Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
finally



Aku menghela nafas berat, mengusap wajahku sendiri dengan kasar kemudian mengambil secangkir kopi yang berada diatas meja, meminumnya, hingga merasakan hangat pada lambungku.


Netraku menangkap sebuah objek yang sedari tadi terus menjadi fokusku, sebuah kertas berwarna putih dengan sketsa pensil abstrak yang belum terlihat jelas bentuknya. Ya, aku sekarang tengah membuat sketsa baju, aku menyibukkan diri dengan cara ini dan berakhir seperti sekarang, aku yang harus menyelesaikan satu fashion style untuk acara new york Fashion Week bulan depan.


Sudah hampir satu minggu setelah kejadian bulan madu itu, besoknya aku memutuskan untuk kembali ke korea dengan alasan pekerjaanku yang mendadak. Jimin juga tidak menolaknya, dia setuju, tentu saja dia pasti sangat khawatir dengan kondisi kekasihnya.


Nyonya park sempat protes padaku, dia mengatakan aku lebih mementingkan pekerjaan ketibang bulan madu ini. Tapi aku hanya menjawab ucapannya dengan sebuah senyuman tipis, malas untuk menjelaskan bahwa jiminlah yang bersalah, jadi aku memilih diam dan menulikan telinga.


Aku dan jimin? Seperti apa yang aku katakan saat di Maldives, aku mulai mengabaikannya, tak pernah menganggap dirinya ada, aku bahkan bersikap dingin pada jimin. Tapi, aku masih sering melakukan pekerjaan ku sebagai seorang istri, di muali dari menyiapkan air untuk jimin mandi, membuatkan sarapan dan menyiapkan baju, walau aku melakukannya hanya karena dia suamiku.


Terkadang aku pun berusaha menghindar dari jimin, disaat lelaki itu ingin mengatakan sesuatu tentang hubungan kami. Maka aku akan mengelak, mencari alasan atau berpura-pura pergi, untuk menghindari pembahasan ini. Alasannya? Karena tak ada yang perlu dibicarakan, aku nyaman dengan hubungan seperti ini, lebih tepatnya ini sebuah keharusan.


Disaat aku tengah melamun, aku terkejut karena mendengar suara pintu kamar yang dibuka, melirik asal suara itu aku menemukan jimin yang sudah berdiri diambang pintu sambil menatapku. Aku mengalihakn pandanganku dari jimin dan kembali fokus pada pekerjaan ku saat ini.


"Kau masih sibuk dengan sketsa mu itu?" Tanya jimin yang tengah sedang melakukan apa sekarang.


"Hm" Jawabku asal, seakan tak peduli dengan pertanyaannya.


Setelahnya hening, aku tidak tahu apa yang sedang jimin lakukan karena diriku sendiri tengah sibuk dengan pekerjaanku.


"Oh iya jim." Ucapku sambil meletakan pensil yang sebelumnya aku gunakan untuk menggambar.


Aku memutar kursi kerja berwarna biru tua yang aku duduki sekarang, untuk melihat jimin dan ternyata lelaki itu tengah duduk disofa sambil menatapku dengan sangat lekat.


"Aku sudah memasak air panas untukmu, makan malam juga sudah ku siapkan." Jelasku padanya, suara ku terdengar biasa saja, lebih tepatnya mencoba biasa saja.


Perlu kalian ketahui, aku tak lagi memanggilnya dengan sebutan Oppa Seperti biasanya, menurutku itu terlalu berlebihan.


Setelahnya aku kembali memutar meja kerjaku untuk meneruskan pekerjaanku tentunya.


Tak ku dengar jawaban, ataupun suara jimin lagi, kamarku terasa begitu hening. Aku yakin jimin masih berada pada posisi sebelumnya, karena sedari tadi tak terdengar pergerakan dari jimin.


"Hye." Aku menghentikan kegiatan menggambarku ketika mendengar panggilan lirih dari jimin, suaranya terdengar lebih lembut dan berat.


"Hm." Jawabku berpura-pura tak berminat dengan panggilannya padaku.


"Sampai kapan kita akan terus seperti ini?" Tanyanya dengan suara parau.


Aku yang mendengarnya hanya tertawa sarkastik, sedikit jijik dan benci dengan ucapan jimin. Aku memilih untuk tak menjawabnya, pura-pura seakan pertanyaannya tadi merupakan angin lalu yang tak terdengar ucapannya.


"Hye, aku tahu kau merasa sakit hati, tapi tidak adakah kesempatan untuk aku memperbaiki hubungan ini?" Ucapnya lagi, mendengar hal itu aku langsung melepaskan pensil yang ku genggam, sedikit melemparkannya hingga terdengar dentuman cukup kerasa karena lemparan ku.


