
***
"Eunghhhh" Lenguhan pelan keluar begitu saja dari mulutku, aku berusaha membuka mataku pelan aku di mana? Suatu pertanyaan yang ingin aku ucapan kan tapi tenggorokan ku tiba tiba terasa kering.
Aku menerawang seluruh ruangan ini, bau obat yang khas dan juga suara dari alat alat ini sudah ku ketahui, aku sedang berada di rumah sakit. Ku lihat alat pernapasan menempel di hidungku, juga alat infus yang sudah menusuk di punggung tanganku
Aku kenapa?
Jujur aku masih bingung dengan keadaan ku saat ini, aku berusaha mengingat apa yang terjadi dengan ku, sampai pada akhirnya aku berhasil mengetahui bahwa diriku pingsan saat mengetahui aku di jodohkan dengan jimin .
Lalu siapa yang membawa ku kemari? Apakah ahjumma untuk jiena? Ya pasti ahjumma yang membawa ku kesini. Ku pikir aku sudah mati dan menyusul eomma dan appa ku.
Lalu aku mengedarkan pandangan ku, melihat setiap sudut kamar inap ini, cukup luas bahkan aku melihat kamar mandi dan kamar tidur juga beberapa sofa yang tersedia di kamar ku.
Apakah ahjumma memesan kamar vvip?
Tanyaku bingung, Siapalah lah yang akan mengurus ku saat sakit seperti ini kecuali ahjumma jiena, aku memang sangat beruntung masih memliki ahjumma yang mengurusku.
Tapi tiba tiba aku merasa sebuah rambut menggesek telapak tangan kanan ku, aku tidak bisa melihat apa itu sampai pada akhirnya rasa penasaran ku terjawabkan.
Seorang laki laki dengan manik berwarna hitam tinta gelap menatapku lekat, jujur tatapan itu dapat membuat iman ku goyang seketika. Dengan bibir penuh yang sangat khas, aku sempat menelan saliva ku saat lelaki itu mengusap bibir penuhnya dengan ibu jarinya, ahhhh tuhan kuatkan imanku jangan sampai aku menerkamnya di tempat.
"Kau sudah sadar?" Tanya laki laki itu yang ku ketahui namanya adalah park jimin, dengan wajah khas bangun tidur jimin langsung memegang tangan kananku. "Hmmmm" Jawab ku pelan aku masih menatap laki laki itu, beruntung nya diriku memliki calon suami seperti jimin.
"Aku akan panggilkan dokter.. " Jimin melepaskan genggaman tangan nya dari tanganku, dan pergi dari kamar ku entah menuju kemana mungkin pergi menemui dokter seperti yang ia katakan.
Tapi aku tidak peduli... Biarkanlah dia berlama lama di sana, kadang aku masih tidak terima atas perjodohan konyol ini, kenapa semua orang tua selalu suka menjodohkan anaknya sesuka hati? Tidak kah mereka berfikir betapa tersiksa nya seseorang jika harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah di cintai nya? Dan itu yang akan ku alami, miris bukan?
Tak lama jimin datang juga di ikuti oleh dokter dan beberapa suster, dengan cekatan dokter ini memeriksa dan melihat kondisi ku, suster yang bersama dengan dokterpun cekatan membenarkan seluruh alat alat medis yang tertempel di tubuh ku, aku cukup senang saat suster itu melepasakan alat bantu pernapasan yang sedari tadi menangkup bagian bibir dan hidungku, aku tidak nyaman dengan alat alat ini.
"Kondisi nya sudah membaik... " Ucapan dokter itu membuat sebuah senyuman terukir dari wajah tampan jimin, dia bahkan tersenyum saat mengetahui aku baik baik saja? Oh iya aku lupa aku adalah calon istri nya, apalah yang akan orang katakan jika sampai seorang calon suami tidak becus merawat calon istri nya sendiri, apalagi seorang park jimin adalah pemimpin besar dia pasti akan menjadi bahan pergunjingan jika salah dalam melakukan sesuatu.
Apalagi saat mengatakan 'maaf... Kami sudah berusaha semampu kami' sebuah ucapan yang membuat ku muak!
Aku tersenyum samar saat melihat jimin duduk kursi di samping bangkar yang sedang aku tiduri, aku ingin bertanya sebenarnya siapa yang membawa ku kemari? Apakah dia yang merawatku? Apa jimin hanya datang karena kewajiban nya sebagai calon suami ku? Aku bertanya tanya dalam hatiku, tidak kah mungkin seorang lelaki yang baru mengenalnya beberapa hari mau merelakan waktunya untuk menjaga ku? Cihhhh jika semua lelaki seperti itu, ku jamin sebuah hubungan tidak akan bertahan lama.
