Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
time



"Berhenti menangis, jangan sia-siakan air matamu hanya untuk lelaki brengsek seperti jimin rin." Aku hanya menganggapi ucapan eunwoo dengan tatapan sendu, tak berniat untuk menanggapinya karena merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja aku alami.


"Ingin rasanya aku memberi dia pelajaran!" Kini sehun yang berucap dengan nada yang menggebu-gebu serta suara yang sangat tinggi.


"Jangan hun." Jawab ku dengan sangat cepat, aku tak ingin sampai sehun menyentuh jimin ataupun melukainya, aku tahu sehun adalah seseorang yang sangat nekat, dia bisa saja melakukan kekerasan pada jimin karena hal itu bukanlah sesuatu yang tabu untuk oh sehun.


"Jaerin, sadarkan lah dirimu, jimin itu lelaki brengsek dia berhak mendapatkan balasan." Bela sehun dengan wajah sangarnya yang begitu menyeramkan terutama saat marah.


Aku tak berniat membalas pembelaan sehun pada dirinya dan juga asumsi nya mengenai jimin, tak ada yang salah dengan pada yang dikatakan oleh sehun, hanya saja aku berpikir menghukum jimin bukanlah jalan terbaik dalam menyelesaikan masalah ini.


Walau sekarang aku tengah berusaha pergi sejauh mungkin dari sosok jimin yang hampir setengah tahun menemani diriku.


"Jaerin, seperti apa yang ku katakan tadi, kau ingin pergi dari jimin?" Tanya eunwoo padaku.


Aku menatap sosok lelaki yang sudah ku anggap seperti kakak ku sendiri itu, walau terlihat sangat tenang aku tahu eunwoo sangat marah, tetapi eunwoo berpikiran dewasa dengan berpikir menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkan dirinya." Jawabku lirih.


"Oh ayola-"


"Tidak sehun, jika aku pergi meninggalkan jimin, semua ini tidak akan selesai. Aku akan menerima apapun resikonya, termasuk berpisah dari jimin jika dia memang tidak menginginkan diriku, aku ingin semua ini segera berakhir tanpa sebuah permasalahan ataupun dendam yang berkepanjangan, aku datang baik-baik dan aku juga akan pergi secara baik-baik." Ucap ku tegas, menyuarakan keinginan ku untuk menyelesaikan ini secara baik-baik.


"Hyerin benar, dia harus menyelesaikan masalah ini secara langsung, bukan dengan pergi meninggalkan semuanya." Tambah eunwoo yang ternyata menyetujui keyakinanku.


"Baiklah, jika memang kau menginginkan itu hye, aku akan selalu mendukungmu." Tukas sehun lalu tersenyum padaku.


"Tapi malam ini biarkan aku tidur disini, jangan sampai jimin tahu aku ada disini." Pintaku pada mereka berdua.


Sehun dan eunwoo mengangguk serentak, setelahnya aku meninggalkan mereka berdua untuk beristirahat dikamarku, ya aku sudah sering menginap dimansion sehun yang sangat besar. Sehingga sehun memutuskan untuk menyiapkan kamar khusus untuk ku, sewaktu SMA aku selalu kabur kerumah sehun jika kedua orang tua ku membahas tentang perjodohan gila itu, jadilah aku sudah terbiasa dengan suasana mansion besar milik sehun yang memang sangat besar.


Aku merebahkan tubuhku diatas kasur king size berwarna cream, aku masih menggunakan pakaian kerjaku, bahkan tak berniat mengganti baju, aku merasa sangat lelah, atas hari ini, atas segalanya yang terjadi. Rasa sakitku yang teramat dalam, hingga luka lama yang berusaha aku pendam, teringat perpisahan ku dengan guanlin dahulu, perpisahan yang sengaja dilakukan oleh guanlin karena ancaman kedua orangtua ku, hingga sampai beberapa tahun aku menyalahkan guanlin atas segalanya.