Aku berdiri dari kusri, langsung memberikan tatapan tajam pada jimin, melipat kedua tanganku dan menaruhnya di dada, aku menaikan sebelah alisku, menatapnya remeh.


"Jim, seharusnya kau senang, aku memberi kebebasan padamu untuk bersama dengan gadis itu." Ujarku sambil terus menatapnya.


Yang ku lihat jimin hanya menghembuskan nafas kasar, sedikit gusar karena setelahnya dia langsung mengusap rambutnya dengan gerakan acak.


"Ya, seharusnya memang begitu, tapi, disaat kau mengabaikanku, menggapku tidak ada dan dikala kau tak lagi memanggil ku dengan sebutan 'Oppa' ada yang hilang dari ku hye. Aku merasa sesuatu terasa berbeda, sebelumnya aku berpikir mungkin ini karena aku sudah terbiasa dengan sikap mu padaku, namun lama-kelamaan, aku mulai tak nyaman dengan perasaan ini, perasaan ketika kau berpura-pura bahwa aku tidak ada. Dan saat itu pula aku meyadari sesuatu hal, aku mencintaimu park hyerin." Jelasnya dengan wajah yang sangat meyakinkan.


Aku sendiri tak berniat menjawab apapun yang ia katakan, karena ku yakin ini semua belum selesai, pasti akan ada lagi yang ingin jimin katakan.


"Tolong beri aku sebuah kesempatan, bantu aku untuk melupakan yeonji, bantu aku hyerin." Tambahnya lagi, yakin malah menjatuhkan lututnya diatas lantai, memeluk kedua kakiku memohon.


Aku sempat terkejut dengan tindakan jimin dan dengan segera mengangkat tubuhnya agar tak lagi berlutut dihadapanku, dia gila.


"Apa yang kau lakukan?!" Tegasku dengan nada sedikit marah.


"Aku tidak tahu, aku hanya tidak tahu bagaimana caraku meminta maaf padamu hye, aku menyesal." Ucapnya gusar kemudian menitikan air mata, walau tak banyak namun setidaknya itu benar-benar mewakili perasaannya saat ini.


"Kau mau bukan memberikan aku sebuah kesempatan kedua?" Tanyanya dengan mata yang sendu.


Aku diam, bungkam tak dapat menjawab pertanyaan jimin tentang kesempatan kedua, semua orang berhak mendapatkan kesempatan itu, tapi apakah aku harus memberikannya pada jimin? Apakah dia pantas menerimanya? Dan apakah aku bisa memaafkan segala kesalahn jimin.


Aku hanya bisa menundukan kepala, tak berani untuk sekedar menatap jimin, lebih tepatnya aku bimbang sekaligus bingung. Banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan untuk mengambil keputusan saat ini, untuk kemungkinan terburuknya dan konsekuensi yang akan ku terima nantinya.


Jika aku memaafkan jimin, apakah dia akan benar-benar berubah, atau dia akan membuatku merasakan sakit ini untuk yang kedua kalinya?


"Hye... " Panggilnya lagi lirih.


Aku mendongak, mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan ku sendiri. Cukup ikuti kata hati, dan percaya apa yang aku ambil saat ini merupakan keputusan terbaik.


"Jim. Ayo kita memulai semuanya dari awal."


***


"Ahhh kepalaku pusing." Rancauku tak jelas sambil menggeser laptop yang berada di hadapanku, menenggelamkan kepalaku pada ruang yang terbentuk karena lipatan kedua tanganku diatas meja.


"Jika kau sakit, kenapa masih bekerja, kau bisa pulang." Jawab seseorang dengan wajah seriusnya yang kini tengah membaca sebuah majalah.


"Kau pikir aku bos yang tidak tahu aturan? Walau aku sakit, aku tidak bisa meninggalkan kewajibanku." Jawabku dengan tatapan tak suka pada lelaki itu.


Siapa lagi kalau bukan cha eun woo, lelaki itu terlihat santai sekali membaca majalah padahal hari ini dia punya banyak tugas yang belum di selesaikan.


"Ya terserah." Jawab eunwoo.


Aku hanya bisa menghela nafas malas, kemudian memutar kursi kerja yang aku duduki agar bisa menghadap jendela besar yang berada di belakangku. Kota seoul sangat ramai di siang hari terutama oleh pejalan kaki, jalanan akan sangat ramai.


