mendekati bibir pantai agar bisa melihat keindahan pantai ini dari dekat.
Saat sampai di bibir pantai, aku dibuat terkejut dari sini aku dapat melihat terumbu karang didasar laut dengan sangat jelas, ada beberapa ikan kecil yang berenang di sekelilingnya, saking jernihnya air di pantai ini. Ombak yang sangat tenang dan pasir yang sangat putih semakin membuatku merasa kagum dengan tempat ini.
"Bagaimana tempat ini indah bukan?" Aku terkejut karena merasakan kedua tangan jimin tiba-tiba mendekap tubuhku dari belakang, bahkan sangat erat lelaki yang tingginya hampir sama denganku itu meletakan dagunya pada bahuku, membuat aku merasa geli.
"Ya, tempat ini sangat indah." Jawabku yang mencoba mengabaikan rasa geli pada bahuku, aku tidak bisa menolak apa yang dilakukan jimin karena aku juga tak ingin merusak momen bulan madu ini.
"Jika aku tahu tempat ini benar-benar sangat indah seperti apa yang dikatakan oleh orang banyak, mungkin sedari dulu aku sudah datang ke tempat ini." Ujarku.
"Tapi kau tidak datang bukan? Karena tuhan hanya menginginkan kau datang kemari bersama diriku." Ucapnya sambil tertawa pelan.
"Oppa bolehkah aku melakukan scuba diving? Sepertinya akan sangat menyenangkan." Pintaku.
Jimin malah semakin mengeratkan dekapannya padaku dan mengendus diceruk leherku, entah apa yang dia lakukan.
"Jangan sekarang, kondisi tubuhmu sedang tidak baik, kau bisa sakit. Kita bisa melakukannya di lain hari." Jawabnya menolak permintaan ku.
Aku cemberut, padahal aku sangat ingin melakukan scuba diving hari ini, cuacanya juga sangat mendukung.
"Sekarang kita sarapan terlebih dahulu." Ucapnya yang kini kembali menggait tanganku membawanya entah kemana.
Aku dan jimin berjalan cukup jauh dari bibir pantai, dan sekarang aku dan jimin sudah sampai disebuah rumah, bukan rumah juga karena tak ada dinding penghalang antara luar dan dalam. Tempat ini seperti sebuah cafe tapi dengan konsep terbuka, interior nya juga didesain sangat menyatu dengan alam, terbukti dari beberapa kayu yang menjulang sebagai tiang penyangga, hingga meja dan kursi yang masih terbuat dari kayu. Atap cafe yang terbuat dari daun kelapa, semakin menambah kesan alam yang begitu sederhana.
"Ayo duduk." Titah jimin saat dirinya sudah mendapatkan sebuah meja.
Keadaan dicafe ini cukup ramai, ada beberapa orang yang tengah menyantap makanan ada juga seorang lelaki yang bernyanyi menggunakan ukulele di dekat meja kasir yang berada paling tengah.
Dari tempat ini, aku juga masih bisa melihat keindahan pantai. Dan jujur tempat ini sangatlah sempurna.
"Kau ingin memesan apa?" Tanya jimin yang kini sudah memegang sebuah daftar menu.
"Apapun, sepertinya rasanya akan sangat nikmat." Jawabku tanpa menatap kearah jimin karena aku sendiri tengah sibuk memperhatikan sekitar.
"Oke."
Disini aku melihat beberapa turis yang berlalu lalang, kebanyakan mereka adalah orang bule dan aku sedikit terkagum karena melihat beberapa turis menggunakan bikini. Wow, tubuhnya sangat mulus dan putih, lalu apakah diriku yang memiliki kulit tak seputih mereka? Wajarkan jika aku merasa tidak percaya diri dengan diriku sendiri.
"Kau cantik sebagai dirimu sendiri hye, jangan menilai sesuatu menurut sisi pandangmu sendiri, jika menurut mu mereka cantik, belum tentu dengan orang lain bukan?"
Aku menatap jimin bingung, apakah dia tahu bahwa aku sedang merasa 'minder' dengan diriku sendiri.
"Be your self, because you know, who you are."
Aku tersenyum tipis mendengar ucapan jimin, yang dia katakan memang benar, aku tahu tentang diriku sendiri hanya aku dan aku bangga menjadi diriku sendiri bukan menjadi orang lain.
Tak lama makanan yang jimin pesan sudah datang, aku tidak mengetahui makanan apa ini karena begitu asing dimataku, menunya juga bukan menu internasional, sepertinya makanan khas pulau cocoa tapi semuanya terbuat dari seafood.
"Makan yang banyak, karena perjalanan kita masih panjang."
