
Aku menghela nafas berat, menatap jimin dengan tatapan benci sekaligus sedih, niat baik ku harus pupus karena ucapan jimin yang cukup menohok ke hatiku.
Walau dirinya memang tidak mengatakan secara gamblang tentang maksud dari ucapannya, hanya saja aku merasa seperti itu.
"Baiklah, jika memang itu membuat eomma dan appa bahagia." Jawabku setelahnya meninggalkan jimin yang masih duduk disofa.
Setidaknya dengan mengambil keputusan ini, aku dapat segera berpisah dengan jimin maupun keluarganya, karena bagiku sekarang aku hanya tempat untuk memberikan kebahagiaan bagi nyonya park dan tuan park hanya itu saja.
***
Jimin sudah berangkat kekantor beberapa menit yang lalu, kini aku tengah bersiap pergi menuju mall untuk belanja bulanan.
Bahan makanan dirumah sudah habis, keperluan yang lain pun sudah mulai habis, jadi aku memutuskan untuk membeli barang-barang itu pagi ini.
Mumpung belum terlalu siang, sayur dan buah-buahan pasti masih segar.
Dengan dandan sederhanaku, aku keluar dari rumah ini, aku memutuskan untuk menggunakan bus, hari ini mood ku sudah hancur gara-gara jimin.
Namun baru saja aku berjalan menuju halte, aku mendengar suara handphone ku berbunyi, sambil berjalan aku mengambil handphoneku yang berada didalam tas yang ku bawa.
Ternyata itu adalah pesan dari jennie.
Aku tersenyum, lalu mengetikan balasan pada ruang chat aku dan jennie.
Aku tetap menggenggam handphoneku, tak lama aku sudah sampai di halte bus, aku duduk disana sambil menunggu bus yang lewat.
Drtt drtt
Ponselku kembali berbunyi, dengan segera aku membukanya.
Tidak berselang lama bus yang ku tunggu datang, aku segera menaiki bus itu mencari tempat duduk, karena bosan dan jadi aku memasangkan earphones di telinga ku, karena jarak menuju ke mall dari rumah ku cukup jauh.
***
Setelah hampir 30 menit berada di dalam bus akhirnya aku sampai di depan mall, sebenarnya aku tidak sadar tadi bahwa aku tertidur untung saja aku tidak bangun pada saat pemberhentian halte yang benar.
Aku berjalan menuju pintu utama mall ini mencari keberadaan jennie karena janji kami akan saling menunggu di depan pintu utama.
Dan benar saja dari sini aku sudah melihat jennie yang sedang menunggu ku, dengan segera aku berlari menuju gadis itu.
"Hallo jennie!" Sapaku pada jennie yang sangat cantik hari ini dengan balutan kemeja berwarna putih juga jeans berwarna navy yang membuat tampilannya semakin mempesona.
"oh my god hyerin." Jennie langsung memeluk tubuh ku pelukannya sangat erat hingga membuat aku kehabisan nafas.
"Jennie-yya aku kehabisan nafas." Ucapku sambil berusaha melepaskan pelukannya gadis ini juga sudah melakukan selalu saja berlebihan.
Jennie akhirnya melepaskan pelukannya setelahnya menatap ku dengan sebuah senyuman tidak bersalah.
"Setelah kau menikah bahkan kau tidak pernah menghubungiku." Rancau jennie pada ku memang setelah pernikahan ku dengan jimin aku sama sekali tidak memberi gadis ini kabar.
"Maaf aku sibuk." Jawab ku sambil membuat tanda v sign pada jennie.
"Sibuk apa? Ayo?" Tanya jennie nakal aku yang melihatnya hanya terkekeh tidak habis pikir dengan gadis ini.
"Kau seharusnya tahu, ayo." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan ku dengan jenniw jangan sampai dia membicarakan pernikahan ku dengan jimin karena hari ini aku ingin bebas dari itu semua.