Sebegitu egoisnya kedua orang tuaku, hingga aku harus merelakan cintaku pada guanlin, lalu menikah dengan lelaki seperti jimin yang nyatanya tak lebih baik dari guanlin, lelaki brengsek yang senang memainkan perasaan, berkata manis dengan senyumannya yang ternyata menyimpan banyak kebohongan, termasuk tentang perasaannya yang tak pernah tulus padaku. Semua itu jimin lakukan hanya karena kedua orang tua nya, hanya karena dia menyayangi nyonya dan tuan park, sama seperti aku menyayangi eomma dan appa.


Hingga rela mengorbankan apapun, termasuk perasaanku sendiri.


Walau sebenarnya aku berusaha kuat, namun rasanya sangat menyakitkan mengingat segalanya telah aku berikan pada jimin, dan kini aku tengah mengandung anaknya. Anak tak berdosa yang akan mendapatkan dampak dari semua ini. Sesekali aku kembali mengusap perut rataku, sembari meratapi nasib ku yang tak ternyata tak seindah apa yang aku impikan.


Mungkin, pernikahan ku dan jimin tidak bisa lagi di selamatkan.


***


Pagi ini aku sudah rapih dengan setelan pakaian kerja yang biasa aku gunakan ke kantor, bukan hanya tempat tidur ataupun ruangannya, di sini bahkan aku menyimpan beberapa baju miliku jika suatu saat nanti terjadi kejadian darurat seperti ini dan yah nyatanya ini memang berguna.


Mansion sehun selalu ramai oleh pembantu yang sangat banyak, padahal tuan rumah mereka hanya sehun seorang. Aku pernah berkata kenapa sehun memiliki banyak pembantu, dia menjawab hanya supaya rumahnya ramai. Jawaban aneh memang, tapi itulah sehun, tinggal sebatang kara di korea memang memaksanya untuk melakukan hal ini.


Terkadang sehun juga senang jika aku menginap disini, dia merasa memiliki teman yang dapat ia ajak bercanda, dan berbicara dikala jenuh.


Aku keluar dari kamarku setelah merapihkan diri, sudah cantik dengan rambut pendek yang ku biarkan terurai. Sesampainya di ruang makan aku tak menemukan siapa-siapa, hanya ada beberapa pembantu, chef dan pegawai lainnya tanpa adanya sosok sehun, biasanya lelaki itu akan menunggu di ruang makan, tapi meja makan terlihat kosong.


"Pak, apakah anda melihat sehun?" Tanyaku pada seorang pegawai yang tengah membersihkan ruang makan.


"Tuan sehun pergi pagi-pagi sekali nona, dia tak mengatakan apa-apa pada saya, mungkin nona bisa menanyakannya langsung pada seongmin sajangnim." Jawab pegawai itu dengan senyuman ramah.


Aku mengucapkan terimakasih pada pegawai itu, lalu kembali berjalan mencari seongmin sajangnim untuk menanyakan keberadaan sehun. Sampai diruang tamu aku melihat seongmin sajangnim sedang mengawasi para pegawai yang tengah mengganti sofa diruang tamu.


"Seongmin sajangnim." Sapaku begitu sampai dihadapannya.


"Eh, nona hyerin." Jawabnya dengan sebuah senyuman ramah khas seongmin sajangnim.


"Apakah seongmin sajangnim tahu kemana sehun pergi?" Tanyaku to the point, sebenarnya aku terburu-buru sekarang dan tak ingin berlama-lama disini.


"Oh iya saya lupa. Tuan sehun berangkat pagi-pagi sekali, dia bilang ada urusan yang mendadak, tuan sehun mengatakan pada saya untuk memberi tahu nona hyerin, bahwa dia pergi, dan tuan sehun memerintahkan saya untuk melihat nona hyerin sarapan." Jelaa seongmin sajangnim.


Aku hanya mengangguk-anggukan kepala paham, lebih tepatnya sudah tahu bahwa sehun akan berkata hal itu. Ku pikir akan ada yang berbeda, tapi untuk pertama kalinya setelah hampir 8 tahun sehun masih tetap sama. Masih terus memperhatikan pola makanku, dan hal itu terjadi terakhir sekitar 8 tahun yang lalu, setelahnya aku tak pernah lagi menginap dirumah sehun karena pindah keluar negeri juga pekerjaan ku yang sangat padat.