***
Aku menyipratkan air dengan tanganku sendiri, membiarkan baju yang aku kenakan basah karena air, aku bahkan tengah merendam tubuhku di air laut yang begitu jernih dimana sekarang ada banyak ikan kecil yang mengelilingi kakiku.
Sebenarnya jimin sudah melarangku untuk bermain air karena kondisi tubuhku yang kurang sehat, tapi aku tetaplah aku, aku tak akan mendengarkan ucapan orang lain jika aku sudah bersikeras dalam menginginkan sesuatu.
Sementara jimin? Lelaki itu hanya bisa melihat dari bibir pantai sambil duduk diatas pasir, dia sesekali hanya berteriak agar aku tidak terlalu jauh dari bibir pantai. Memang dia pikir aku seorang anak kecil? Dasar jimin.
Selain aku, ada beberapa turis juga yang tengah berenang, sebenarnya aku ingin berenang juga, tapi ya sudahlah. Aku bisa melakukannya esok saat tubuhku sudah lebih baik.
"Hye, jangan pergi terlalu jauh!!" Teriak jimin dengan suara yang cukup keras.
Aku mendecih, memalukan kenapa lelaki itu sangat kolot, apakah dia berpikir aku akan berenang lebih jauh? Aku membalikan tubuhku lalu berjalan mendekati jimin, sudah ku siapkan ancang-ancang untuk menyiram jimin dengan air.
Dan ketika sampai dihadapan jimin dengan segera aku menyipratkan air pada wajahnya, jimin sempat terkejut hingga tubuhnya jatuh terjerembab kebelakang. Otomatis aku tertawa begitu melihat reaksi jimin, dia seperti seorang kucing yang sangat takut dengan air.
"Dasar, kucing." Sarkasku.
Jimin membenarkan posisinya, lalu menatapku dengan horor. "Kau berkata aku kucing?" Ucapnya dengan wajah dingin.
"Ya, oppa memang seperti kucing, takut air." Jawabku tak mau kalah.
Jimin bangkit dari duduknya di pasir, mendekat padaku masih dengan wajah dinginnya.
"Kita lihat, berapa lama kucing ini bisa bermain air."Jimin langsung berlari menuju pantai, dengan sengaja menyipratkan air pada wajahku.
Aku berlari menghindari jimin karena serangannya yang begitu membabi buta.
"Oppa hentikan." Ucapku sambil menahan tawa ketika jimin sudah berhasil menangkapku.
"Kau lihat? Siapa yang seorang kucing disini?" Tanyanya sambil menggelitiki tubuhku.
"Oppa!" Aku dengan kekuatan penuh mendorong tubuh jimin dan kembali berlari untuk menghindari kejarannya, namun tak ku dengar derap langkah jimin maupun suaranya.
Aku berhenti dan menengok ke belakang, yang ku dapati jimin tengah meringis kesakitan diatas air dia memegangi bokongnya dengan wajah lucu yang menahan rasa sakit.
Aku tersenyum, lalu menghampiri jimin. Aku sebenarnya tak berniat melakukan hal itu, tapi nyatanya kekuatan ku cukup hesar hingga bisa membuat jimin terjatuh.
"Maaf oppa aku tidak sengaja." ucapku yang kini sudah berada di hadapannya.
"Aaaahhh." Aku berteriak kencang begitu jimin menarik lenganku cukup keras hingga membuat tubuhku ikut terjatuh disampingnya.
Yang ku dengar hanya suara tawa Jimin yang menggelegar karena berhasil menipuku.
Rasanya ingin sekali aku mengumpat, namun berusaha aku tahan jimin paling tidak suka saat aku mengeluarkan umpatan bahasa kasar.
Aku hanya bisa terdiam sambil memalingkan wajah dari jimin, niatnya hanya bermain air biasa tapi aku dan jimin sudah seperti anak kecil yang tengah berenang, pakaian kami full basah.
Tangan kekar jimin kembali memeluk tubuhku dari belakang dengan sangat erat. "Maaf, hanya bercanda." Ucapnya, aku hanya bisa menunjukan sebuah senyum tipis merasa senang dengan perlakuan jimin padaku, apalagi saat kedua tangan jimin mengusap perut ku yang rata, aku merasakan kehangatan disana.
Cupp
Aku melotot kaget, jimin memberikan sebuah kecupan pada pipiku yang semakin membuat diriku merasa malu. Pipiku bersemu merah, ah jimin pandai sekali dia membuatku merasa nyaman.
Ternyata rasanya sangat bahagia bisa bersama dengan seseorang yang dicintai. Apakah aku mulai mencintai jimin? Tapi sejak kapan dan karena apa?