Jennie hanya menurut ketika aku menarik tangannya untuk mulai masuk ke dalam mall.
"Jadi kau ingin membeli apa?" Tanya ku sambil berjalan bersebelahan dengan jennie, saat di Amerika dulu aku dan jennie sangat senang berbelanja di mall biasanya kami juga membuat daftar belanjaan, kadang kami juga mencari tempat yang mengadakan diskon besar-besaran, walau jennie dan aku berasal dari keluarga berada tapi di negeri orang kami berdua tetaplah rakyat biasa.
Jadi tidak ada yang melarang jika ikut dalam penyerbuan diskon besar-besaran.
"Entah ini sangat mendadak mungkin aku akan mencari barang random." Ujar jennie aku hanya mengangguk paham langkah kami berdua tidak berhenti untuk menelusuri mall sampai menemukan barang yang menarik.
"Aku menginginkan tas itu hye" Jennie menarik tanganku untuk masuk ke sebuah toko yang menjual tas.
Aku yang sebenarnya kurang tertarik dengan hal seperti itu akhirnya memutuskan untuk mengikuti apa yang di inginkan oleh jennie.
Bagiamana pun jennie adalah sahabat baik ku dan jennie juga lah yang membantu diriku untuk menjadi sedikit feminim walau tidak mengubah sifat ku seratus persen.
***
Setelah berbelanja bersama dengan jennie, ralat bukan belanja bersama aku lah yang menemani jennie berbelanja, gadis itu memang sangat suka belanja diriku sampai heran.
Kini giliran ku untuk berbelanja, tentu saja berbelanja kebutuhan pokok untuk makan juga sehari-hari. Menarik tangan jennie untuk mengajaknya ke tempat yang aku mau yaitu super market yang tersedia di mall ini juga.
Aku mengambil sebuah trolli mendorongnya sambil menyusuri super market yang sangat luas ini tidak lupa dengan jennie yang masih mengikuti ku di samping.
Dia terlihat sedikit ke susahan dengan banyak barang bawaan miliknya, tapi ya sudahlah aku juga tidak bisa membantu.
Pertama aku berjalan menuju bagian buah-buahan dan juga sayur-sayuran, jimin bilang dia tidak suka dengan lobak jadi aku memutuskan untuk tidak membelinya padahal aku menyukainya.
"Kau terlihat seperti ibu-ibu hyerin." Jennie yang berada di samping ku berkomentar tentang diriku yang tengah memilih sayur-sayuran.
"Terserah." Jawab ku masalah, ku lihat jennie hanya tertawa pelan melihat betapa tidak pedulinya diriku.
"Oh yah? Aku ingin bertanya, bagaimana rasanya menikah?" Tanya jennie yang masih setia mengikutiku.
Untuk pertanyaan jennie kali ini aku memutuskan untuk mengabaikan lagi karena aku sendiri belum mengerti rasanya menikah secara benar-benar.
"Mba, bisa ambilkan anggur yang masih segar?" Pintaku saat kami sampai pada bagian buah-buahan.
"Hyerin... Aku bosan." Keluh jennie padaku, memang benar memilih keperluan rumah memang sangat membosankan.
Sejujurnya aku juga merasa bosan, hanya saja memang ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri.
Aku melirik jennie, lalu membuang nafas panjang seharusnya aku tidak usah mengajak jennie untuk berbelanja bulanan.
"Ya sudah, kau tunggu saja di restoran yang ada di bawah. Setelah selesai dengan belanja ini aku akan mendatangi mu." Ucapku pada jennie.
Ku lihat jennie hanya menunjukkan raut wajah sedih, aku lupa jennie juga seorang gadis yang sangat manja. "Benar? Kau tidak akan marah bukan?" Tanya jennie pada ku, aku menjawab hanya dengan sebuah anggukan juga senyum.
"Ya sudah, aku menunggu mu di sana yah." Ucap jennie lalu meninggalkan ku sambil membawa hasil belanja miliknya.