"Eunwoo, aku ingin pulang." Finalku pada akhirnya sambil mengambil tas jinjing yang ku simpan diatas meja kerja.


Aku sudah tidak tahan, kepalaku terasa sangat pening, perutku juga terasa sangat sakit walau tidak terlalu parah. Beberapa minggu kemarin aku sering merasakan hal ini, dan aku tidak pernah memeriksanya, karena ku pikir mungkin ini hanya asam lambung.


"Hye kau baik-baik saja?" Tanya eunwoo kemudian setelah meletakan majalah yang sebelumnya ia baca.


"Aku baik-baik saja." Jawabku, kemudian berjalan meninggalkan ruang kerja.


***


Aku membuka mataku cepat, kepalaku masih terasa pusing walau tak terlalu dan tak sesakit sebelumnya. Aku sudah tak asing lagi dengan tempat ini, mulai dari bau dan suara alat-alat mesin.


Aku di rumah sakit, tentu saja, sepertinya aku pingsan tadi hingga eunwoo membawaku kemari.


"Hye, syukurlah." Aku melihat eunwoo yang tergopoh-gopoh datang menuju bangkar ku, yang ku lihat wajahnya sangatlah khawatir.


"Aku baik-baik saja." Jawabku dengan cepat.


Lelaki dengan wajah tampan itu mengusap wajahnya kasar, tubuhnya sudah ia dudukan disebuah kursi disamping bangkarku. "Kau ini ceroboh hye!" Bentak lelaki itu dengan nada yang cukup tinggi.


Aku bingung, ceroboh? Apa yang telah aku lakukan hingga eunwoo marah?


"Kau sama sekali tidak tahu? Kau sekarang hamil hye hamil!"


Mataku melotot, apa yang baru saja eunwoo katakan? Aku hamil? Tapi-apakah?


"Tidak mungkin, aku tidak merasakan apa-apa." Jawabku dengan jujur, sebenarnya ya, aku memang tidak merasakan gejala-gejala seperti ibu hamil pada umumnya, kecuali saat aku muntah ketika di Maldives dan ku pikir itu hanya efek jet lag.


"Usianya sudah 4 minggu. Saat kau pergi ke Maldives kau sudah hamil." Jelas eunwoo lagi.


Berarti, mual itu adalah tanda aku hamil? Aku bergerak gelisah sendiri, aku sejujurnya takut karena selama 1 bulan ini tidak menjaga diri dengan baik. Apalagi ketika pulang dari Maldives, aku lebih abai dengan kesehatank, lebih memilih untuk sering begadang dan meminum kopi untuk menghilangkan rasa bosan.


"Kata dokter kau kelelahan, bayi didalam kandunganmu tidak stabil apalagi kehamilanmu masih tergolong muda, kau tidak merawat dirimu dengan baik." Ujarnya dengan nada yang sedikit lembut.


Aku lagi-lagi menghela nafas pasrah, merasa gagal untuk menjaga diri sendiri, hingga hampir menghilangkan nyawa seseorang yang tak bersalah. Seandanya aku tak terlalu memikirkan masalah jimin.


"Apakah dia baik-baik saja?" Tanyaku menatap eunwoo dengan penuh harap, tentu saja eunwoo tahu yang ku maksud dia adalah siapa.


"Ya, dia baik-baik saja, kau memiliki anak yang kuat." Jawab eunwoo sambil memberikan sebuah senyum padaku, aku lega setidaknya anakku masih baik-baik saja didalam sana.


Tanpa sadar aku tersenyum sendiri sembari menatap perutku, kemudian mengelusnya. Aku tak menyangka bahwa bayi ini akan hadir begitu cepat dari perkiraanku.


"Apakah kau memberi tahu jimin?" Tanyaku sejurus setelah aku sadar sosok jimin tak ada disini.


"Tidak, aku tak ingin jimin mengetahui masalah ini, apalagi jika lelaki itu masih berhubungan dengan kekasihnya." Terang eunwoo dengan nada ketus.


Aku sudah menceritakan masalah ini pada eunwoo, aku memberi tahu segalanya setelah kembali dari Maldives, aku merasa tak tahan jika harus memikul beban ini sendirian. Eunwoo juga belum tahu bahwa aku dan jimin sudah berbaikan, itulah sebabnya sekarang eunwoo masih merasa kesal dengan jimin.


"Kapan aku bisa kembali?" Tanyaku setelahnya.


"Kau bisa kembali sekarang."