"Terimakasih seongmin sajangnim, saya harus segera pergi." Pamitku pada seongmin sajangnim.


"Tapi nona, tuan sehun meminta saya untuk memaksa nona sarapan." Ucap seongmin sajangnim lagi, namun sekarang sedikit panik karena aku berniat untuk pergi.


"Bungkus saja, saya akan memakannya saat didalam mobil." Finalku berlalu meninggalkan ruang tamu menuju halaman mansion sehun.


Semalam sehun tak mengatakan apapun tentang jimin, aku juga tak mendengar tanda-tanda adanya keributan. Atau memang jimin sengaja tidak mencariku? Apakah dia merasa senang karena akhirnya aku pergi dari rumah.


Aku menepis pikiran itu secepatnya, walau memang 85% pemikiran ku benar adanya, jimin tak mungkin mencari diriku dan dia pasti bahagia karena aku tak lagi ada dirumah.


Setelah sampai dihalaman mansion sehun, aku melihat sebuah mobil Limousin Lincoln sudah terparkir rapih dengan mesin yang menyala, aku yakin sehun pasti menyiapkan mobil ini untuku, terbukti dengan beberapa bodyguard yang sudah berjaga rapih didepan mobil.


Aku mendekat kearah mobil itu, berniat memasukinya, namun langkahku terhalang ketika seorang bodyguard menghentikan ku.


"Selamat pagi nona, tuan sehun meminta anda untuk sarapan dan meminum susu hamil terlebih dahulu." Ucap si bodyguard yang entah namanya siapa.


Aku menghela nafas panjang, padahal aku tengah terburu-buru namun kenapa sehun begitu profektif hingga meminta semua pegawainya untuk menanyakan apakah aku sudah sarapan atau belum.


"Saya akan sarapan didalam mobil, sarapan sudah saya bungkus jadi jangan khawatir." Jawab ku kemudian memasuki mobil itu, merepotkan.


Setelah beberapa menit masuk kedalam mobil, bodyguard itu datang bersama sebuah kotak bekal juga botol minum yang ku yakini berisi makanan juga susu hamilku, aku menerimanya, lalu memakan sarapan ku, karena aku tak ingin kesehatan ku terganggu.


***


Aku membuka pintu mobil berukuran besar itu, sesekali membenarkan rambut ku yang sedikit berantakan, keluar dari dalam mobil dengan tatapan dingin yang berusaha aku tampilkan agar terlihat kuat dengan senyuman tipis tergurat walau tahu tengah menyembunyikan banyak luka.


Berjalan pelan memasuki pekarangan rumahku yang selalu sepi, hanya gemercik air dan suara angin yang menemani langkahku memasuki rumah, tak ada hal yang istimewa sampai aku membuka pintu rumahku.


Hal pertama yang aku dapatkan hanya kesunyian, kegelapan, karena lampu terlihat padam. Aku berjalan semakin masuk kedalam rumahku, dan menemukan seseorang tengah duduk disofa ruang tamu, sofa itu, sofa dimana aku melihat secara langsung perbuatan hina yang dilakukan oleh suami ku. Aku tak lagi asing dengan seseorang itu, yang jelas dia adalah sumber dari segala permasalahan ku juga rasa sakit ku.


Ku sengajakan membuat hentakan disetiap langkahku agar dirinya mendengar kedatanganku dan benar saja lelaki itu, jimin langsung menolehkan kepalanya kepadaku. Aku mentapanya santai seolah tidak terjadi apa-apa diantara kami berdua.


"Hyerin."


Aku cukup terkejut karena jimin langsung berlari dengan sangat cepat memeluk tubuhku dengan sangat erat, aku yang merasa tak nyaman hanya bisa menggeliat berusaha melepaskan pelukannya jimin yang begitu kencang.


"Jim lepaskan!" Bentaku begitu jimin semakin mengeratkan pelukannya padaku, aku hanya khawatir pada bayi ku, takut terjadi apa-apa apalagi dengan pelukan jimin ini.


"Jim, dengar tidak!?" Bentaku lagi dengan nada naik satu oktaf.