"Hye, ayo sudah selesai bermain airnya." Jimin membangunkan tubuhnya dari atas pasir, kemudian membantu ku untuk bangun.
"Jangan terlalu lama, nanti kau sakit." Ucapnya lagi yang kini sudah menggandeng tanganku menuju tempat penitipan barang.
Ditempat penitipan barang juga tersedia layanan penyedia handuk, maka dari itu jimin mengizinkan ku untuk bermain air. Salah satu pelayan memberikan 2 handuk pada kami berdua, aku langsung mengambilnya dan mengusapkannya pada rambutku.
"pak, telefon anda selalu berbunyi sedari tadi, sepertinya ada yang menelfon." Ucap salah satu pelayan, jimin menganggukan kepalanya, kemudian berjalan menuju loker tempat penyimpanan barang-barang milik aku dan jimin.
Tempat loker itu tak cukup jauh dari tempat dudukku sekarang, bahkan disini aku bisa melihat jimin membuka lemari loker yang sudah ia sewa.
Aku memperhatikan gerakan jimin, lelaki itu mengambil ponsel miliknya yang dia simpan dalam sebuah tas kecil miliku, dari caranya menatap ponsel seperti ada yang dia khawatirkan.
Lalu jimin menelfon seseorang, untungnya aku masih bisa mendengar percakapan jimin dengan seseorang yang ia telefon walau samar.
"Hallo, maaf aku sibuk tadi."
"..."
"Ya maafkan aku, yeonji. Apa yang terjadi?"
Aku menutup mulut tak percaya, jadi orang yang sedari tadi terus menelfon jimin adalah yeonji? Wanita itu, selalu saja menganggu waktuku dan jimin. Apakah dia sengaja melakukannya.
Aku terus mendengarkan percakapan mereka berdua. Sampai aku merasakan sakit yang luar biasa pada perutku, aku meringis sambil memegangi bagian perutku. Menahan rasa sakit yang teramat hebat.
"Jimin... jimin!!" Aku berteriak pada jimin.
Namun yang ku lihat jimin mengabaikanku dan malah sibuk dengan telefonnya. "Jimin... " Aku merintih pelan, bahkan aku menggigit bibir bawahku untuk menahan rasa sakitnya.
"Jimin!!"
"Apa!! Lalu bagaimana keadaan mu? Bagaimana bisa kau kecelakaan?"
Setetes air mata jatuh dari mataku, jimin bahkan mengabaikan teriakan ku dan memilih mengetahui kondisi Yeonji ketibang diriku yang sedang menahan rasa sakit yang teramat luar biasa, jimin seakan tuli dengan panggilanku padanya.
"Apakah nyonya baik-baik saja?" Aku melihat seorang pelayan yang tengah menatapku.
"Wajah nyonya pucat, mari saya antarkan nyonya ke rumah sakit." Aku tidak menjawab ucapan pelayan wanita itu, jujur rasa sakit yang aku rasakan benar-benar luar biasa, ini sebelumnya tak pernah ku alami.
Pelayan itu membopong tubuhku, agar aku bisa berjalan dengan benar. Yang kulakukan hanya bisa menangis, rasa sakitnya melebihi rasa sakit saat aku mengalami keram datang bulan.
"Nyonya, anda ingin pergi ke rumah sakit?" Tanya pelayan itu masih berusaha membawa tubuhku walau dirinya sendiri cukup kesusahan.
"Tidak perlu, bawa aku menuju hotel pesananku." Jawabku, aku sebenarnya tak mau merepotkan pelayan ini, namun kondisi ku yang tak begitu baik dan juga jimin yang tak peduli dengan keadaan ku membuat hatiku semakin remuk.
"Baik nyonya."
***
Aku hanya bisa mengusap air mataku sendiri, mengingat kejadian jimin mengabaikanku. Aku baru saja merasa dihargai sebagai seorang istri oleh jimin, tapi sekarang? Jimin menjatuhkan ku dalam hari yang sama, meremukan perasaan kecil dan harapanku tentang bagaimana bisa mencintai seorang park jimin.
Aku lagi-lagi tak habis pikir dengan diriku sendiri, kenapa aku bisa jatuh cinta pada seseorang yang tak pernah menganggap ku ada dan hanya memanfaatkan diriku.
Sakit pada perutku sudah lebih baik, pelayan itu benar-benar baik hati hingga mau membantuku untuk mengkompres perutku dia bahkan menolak uang pemberian ku ketika dirinya selesai membantuku.
Aku bersyukur tuhan masih mau menbantku melalui pelayan tadi, entah apa yang terjadi jika pelayan itu tidak ada.