***


Aku berterimakasih pada eunwoo yang sudah mengantarkan aku kembali kerumah, sempat ku ajak dia untuk mampir namun dia menolaknya. Aku memasuki pekarangan rumah ku yang sangat luas dengan senandung bahagia yang aku nyanyikan, aku senang sekali karena akhirnya bisa hamil dan akan segera menjadi ibu, dan jimin juga pasti akan senang dengan hal ini.


Aku sudah berniat untuk memberikannya sebuah kejutan, aku akan memberikan amplop berisi keterangan kehamilanku pada jimin. Ah, membayangkan wajah jimin saja sudah membuat aku merasa bahagia.


Aku menarik pintu utama rumahku, berjalan dengan tergesa-gesa untuk mencari keberadaan jimin. Ini sudah sore, sekiranya jimin pasti sudah datang di rumah.


Aku berjalan menuju ruang tamu. "Jim-" Langkahku terhenti, begitu melihat 2 sosok tengah melakukan suatu kegiatan intim di atas sofa ruang tamuku, sosok itu begitu familiar hingga akhirnya aku sadar akan sesuatu hal.


"Jim-" Aku menganga tak percaya, seseorang yang tengah bermain diatas itu mendongakan wajahnya menatapku.


Air mataku jatuh tak dapat lagi ku bendung, sambil menutup mulutku sendiri tak percaya.


"Hye ini tak se-"


Sebelum jimin menjelaskan panjang lebar tentang kegiatan yang dia lakukan bersama seroang gadis di rumahku, aku memutuskan untuk pergi, berlari dengan sangat cepat, mencengkram sebuah amplop yang sedari tadi aku genggam hingga menjatuhkannya. Pergi menjauh sebelum hatiku benar-benar merasa sakit yang teramat luar biasa untuk kedua kalinya, didepan mataku sendiri, orang yang kusayang tengah bercinta dengan orang lain.


Langkahku tak berhenti, setelah keluar dari rumahku aku memutuskan untuk terus berlari menjauh dari rumahku walau tahu jimin tak akan pernah mengejarku. Tentu saja, dia pasti akan memilih untuk meneruskan kegiatannya bersama dengan wanita itu.


Jimin berbohong, dia mengatakan akan melupakan yeonji tapi sekarang? Jimin malah asyik bermain bersama wanita lain, bermesaraan bahkan melakukannya dirumah ku, miliku. Air mataku kembali lolos, walau sesekali aku berusaha menghapusnya, tapi nyatanya ini sungguh menyakitkan, segala harapan dan keinginanku untuk memulai segalanya bersama dengan jimin harus pupus karena hal ini.


Dan aku benar-benar kehilangan kepercayaan ku pada jimin.


Karena terlalu syok dengan apa yang ku lihat, aku tak sadar bahwa kini sudah berada jauh dari rumahku. Netraku menatap jalan raya yang begitu ramai di sore hari, walah air mataku terkadang masih terjatuh, aku seakan tak peduli dan memilih untuk berdiri disini di trotoar.


Aku mengedarkan pandanganku sendiri, lebih tepatnya kebingungan dengan apa yang harus aku lakukan, aku tak mungkin kembali lagi kesana. Sedangkan aku sendiri berada dalam keadaan yang tidak bagus.


Aku terkejut ketika melihat mobil milik eunwoo berada di depan sebuah mini market disebrang jalan, dengan cepat aku menyebrangi jalanan, hingga menemukan sosok eunwoo yang baru saja keluar dari dalam supermarket.


Dengan sisa tenagaku aku memeluk eunwoo dengan sangat kuat, eunwoo bahkan sedikit tersentak dengan pelukan ku padanya. Aku menenggelamkan wajahku pada dada eunwoo, kembali menangis disana, setelah sebelumnya berhasil menahan air mata selama beberapa menit.


"Hye ada apa? Ayo masuk." Eunwoo melepaskan pelukan ku dengan paksa, kemudian menarik tanganku untuk masuk kedalam mobil miliknya yang terparkir di halaman supermarket.


Aku mengusap air mataku sendiri, sambil menatap nanar eunwoo yang tengah meletakan barang belanjaan miliknya.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya kemudian menarik kedua tanganku untuk ia genggam.


"Jimin-dia-dia." Ujarku terbata-bata, terus menahan isakan dari dalam mulutku.


"Dia berselingkuh dirumahku." Ucapku padanya diakhiri dengan suara tangisan yang begitu kencang, kembali merasakan sakit begitu melihat kemesraan jimin didalam rumahku.


Eunwoo langsung membawaku dalam dekapannya, mengusap-usap punggung ku dengan sangat pelan.


"Kalau kau memang terluka karena jimin, ayo kita pergi sejauh-jauhnya."


***