Begitu mendengar bentakan ku jimin langsung melepaskan pelukannya padaku dan memberikan ku sebuah tatapan semu yang tak dapat ku artikan maksudnya, wajahnya lusuh dengan rambut berantakan yang tak terurus, matanya terlihat begitu sayu seperti tak tidur semalaman.


Aku sempat merasa iba melihat keadaan jimin, namun aku tak dapat terus merasa kasihan dikala diriku butuh sebuah pengakuan dan juga keadilan, aku tak mau di anggap lemah.


"Hye, maafkan aku kemarin tak seperti apa yang kau lihat." Ucapnya dengan wajah memelas.


Aku menajamkan alisku seakan meminta penjelasan atas apa yang di katakan. "Maksud mu, mataku buta? Atau mataku tak dapat melihat jelas, mm rabun?" Tanyaku mengintimidasi.


Jimin terdiam tak mengeluarkan sepatah kata apapun, padahal dirinya hendak memberikan sebuah pembelaan.


"Bahkan seorang nenek-nenek tua pun tahu apa yang kau lakukan kemarin." Tambahku dengan nada dingin.


"Bukan hye, kemarin itu tak seperti apa yang kau lihat. Dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu." Ujarnya.


Aku sempat memutar bola mata malas, karena ku yakin lelaki dengan bibir tebal ini pasti akan selalu melakukan pembelaan seperti apa yang ia katakan pada saat pertengkaran kami waktu itu.


"Ya jelaskan, aku tidak akan tertipu dengan ucapan manismu untuk yang kedua kalinya." Ucapku memberikan sindiran.


Entah keberanian dari mana hingga aku bisa menantang jimin seperti ini, biasanya aku akan selalu diam ataupun menurut dengan apa yang ia katakan, layaknya seorang istri pada suami seperti itu.


"kemarin aku bertemu dengan gadis itu-"


"Tidak usah berbasa-basi, katakan saja poinnya." Potong begitu mendengar jimin membuka penjelasannya dengan hal yang tak penting.


"Gadis itu adalah yeonji dan aku sengaja membawanya kemari untuk membuktikan padamu bahwa hubungan ku dan dirinya sudah selesai, namun saat aku sampai dirumah dan tak ada siapa-siapa, yeonji sengaja memasukan obat perangsang berdosis tinggi pada minuman ku. Dia berdalih melakukan semua ini karena tak bisa berpisah denganku, sementara diriku, aku sudah sangat yakin untuk mempertahankan mu hyerin." Ucapnya dengan nada yang terdengar lirih namun seperti menegaskan apa yang terjadi sebenarnya.


"Aku tidak bisa menahan hal itu, apalagi ketika yeonji sengaja menggoda diriku, aku berada dalam pengaruh obat, dan beruntungnya dirimu datang. Aku belum melakukan apapun dengan yeonji, hye." Tambahnya lagi, aku hanya bisa mencerna apa yang dikatakan oleh jimin, ya, aku hanya melihat jimin sedang berciuman dengan posisi yeonji berada didalam kukungan jimin.


"Aku sungguh-sungguh mencintai mu hyerin, apa kau tak bisa melihat ketulusan ku." Aku terkejut karena jimin langsung memeluk tubuhku dengan sangat erat.


Tubuhnya bergetar hebat, seakan menahan sesuatu. "Maafkan aku hye, aku tak mau kehilangan mu untuk kedua kalinya. Aku mencintamu."


Aku hanya bisa diam, lagi dan lagi, aku merasa lemah ketika jimin mengatakan apa yang sejujurnya, sebelumnya aku berpikir bisa meninggalkan jimin dengan masalah ini, tapi pada akhirnya aku tak bisa menyalahkan jimin atas hal yang tak pernah dia inginkan, hal yang seharusnya berakhir baik tapi berujung konflik hanya gara-gara aku terlalu takut, terlalu takut untuk sakit, takut kembali terluka.


Bisahkan aku menukar perasaan ku sendiri, aku terlalu munafik untuk mengakui ini semua, bahwa aku memang tak pernah ingin kehilangan jimin, tak pernah menginginkan jimin bahagia bersama orang lain, karena aku


Mencintai jimin, sangat mencintainya.


"Beri aku waktu."


***