"Ini buah nya mba." Wanita itu datang sambil membawa buah anggur yang ku pesan.
***
Aku membuang nafas berat hari ini cukup melelahkan untuk ku. Setelah selesai berbelanja dan menghabiskan waktu bersama dengan jennie, aku memutuskan untuk pulang ke rumah.
Jam sekarang menunjukan pukul 16.24 KST. Aku merebahkan tubuh ku di atas sofa mencoba melepaskan rasa lelah setelah hampir seharian menghabiskan waktu bersama dengan jennie.
Aku menyerah biarkan ahjumma jiena saja yang memasak makan malam.
Baru saja aku memejamkan mataku, aku mendengar suara derapan langkah menuju ke arahku. Aku mencoba untuk tidak peduli karena mungkin saja itu adalah ahjumma jiena.
Baru saja aku hendak beranggapan seperti itu, suara berat seseorang membuatku terperanjat hingga membuat ku bangun dengan posisi duduk.
"Aku pulang." Aku mencari arah suara itu dan yang ku dapati adalah jimin yang tengah tersenyum ke arah ku.
Aku segera beranjak dari sofa, mendekati jimin untuk membantunya membawa barang-barang. Ketahuilah saat ini aku hanya menggunakan celana jeans sepaha juga kaos oblong berwarna hitam.
"Tumben datang awal." Ucap ku sambil mengambil tas yang di jinjing oleh jimin. Jimin mengecup kening ku sekilas.
"Urusan kantor selesai lebih awal." Jelasnya aku hanya ber oh-ria berjalan meninggalkan jimin untuk menaruh tas dan juga jasnya ke dalam kamar.
"Hyerin! Kau habis berbelanja bulanan?" Teriak jimin dari arah dapur, aku yang sedang menaiki tangga menghentikan langkahku untuk menjawab pertanyaan jimin.
"Iya." Teriak ku dengan cukup cepat yang ku yakini jimin mendengarnya. "Dengan siapa?" Teriaknya lagi, aku memutar bola mata jengah kenapa lelaki ini kepo sekali.
"Dengan jennie." Jawabku sambil berjalan menuju kamar mengacuhkan pertanyaan jimin berikutnya.
Aku meletakan tas milik jimin di meja kerjanya, sedangkan jasnya sudah ku simpan di tempat penampungan baju kotor untuk di cuci nanti.
Aku memutuskan untuk membuat air hangat untuk jimin mandi, biasanya jimin suka sekali mandi menggunakan air hangat.
Benar saja, saat aku keluar dari kamar mandi aku melihat jimin tengah membuka kancing lengan kemejanya.
"Aku sudah menyiapkan air hangat, kau akan mandi bukan?" Tanyaku menatap wajah jimin yang terlihat sangat lelah.
"Hm, terimakasih." Jawab jimin, aku tidak menanggapinya lagi hanya berlalu melewati tubuh jimin, membuka lemari untuk menyiapkan pakaiannya.
"Hyerin... " Aku berbalik saat jimin menarik pergelangan tanganku, aku menaikkan sebelah alis ku menatapnya dengan bingung.
"Aku membutuhkan jawaban mu malam ini." Ucap jimin, seketika tenggorokan terasa kering untuk menjawab ucapan jimin.
Aku menatap jimin dengan tatapan kosong merasa bingung dengan jawaban apa yang harus ku berikan pada jimin. Akhirnya aku hanya mengangguk samar ragu apa harus meng-iyakan atau menolaknya.
Jimin tersenyum tipis padaku, berlalu pergi menuju kamar mandi setelah melihat jimin masuk ke kamar mandi. Tubuhku merosot ke bawah bersandar pada daun pintu lemari.
Aku menyerah dari awal di adakannya pernikahan ini karena nyonya park dan tuan park yang sangat menginginkan cucu, dan mau tidak mau aku harus memberikannya.