Untuk jimin? Lelaki itu bahkan belum kembali, mungkin dia pergi menuju korea untuk melihat keadaan kekasihnya, setidaknya itu lebih baik, biarkan aku menikmati ketenangan disini jika memang jimim benar-benar pergi.
Namun, sepertinya tuhan tidak mengkabulkan doaku karena yang kulihat jimin membuka pintu kamar hotel, wajahnya masam seperti menahan luka.
"Hye, kenapa kau pergi tanpa memberi tahu aku?" Tanyanya.
Aku yang mendengarnya hanya tertawa sarkas, dia bilang aku tidak memberi tahunya? Aku bangkit dari tidurku, mendekat pada jimin dan menatapnya dengan sangat lekat, aku bahkan mengikis jarak diantara kami berdua.
"Memberi tahu mu? Apakah teriakan ku kurang keras hingga kau sendiri tidak mendengarnya?"
"Atau mungkin kau lebih khawatir dengan wanita bernama yeonji itu? Oh bukan wanita, dia adalah kekasih mu." Ucapku dengan wajah santai.
Ku lihat jimin terkejut, dia sempat membuka mulutnya karena ucapanku.
"Dan kau sampai tak mengetahui bahwa aku istrimu kesakitan, kau lebih mementingkan gadis itu."
"Oh iya, aku lupa, pernikahan ini hanya sebuah tuntutan wasiat tidak pernah ada cinta diantara kita berdua." Sarkasku kemudian aku tertawa pelan.
Aku berjalan menjauhi jimin sambil memasukan kedua tanganku pada saku coach yang aku gunakan.
"Jika pelayan itu tidak datang, mungkin aku akan mati disana."
"Jim, sebenarnya aku tidak pernah melarangmu untuk memiliki hubungan dengan siapapun." Aku menatapnya dengan sebuah tatapan sendu.
"Aku selama ini pura-pura buta tentang hubungan mu dengan yeonji, aku bahkan bersikap biasa saja saat gadis bernama yeonji itu mengatakan bahwa aku adalah sekertaris mu. Menyakitkan bukan?"
"Hye, tapi yang kau dengar—"
"Jim, aku tidak pernah berharap untuk kau mencintaiku, aku hanya meminta kau bisa menghargai perasaan ku sebagai seorang istri, hanya itu." Aku kembali mendekat pada jimin, kembali memberikan tatapan padanya.
"Tapi apa? Bahkan ketika waktu ini tiba, waktu dimana kau dan aku bisa bersama-sama kau masih mementingkan yeonji, disaat aku benar-benar kesakitan bahkan kau mengabaikan ku?!"
"Sakit jim, kau tak akan pernah bisa merasakan menjadi diriku." Aku menunjuk dada jimin dengan telunjukku, memberitahu bahwa rasa sakit yang ku alami berada di hati, di hatiku.
"Aku sudah mencoba bersabar, sampai sekarang rasanya aku sudah tidak bisa menahan ini lagi jim, aku merasa kita memang tak seharusnya bersama sejak awal, impianku untuk memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia harus hancur hanya karna surat wasiat itu."
"Maaf"
"Jangan meminta maaf, ini semua bukan salahmu. Kau juga tak pernah menginginkan pernikahan ini bukan?"
"Ayo kita buat kesepakatan, mulai hari ini kau dan aku akan bersikap seperti awal kita bertemu, tak ada perhatian, tak ada kecupan, tak ada sentuhan. Kita hidup bersama tapi hati kita berbeda, kau bisa tetap bersama yeonji mu dan aku akan kembali menjadi diriku."
"Bagaimana?"
Aku mengakhiri ucapan ku dengan sebuah senyuman tipis pada jimin, walau sejujurnya ada ruang kosong dalam hatiku yang menangis begitu aku mengatakan kesepakatan itu.
Ruang kosong tentang aku yang sudah jatuh cinta pada sosok jimin.
Jimin memegang kedua bahuku, wajahnya masih terlihat sedih, entah sedih yang di buat-buat atau memang dia benar sedih? Aku tidak tahu, yang jelas aku masih mempertahankan wajah dinginku.
"Hye, aku tidak bisa. Kita—"
Aku menepis kedua tangan jimin dari bahuku, kemudian menatapnya nyalang.
"Jika memang kau tidak bisa, lebih baik kita berpisah saja. Hal itu lebih bagus bukan?"
***
Konflik pun dimulai, ayoo bentar lagi tamat nih. Udah nebak gimana akhirnya ada yang tahu apakah jimin tetap bertahan dengan hyerin atau memutuskan berpisah dengan hyerin dan pergi bersama Yeonji?