"Siapa yang membawa ku kesini?" Tanyaku pada jimin wajahnya terlihat lelah, aku melihat lingkaran hitam di bagian bawah matanya, menandakan bahwa dia kurang tidur, kerutan di keningnya terlihat jelas semakin mempertegas bahwa dia benar benar kurang istirahat dan kelelahan.
"Aku yang membawa mu kemari..." Jawab jimin masih memandangi ku dengan tatapan sendu dan lembut, tatapan yang dapat menghancurkan benteng kegilaan seorang wanita, namun itu tidak berlaku pada ku saat ini aku masih tidak percaya dengan jawaban jimin.
"Jangan berbohong! Untuk apa kau membawa ku kemari? Bahkan mengunjungi rumahku saja baru satu kali... " Jawabku ketus, aku tidak suka kebohongan jika memang bukan dia yang membawa ku kemari, katakan saja aku tidak akan menggigit nya dan jangan berbohong hanya untuk mencari sebuah perhatian, itu tidak menarik tapi menjijikkan.
"Aku tidak berbohong kim hyerin.... Untuk apa aku berbohong padamu?" jawab jimin pelan, wajahnya tampak meyakinkan tapi aku masih tidak percaya seratus persen aku harus mencari tahu.
Aku menatapnya dengan penuh selidik, mataku tak berhenti memandangi manik matanya yang begitu membuat ku terbang, ahhhh manik mata itu.... Aku ingin memiliki nya, agar aku bisa membuat semua orang merasakan apa yang ku rasakan dari jimin.
Iya aku mengagumi nya karena iri dengan anugerah yang di berikan tuhan untuknya, seandainya aku yang memiliki mata itu, dan bibir itu, mungkin saja sudah banyak yang mengantri untuk mendapatkan ku tapi sayang nya tidak, aku hanya gadis biasa yang bisa di bilang cantik seperti anak muda korea lainnya, dengan wajah putih, hidung mancung, bibir tipis itu sudah menjadi sebuah standar wanita cantik di korea.
Tapi aku menginginkan lebih, ya begitulah manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang di dapatkan dan di berikan, selalu menginginkan lebih. Tapi aku sudah sangat bersyukur di berikan wajah yang tidak jelek ini, bagiku itu adalah sebuah keberuntungan tersendiri, sayangkan pada tubuhku yang sedikit tidak memadai ini. Maklum lah zaman sekarang lelaki bukan hanya ingin wanita cantik tapi juga wanita dengan tubuh seperti gitar spanyol, meliuk liuk aduhayy....
"Kenapa diam?" Pertanyaan jimin membuat ku tersentak, bukankah dia bodoh karena telah merusak semua lamunan ku! Aishhh untung aku bersabar. "ti----dak apa apa jim.. Hanya saja aku belum percaya sepenuhnya dengan ucapanmu."
"Baiklah aku akan menjelaskan nya, jadi begini aku pergi kerumah mu untuk memberikan makan siang, kata eomma itu mesti ku lakukan, saat sampai di rumah mu... Aku tidak menemukan mu sama sekali, ahjumma jiena pun tidak tahu kemana perginya dirimu, aku mencari ke seluruh rumah dan akhirnya aku menemukan mu tergeletak di lantai ruangan kerja eommanim dan appanim dan aku membawa mu kemari... "
Jelas jimin panjang lebar membuat aku paham, ucapan nya memang masuk akal aku mempercayainya kali ini. "Baiklah aku percaya... Sudahlah jangan di pikiran lagi... " Aku mengalihkan pandangan ku dari wajah jimin menatap jendela kaca ruang inapku, ku lihat sebulir air menempel di kaca jendela yang ku yakini bahwa sekarang seoul sedang di dera hujan lebat.
Aku begitu sensitif jika membahas tentang eomma dan appa, jika bisa aku tidak ingin mendengar kan ocehan seseorang yang membawa nama orang tua ku yang sudah tenang di alam sana.
"Kau mau makan?" Tanya jimin, aku melirik jimin tak berminat permintaan jimin pasti akan ku tolak mentah mentah.
Vomment sayang kuhhh biar cepet up lagi... Heheheš
Tuberculosisā¤