Sambil menyeka air mata yang tiba-tiba menetes aku berusaha menguatkan diri.
***
Aku menghela nafas panjang meremas seprai tempat tidur ku menatap nanar jimin yang tengah berkutat dengan laptopnya. Aku mencoba menenangkan pikiranku, atau sekedar membuat jantungku kembali berdetak dengan normal.
"Jim..." Lirih ku malah terdengar seperti berbisik, tapi sialnya di kamar ini hanya ada aku dan jimin sehingga suara ku terdengar jelas olehnya.
Jimin berbalik melepaskan pandangannya dari latpop yang berada dalam pangkuannya. "Kenapa hye?" Tanyanya, aku menundukan kepala sebenarnya tidak berani mengucapkan hal ini.
Tapi aku ingat semakin cepat ini ku lakukan semakin cepat ini semua berakhir.
"Aku siap untuk melakukannya." Ucapku sambil mendongak untuk menatap jimin, tanggapan yang ku lihat dari jimin adalah terdiam, seperti sedang mencerna apa yang baru saja aku katakan.
"Kau merasa terpaksa aku tidak?" Tanya jimin membuat lidahku terasa kelu, aku menggigit bibir bawahku memikirkan harus menjawab apa pada jimin. Tidak mungkin aku harus menjawab jujur bahwa aku terpaksa melakukan ini.
"Tidak, aku tidak terpaksa ini memang keinginan ku." Aku menggelengkan kepala membantah seluruh ucapan jimin.
Jimin menunjukan sebuah senyum lebar padaku, aku memilin celana tidur yang aku gunakan mencoba menahan gugup, karena senyuman jimin tadi bagiku adalah sebuah seringaian yang sangat menyeramkan.
Jimin meletakan latpopnya di sofa, setelahnya berjalan mendekat ke arahku. Jantungku mulai berdetak tidak karuan, aku bahkan tidak berani menatap jimin.
Saat berada di hadapanku, jimin langsung mendorong tubuhku hingga jatuh terlentang di atas yang semula aku duduki. Jimin menindih tubuhku hingga membuat posisi aku berada di bawah dan jimin di atasku.
Lagi-lagi aku menelan salivaku enggan menatap kedua mata jimin yang terlihat begitu bergairah. Tanpa aba-aba jimin langsung mendaratkan sebuah ciuman pada bibirku, bermain di atasnya tidak memberikan ku untuk menyeimbangi permainannya.
Aku akui jimin adalah seseorang yang pandai dalam hal ini, sedangkan aku sangat bodoh hingga tidak sanggup membalas ciuman brutal itu. Memukul dada jimin menandakan bahwa nafas ku sudah habis, jimin menghentikan permainannya dengan bibirku dan kini beralih pada leher ku yang terekspos karena baju tidur yang gunakan.
Aku mencoba menahan apapun pada mulutku agar tidak mengeluarkan suara, hingga lama kelamaan aku terburai dengan permainan yang di berikan oleh jimin.
Merasakan yang namanya surga dunia dengan seorang park jimin yang sepertinya sudah sangat ahli, hingga akhirnya aku ikut andil dalam permainannya.
Malam ini akhirnya diriku resmi menjadi milik jimin seutuhnya yang ku yakin tidak akan bertahan selamanya.
***
Haduh pada kecewa yah? nc nya cuma ciuman doang? sengaja gak di perjelas soalnya masih banyak anak kecil disini, gak enak juga. Oh yah kalian kok pada nyider sih, sider itu slient reader's. jadi pembaca yang gak komen gak vote cuma baca doang, itu jujur buat sakit hati penulis lho, sampai bab 18 ini belum banyak yang komen, apa ceritanya kurang menarik yah? kalau gitu aku hapus aja deh kalau emang gak menarik. tapi aku gak mau kecewa in yang udah komen sama vote cerita ini:) andaikan ada mode private pasti lebih mudah ngurangi siders:v hmm.